
Jennifer dan Sinta berlari mendekati Shaletta.
"Taya, are you okay?" tanya Jennifer pada adiknya lalu ia menatap gadis di depannya.
"Kamu apakan adek ku?" tanya Jennifer dengan nada yang naik satu oktaf. Ia seperti marah pada Shaletta.
Yang ditanya pun menggeleng pertanda ia tidak menyakiti Taya.
"Kakak itu nggak ngapa-ngapain aku kak. Hanya saja aku tadi terpeleset karna sandal aku itu tinggi banget." terang Taya supaya Jennifer tidak berburuk sangka pada Shaletta.
"Ouh, kakak sangka kamu kenapa tiba-tiba nangis. Lain kali kamu harus hati-hati kalau jalan!"
Shaletta melihat ke dinding, ternyata jam sudah menunjukkan pukul 08.45. Ia langsung teringat titah ibunya.
"Jen, aku pamit dulu ya! soalnya mama nyuruh pulang sebelum jam 9."
"Oke, thank you for coming to my little party and i'm sorry karena telah menuduhmu tadi."
Shaletta tersenyum menanggapi permohonan maaf dari Jennifer.
"Sans aja. Gue pulang!"
"Take care!"
"Ta, lu pulang sama gue?" Sinta langsung menolaknya dengan cepat.
"Ga Sha! lo dulu aja!"
"Ooo, yaudah."
Di halaman, Shaletta melihat mobil hitam yang dinaikinya tadi. Kaca mobil itupun perlahan mulai turun dan terlihatlah wajah Gema.
"Kok lo ada disini Gem?" tanya Shaletta bingung.
"Kebetulan gue lewat sini, karena gue lihat lo keluar jadi gue tunggu aja," ucap Gema santai.
Para tamu undangan sudah pulang dan pestanya pun sudah berakhir. Tampak 2 orang gadis sedang duduk enak di tepi kolam yang ditemani oleh lampu kelap kelip dan bintang yang menghiasi langit malam. Mereka sepertinya sangat senang.
"Ta, did you manage to take the recording earlier?"
"Pasti dong."
"Mana? saya ingin lihat!" Sinta memperlihatkan video yang dia rekam tadi.
"Ternyata profesional juga kamu dalam mengambil rekaman ya?"
"I didn't know you were an expert in videography," puji Jennifer yang membuat Sinta menepuk dadanya dengan bangga.
"Pastilah, Sinta nih bos."
"Mantul! ditambah lagi kameranya sangat bagus. Sungguh rencana ini berjalan dengan sempurna."
"Nah apa selanjutnya?" tanya Sinta dan Jennifer pun menyeringai, ia mengedit video tersebut sehingga terlihat bahwa korbannya terlihat menyakiti seorang anak kecil yang tidak bersalah menggunakan pisau yang berada ditangannya.
"Saya akan kirim video ini di medsos," ternyata Jennifer memang melakukan apa yang ia katakan.
"Gila! lo ngirim video ini ke grup gosip sekolah? lo taukan kalau mulut mereka tuh ember-ember semua?! gimana kalau berita ini menyebar ke satu sekolah?" Jennifer menepuk dahinya mendengar perkataan Sinta yang konyol.
"Nah, itu makanya saya upload. Bukankah rencana kita dari awal memang ingin nyingkirin dia?" Jennifer berpikir sebentar.
Sinta memutar bola matanya dengan malas.
"Kamu ngatain Tina bego, ternyata kadang otak kamu lemot juga ya?!" ucapan Jennifer membuat Sinta menjadi cemberut.
"Kita saksiin aja apa yang akan terjadi padanya!" gadis itu mengeluarkan senyuman licik.
......................
Shaletta kini berada dihalaman sekolah. Ia melangkah menuju kelas melewati jalan yang biasa ia lalui. Tapi kali ini berbeda, setiap dia berjalan dekat orang, maka mereka langsung berbisik-bisik sambil memperlihatkan sesuatu yang berada di hp.
Namun Shaletta tidak terlalu mengacuhkannya dan terus berjalan ke kelas. Sampai di kelas cewek tersebut meletakkan ranselnya di atas kursi.
Ia menghampiri Sinta yang sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Sinta!" sapa Shaletta dengan ceria. Tapi Sinta memalingkan wajahnya hingga Shaletta yang melihat itu merasa heran.
