Misteri Buku Tua

Misteri Buku Tua
Hantu mahasiswi


__ADS_3

"Tapi?"


Masih dalam rasa penasaran, ibunya tiba-tiba siuman yang otomatis mengalihkan pembicaraan antara sang anak dengan ayahnya.


"Nak..."


Shaletta menoleh, akhirnya kekhawatiran dirinya terhadap ibunda tidak terlalu lagi seperti tadi. Kecemasan bermula karena pasien dalam satu ruangan inap tersebut meninggal satu persatu.


Tentu saja, darahnya seperti akan hilang saja. Ia takut kehilangan wanita yang paling ia sayangi, apalagi kalau ia pergi selama-lamanya dan tidak akan pernah kembali lagi.


Walaupun ia tahu kalau semuanya sudah ditentukan yang di atas. Ia juga tahu bahwa umur adalah salah satu dari tiga takdir yang tidak bisa diubah, takdir itu disebut dengan takdir mubram.


Rezeki, umur dan jodoh tidak akan pernah bisa manusia mengubahnya. Tapi putus asa begitu saja juga tidak boleh, harus ada ikhtiar dan do'a di dalam sana.


Dan yang namanya risau tentu ada dalam setiap diri manusia. Sekuat apapun diri mereka, rasa takut dan sedih tidak akan pernah bisa mereka hindari. Hanya saja, mereka pandai memendam rasa tersebut sehingga tidak diketahui oleh orang lain.


"Bunda..." lirih Shaletta menatap sendu Verta. Ia mendekati ibunya dan langsung memeluknya.


"Alhamdulillah, bunda udah sadar."


"Kamu udah sadar? apa kamu baik-baik saja?" tanya Aqansyah yang sebenarnya itu adalah rasa khawatir, tapi pertanyaan itu terdengar konyol di telinga Verta.


"Nggak, aku masih pingsan," jawab Verta kesal dan memalingkan wajahnya.


"Bunda, apa bunda lapar? ini aku ada makanan, bunda makan ya?!" tawar Shaletta dengan rasa bahagia. Ia sangat bersyukur kepada Yang maha kuasa karena do'anya dikabulkan.


Verta mengangguk dengan senyuman yang biasa ia lontarkan. Senyuman yang begitu dirindukan oleh keluarga kecilnya. Saking luar biasa senyuman tersebut, bisa menyinari hari-hari mereka sehingga menjadi cerah seperti matahari bersinar yang menerangi bumi dari kegelapan.


"Bunda, tadi teman aku beliin minasgor dan aku juga beliin jus kesukaan bunda."


Bunda Shaletta berusaha duduk dengan bantuan Aqansyah. Shaletta menegakkan bantal agar ibunya bisa bersandar dan Verta bangkit dari posisi berbaring.


"Kamu udah makan?"


"Udah bun."


"Nih! Dimakan ya bun! Aku keluar dulu sebentar, soalnya ada urusan," gadis itu memberikan makanan yang dimaksud kepada bundanya.


"Kemana? Urusan apa?"


"Hanya urusan kecil. Sebentar kok gak lama-lama bun."


"Yaudah, kamu nanti kembali ke sini! Jangan jauh-jauh!"


"Iya, da bunda ayah!" pamit Shaletta pada kedua orang tuanya dan meninggalkan ruangan itu.


Tinggallah Verta dan Aqansyah dalam kamar itu. Tapi mereka tidak berdua saja, masih ada orang karena keluarga pasien umumnya mendatangi sanak saudaranya yang sedang sakit.


"Kamu udah makan?" celetuk Verta pada Aqansyah, suaminya.


Yang ditanya mengangguk cepat.


"Udah, kamu makan aja!" jawabnya.


Verta sempat meliriknya dan berhenti menyuap. Ia meletakkan makanan tersebut di atas meja. Tentu saja hal itu membuat Aqansyah heran.


"Kok berhenti? nggak dihabiskan?" tanyanya dengan wajah polos yang membuat Verta menjadi gemas dibuatnya.


"Kalau kamunya ingin makan bilang aja! nggak usah liat-liat! Kayak orang yang lagi diintrogasi aja."


"Hehehe! Tau aja, aku minta sesuap ya?" ujarnya cengengesan tidak tahu malu.


