Misteri Buku Tua

Misteri Buku Tua
Di belakang rak


__ADS_3

"Hmmm, sepertinya ada atasannya di belakang atau mungkin saja sang raja yang di belakang,"


batin Ila menyipitkan matanya.


"Waw, fantastis! waktunya action!" pikir Ila dengan mata yang berbina


Bagi semua manusia, keahlian mencari peluang itu sangat penting. Apalagi ketika mengambil kesempatan dalam kesempitan. Memang harus jago dalam menangkap itu semua.


Ila berbalik kebelakang. Ia melihat seorang pangeran yang gagah dengan pakaian kerajaannya. Walau wajahnya tak begitu terlihat jelas, namun ia yakin kalau wajah itu sangatlah tampan dan dipuja semua wanita jika dia berada di masa modern.


"Tuan, apakah anda tidak mengajari bawahanmu sopan santun? masa iya udah nggak mempersilahkan tamu masuk ia malah mengusirnya? bukankah itu hal yang tabu?" ucap Ila kembali memulai konflik.


"Ondeh, ka sia kau mangecek? lah samo tinggi se bantuaknyo sawah jo pamatang," ujar sang prajurit yang tidak suka dengan kelancangan pendatang tersebut.


(Aduh, kepada siapa kamu berbicara? sudah sama saja antara sawah dengan pematangnya.)


Keteganganpun dimulai. Namun ia juga tak salah sebab mungkin saja penyusut yang masuk.


"Maaf yang mulia pangeran, tapi bisa sajolah kironyo kalau inyo tu mato-mato yang dikirim lawan. Awak ndak pernah tau apo yang ado dalam utaknyo. Kapalo batua samo hitam tapi isinyo bai balainan.)


(Maaf yang mulia pangeran, tapi bisa sajakan kalau dia itu mata-mata yang dikirim lawan?


Kita tidak pernah tahu apa yang dipikirkannya. Kepala memang memiliki bentuk yang sama tapi cara pemikirannya selalu berbeda.)


Sang pangeran terkejut dengan Ila. Ia tak menyangka kalau gadis yang telah menaklukkan hatinya pada pandangan pertama


ada dihadapannya saat ini.


"Kau?" beonya dengan mata yang tak berkedip melihat gadis pujaannya.


Bwaaaarrr


Suara ledakan yang begitu mengganggu telinga normal manusia sebab frekuensinya diatas rata-rata.


*****


Ila terbangun dari tidurnya. Keringat bercucuran di dahinya disertai nafas yang tersengal-sengal bak orang yang habis lari maraton.


"Apa sebenarnya yang terjadi?" gumam gadis cantik itu kemudian langsung ke ruang tamu untuk membukakan pintu.


Terlihat seorang wanita umur 30an dengan wajah yang cantik dan mirip dengan Ila.


"Ayah udah datang?" tanyanya.


"Ya Allah ya Tuhan. Tadi bunda marah-marah nggak jelas ama aku, lah? sekarang nggak pula.


Hadeh! nggak ngerti aku,"


"Belum bunda."


"Nih! bunda ada sesuatu untuk anak gadis bunda satu-satunya," ucapnya dengan wajah yang berseri-seri.


Ila mengangkat alisnya.


"Apa itu?"


Verta duduk di kursi. Ia mengeluarkan sesuatu dari tas fendinya.


Mata Ila seketika berbinar menatap benda yang cukup bercahaya tersebut. Bagus dan cantik.


Tentunya disukai oleh kaum perempuan.


"Ini untuk Ila bu?"


Ibunya mengangguk lalu memberikannya pada Ila.


"Terima kasih bu," ucap Ila lalu memeluk erat ibunya dan pergi ke kamar.


...****************...


"Aurel! lo ngapain di situ?" teriak seorang cowok menghampirinya dan memegang tangan


sang cewek.


"Hah?" responnya dan mulai bingung dengan sekitar.

__ADS_1


"Lo ngapain sendiri ditempat beginian? mau hantar nyawa lo?" tanyanya yang masih panik juga.


"Gu-gue nggak tau kenapa gue ada disini. Mana tempatnya serem pula lagi,"


"Harusnya lo jangan duluan tadi jalannya! kan ini jadinya," marah sang teman tersebut.


"Hehehe... kuy balik ke kelas!" jawabnya cengengesan.


Tanpa sepengetahuan mereka berdua. Ternyata ada sesuatu yang menyusup ke dalam tubuh gadis itu tanpa disadarinya.


***


"Anak-anak hari Senin kita akan melakukan ujian mid semester 2."


"Jadi, diharapkan agar mempersiapkan diri untuk menghadapi soal-soal tersebut. Terus belajar agar mudah dalam menjawab berbagai soal yang akan keluar!"


Tak ada yang mengeluh. Karena mereka sudah mengeluhkannya hari Senin kemarin. Banyak saja alasan yang mereka ucapkan.


Banyak tugas, lelah, letih, belum ada persiapan, soalnya susah semua, tidak ada materi ujian yang dimengerti. Semuanya mereka keluarkan.


