
"Emang siapa yang natap lo?"
Gerald langsung menengahi mereka yang sepertinya membuat keributan berencana.
"Ck, udah! lo jangan ganggu dia!" ujar Gerald kesal. Shaletta langsung terdiam saat ketua timnya menyuruh diam.
"Sha, dia itu apa? hantu? demit? atau jangan-jangan iblis lagi," ucap Vincent semakin ngelantur.
Abian langsung melotot mendengar perkataan cowok pengecut di depannya.
"Sembarangan! ganteng gini dibilang iblis."
"Yang jelas dia itu nggak manusia," Shaletta menambahkan info tentang Abian.
"Sekarang kita to the point aja! ngapain lo ada di sini Bi?" tanya cewek tersebut.
"Saya kangen lo. Tuh para hantu malah nanya-nanya lo kemana, kok cewek yang kerjanya sad di taman nggak muncul? karena mereka sewot di telinga saya, ya akhirnya saya ribut dengan dia," ucapnya jujur.
Shaletta langsung menghirup udara seperti orang yang sedang flu.
"Gue nggak nyangka kalau gue juga punya fans yang bukan manusia. Gue terharu!"
Mereka yang ada di sana malah menatap gadis itu aneh.
"Kalian harus jaga tuh cewek. Gue muncul tadi karena ada makhluk yang ingin deketin kalian. Tujuannya itu hanya cewek prik yang nggak ada menariknya. Ingat! kekuatannya itu sangat besar," terang Abian yang sedang dalam mode serius.
"Kok gue nggak bisa ngerasain?" tanya Shaletta.
"Makhluk itu sangat pintar menyamar. Saking hebatnya kalian aja nggak bisa merasakan keberadaannya," tambahnya lagi.
"Kalian bertiga harus bisa menjaga dia selama di hutan ini! jangan biarkan dia sampai sendirian. Banyak para makhluk disini yang mengincar dirinya."
Shaletta melihat ponselnya, ia terpekik saat melihat sesuatu dari ponselnya.
"5 menit lagi harus ngumpul!"
"Apa?" ucap mereka serentak.
"Aduh, gimana nih? mana benderanya belum ketemu lagi," gerutu gadis itu.
"Tapi ada sesuatu yang paling penting yang belum kita temui," ujar Vincent membuat semua orang penasaran.
"Apa?"
"Hati kamu. Eaaaaa!" ucap mereka serentak.
"Gue serius!"
"Iya-iya."
Shaletta langsung saja melangkah ke depan.
"Lo mau kemana?" tanya cowok yang sama sekali tidak jelas statusnya.
"Mau cari si mbak biar bisa nemenin lo."
"Emang lu berani?"
"Ya, mau cari benderalah goblok!"
"Kalau lo cara ke sana, saya jamin lo nggak akan nemuin bendera."
"Dari mana lo tahu?" Kali ini Gibran yang bertanya.
"Lo pikir saya di sini tuh nggak mantau kinerja kalian apa?"
"Sini saya tunjukin jalannya," ajak Abian sambil berjalan ke arah kiri.
"Awas lo kalau sampai kami tersesat!" ancam Gerald dengan pandangan yang tajam melihat Abian.
"Nggak mungkin gue bawa kalian ke jalan yang salah," ceramahnya yang sepertinya akan mulai nyinyir.
"Ngeyel lo, dah cepat!" gadis itu terus mendesak Abian agar tidak berdebat dengan mereka.
Mereka mengikuti Abian yang berjalan
di depan. Setelah berjalan selama 1 menit, mereka melihat sebuah bendera putih yang dipancang dekat dedaunan.
"Ternyata lo bisa dipercaya juga ya?"
"Kan udah saya bilang, nggak..."
Belum selesai dia bicara sudah langsung disela oleh Gerald.
"Benar aja kali, lo itukan hantu, setan atau apalah itu," gumam Vincent.
"Hey, lo anaknya manusia cucunya nabi Adam, jangan asal ngomong ya!" sewot cowok itu kembali.
"Udah ah! bertengkar terus kerja kalian.," omel Shaletta.
"Vin, itu si mbak lagi di belakang lo!" ucap Shaletta dengan arah pandangannya
ke belakang Vincent dan Abian.
"Si mbak? siapa maksud lo? dari tadi ngomongin si mbak terus."
Mendadak terdengarlah bunyi suara yang cukup melengking.
"Hai ganteng, main yuk!"
Hihihihihi!
