
Gema langsung terdiam. Wajahnya kelihatan ragu.
"Hmmm, gue nggak tahu apa ini bisa karena gue belum pernah meretas video dan ini semua akan sulit. Tapi akan gue coba."
"Adam dan Rizal ikut gue, kita akan mencari tahu sumber dari video itu!"
"Ryan dan Arya terus pantau Jennifer dan orang-orang yang mencoba mendekati Liasha!" ucap Reno memberikan perintah.
"Tapi apa lo yakin kita bisa nemuin semua bukti sebelum hari Sabtu?" tanya Adam.
"Jika kita mengerjakannya secara bersama-sama, pasti," jawab Reno mantap.
***
Hati Shaletta sangat sedih, hanya karena sebuah kesalahpahaman ia dikeluarkan dari sekolah.
Ia hanya bisa pasrah dengan semua ini. Tak ada yang bisa ia lakukan.
Seakan ikut merasakan apa yang terjadi pada Shaletta, angin berhembus dengan lembut di wajahnya yang cantik dan manis itu.
Sungguh melelahkan, itulah yang ada dipikirannya. Saat ini ia hanya menatapi hamparan hijau nan luas yang berada
di belakang sekolah. Yap, gadis itu sedang berada di taman. Duduk di kursi panjang yang terdapat sandarannya.
Mendadak, suara seseorang terdengar di telinga Shaletta.
"Sampai kapan lo mau sedih terus?"
Gadis tersebut menoleh kebelakang.
"Lo lagi? ada perlu apa lo kesini?"
"Hati-hati dengan orang-orang sekeliling lo! ga semua orang bisa lo percaya."
"Emang lo siapa? apa peduli lo?"
"Pada akhirnya lo juga akan tau siapa saya. Tapi ingatlah! seiring berjalannya waktu akan banyak hal-hal diluar nalar yang akan lo alami."
Shaletta memicingkan matanya seakan curiga, ia bicara asal-asalan.
"Gue tau, lo pasti makhluk astral kan?"
"Seiring berjalannya waktu, lo juga akan tau. Sekarang pergilah! teman-teman lo sedang mencari lo."
Shaletta menuruti perkataan sosok misterius tersebut. Namun, saat melihat ke belakang, tidak ada seseorang pun di sana. Bulu kuduk cewek itu berdiri semua dan ia merasa merinding.
"Sebaiknya **gue s**egera meninggalkan tempat ini!"
***
"Gem, lo udah dapat info dari video itu?" tanya Reno.
"Belum, setiap gue hampir berhasil laptop gue terus aja eror."
"Kalau lo lagi susah, hubungin aja gue," ucap Arya antusias menawarkan bantuan.
"Oke, aman."
***
Hari sudah malam. Terlihat Shaletta sedang termenung melihat langit malam yang penuh akan bintang-bintang yang bersinar. Dalam otaknya, ia terus memikirkan masalah yang ia alami tadi di sekolah. Sejenak ia melupakan beban pikirannya, ia melihat bintang dan terus bertanya.
"Bagaimana ya keindahan alam semesta?berapa banyak jumlah bintang di tata Surya?apa di planet lain ada kehidupan?" seperti itulah kiranya yang dipikirkan olehnya.
"Hmmm, apa gue keluar ya? biar bisa lihat keindahan langit malam."
Akhirnya Shaletta pergi keluar lewat jendela sekaligus pintu yang mengarah ke teras balkon. Rumahnya itu merupakan rumah yang cukup elit dan elegan.
Ia terus berjalan keluar lalu duduk
di bangku. Pandangannya tidak lepas dari melihat benda langit.
Ia masih menatap kosong keindahan alam
di malam hari. Namun, tiba-tiba terdengar suara seseorang.
"Sha!"
"Astaghfirullaah, siapa?" Shaletta terkejut sembari mengelus dadanya.
"Sha!"
__ADS_1
"Jawab gue! keluar nggak? kalau nggak, gue akan pukul lo sekarang juga!" ancam cewek itu.
Sosok itupun menampakkan dirinya dan berada di hadapan Shaletta.
"Lo makhluk astral yang ada di taman belakang sekolah itu kan?" tanya Shaletta dengan matanya yang masih setia menatap langit.
"Makhluk astral? makhluk itu nggak ada," ucapnya sambil tertawa paksa.
"Kalau nggak ada, gimana caranya lo bisa sampai di sini? manjat?" tanyanya tapi tidak dijawab oleh sosok itu.
"Saya mau kasih tau lo sesuatu," ujarnya mengalihkan pembicaraan.
"Katakan aja kalau lo ingin ngalihin pembicaraan! udah, ngaku aja!"
"Tapi, apa yang ingin lo bilang?"
"Tentang video itu."
Mata Shaletta langsung membulat mendengar ucapan sosok tersebut.
"Yang mengirim video itu teman sekelas lo."
"Apa? teman sekelas?" siapa?" Shaletta tampak berfikir.
"Lo cari tahu sendiri siapa orang itu."
Shaletta tertegun. Mendadak terlintas sebuah ide dipikirannya. Ia tersenyum smirk.
"Lo makhluk astral kan?"
"Mana ada orang sekeren dan seganteng gue ini makhluk astral."
"Lo pikir gue ini bodoh? kalau lo itu nggak makhluk astral gimana caranya lo tahu siapa pengirim video itu."
"Sudah! sekarang lebih baik lo pergi! gue udah ngantuk mau tidur," Shaletta menguap sembari menutup mulutnya dengan tangan.
"Saya dah capek-capek ke sini ngasih info sama lo, malah lo usir."
