Misteri Buku Tua

Misteri Buku Tua
Panik


__ADS_3

"Tunggu apalagi? kuy!"


"*B*entar!"


"*W*hy?"


"Jangan lo terburu-buru!" cegat Rendra.


Ila menaikkan alisnya sebelah, menatap heran Rendra yang tadinya mengajak untuk menyelamatkan perempuan tersebut malah mencegahnya. Emang dasar cowok aneh, tapi bisa pula jadi idola para gadis.


"Ck... tadi nyuruh ngikutin dia, kini malah ngelarang."


Ucapan Ila tak digubris sama sekali oleh cowok disebelahnya yang sedang menatap tajam seakan mengintograsi siswi tersebut.


Setelah gadis itu sampai di pintu keluar, barulah Rendra mengajak Ila untuk mengikutinya.


"Kuy!"


"*G*as poll!"


Malahan Ila bersemangat untuk mengungkap misteri, apalagi ini tentang hal mistis. Rasanya sudah cukup lama ia tak lagi mengeluarkan keringat untuk berlari menghindari berbagai serangan.


Bagaikan seorang ninja, Rendra dan Ila mengendap-endap demi mengikuti orang yang akan diselamatkannya.


Namun, sepertinya misteri kali ini memiliki tingkatan level yang lebih tinggi dari sebelumnya. Makin lama, sesuatu yang akan diungkap akan semakin susah, dan itu memiliki efek yang cukup baik untuk melatih otak dan kemampuan mereka.


Setan tersebut terus saja mengikuti gadis itu yang tidak peka dengan kehadirannya.


"Masa kita gini terus? macam maling aja, lo sadar nggak bang?"


"Lo bisa diam nggak? lo tuh ngehilangin rencana yang udah gue susun dengan matang di otak gue."


Rendra membentak Ila hingga membuat raut wajahnya berubah jadi cemberut, tapi ia tidak menyadarinya.


Ternyata bukan hanya Ila, Rendra juga merasa heran dengan mahasiswi yang mereka buntuti terus saja berjalan lurus tanpa henti, seperti sedang dihipnotis.


Mula-mula mereka menganggap siswi itu akan pulang ke rumah, namun setelah jauh dari rumah sakit, mereka baru sadar kalau kaki mereka melangkah memasuki hutan yang dipenuhi semak belukar.


Kawasannya dingin, sebagian besar tertutup oleh kabut. Terdengar bunyi burung hantu yang bersahut-sahutan, hal itu tentu saja menambah ketegangan suasana yang sudah merinding sejak tadi.


Tiba-tiba orang yang mereka ikuti berhenti dan berdiri mematung. Hal itu membuat dua insan berbeda jenis ini bergidik ngeri, apalagi ketika melihat rambutnya yang tergerai kusut secara mendadak, ditambah kepalanya yang penuh dengan kotoran menyebabkan orang menjadi muntah seketika.


Ia berbalik dengan wajah yang berubah total 360°. Yang sebelumnya dengan wajah cantik dan rambut yang kinclong, berganti dengan muka yang tidak memiliki mata, pipi kanannya berair seperti buah pepaya yang matang, dibagian dahi hanya terlihat tulang tengkorak dengan lubang ditengahnya. Bahkan, hantu kali ini memiliki penampilan yang lebih sadis dari hantu-hantu yang pernah ditemui Ila dan Rendra sebelumnya.


Di saat ketegangan melanda mereka berdua, datanglah seorang makhluk gaib yang tak diundang. Kehadirannya menjadi pusat perhatian makhluk yang ada disana.


"Wahai para makhluk ciptaan tuhan, apakah ada yang rindu denganku?" ucapnya dengan sangat lantang membuat setan perempuan tersebut menoleh kearahnya.


Lantas, tentu saja dia terkejut. Bentuk tubuh yang buruk rupa, bahkan sangat menjijikkan


menjadikan dia muntah seketika.


"Watdefak! serem amat muka lo njir!" ujarnya.


Ila membulatkan matanya seketika. Bisa-bisanya cowok ini mengucapkan kata-kata tidak sopan saat keadaan sulit seperti sekarang.

__ADS_1


"Bintang! bisa-bisanya lo ngucap kata-kata kasar saat ini?"


Baru sadar akan yang ia katakan, reflek ia langsung membekap mulutnya dengan tangannya sendiri tidak lupa disertai dengan cengiran khasnya.


Ia takut kalau Ila marah, kehidupannya akan terancam dan tidak lagi menjadi tentram macam dulu.


"Sorry La! itu tadi reflek," ucap Bintang sambil menunjukkan jari peacenya.


"Astaghfirullaah, kok malah tambah deket sih? perasaan tadi masih lumayan jauh," gumam Ila sembari memegang dadanya.


"La, nggak ada waktu lagi!"


