Misteri Buku Tua

Misteri Buku Tua
Buat Onar


__ADS_3

"Gimana caranya gue nyampeinnya?"


"Jadi gini, setahun yang lalu hiduplah..." ucap Putri yang sedang bercerita seperti kakek Ara dan Aris di film Pada Zaman Dahulu.


"Pendekkan aja ceritanya!"


potong Shaletta tak sabaran.


"Dulu setahun yang lewat Dara itu pernah main ke kelas X-C. Saat itu yang gua ingat dia ketemu ama cogan. Sejak saat itu, tuh anak sering main ke X-C dan mencari informasi tentang Gibran. Eh, rupanya tuh cowok juga nyari info tentang si jamet. Ya, akhirnya malah pacaran."


"Tuh kenapa mereka putus? gimana caranya Dara berhubungan sama Rayan?" sela gadis itu lagi.


"Aduh! kalau gue bicara tuh jangan main potong aja!" Putri menjadi kesal dan sikap Shaletta yang seenaknya saja.


"Ehh, cepat aja! next!"


"Nah setelah beberapa bulan mereka berhubungan, tuh si buaya malah tertarik ama cogan kelas lX. Ya berhubungan lagi deh."


"Gimana bisa? Rayan nggak tau tuh?"


Putri melotot kesal melihat Shaletta. Udah diperingatin malah diulang lagi.


"Udah gue bilang! jangan potong gue bicara!"


"Lanjut aja!"


"Nah, entah dari mana si Rayan dapat nomor si Gibran dan pas waktu itu dia iseng-iseng cari info tentang Gibran karena dia denger rumor kalau si Dara tuh udah punya DOI. Dia coba ngebajak hp Dara yang lain dan ternyata ya gitulah. Si Dara malah mosting foto Gibran.


Tuh cowok coba chat Dara dengan nomor baru nyuruh save, ya di save. Setelah itu Dara post fotonya ama Gibran dan itu membuat Rayan menjaprinya. Terus tuh cowok nanya apa Dara dan Gibran itu pacaran. Eh, bodohnya tuh cewek malah jawab iya."


"Terus-terus?"


"Si Rayan minta putus. Terus beberapa hari kemudian si Gibran juga minta putus."


"Terus, ada nggak isu-isu kalau mereka balikan?" tanya Shaletta yang keponya sudah berada di ubun-ubun.


"Nggak."


Shaletta hanya ber"oh"ia saja.


"Oh ya, gue baru inget harus pergi. Bye!" ujar cewek itu melambaikan tangannya, meninggalkan Putri yang sedang duduk santai menunggu kedatangan bestienya.


***


"Yes! akhirnya gue dapet informasi lengkap tentang tuh cowok. Misi berjaya!" teriaknya kegirangan. Hatinya sangat puas mendengar semua info yang didapatnya.


Bukan Shaletta namanya kalau tidak menuntaskan sesuatu sampai ke akar-akarnya. Kalau ada sesuatu yang berhasil menarik perhatiannya, maka hal itu akan terus dipantaunya sampai terungkap identitasnya.


Hati Shaletta kini sedang merekah. Baginya bisa saja hal ini menjadi kartus AS sewaktu-waktu. Kurang kerjaan banget tuh anak!


"Waw, apa ini?" gumam cewek kepo itu sambil tersenyum nakal melihat most wanted sekolah menuju lorong.


Shaletta menyiapkan sesuatu yang pastinya akan membuat Vincent naik pitam. Sungguh ia akhir-akhir ini menjadi aneh karena sedang galau dan suntuk.


Ia merasa bosan di dalam kelas. Padahal baru saja masuk, rasanya ia ingin kembali keluar. Seolah-olah ada aura negatif yang membuatnya tidak nyaman ketika berada di lokal X-A.


"One..."

__ADS_1


"Two!"


"Three!"


Byuuurrr!


suara air membasahi baju Gerald. Sementara


yang membuat onar hanya terkikik tidak jelas sambil mengejek.


"Hahaha! rasain!"


"Makanya jangan fakeboy mulu jadi orang! tuh mereka hampir ngarep malah lo tinggalin."


*Ekhheemmm!


S*uara deheman seseorang berhasil


membuat mulut cewek yang pantas disebut bar-bar itu bungkam.


Ia mendongak ke atas. Ternyata ia salah sasaran!


"Eh! ternyata bang Gerald toh? ngapain


lo di sini? tadi gue lihat di kantin," ujar Shaletta berbicara lancar seperti tidak ada masalah.