"Tinggal ngehilang aja apa susahnya sih?"
ucap Shaletta malas, ia sudah terlalu mengantuk.
gadis itu berjalan masuk ke dalam kamarnya melalui jendela multifungsinya itu.
Sementara diluar...
"Napa sih gue di sini selalu digituin?"
"Padahal udah dikasih informasi malah diusir," ucapnya dengan nada kesal.
"Emangnya apa yang mereka pikirin?" sosok tersebut terus saja mengomel tak menentu. Ia kesal karena telah diusir oleh seorang manusia dan yang jadi masalahnya itu seorang perempuan yang mengusirnya.
"Udahlah! nggak ada juga gunanya marah-marah gini, lebih baik saya pergi!"
Di kamar...
"Kok nggak ada suara lagi ya?" Shaletta memutuskan untuk mengintip dari balik tirai karena rasa penasaran yang menganggu hatinya itu.
"Oh, udah pergi toh," ia tak habis pikir apakah ada hantu pengomel seperti dia. Sejak ia masuk kedalam kamar hantu tersebut terus saja mengoceh tak berjelasan. Shaletta jadi letih mendengar ocehan tersebut.
"Gue ragu , dia itu hantu atau makhluk apaan sih? emangnya ada hantu yang mulutnya terus saja mengeluarkan umpatan yang tidak ada hentinya jika didengarkan."
"Dahlah, dari pada itu nambah pikiran gue lebih baik lupain aja deh! bagusnya gue bobo sekarang."
......................
Waktu terus berjalan dengan cepat, menipu kita yang terlena. Tidak terasa, sekarang telah hari Rabu.
"Gem, lo udah tau siapa pengirim video itu?"
"Belum, jawabannya masih sama setiap gue sedikit lagi berhasil, laptop gue tuh selalu aja eror. Gue jadi kesal!"
"Tapi gue akan terus mencoba. Target gue sebelum hari Jum'at kita udah tau siapa dalang video itu," ucap Gema meyakinkan.
"Oh ya, lo sama Arya terus mantau mereka kan?" Ryan mengangguk pertanda iya.
"Tapi anehnya, kita nggak nemuin kejanggalan sama mereka."
"Meskipun seperti itu, mereka harus tetap kalian pantau!"
"Lo akan tertangkap basah Jennifer Naquita, jadi siap-siapin aja diri lo untuk kena DO dari sekolah ini," batin Gema.
__ADS_1
***
Sudah dua kali mereka berputar-putar di sekolah, namun nihil belum ada satupun para anggota TGS yang terlihat.
"Gem, mereka mana sih? gue capek putar-putar dari tadi," keluh Arya.
"Gue juga capek Ya,"
"Tapi tunggu! gue baru ingat biasanya kan tempat kita ngumpul tuh di taman sekolah."
"Maksud lo kita putar balik?"
Gema mengangguk.
"Mager! dari tadi kita mutar-mutar nggak jelas kayak orang bego," ujar Arya membuat Gema memutar malas bola matanya.
"Lo lakik ga sih? manja banget jadi orang."
"Ck, iya-iya."
Mereka berdua pergi ke taman belakang sekolah. Ternyata benar, Reno dan kawan-kawan yang lainnya terlihat sedang membahas sesuatu.
"Pasti masalah video itu lagi," pikir Gema dan Arya.
"Hai guys, jadi gimana? udah ketemu nggak orangnya?" tanya cowok itu dan langsung duduk.
"Udah, gue udah cari informasi sama mereka," jawab Reno.
"Dari?" tanya Gema balik.
"Gue minjam salah satu hp teman kelas gue."
"Terus?"
"Gue beri sama Rizal, dia nyalin nomornya dan nomor orang yang udah kita curigai dari awal."
"Mana nomornya? biar gue salin."
Gema mencatat nomor handphone orang-orang tersangka.
"Bagus, ini akan semakin mempermudah dan memperkuat bukti yang kita dapat."
"Gem, coba lo retas data dari nomor hp mereka!"
"Oke, lo tenang aja Ren! gue pasti usahain."
"Nanti malam kita semua ngumpul dirumahnya Gema," ucap Adam.
"Jika bisa bukti ini sudah kita tunjukin sama kepala sekolah besok," ucap Rizal.
"Gue ada ide, gimana jika kita memberi cewek bule itu cincin?" usul Adam.
"Untuk apa lo beri dia cincin?" Ryan menjadi heran.
"Lo jangan salah paham woy! kita akan memberi alat penyadap suara di dalam cincin tersebut," terang Adam.
"Tapi jika dia nggak bicara apa-apa gimana?" tanya Arya.
"Dan jika dia curiga ama kita gimana? kita akan susah untuk menemukan bukti-bukti!" sanggah Rizal.
"Rencana kita tetap aja gini, lo lo dan lo ikut sama gue!" ucap Reno menunjuk Ryan, Rizal dan Adam.
"Kita berempat harus tetap staying kamera dan kita juga tetap mantauin aktivitasnya dia di sekolah ini. Gue yakin kalau dia itu adalah pembuat kekacauan ini."
"Oke, gue setuju ama lo Ren!" dukung Rizal.
"Jadi, intinya gue harus nemuin pelaku itu paling lambat malam ini?" tanya Gema lagi.
"Ya dan kita akan membantu elo. Orang tua lo di rumah nggak malam ini?" tanya Reno.
"Nggak, orang tua gue lagi pergi."
"Perfect, berarti kita bisa tidur di rumah lo. Boleh?"
Bersambung...
Terus baca novel ini dan tunggu kelanjutannya ya!
Jangan lupa untuk tekan tombol like, beri vote and coment serta kasih bintang 5!
Thanks
__ADS_1