"Bilang sesuap, nanti aku mau makan lagi rupanya udah habis nggak bersisa," ucap bunda Shaletta cemberut.


***


Shaletta melangkahkan kaki keluar dari ruangan. Terdengar di telinganya perdebatan kecil yang sudah lama tidak terjadi.


Ia terus berjalan menuju kasir rumah sakit. Kakinya melangkah cepat seakan sedang mengejar waktu yang sangat berharga.


"Maaf kak, jadi berapa biaya rumah sakit ibuku?" tanya Shaletta dengan sopan kepada suster tersebut.


"Atas nama?"


"Verta," jawab Ila lagi.


"Biaya rumah sakit atas nama Verta telah dibayar dek," jawabnya yang membuat Shaletta kaget.


"Hah?!" serasanya ia belum membayar uang tersebut, jadi siapa yang telah melunasinya?


Gadis itu bertanya-tanya dalam hati, wajahnya menunjukkan kebingungan.


"Bisa suster sebutkan ciri-ciri orangnya?"


"Hmmm, kalau nggak salah tadi cowok ganteng pakai baju kaos dilampisi jaket kulit dan makai celana Levis, kira-kira masih siswa SMA."


"Apa cowok itu seperti yang ada difoto ini?" ujar Shaletta sambil memperlihatkan foto Gerald yang ada dalam handphonenya.


"Iya, itu orangnya," responnya mengangguk membenarkan perkataan Shaletta.


"Ouh, yaudah terima kasih ya kak."


"Sama-sama."


Gadis tersebut kembali melangkahkan kaki menuju pintu masuk RS. Namun sebelum itu, ia sekilas melihat orang yang sangat dikenalnya sedang melaksanakan ibadah sholat karena ini sudah masuk waktu ashar.


Awalnya kelewatan, tapi karena melihat orang itu kaki Shalat melangkah mundur dan memastikannya. Rupanya benar, orang yang sedang ia cari sedang sholat.


Gadis itu sempat terpana. Sialnya lagi mata Gerald menangkap basah mata Shaletta yang sedang menatapnya tanpa berkedip. Suaranya yang khas tersebut menyadarkan Shaletta agar tidak lagi bengong.


"Ngapain natap-natap? belum muhrim woy!"


Suara Gerald membuyarkan lamunan Shaletta yang membuat ia menjadi salting dibuatnya.


"Gue nyari elo."


Gerald menaikkan alisnya sebelah pertanda ia kembali menanyakan mengapa.


"Ada yang ingin gue tanyain. Tapi nanti gue siap sholat, lo tungguin ya!"


"Hmmm."


Ia pergi ke WC perempuan untuk mengambil air wudhu. Memang wudhu merupakan syarat sah sholat. Jika sholat tidak diawali dengan wudhu maka sholat yang dikerjakan tidak akan sah, kecuali jika sebelumnya telah berwudhu dan bisa dipastikan masih dalam keadaan suci atau bertayamum bagi orang yang memiliki pantangan untuk menggunakan air.

__ADS_1


Ia memakai mukena RS yang berwarna putih.


Memulainya dengan niat dan melakukan gerakan takbiratul ihram.


Menit demi menit dilalui oleh Gerald dengan melihat hp, membalas berbagai chat dari teman-temannya.


"Dari tadi main hp terus, emang siapa yang ngechat?" tanya Shaletta tapi tidak digubris oleh Gerald yang masih melihat hpnya.


"HOY GERALD BUDEG!"


"APA?!" jawab Gerald yang jadi ngengas pula.


"Lo dari tadi megang hp mulu. Gue pukul juga tuh muka lo."


Gerald memperlihatkan seringan-ringannya.


"Yakin dek?"


"Siapa yang yakin?" ujar Shaletta yang membuat Gerald jadi tertawa.


"Bwahaha! kalau orang siapa yang nggak yakin, kalau elo siapa yang yakin, aneh!"


Yang awalnya tertawa, ekspresi Gerald kembali berubah menjadi datar seperti tembok dinding sekolah saja.


"Lo yang aneh! dasar berkepribadian ganda!"