Gerald hanya menatap cewek itu datar yang akan membuat semua gadis takut dengan tampangnya saat ini. Namun lain dengan Shaletta. Ia hanya bersikap seolah


tidak membuat kesalahan.


Gadis itu mengintip ke belakang dan langsung terlihat sosok Vincent yang tertawa cekikikan.


"Bang Gerald yang ganteng, melebihi kegantengannya Vincent si cowok prik itu. Gue saranin nggak usah marah-marah deh! gue dengar jarang senyum itu buat wajah cepat tua loh," ucapnya tanpa beban.


"Oh ya, gue ingat! gue harus bertemu guru dulu. Gue pergi dulu!" Shaletta ingin lari, namun sebelum pergi pergelangan baju tangannya telah ditahan Gerald terlebih dahulu.


"Lo ingin lari begitu saja?" tanya cowok itu


dingin dan datar.


"Eh! nanti kalau gue kena marah sama guru,


lo yang gue salahin ya!" ancam Shaletta seenak jidat.


"Lo yang salah ngapain gue yang lo tuduh?" jarang-jarang sekali Gerald mau melayani seseorang apalagi cewek.


"Lah, kok gue sih? gue aja nggak salah," Shaletta melakukan pembelaan terhadap dirinya.


"Kalau nggak lo yang salah, terus siapa? demit?"


"Ngapain gue yang lo salahin? cakep gini


seenaknya aja main tuduh," sanggah seseorang tiba-tiba muncul dari belakang.


"Kan!"


"Cowok itu tuh yang nyebutin lo! gue nggak tahu ya! tanggung jawab tuh!" tuduhnya menyudutkan Gerald.

__ADS_1


"Lo yang salah!"


"Aduh! lepasin napa ih? gue mau ke WC!"


teriaknya memberontak.


Ternyata tak sia-sia, tangannya terlepas.


Kesempatan emas tidak boleh disia-siakan,


itulah prinsip Shaletta. Ia langsung kabur begitu saja, lari sekencang-kencangnya keluar dari lorong.


......................


Satu Minggu sudah, Shaletta tak pernah lagi main ke kelas Xl. Ia juga jarang bertemu dengan para Trio cool. Hal itu membuat hubungan mereka jadi merenggang.


Hati Shaletta sangat berkecamuk. Nyalinya langsung menciut untuk dekat dengan Trio macan ketika mendengar bahwa Dara kembali menjalin hubungan dengan Gibran.


"Akh!suntuk banget sih rasanya. Nggak ada teman, tapi biasanya gue kan juga nggak punya teman. Mau ngerjain si cowok prik, tapi males."


Gadis itu juga jarang bertegur sapa dengan Gibran. Ia selalu menghindar dengan mereka namun masih memperhatikan dari jauh.


Beberapa hari belakangan ini, Shaletta tak lagi melihat Gibran.


Ia duduk di kursi taman, tempat favoritnya sejak dulu.


"*Ya Allah, semoga gue bukanlah hambamu yang munafik."


"Mata yang selalu membuat gue rindu,


membuat gue terlena saat memandangnya."


"Gue sangat familiar dengan mata itu."


"Siapa dia sebenarnya*?" pertanyaan tersebut kembali terngiang di kepalanya.


Tiba-tiba Shaletta melihat sesuatu yang meloncat-loncat di balik pohon mahoni.


Karena terlalu penasaran, ia mendekati batang tersebut dengan beraninya.


Gadis itu terkejut. Mendadak hantu tersebut meloncat ke arahnya. Wajahnya pucat pasi dengan kain kafan yang dipakainya telah lusuh.


"Tolong temanin saya!" pinta pocong tersebut.


"Astaghfirullaah, ngagetin aja lo!" latah Shaletta yang jantungnya berada di ambang batas.


"Tolong temanin saya!"


"Pergi sono! teman lo banyak tuh yang mau main ama lo."


"Tolong temanin saya!" pintanya lagi.


"Emang lo mau kemana minta ditemenin mulu dari tadi?" Shaletta menjadi kesal dengan sifat pocong itu.


"Tolong temanin saya!" pintanya terus.


"Ihh! lo bener-bener ya pocat! dari tadi nyuruh gue nemenin terus!"

__ADS_1


"Akhh! gue ingin ke sekolah balik. Ganggu aja nih pocong,"gerutu Shaletta yang sedang badmood mengobrol dengan para hantu.


Ia menuju ke sekolah walaupun dengan hati yang kesal. Namun, hati kecilnya sedikit terhibur melihat pocong aneh tadi.


__ADS_2