Vincent menelan salivanya dengan sangat susah. Ia menoleh kebelakang dan langsung
melihat seorang perempuan berambut sepinggang memakai baju putih lusuh dengan mata hitam panda mengeluarkan darah. Ditambah lagi tangan kirinya yang potong dan tubuhnya yang melayang-layang di udara.
Hantu tersebut menyeringai yang akan membuat siapapun mati ketakutan.
"Hihihi, ganteng mau nggak nemenin aku?"
"Disini," bisiknya.
Hihihihihi!
Shaletta yang telah dulu mencabut pancang bendera langsung mengajak Gerald kabur.
"Kabuurrr!" teriak Abian yang semakin menjauh.
Vincent dan Gibran melirik ke sumber suara.
"Buset dah, dulu aja mereka lari Gib."
"Sekarang waktunya kita untuk..." ujar Gibran.
"Kabur!"
Dua manusia aneh itu lari kocar-kacir mengejar teman-temannya.
Hihihihihi!
Tawa kuntilanak malah semakin menyeramkan.
***
Akhirnya para anggota Tiger sampai di tenda dengan keadaan selamat dan sehat wal'afiat.
"Untung gue masih bisa hirup udara segar," ucap Vincent.
"Lo nggak takut pas ngelihat hantu tadi?" tanya Gibran pada Shaletta.
"Nggak sih, cuman gue merinding aja ngelihat wajahnya belum lagi tuh darah ngalir di mata dan tangan kirinya," ucapnya menerangkan membuat semuanya malah bergidik ngeri.
"Woy bocil! itu yang namanya takut! lo ngerti definisi takut nggak sih?" Vincent malah ngegas terus kalau bicara sama Shaletta.
__ADS_1
"Biarin bocil, dari pada lo kayak om-om!" ejek Shaletta sambil menjulurkan sedikit lidahnya.
Gibran membuat mukanya kesal. Ia kembali mengedarkan pandangannya dan beberapa saat kemudian dia berteriak kegirangan.
"Whatt? jadi ceritanya kita yang menang nih?"
Shaletta mengangguk, toh memang betul kan?
"Nggak, kita kalah!" ucap cewek itu kesal.
"Ananda, sekarang kalian berkumpul semuanya!" perintah guru pembina dengan menyorakkannya di toa.
Semua murid menuruti perintah sang guru dan langsung berdiri melingkari api unggun.
"Ananda, berdasarkan hasil perlombaan tadi, kita punya pemenang baru."
"Siapa ya?"
"Tim siapa?"
"Apa udah ada yang berhasil?"
Begitulah bunyi desas-desus bisikan para pendaki gunung.
"Selamat untuk tim Tiger yang bekerja dengan keras. Sebagai penghargaannya, kalian berhak mendapatkan hadiah berupa uang tunai sebesar Rp.1.000.000,00 dan medali keberanian."
"Whatt?"
"Tunai?"
"Rp.1.000.000,00?"
"Medali?"
Pekik para murid tak percaya mendengar ucapan sang pembina. Mereka malah menyesal tidak punya semangat untuk melakukan jurit malam.
"Pemberian hadiah akan dilakukan pada malam ketiga, serentak dengan pemberian hadiah yang lainnya."
"Sekarang silahkan untuk istirahat! besok kita akan melakukan berbagai kegiatan dan petualangan," perintah guru pembina.
Para siswa/i pergi ke tenda masing-masing
untuk istirahat. Mereka sangat lelah dengan kegiatan hari ini. Belum lagi besok akan banyak kegiatan.
Shaletta masuk kedalam tenda perempuan.
"Kayaknya dia kakak kelas," batin cewek tersebut.
Gadis itu tersenyum menatap Shaletta.
"Hai, lo Shaletta most wanted sekolah kan," tanyanya sangat benar.
"Iya, emang nama kakak siapa?" tanyanya ramah.
"Lestari, panggil aja Tari."
Shaletta hanya membalas ucapan Tari dengan senyuman.
"Aku tidur dulu ya kak! soalnya ngantuk banget nih," alasan Shaletta tapi itu ada benarnya juga.
"Iya, good night. Wonderful dream."
Keadaan tenda Trio Macan...
"Ger! gue nggak bisa tidur," rengek Vincent kayak anak kecil.
"gue juga," tambah Gibran.
"Hmmm, tutup aja mata lo," jawab Gerald santai yang masih setia menatap layar gadget.
"Itu masalahnya! udah gue tutup nih mata, tapi nggak masuk juga ke alam mimpi."
"Gue nggak bisa tidur Gib!" Lah, Gibran pula yang akan jadi sasaran?
"Gimana kalau kita diluar aja?"
"Lo ngatain guru lo sendiri Vin?" ujar Gibran dengan tampang watadosnya.
