Misteri Buku Tua

Misteri Buku Tua
Bertemu pendekar


__ADS_3

"Eh buset, suara siapa toh?"


"Ck, kalah kan gue main!" Kesal Ila dalam hati namun ia kembali menekan tombol play pada game tersebut.


"Hey! kamu tidak dengar apa yang saya bilang?"


tanya lelaki tersebut meninggikan suaranya.


"Denger, kamu nanya siapa yang membuat berantakan tempat tidur disebelah kamar kamu,kan? kalau itu mah, akunya ya nggak tau."


Ila sama sekali tak melirik siapa yang ada disampingnya. Baginya saat ini, ia harus konsentrasi untuk naik ke level berikutnya.


"Siapa?" tanyanya balik.


"Apa?" respon gadis itu balik sembari tetap memencet-mencet berbagai tombol yang ada di layar.


"Kalau bicara itu pandang orangnya. Kamu bicara dengan siapa harus diperhatikan, jangan adabmu itu hilang seiring zaman!" tegur laki-laki tersebut yang masih menahan kesabarannya untuk berbicara dengan gadis dihadapannya.


"Ih, ganggu aja tau ngg.." Ucapan Ila terhenti ketika melihat cowok dengan pakaian putra mahkota berdiri gagah sambil menatapnya dingin.


"Ila, tahan! nggak mungkin kan lo akan melakukan hal konyol lagi?" batinnya yang terus menatap pangeran tanpa berkedip.


"Kok ngelamun? aku tanya kamu harusnya kamu jawab!" ujarnya.


"Aku tau kalau aku ganteng, jadi nggak usah kek gitu lihatinnya, nggak muhrim." Ujarnya membuyarkan lamunan Ila hingga si empunya langsung tersadar dan membuang pandangannya.


Hmmm, tapi kalau dilihat baik-baik kok tampang pangeran Alfa kayak familiar ya? apa ini Dejavu? tapi, nggak mungkin lah. Tapi, napa bisa mirip?


"Akhhhhh," gerutu Ila memegang kepalanya.


"Kamu ini napa sih? jangan pura-pura kayak orang kesurupan! udah seribu kali aku ngeliat alasan yang sama seperti itu dari orang yang berbeda,"


"E eh, lamak se! kek ko bana wak, tapi alun ado gai dimasuaki setan. Tu tanyo se lah ka si dukun milineal kalau abang ndak picayo."


(Eh, enak aja! walaupun aku begini, tapi belum pernah aku mengalami kerasukan. Kalau abang nggak percaya, tanya aja sama dukun milineal!)


Waw, baru kali ini ada yang berani berbicara begitu pada seorang putra mahkota yang sangat dihormati. Belum pernah seorangpun yang bicara nyeleneh pada pangeran Alfa, bahkan untuk menatap matanya saja tidak berani saat bicara.


"Saya bertanya baik-baik mengapa anda menjawabnya seperti itu? apa kamu punya sopan santun?" sindir si cowok yang tak suka dengan gaya bicara Ila.


"Terserah kau putra mahkota." respon cewek tersebut sambil memutar bola matanya dengan malas.


"Sekarang anda jawab saja pertanyaan saya! kenapa anda tidur di kamar itu dan lari begitu saja tanpa membereskannya dulu? apa anda sudah diberi izin untuk menginap di istana ini?"


Gleeek


Ila menelan air salivanya dengan susah. Tubuhnya langsung saja mengeluarkan keringat dingin karena saat ini ia berada diambang masalah yang sengaja dihindarinya sejak tadi.


"Oh ya, namamu siapa pangeran? sepertinya kau adalah orang blasteran." Ucap sang gadis untuk mengalihkan topik pembicaraan saat ini.


"Jangan anda alihkan pembicaraan saya, saya nyuruh anda untuk menjawab bukan menanya identitas saya!" tegas pangeran Alfa dengan menaikkan suaranya satu oktaf.

__ADS_1


Ila juga sudah memprediksi hal ini bakalan terjadi. Namun, sebisa mungkin ia usahakan untuk menghindarinya. Tapi, akhirnya ia juga tetap mendapatkan masalah.


Ingin mengakuinya tapi takut nanti resikonya terlalu besar bahkan tidak sebanding dengan yang diperbuat. Kalau nggak dikatain, masa iya kerja bohong aja, mana dapat dosa lagi dari Tuhan semesta alam, belum lagi akhirnya ketahuan juga, bisa-bisa resikonya tambah besar.


Itulah yang dipikirkan oleh cewek yang akhir-akhir ini menjadi bar-bar. Mungkin efek berteman dengan lakik kali.


"Aaaahaaaa."


Seketika, sebuah lampu yang semula redup menjadi terang di otak Ila. Ia memiliki sebuah ide untuk menghindari masalah ini dulu.