"Lo kenapa Ta? kok kayak marah ama gue?" ucap Shaletta dengan nada bercanda. Sinta tidak menjawab pertanyaannya, ia masih menatap sahabatnya.
__ADS_1
Yang ditatap ekspresi wajahnya berubah menjadi serius.
"Lo kenapa Ta? apa lo lagi marah ama gue?" tanya Shaletta.
"Pura-pura nanya lagi, pasti lo tahu kenapa gue gini!"
"Apa maksud lo?"
"Ini apa?!" Sinta menunjukkan ponselnya pada Shaletta lalu memutar video yang telah beredar tersebut. Melihat hal itu Shaletta menggeleng khawatir.
"Ta, lo kan tahu gimana gue? ga mungkin gue ngelakuin itu. Lagian lo kemarin juga ada
di sana."
Sinta bosan mendengar Ila bicara,langsung saja ia menyela perkataannya.
"Udah, cukup Sha! gue muak dengar ucapan lo! gue nggak pernah nyangka kalau akan seperti itu. Gue pikir lo itu orang baik-baik, tapi ternyata itu jauh dari ekspetasi gue.
tampang lo berbanding terbalik dengan hati lo. Dasar munafik!" mata Sinta mulai berair.
"Ta, gue ga gitu ta!" ucap Shaletta, matanya menunjukkan kesedihan. Ia memegang tangan Sinta. Akan tetapi Sinta menepis tangan sahabatnya.
"Udahlah Sha! gue nyesel pernah punya teman kayak lo! mulai sekarang lo bukan lagi teman gue!" teriak Sinta dan keluar dari kelas.
Shaletta terpatung mendengar ucapan Sinta. Ia baru tahu alasan kenapa setiap dia berjalan orang langsung berbisik-bisik.
Tak lama, bel masuk berbunyi. Para siswa/i masuk ke dalam kelasnya masing-masing dengan berbagai tampang. Ada yang heboh, ada yang diam dan ada yang b aja.
Hari ini masih tetap kegiatan remedial bagi yang nilai ujiannya tidak tuntas karena nilai Shaletta semuanya di atas KKM, ia diperbolehkan berada di luar kelas. Jadi Shaletta sekarang berada di taman belakang sekolah. Tempat yang selalu ia kunjungi ketika hatinya sedang berkecamuk rasa sedih.
Shaletta sedang duduk bersandar di atas bangku. Matanya menatap kosong hamparan alam yang berwarna hijau.
Shaletta merasa frustrasi namun hanya bisa pasrah.
"Apa sebenarnya yang terjadi? siapa yang tega memfitnah gue? padahal hal itu tidak seperti yang mereka lihat."
Tiba-tiba suara seseorang dari belakang membuyarkan lamunan Shaletta.
"Lo harus sabar! ga boleh nyerah."
Shaletta menoleh ke belakang, terlihat sosok yang sedang berdiri memakai baju seragam yang sama dengannya.
"Lo itu kuat. Yang penting jangan pernah keadaan menguasai diri lo hingga membuat diri lo terpuruk dan susah untuk bangkit."
Shaletta tertunduk mendengar ucapan itu.
"Ingat! lo akan mengalami sesuatu yang lebih sulit dari ini!"
Saat Shaletta kembali menegakkan kepalanya, orang tersebut tidak ada lagi dihadapannya.
Cewek itu melihat ke kiri dan kanan, namun nihil tidak ada tanda-tanda sosok itu. Ia tak ambil pusing, dari pada menambah beban pikirannya, lebih baik ia kembali duduk untuk menghirup udara segar.
***
Saat ini Shaletta baru sampai di kelas, seorang gadis bicara dengan nada yang sangat sinis.
"Hnnnh, kasian ya nggak punya teman!!" lalu ditimpali yang satu lagi.
"Mana ada yang mau temanan ama orang kaya dia, takutnya nanti mereka korban selanjutnya.
"Ternyata most wanted sekolah ini munafik ya?! kecil aja gitu, gimana nanti saat besar?mau jadi apa? psychopath?" tambah yang lain kemudian mereka tertawa bersama.
Shaletta yang tidak tahan lagi dengan ucapan mereka langsung bicara.
"Ta, kalau lo tahu apa yang terjadi sebenarnya pasti lo ga akan bicara gitu."
Ya, gadis itu adalah geng barunya Sinta.
"Eh, semuanya itu udah jelas kalau lo berusaha nyakitin adik gue," ucap Jennifer.