"Nggak."
"Kuy keluar! kalau ada yang patroli, sembunyi aja!" usul Vincent yang tak tahan.
"Terserah! kalau gue kena marah, gue salahin lo Vin."
"Iya-iya gue nanggung."
Duo itu pergi keluar tenda dan duduk di pos 2. Tak lupa mereka juga membawa HP mereka yang sudah terisi full.
Baru saja duduk di bangku, ada-ada saja yang menganggu ketenangan mereka.
Huft!
bunyi deru nafas seseorang di belakang leher mereka.
"Gib, kok rasanya ada yang ngehembus leher gue ya?"
"Gue juga. Mana jadi merinding lagi," ujar Gibran memegang tengkuknya.
Mereka berdua saling bertatapan dan bayangan para makhluk nggak jelas malah berkeliaran di kepalanya.
"Ini gunung apa sih? mana penghuninya banyak lagi."
Vincent mengiyakan ucapan Gibran.
"Dan yang lebih parah lagi penghuninya hantu semua. Lagian mereka itu jin atau arwah penasaran sih?" ucap Vincent yang kini menggigil. Padahalkan mereka pemburu hantu.
"Woy! arwah penasaran itu yang jin. Gimana sih lo?"
Sosok yang di belakang Gibran dan Vincent semakin gemas melihat tingkah mereka. Dia terus menjahilinya.
Brakkk!
Tang!
"Eh, kok jadinya mirip orang mainin musik ya?"
"Yes, parahnya mainin musik gak ada modal lagi! pake tong sampah ama sendok."
"Jaga ucapan lo Vin!" ujar Gibran melotot pada temannya.
Tiba-tiba terdengar bunyi gelak seseorang.
Hahahaha!
"Nah, kan siapa lagi tuh? berapa banyak sih hantu disini? mana tawanya kenceng banget lagi."
"Mungkin si mbak lagi gabut kalik," timpal Vincent menambahkan.
"Enak aja! cantik gini masa dibilang mbak kun?" Shaletta langsung menunjukkan dirinya lantaran ia kesal karena dirinya disamakan dengan kuntilanak.
"Kok suaranya mirip kenal ya? hantu apa lagi tuh? atau jangan-jangan dia hantu penyamar?" Vincent malah histeris.
"Woy! gue manusia goblok! sekali lagi lo bilang gue setan gue tinju pala lo!" ancamnya.
"Tuh kan Gib, dia ngancem kita. Oh ya, dari mana dia tahu nama kita?"
"Taulah, semua orang juga tahu kalau lo tuh buaya!"
"Sue lo! gue manusia."
Abian menoyor kepala mereka berdua yang membuat mereka mengelus kepalanya masing-masing.
"Hah kan, siapa pula yang ngetok kepala gue?
__ADS_1
emang mereka pikir kepala gue tuh helm apa?" cowok lebay itu malah semakin menjadi-jadi.
"Ya aja kali, kepala lo kan emang keras."
"Woy!" panggil Shaletta.
"Busett!"
Shaletta yang sudah sangat gemas menarik baju dua cowok itu.
"Sekarang lihat ke belakang!"
"Mak, nanti kalau anakmu ini nggak pulang tolong bayarin hutang aku sama bi inah warung depan ya Mak!" ujar Vincent mendramastis.
Mendadak Gerald datang ke tempat perkara sambil mendengarkan lagu menggunakan headset di telinganya dan memegang hp.
"Ger, ada mbak kun nggak di belakang mi
kita?" tanya Vincent.
Rendra menatap Shaletta datar dan terdapat suatu syarat wajah di muka gadis yang dilihatnya.
"Lo lihat sendiri!"
"Gib, dalam hitungan ketiga kita lihat sama-sama ke belakang ya!"
"Oghey."
"Satu...dua...tiga..."
"Aelah, lihat dong Vin? lo mau curang?"
"oke-oke, satu kali lagi!"
"Satu...dua...tiga..."
Gibran dan Vincent menoleh ke belakang. Mereka mendapati Abian yang sedang sulit menahan tawanya dan wajah Shaletta yang betul-betul badmood.
"Mbak kun, eh ternyata lo. Kok belum tidur?"
tanya Gibran mengalihkan perhatian.
"Oh. Udah lihat mbak kunnya? jadi gimana bentuknya?" tanya cewek aneh tersebut menahan emosinya.
"Hahaha, mbak kunnya nggak ada. Lo aja kali yang salah dengar! benar kan Gib?" Vincent menyenggol lengan Gibran.