"Wahhhh bang, lihat itu!" tunjuk Ila sehingga sang pangeran mengikuti arah telunjuknya.


"Nggak boleh disia-siain aja nih kesempatan! seperti kata pepatah, kesempatan sangat jarang untuk datang dua kali, dan inilah saatnya untuk... kabur!"


Ila si pendatang baru itu, lari dengan kencang meninggalkan pangeran Alfa yang sudah termakan ucapannya yang sesat itu, tapi apa boleh buat? toh, nyelamatin diri sendiri nggak papa kali.


"Mana? apa kamu sudah membohongin saya?"


tanya pangeran Alfa kembali menoleh pada Ila, tapi...


"Sial! bisa-bisanya aku ditipu gadis tengik dan bar-bar seperti itu." Ujarnya menggerutu kesal dengan tangan yang mengacak-acak rambutnya.


*****


"Hah...huh...hah...huh."


"Untung aja sempat kabur, kalau nggak entah apalah nasib gue yang imut ini."


"Hei, kamu kenapa?" tanya seseorang yang bersuara merdu namun tegas.


Ila menengok kebelakang, ia melihat ke arah bahunya yang tengah di pegang seseorang.


Lalu, kepalanya perlahan mengangkat dan ia kembali berteriak saat ia tahu yang sedang memegangnya saat ini bukanlah manusia.


"Aaaaaaaaaa!"


Ila menjauh dan itu membuat tangan si hantu terlepas dan menempel di bahunya.


Bagaimana ia tak terkejut jika seorang perempuan yang menyentuhnya adalah setan dengan mulut lebar yang robek dan berlipstik merah. Wajahnya putih seperti tikus yang baru saja keluar dari tepung.


Rambut sepinggang yang lurus dan hitam pekat namun tubuh yang dibalut dengan daster putih yang penuh darah. Belum lagi ia yang gentayangan dan bisa terbang.


"Woy! lo mau gue tampol hah?!" tantang Ila yang sebenarnya merasa takut.


"Sini! berani kalau maju!"


"Kalau maju berani keles." Ujarnya memperbaiki ucapan Ila yang belepotan itu.


"Terserah! yang penting ayo kita sparing!"


Bugggghhhh

__ADS_1


Telapak kaki Ila berhasil menyentuh tubuh si hantu hingga ia terpental kebelakang. Itu membuat lawannya kaget karena terkena serangan mendadak.


Ia langsung menyeringai dan itu terkesan sangat seram. Bayangkan saja seorang wanita berwajah sangat putih pucat menunjukkan seringainya dengan mulut yang lebar dan robek serta bibir berwarna merah darah.


Wanita tersebut muncul didepan Ila sekedip mata bak iklan yang baru diganti dengan yang lain.


Tanpa aba-aba, ia mencekik leher Ila hingga dia kesulitan untuk bernafas karena kuatnya cekikan itu tidak main-main.


Bussshhhh


Sebuah pisau berputar di udara seperti baling-baling dan mengenai kepala setan tersebut.


Ila melepaskan cengkraman tangan itu sekuat tenaga dan melontarkan tendangan t nya yang mematikan hingga lagi-lagi ia terpental kebelakang.


Si hantu itu kesal, karena ada saja orang yang selalu menganggu mangsanya. Ia terbang ke tempat kepalanya berada dan memasangnya.


"Bukankah sudah ku katakan padamu kalau ini jalan umum? mengapa kau masih juga mengganggu orang-orang yang tidak bersalah?"


ucap seorang perempuan dengan gaya cool menangkap pisau yang dilemparnya tadi.


"Ck, kenapa kau selalu saja menggangguku?"


"Yang mengganggu itu kamu, syaitan yang terkutuk!" ucap Ila lantang.


"Hey lo diam dulu! gue sedang bicara sama perempuan ini."


"Buset, berapa banyak dah makhluk-makhluk sini yang suka keluar masuk ruang lintas waktu? apa mereka semua memang punya kekuatan seperti itu?" batin Ila.


"Sekarang kamu pergi!" usir wanita yang menolong Ila dengan suara tegasnya.


Hantu itu menurut saja. Toh, kalau ia melawan juga tak ada gunanya, pasti badannya juga yang akan jadi tumbal karena mulutnya sendiri.


"Wah, kamu hebat kak. Bisa mengusir dia begitu saja." Ujar Ila antusias.


"Tidak, itu bukan apa-apa. Kamu juga hebat." Pujinya balik.


"Tapi aku senang loh bisa ketemu ama pendekar seperti kakak."


Bersambung...


Terus baca ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!


Jangan lupa untuk tekan tombol like, beri vote and coment serta kasih bintang 5 ya!


Ouh ya, jangan lupa untuk mampir ke novel dan chat story aku yang lain!


Judulnya:-Karin the Mafia Girl


-Kisahku di pesantren


Thanks so much.

__ADS_1


__ADS_2