Belum siap Rendra berbicara, Ila meninggalkan temannya yang dalam bahaya begitu saja.


Karena hutan ini masih dekat dengan perumahan, Rendra memancing hantu tersebut untuk lebih memasuki hutan karena takut setan itu akan melukai orang lain, maka dari itu ia berlari masuk kearah hutan.


Setelah diperhatikan dengan seksama, yang diincar oleh musuh adalah Ila. Terlihat yang dikejarnya itu ialah Ila. Segala serangan yang dilontarkan adalah untuk melumpuhkan Ila.


Rendra sekarang mengerti apa yang harus ia lakukan, satu poin terpenting yang akan berakibat fatal jika ia abaikan, yaitu jangan bertindak gegabah.


Ila yang terus saja dikejar juga tidak tahan lagi, mau tak mau ia harus bisa menghadapinya agar tenaganya tidak banyak terbuang sia-sia.


Tubuh Ila berbalik, ia menatap hantu tersebut dengan penuh keberanian seakan ia itu adalah seekor harimau yang sangat kuat hingga mudah untuk menerkam mangsanya.


"Cukup! aku udah nggak tahan lagi, emangnya apa salahku hah?!" bentak Ila.


Mahasiswi itu tidak mau mendengar, ia mendekati Ila dan mencoba untuk mencekik lehernya.


Tapi, tidak semudah itu untuk meruntuhkan pertahanan seorang Ila. Ia adalah seorang ahli beladiri, jadi tidak akan mungkin jika ia membiarkan tubuhnya diserang oleh orang lain.


"Sialan!"


Satu kata yang diucapkannya. Itu merupakan kata pertama yang didengar oleh Ila sejak bertemu dengannya.


"Aku akan menculik salah satu temanmu dan membawanya ke alam gaib, bwahahahahaa,"


Setelah mengatakannya, iapun menghilang tanpa jejak seperti asap.


Ila mengeluarkan keringat dingin mendengar ancaman barusan. Ia tidak khawatir kalau dirinya yang terancam, sebab ia masih bisa menggunakan ilmu dan kemampuannya.


Namun jika hal ini mengenai teman-temannya, ia cemas kalau tidak bisa menyelamatkan mereka.


"Siapa yang dia maksud?"


Begitulah, Ila terus bergelut dengan batinnya.


Ia menegaskan harus sesegera mungkin menyelamatkan orang yang dimaksud mahasiswi tadi.


"La! siapa aja yang dekat dengan kamu saat ini?" tanya Rendra dari belakang secara mendadak.


"Elo," jawabnya.


"Bukan, maksudnya teman cewek."


"Hmmm, tunggu bentar! aku pikir dulu,"

__ADS_1


Ila terus memutar otaknya, mengingat siapa saja orang yang dekat dengannya akhir-akhir ini.


Mata Ila langsung melotot. Ia sekarang tahu siapa orang yang dimaksud oleh musuhnya tadi.


"Gawat, kita harus segera nyelamatin kak Suci!"


"Apa lo bilang?" reflek Rendra yang ikut terkejut.


"Cepat! nggak ada waktu lagi."


"Tapi gimana caranya bisa sampai secepat itu dirumahnya Suci La? lo taukan? rumahnya itu jauh dari sini, kira-kira setengah jam baru sampai," ujar Rendra panik.


Bwaarrrrr


"Mungkin kalian butuh bantuan gue saat ini?"


tawar Bintang datang seperti jin yang keluar dari lampu jika digosok.


"Bagus, sekarang lo bawa kami ke rumah Suci!"


pinta Rendra yang sedikit lega dengan bantuan


Bintang.


"Oghey, lo tenang aja! selama gue disini gue akan bantu kalian kok,"


"Udah! jangan banyak bicara! sekarang Bin!"


Mereka bertiga tidak tampak lagi di sana, meninggalkan kepulan asap yang cepat hilang.


Akan tetapi tanpa sepengetahuan mereka, ada seseorang yang mengintip dan menyaksikan dari awal kejadian tadi. Kemudian iapun mengeluarkan smirknya.


***


Buushhhhhhh


Beruntung Ila sampai duluan dari pada orang yang mengancamnya tadi. Seketika hatinya pun menjadi lega sebab Suci yang sedang belajar sambil memakan cemilan.


Saat Ila menengadah, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Rendra menatap Suci tanpa berkedip. Tatapannya itu sangat sulit diartikan.


"Dasar Ketos fakeboy! masih sempat-sempatnya lo natap-natap dia hah?!"


"Sekarang kita harus memasang pagar disekeliling dirinya!"


Bersambung...


Terus baca ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!


Jangan lupa tekan tombol like, beri vote and coment serta kasih bintang 5 ya!


Ouh ya, jangan lupa untuk mampir ke novel aku yang lain!


Judulnya: Karin the Mafia Girl


And thanks

__ADS_1


__ADS_2