Shaletta berlalu begitu saja, membiarkan Gerald yang kembali fokus pada hpnya. Saat kembali memandangnya, moodnya kembali memburuk.


"Gue kunci ruangan baru tau rasa, makan tuh hp," bentaknya setengah kesal. Ya dari tadi dicuekin mulu, siapa yang nggak kesel coba?


"Gerald Fakeboy yang terhormat, lo ikut gue atau disini sampai malam?"


"Ha'a gue berdiri nih," Gerald berjalan keluar dari tempat itu, akan tetapi ia masih melihat hp nya.


Cewek itu menjadi sangat kesal. Mood yang awalnya baik menjadi turun drastis gegara Gerald yang menyebalkan.


Namun, tanpa sepengetahuannya, ini juga akal-akalan Gerald yang lagi gabut. Ia ingin mengerjai Shaletta. Mumpung dia lagi ada.


Di jalan tidak ada yang bersuara. Gadis itu masih kesal dengan Gerald dan tentunya Gerald masih juga sibuk dengan urusannya di dalam handphone.


Tapi, sekarang yang jadi masalahnya ia semakin risih dengan banyak cowok dan cewek yang meliriknya dan Gerald. Ia serasa orang yang sedang bersalah.


"Wah, lihat itu mereka cocok ya?"


"Yang satu cantik yang satu ganteng."


"Mereka berdua terlihat seiras."


"Hmmh, lebih cocok kalau cowok itu dengan gue dari pada ceweknya."


"Uuuuu, ngeyel terus!"


Itu baru beberapa desas-desus yang mendengung di gendang telinga Shaletta. Masih banyak lagi, tapi ia tak ambil pusing, semuanya dianggap seperti suara botol kaca yang nyaring karena dipukul.


Mendadak, ketika mereka berdua naik janjang, mereka berpapasan dengan seorang mahasiswi yang terus diikuti oleh wanita buruk rupa dengan seringaian mengerikan.


Tanpa disadari, jarak antara Gerald dan Shaletta menjadi dekat. Untung suara cowok itu mampu menyadarkan Shaletta.


"Lo lihat mahasiswi itu?"


"Ikut gue!"


"Kemana?"


"Nyawa perempuan itu berada dalam bahaya, kita harus segera menyelamatkannya."


"Terserah elo dah," ucapnya pasrah mengikuti Gerald.


Wanita yang berada di belakang sang pelajar itu sepertinya memiliki umur yang tidak jauh berbeda dengannya.


Ia memakai baju kuliah yang koyak. Wajahnya tertutup sebelah dengan rambut yang penuh belatung. Perut mengeluarkan darah bahkan isinya juga keluar. Jari-jarinya tidak lagi utuh seperti manusia biasa. Lebih tepatnya hantu mahasiswi itu sepertinya dibunuh oleh seseorang.


"Tunggu apalagi?"


"Bentar!" Gerald menghentikan langkahnya yang membuat Shaletta juga menghentikan langkahnya.


"Why?"


"Jangan terburu-buru!" cegat Gerald.


Shaletta menaikkan alisnya sebelah, menatap heran Gerald yang tadinya mengajak untuk menyelamatkan perempuan tersebut malah mencegahnya. Emang dasar cowok aneh, tapi ya mau gimana lagi.


"Ck! Tadi suruh ikutin,kini malah ngelarang," ucapan Shaletta tak digubris sama sekali oleh cowok di sebelahnya yang sedang menatap tajam seakan mengintograsi siswi tersebut.


Setelah gadis itu sampai di pintu keluar, barulah Gerald mengajak Shaletta untuk mengikutinya.


"Ayo!"


"Gas poll!"


Shaletta malah bersemangat untuk mengungkap misteri, apalagi ini tentang hal mistis. Rasanya sudah cukup lama ia tak lagi mengeluarkan keringat untuk berlari menghindari berbagai serangan.


Bagaikan seorang ninja, dua manusia itu berjalan mengendap-endap demi mengikuti orang yang akan diselamatkannya.


Namun, sepertinya misteri kali ini memiliki tingkatan level yang lebih tinggi dari sebelumnya. Makin lama, sesuatu yang akan diungkap akan semakin susah, dan itu memiliki efek yang cukup baik untuk melatih otak dan kemampuan mereka.


