Misteri Buku Tua

Misteri Buku Tua
Salting (1)


__ADS_3

Ila menoleh, lalu meneriaki sesuatu didepan wajah orang tersebut.


"Uuu, Kepo!"


Rizal membuang mukanya, ia mendengus kesal.


"Ya, nggak udah pake teriak kali!"


"Salah elho! ngapain kepo?"


Ila melenggang pergi meninggalkan Rizal yang tengah kesal karena ulah dirinya sendiri.


*****


Hari ini cuaca tidak terlalu cerah. Awan yang berkumpul membuat langit menjadi mendung.


Tapi suasana tersebut tidak menghalangi para siswa/i untuk melakukan kegiatan pagi saat berbaris.


Ila sedang fokus berdiri dibarisan depan. Itu ia lakukan agar bisa mendengar informasi yang diberikan oleh guru dengan jelas.


Sang pembina tengah berbicara didepan, beliau


memberitahu info penting kepada murid.


Hari ini mata Ila tidak dapat diajak untuk berkompromi. Ditambah lagi ia bosan mendengar penjelasan guru yang panjang tersebut.


Ila memandang Akbar dari jauh. Namun hal itu berujung menjadi malu dan salting bagi Ila.


Akbar sedang berbicara dengan Zaki, teman disampingnya.


"Bar, lihat itu! sepertinya primadona sekolah ini ngelihat elho," bisik Zaki.


"Hah?"


Zaki menunjuk Ila yang masih memandang Akbar.


2 laki-laki tersebut melihat Ila yang memandang mereka.

__ADS_1


"Astaghfirullaahal'aziim, dasar Zaki!" batin Ila kesal.


Ia membuang wajahnya ke arah lain, untuk menghindari cowok-cowok ganteng tersebut.


Kira-kira mereka sudah tidak melihat Ila lagi, ia kembali memandang Akbar, namun hal ini lain pula.


Sedari tadi, Akbar terus memandang Ila. Bibirnya tersenyum tipis dibalik masker. Ia menatap Ila dengan tenang tapi dengan makna yang berbeda.


"Ya tuhan, kok gue jadi salting?" ucap Ila dalam hati yang wajahnya sudah memerah padam karena malu telah tepergok menatap Akbar secara tidak wajar.


Akbar tersenyum, ia suka dengan wajah Ila yang ngeblush karena ulahnya itu. Walau pakai masker, tapi senyuman itu terlihat dari matanya yang menyipit.


"Dasar Akbar! kemarin Rendra sekarang dia!" umpat Ila.


idola kaum Adam ini kembali melihat Akbar. Seakan tahu, Akbar langsung menyambut tatapan Ila. Mereka melakukan eyes contact 3 detik. Kemudian entah siapa yang mengajar, Akbar menaik-turunkan alisnya yang membuat wajah Ila merona dan menjadi tambah salting.


"Napa mandang gue? ganteng? gue tau kok,"


ucap Akbar dengan narsisnya.


Wajah yang tadinya malu diganti dengan mata yang melotot. Walau apa yang dikatakan oleh Akbar itu benar.


"Biarin aja, gue nggak peduli,"


"Heleh, lo ingin balikan ama si Hanny?"


"Sekarang kita nggak lagi bahas cewek itu, nggak usah ngalihin pembicaraan!"


"Musim kemarau belum berakhir dan musim hujan juga belum datang, napa lo tiba-tiba mandang gue nggak jelas gitu?"


"Lo ganteng," puji Ila langsung.


Kini, Akbarlah yang ngeblush karena pujian yang dilontarkan Ila.


"Baru tahu lo?"


"Iya, lo itu ganteng alias gadang tengak,"

__ADS_1


"Hahahaha*..."


Cibiran Ila membuat Akbar menghela napas gusar.


"*Nih anak bisa-bisanya ngeprank gue,"


"Gue denger kali,"


"Hehehe... lho denger atau ngelihat gue?"


"Alah siapa juga yang lihat lho? sekarang nggak lho yang gue lihat,"


"Terus?"


"Anak manusia cucunya Adam,"


"Ya temen lholah bodat,"


"Owh, bilangin kek dari tadi!"


"Kan lho udah tau,"


"Eip, eip ngobrol nggak ajak-ajak, wah ada apa nih? ada Ila juga ya?"


"Ha'a, selamat datang kembali bang Erik!"


"Dasar adek lucnut lo, Erik lo panggil abang, gue lo sebut nama aja*,"


Bersambung...


Sekarang aku lagi ngantuk ya guys, kapan2 lagi aku lanjutin ceritanya, bye!


Terus baca ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!


Jangan lupa tekan tombol like, beri vote and coment serta kasih bintang 5 ya!


Ouh ya, jangan lupa untuk mampir ke novel aku yang lain!

__ADS_1


Judulnya: Karin the Mafia Girl


__ADS_2