"Dan gue gak habis pikir, kalau masih ada orang seperti lo yang masih hidup di dunia ini! gue menyesal karena telah mengenal lo
dihidup gue Sha!"
Deg
Kalau dikatakan sakit emang sakit sih. Bayangin aja, orang pertama yang ia kenal di sekolah ini tak mau lagi berteman dengannya bahkan menghujat dan membullynya. Tapi ia tetap sabar, hatinya tetap teguh menerima semua ini.
__ADS_1
"Dari pada telinga gue capek denger mulut kotor mereka, lebih baik pergi ke perpus." batin Shaletta diam tak bersuara meninggalkan kelas tersebut.
Cewek itu masuk ke dalam ruangan dan mencatat namanya di buku daftar pengunjung.
Diambilnya salah satu buku lalu duduk
di meja yang terpencil dan jauh dari murid lain.
Jenuh dengan bacaan tersebut ia berkeliling mencari buku yang terlihat menarik, namun siapa sangka dari sini Shaletta perlahan mulai masuk ke dunia lain.
"*Huft, kok ga pada bosan semua."
"Lebih baik gue keliling aja. Mana tau ada yang lebih menarik*."
Shaletta mendengarkan kata hatinya. Ia mulai berkeliling, namun nahas belum ada judul bacaan yang menarik perhatiannya.
Shaletta melihat ke depan. Hanya itu
satu-satunya daerah yang belum ia datangi. Shaletta mengarungi langkahnya mendekati tempat tersebut. Sepi, gelap, terpencil, hanya itu yang bisa didefinisikan.
Karena rasa penasaran, ia terus mengarah ke depan. Dan itu tidaklah sia-sia sebab ada satu buku yang berhasil mencuri hatinya.
Shaletta langsung pergi dari area yang menyeramkan tersebut. Dibawanya ke meja tadi.
"Sepertinya ini buku tua.Tapi nggak papa, siapa tahu isinya lebih menarik dari semua buku yang pernah gue baca."
Ia mengelap sampul buku tersebut dan terlihatlah sebuah tulisan yang tidak dimengerti sama sekali olehnya.
Saat ia sedang berusaha memahaminya, datanglah sebuah geng pembuat keributan.
"Woy Sha! lo ngapain?"
"Nampak?"
"Baca buku," jawabnya.
Shaletta kembali melihat mereka.
"Mo bayar hutang sekarang aja?"
Merekapun mengerti maksud Shaletta. Semuanya langsung duduk di bangku yang melingkari meja. Sebetulnya, ada sesuatu yang tersirat di hati mereka semua. Ketua the geng five mewakili pertanyaan anggotanya.
"Hmmm Sha, gue mo nanya. Boleh?"
Shaletta pun meletakkan bukunya.
"Apa?"
"Tapi, lo jangan marah ya! apa benar kabar yang beredar disekolah kita?" tanya Reno yang membuat Shaletta menaikkan alisnya. Rizal mengeluarkan hp dari sakunya lalu menunjukkan videonya.
"Apa kalian juga percaya dengan berita itu?" tanyanya dengan tatapan mata yang sulit diartikan. Mereka tidak tega melihat sang most wanted sekolah sehingga mereka langsung menggeleng mendengarnya.
"Kita percaya sama lo. Nggak mungkin lo akan melakukan hal-hal gitu!"tegas Gema.
"Kalau kalian mau ngehujat gue seperti yang lain, gue terima kok. Nggak akan ada yang percaya sama gue."
"Sha! lo ga boleh bicara kayak gitu," ucap Adam. Shaletta dari tadi hanya menatap buku di tangannya.
"Gue harus pergi!" Shaletta pergi dari ruangan tersebut. Mereka saling memandang satu sama lain.
"Gue nggak tega ngelihat dia," ujar Adam.
"Lo pikir hanya elo? kami juga nggak tega lihat dia sedih!" tambah Reno.
"Gue ada ide, gimana kalau kita selidiki kasus ini?" ide cemerlang dari Arya membuat semua mata menatapnya.
"That's a good idea."
"Tapi, gimana rencananya?" tanya Arya dengan nada polosnya membuat Rizal tersenyum smirk.
"Gimana kalau..."
Bersambung...
Terus baca ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!
Jangan lupa untuk tekan tombol like, beri vote and coment serta kasih bintang 5!
__ADS_1
Thanks