Setan tersebut terus saja mengikuti gadis itu yang tidak peka dengan kehadirannya.


"Masa kita gini terus? macam maling aja, lo sadar nggak sih?"


"Lo bisa diam nggak? lo tuh ngehilangin rencana yang udah gue susun dengan matang di otak gue."


Gerald membuat Shaletta cemberut. Otaknya sedang berputar saat ini.


Ternyata bukan hanya Gerald, Shaletta juga merasa heran dengan mahasiswi yang mereka buntuti terus saja berjalan lurus tanpa henti, seperti sedang dihipnotis.


Mula-mula mereka menganggap siswi itu akan pulang ke rumah, namun setelah jauh dari rumah sakit, mereka baru sadar kalau kaki mereka melangkah memasuki hutan yang dipenuhi semak belukar.


Kawasannya dingin, sebagian besar tertutup oleh kabut. Terdengar bunyi burung hantu yang bersahut-sahutan, hal itu tentu saja menambah ketegangan suasana yang sudah merinding sejak tadi.


Tiba-tiba orang yang mereka ikuti berhenti dan berdiri mematung. Hal itu membuat dua insan berbeda jenis ini bergidik ngeri, apalagi ketika melihat rambutnya yang tergerai kusut secara mendadak. Kepalanya yang penuh dengan kotoran menyebabkan orang menjadi muntah seketika.


Ia berbalik dengan wajah yang berubah total 360 derajat. Yang sebelumnya dengan wajah cantik dan rambut yang kinclong, berganti dengan muka yang tidak memiliki mata, pipi kanannya berair seperti buah pepaya yang matang. Di bagian dahi hanya terlihat tulang tengkorak dengan lubang ditengahnya. Bahkan, hantu kali ini memiliki penampilan yang lebih sadis dari hantu-hantu yang pernah ditemui Shaletta dan Gerald sebelumnya.

__ADS_1


Di saat ketegangan melanda mereka berdua, datanglah seorang makhluk gaib yang tak diundang. Kehadirannya menjadi pusat perhatian makhluk yang ada di sana.


"Wahai para makhluk ciptaan tuhan, apakah ada yang rindu sama gue?" ucapnya dengan sangat lantang membuat setan perempuan tersebut menoleh kearahnya.


Lantas, tentu saja dia terkejut. Bentuk tubuh yang buruk rupa, bahkan sangat menjijikkan


menjadikan dia muntah seketika.


"Watdefak! serem amat muka lo cok!" ujarnya.


Shaletta membulatkan matanya seketika. Bisa-bisanya cowok ini menghina seseorang tepat di depan wajahnya. Mana tuh dia mandang sangat tidak santai sekali.


"Woy! Bisa-bisanya lo hina hantu di depan wajahnya."


Baru sadar akan yang ia katakan, reflek ia langsung membekap mulutnya dengan tangannya sendiri tidak lupa disertai dengan cengiran khasnya.


"Sorry Sha! Reflek aja," ucap Abian sambil menunjukkan jari peacenya.


"Astaghfirullaah, kok malah tambah deket sih? perasaan tadi masih lumayan jauh," gumam gadis itu sembari memegang dadanya.


"Nggak ada waktu lagi!"


Belum siap Gerald berbicara, Shaletta meninggalkan temannya yang dalam bahaya begitu saja.


Karena hutan ini masih dekat dengan perumahan, cowok itu memancing hantu tersebut untuk lebih memasuki hutan karena takut setan itu akan melukai orang lain, maka dari itu ia berlari masuk kearah hutan.


Setelah diperhatikan dengan seksama, yang diincar oleh musuh adalah gadis yang bersamanya. Terlihat yang dikejarnya itu ialah Shaletta. Segala serangan yang dilontarkan adalah untuk melumpuhkan Shaletta.


Ia sekarang mengerti apa yang harus ia lakukan, satu poin terpenting yang akan berakibat fatal jika ia abaikan, yaitu jangan bertindak gegabah.


Shaletta yang terus saja dikejar juga tidak tahan lagi, mau tak mau ia harus bisa menghadapinya agar tenaganya tidak banyak terbuang sia-sia.