"Woy, masa lo mau aja disamain ama mbak kun? kalau gue mah udah gue smackdown tuh orang," ucap Abian yang sengaja mengompori Shaletta.
"Diem lo kompor!"
......................
Lembayung senja yang sangat indah. Membuat semua orang terpana akan keindahan simfoni alam yang begitu cantik. Sangat sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Walaupun di gunung, pemandangannya tak kalah indahnya dengan suasana senja
di pantai.
Keadaan yang begitu tenang dengan bunyi aliran sungai yang mendesir. Ditambah hembusan angin yang lembut menerpa wajah, menyempurnakan suasana saat ini.
Terlihat para 3 cowok dan seorang cewek sedang mencari kayu di hutan untuk bahan bakar api unggun nanti malam.
"Woy! nggak usah kencang-kencang jalannya napa sih? lo ini robot apa manusia?" ucap seorang cowok dengan nafas tersengal-sengal.
"Alah, lebay lo! ngalahin hantu aja bisa, masa bawa kayu nggak bisa? LEMAH!" ujar cewek itu menekankan kata lemah.
Mendadak muncul seekor burung yang sangat cantik. Shaletta kagum melihat kemolekan burung tersebut sehingga secara tak sadar ia mengikutinya.
"Lo mau kemana?" ucap Gerald yang berusaha mengejar Shaletta.
"Udah, kita ikutin aja!" Gibran menepuk pundak Gerald.
Shaletta telah berjalan sekitar 800 meter.
Tiba-tiba burung yang sedari tadi ia kejar hilang tanpa jejak.
Gadis itu kembali tersadar. Ia terkejut karena hanya sendirian dan tidak tau jalan pulang.
"Itu dia!"
"Tunggu!" cegah Gibran saat Gerald akan menghampiri Shaletta.
Ketika akan pergi sudut mata cewek tersebut melihat dedaunan di belakangnya bergerak.
Semakin lama bulu kuduknya berdiri.
Tak tahan dengan rasa penasaran yang menimpanya, ia mengintip dari balik daun.
Shaletta terkejut, secara refleks menutup mulutnya. Takut sosok itu menyadari keberadaannya.
Ia berjalan mundur ingin lari, namun keberuntungan sedang tidak berada
di pihaknya. Ia tidak sengaja memijak ranting kayu yang membuat 3 sosok mengerikan itu menoleh pada Shaletta.
"Hai adek-adek, gue ganggu kalian ya? maaf! lanjutin aja makannya," sapa Shaletta yang terus berjalan mundur.
Mereka yang tadinya telentang langsung berdiri memperlihatkan taring mereka.
"Adek-adek, kalian nggak boleh disini nanti mama kalian nyariin loh. Maaf ya kami ganggu waktu kalian," ucap Vincent sok berani padahal dalam hati takut.
mereka berjalan mendekat sehingga Shaletta dan Trio cool makin mundur berusaha untuk lari.
Sosok-sosok tersebut sangat menyeramkan.
Mereka mempunyai tubuh kerdil setinggi
80 cm, kira-kira setinggi anak-anak yang berumur 2 atau 3 tahun, hanya saja bedanya wajah sosok tersebut lebih tua.
Rambut hitamnya sepanjang bahu dan badannya tertutup dengan bulu.
Kakinya yang terbalik ditambah dengan matanya yang merah menyala seakan ingin menerkam saat itu juga.
Mereka memperlihatkan taring yang ada
di mulut mereka sambil berjalan maju.
"Oh adek-adek pinter, jangan mendekat ya!nanti kalian nggak bisa pulang loh. Kan kasihan kalau orang tuanya nyariin," ujar Shaletta menimbulkan tatapan aneh dari Vincent.
"Ya ampun Sha, tua begini lo dibilang adek?lo nggak lihat tampangnya?"
"Jangan ceplas-ceplos Vin! mereka udah mendekat."
Bwarrrr!
Abian muncul tanpa adanya aba-aba. Dia langsung menarik tangan Shaletta dan Rendra.
"Hoy! lo tarik tangan dia dan lo narik tangan dia!" perintah Abian memberikan instruksi pada Gibran dan Vincent. Mereka menurut pada perintah tersebut.
Wushhhh!
Saat membuka kelopak mata, mereka langsung berada di shelter 2.
"Bi, lo tau tentang makhluk tadi?" tanya Shaletta.
Abian mengangguk pertanda ia memang tahu dengan makhluk tersebut.
"Mereka itu penghuni gunung ini, namanya Uhang Pandak."
"Makhluk apa itu?" tanya Gerald heran.
Bersambung...
Terus baca ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan cara like, vote, coment dan kasih bintang 5!
Thanks