Padahal sudah disebutkan kisi-kisi ujian oleh guru mapel yang bersangkutan. Hanya saja, mereka yang terlalu malas untuk belajar. Sebab umumnya, pelajaran-pelajaran itu membosankan.


"Apa daftar ujiannya bu?" tanya gadis berkacamata putih dengan dahi yang tertutupi oleh poni.


"Daftarnya akan ibu sebutkan. Silahkan dicatat di kertas selembar atau dibelakang buku!"


"Sudah?"


"Sudah bu."


"Senin: Bahasa Indonesia, Pendidikan agama, Kimia.


Selasa: Fisika, PKN, Sosiologi.


Rabu: Bahasa Inggris, PJOK, Ekonomi.


Kamis: Geografi dengan seni budaya.


Jum'at: Matematika dan sejarah.


Senin sampai Rabu depan adalah ujian tambahan bagi yang mengikuti mapel pilihan,"


"Apa ada pertanyaan?"


"Bu, kok banyak kali ujiannya? perasaan semester kemarin nggak sebanyak ini."


"Makin lama sekolah kita makin normal. Banyak program lama yang baru saja dibangkitkan."


***


"Lah, ngapain si Hanny di depan kelasnya Ketos?"


"Oh iya, palingan keganjenan ama cowok playboy itu,"


"Lebih baik aku teros aja jalan ke perpus. Makin lama makin penasaran bat dah,"


Ila memang selalu melewati lorong ketika akan mengunjungi perpus. Ia menoleh ke sudut dinding.


"Hmmmh, sedih betul aku dah. Biasanya ada dia yang terus membuat aku harus segera melalui jalan ini."


"Hello my friend the best beautiful, how are you today? do you miss me?"


"Sorry, there is no word miss in my vocabulary,


and i didn't your friend! what you understand?"


"Huhuhu... sungguh kejam kamu Ila! TEGA KAMU! TEGA!" ujarnya mendramastis kemudian tertawa bersamaan dengan Ila.


"Mau kemana kamu?"


"Perpus,"


"Ooh,"


"Sampai kapan mau ikutin aku? ini udah diujung lorong loh,"

__ADS_1


"Bosan, nggak ada cewek yang secantik kamu disini,"


"Hantu tapi gombal,"


"Oh ya, aku ada jumpa sama bangsa kamu. Dia cantik,"


"Hah? beneran?"


"Tapi sayang, udah aku kirim ke alam atas," ucap Ila kemudian tertawa.


"Ehh, kebiasaan PHP mulu, di PHP-in baru tau rasa kamu."


"Eit, i don't want any words of love in my heart, melainkan cinta kepada-Nya dan cinta yang halal dan dianjurkan oleh agama,"


"Tunggu bentar, dari mana kamu pandai bahasa Inggris? emang hantu sekolah?" tanyanya dengan wajah polos.


"Woy! kamu pikir aku sebodoh itu? aku sering ikut belajar juga,"


"Serius? where?"


"Sekolah kamu."


Ila ber"oh"ia saja menanggapi Bintang. Kakinya tetap terus berjalan menuju tempat yang ia tujui.


"I like you daring," celetuk seseorang tiba-tiba membuat perhatian Ila teralihkan.


Ia menoleh ke samping.


"What? darling? ih! alay banget jadi orang," ketus Ila yang awalnya terkejut.


Cowok itu menyentil dahi Ila.


"Dasar GR! daring woy! bukan darling. Sejak kapan gue jadi alay?"


"Yang gue denger lo ngatain darling," lirih Ila yang malu sendiri.


" 'Ala" tawa Erik yang serentak dengan Akbar.


Mereka menirukan latah seorang guru kalau sudah pasrah dengan keadaan.


"Mau kemana lo?" tanya Rendra.


"Perpus."


Akhirnya, Ila dan Trio cool masuk kedalam perpustakaan bersama. Mereka bertiga mengisi daftar hadir terlebih dahulu, baru kemudian memilih buku yang diperlukan.


Erik dan Akbar memilih ruangan bagian buku fiksi, Rendra dan Ila berada di ruangan buku sejarah. Hanya saja, Ila lebih mengarah ke dekat gudang untuk menjelajahi lebih lanjut buku-buku tua yang sudah banyak termakan rayap dan tersisip pada buku-buku lain.


Ia fokus untuk mencari buku yang lainnya supaya banyak mendapat informasi terhadap apa yang ia ingin cari tahu saat ini.


Braakk


Bulu kuduk Ila langsung berdiri sesaat. Dadanya terasa kembang kempis dengan hawa disana.


"Siapa itu?"


namun tidak ada yang menjawabnya. Ila menjadi semakin merinding.


"Siapa yang ada dibelakang rak?"


Ia melangkahkan kaki dengan lambat untuk mencari tahu. Walau takut, tapi rasa penasarannya lebih tinggi.


Saat sampai disana...


"Aaaaaaaaa!!"


Baca terus ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!


Jangan lupa untuk tekan tombol like, beri vote and coment serta kasih bintang 5 ya!


Ouh ya, jangan lupa untuk mampir ke chat story dan novel aku yang lain!


Judulnya: -Karin the Mafia Girl


-Kisahku di pesantren

__ADS_1


__ADS_2