Tubuhnya berbalik, ia menatap hantu tersebut dengan penuh keberanian seakan ia itu adalah seekor harimau yang sangat kuat hingga mudah untuk menerkam mangsanya.


"Cukup! Gue udah nggak tahan lagi! Ngapain lo ngejar-ngejar gue hah?!" bentaknya.


Mahasiswi itu tidak mau mendengar, ia mendekati mangsanya dan mencoba untuk mencekik lehernya.


Tapi, tidak semudah itu untuk meruntuhkan pertahanan seorang Shaletta. Ia adalah seorang ahli beladiri, jadi tidak akan mungkin jika ia membiarkan tubuhnya diserang oleh orang lain.


Ia menangkisnya dengan kedua tangan dan memutar pergelangan tangannya sehingga tangan lawannya itu bisa ia lumpuhkan dengan memutarnya kebelakang. Lalu ia pun mendorongnya hingga terjatuh menabrak tiang.


"Sialan!"


Satu kata yang diucapkannya. Itu merupakan kata pertama yang dilontarkannya sejak bertemu Shaletta.


"Aku akan menculik salah satu temanmu dan membawanya ke alam gaib, bwahahahahaa!"


Setelah mengatakannya, ia pun menghilang tanpa jejak seperti asap.


Shaletta mengeluarkan keringat dingin mendengar ancaman barusan. Ia tidak khawatir kalau dirinya yang terancam, sebab ia masih bisa menggunakan ilmu dan kemampuannya.


Namun jika hal ini mengenai teman-temannya, ia cemas kalau tidak bisa menyelamatkan mereka.


"Siapa yang dia maksud?"


Begitulah Shaletta terus bergelut dengan batinnya. Ia menegaskan harus sesegera mungkin menyelamatkan orang yang dimaksud mahasiswi tadi.


"Siapa aja yang dekat sama lo?" tanya Gerald dari belakang secara mendadak.


"Elo," jawabnya.


"Bukan, maksudnya teman cewek."


"Hmmm, tunggu bentar! Gue pikir dulu."


Cewek itu terus memutar otaknya, mengingat siapa saja orang yang dekat dengannya akhir-akhir ini.


Matanya langsung melotot. Ia sekarang tahu siapa orang yang dimaksud oleh musuhnya tadi.


"Gawat, kita harus segera nyelamatin Tari!"


"Apa?" reflek Gerald yang ikut terkejut.


"Cepat! Nggak ada waktu lagi."


"Tapi gimana caranya bisa sampai secepat itu? Lo taukan rumahnya jauh dari sini, jadi nggak mungkin bisa cepat tiba di sana."


Bwaarrrrr


"Mungkin kalian butuh bantuan gue saat ini?"


tawar Abian datang seperti jin yang keluar dari lampu jika digosok.


"Bagus, sekarang lo bawa kami ke rumah Tari!" ucap Shaletta yang sedikit lega dengan adanya jin tak berstatus itu.


"Oghey, lo tenang aja! Selama gue di sini gue akan bantu kalian kok."


"Udah! jangan banyak bicara! sekarang Bi!"


Mereka bertiga tidak tampak lagi di sana, meninggalkan kepulan asap yang cepat hilang.


Akan tetapi tanpa sepengetahuan mereka, ada seseorang yang mengintip dan menyaksikan dari awal kejadian tadi. Kemudian ia pun mengeluarkan smirknya.


Buushhhhhhh


Beruntung mereka sampai duluan dari pada orang yang mengancamnya tadi. Seketika hatinya pun menjadi lega sebab Tari sedang belajar sambil memakan cemilan.


Saat ia menengadah, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Gerald menatap Tari tanpa berkedip. Tatapannya itu sangat sulit diartikan.


"Dasar fakeboy! Masih sempat-sempatnya lo natap-natap dia hah?!" ucap Shaletta dengan suara yang naik satu oktaf.


"Kita harus memasang pagar gaib di tubuhnya."


...Bersambung......


...Terus baca ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!...


...Jangan lupa tekan tombol like, beri vote and coment serta kasih bintang 5 ya!...


...Ouh ya, jangan lupa untuk mampir ke novel aku yang lain!...


...Judulnya: -Karin the mafia girl...

__ADS_1


...-Andromeda...


...And thank you...


__ADS_2