Misteri Buku Tua

Misteri Buku Tua
4 tahun silam


__ADS_3

Putri Rose mengamuk dengan brutal. Ia seperti dikuasai oleh sesuatu sehingga terlihat ia seperti dikendalikan.


"Kalian semua mau taukan mengapa saya seperti ini? taukan?" ucapnya dengan suara yang keras dan disambut dengan suasana hening istana kerajaan.


"Ya, tak akan mungkin ada asap tanpa ada api yang membuat ulah. Semua ini saya lakukan untuk membalaskan dendam saya sama dia! saya ingin dia merasakan kehilangan orang yang disayanginya," ujar Rose menunjuk-nunjuk raja Shappira dengan tangan telunjuknya. Matanya memerah memendam dendam yang selama ini ia pelihara dalam hati.


"Hei! BERSIKAP SOPANLAH PADA AYAH SAYA!" marah Arilla tak terima ayahnya malah diperlakukan seperti itu.


"DIAM KAU! SAYA TAK PUNYA URUSAN DENGAN KAU! SAYA HANYA INGIN MEMBALASKAN DENDAM YANG TELAH LAMA SAYA PENDAM DI HATI SAYA."


Keadaan semakin mencekam. Suasana terus menegang karena permasalahan yang dilihat malah semakin rumit. Tak ada yang mengerti dengan ucapan putri Rose termasuk sang raja sendiri.


Flashback off


Seorang gadis kecil berlari menuju laki-laki yang berumur kepala 3. Ia langsung menghadap pada laki-laki tersebut dengan raut wajah yang kebingungan.


"Ayah? apa yang terjadi? kenapa suasana diluar sangat berisik?" tanya gadis itu dengan polosnya. Ia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi karena ia tak berani keluar. Para pengawal melarangnya.


"Kamu didalam saja sama ibu ya nak! apapun yang terjadi jangan pernah keluar. Ayah tidak mau kamu berada dalam bahaya. Ingat pesan ayah!"


"Apa maksud ayah?" tanya gadis itu berharap ayahnya akan menjawab pertanyaannya.


"Turuti saja pesan ayah Rose!"


Ya, gadis kecil yang berbaju kurung itu adalah Rose. Seorang putri kecil yang imut dan manis.


Setelah 30 menit mondar mandir Rose akhirnya memutuskan untuk keluar melihat keadaan sekitar. Rasa penasarannya begitu tinggi untuk mengacuhkan suara bising yang ada diluar sana.


Saat tiba diluar hanya satu yang terlihat oleh Rose, ia melihat raja Batara yaitu ayah tercintanya terbaring lemas dengan pedang yang berada di dada dan juga luka-luka di seluruh tubuhnya.


Ia tak peduli dengan keadaan, tentu ia berlari mendekati ayahnya lalu menangis. Memanglah itu adalah fitrah anak kecil. Setinggi apapun pangkat anak kecil, dia juga anak kecil pada umumnya.


"Ayah! ayah! kenapa badan ayah berdarah?" putri Rose menangis tersedu-sedu melihat kondisi ayahnya.


"Na-k per-gi-lah!" itu adalah kata terakhir yang terucap dari mulut raja Batara sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.


Karena suasana tak lagi mendukung dan semakin banyak prajurit yang berlari kearahnya, Rose tak punya pilihan lain selain menyelamatkan dirinya dengan berlari sejauh mungkin. Ia tak mau mati sebelum dendam yang tertanam dalam hatinya itu dijalankan.


Saat tengah melarikan diri untuk masuk ke hutan, Rose sekilas melihat seorang raja yang sedang perang di atas kuda. Dengan hati dendamnya, ia selalu mengingat wajah itu agar sakit hatinya terlampiaskan. Rose yang kecil begitu cepat menyimpulkan kalau yang membunuh ayahnya adalah raja tersebut.


***

__ADS_1


Sekitar kurang lebih empat tahun setelah peperangan itu, keadaan masing-masing kerajaan kembali seperti semula. Bahkan lebih dari sebelumnya. Hubungan antara satu raja dengan raja lainnya juga lebih baik. Hanya satu kata yang tepat untuk mewakilinya, yaitu "membaik".


Putri mahkota kerajaan Batara alias putri Rose kini telah berumur 9 tahun. Meski waktu terus berlalu, tapi isi hatinya masih tetap sama yaitu dendam.


Rose melihat seorang gadis kecil berumur lima tahun yang tengah kebingungan melihat beberapa bunga. Hati Rose menjadi terenyuh, ia teringat dengan dirinya yang dulu.


Dengan hati yang lembut, Rose menyapa gadis tersebut seraya tersenyum ramah.


"Hai adik kecil, kenapa kau kebingungan?"


Dengan berani, gadis itu menatap mata Rose tanpa adanya rasa takut disana.


"Aku mau mengambil bunga, tapi tidak tahu mau ambil yang mana. Apa kakak bisa membantuku?"


"Tentu saja."


Mereka berdua sesekali tertawa. Begitu merekahnya senyuman yang ceria di wajah polos tersebut.


"Oh ya, sebelum kamu pergi. Siapa namamu?"


"Namaku Arilla."


Beberapa hari ini mereka terus bertemu dan bermain bersama. Hati Rose jadi cukup menghangat setelah 4 tahun dilanda kesedihan. Ia sedikit terhibur dengan tingkah Arilla yang menggemaskan.


"Kemana?"


"Ke rumahku."


"Oke," Rose langsung saja menyanggupinya tanpa berpikir terlebih dahulu. Ia tak menaruh rasa curiga atau apapun pada Arilla.


Sampai di istana kerajaan Shappira, Rose baru sadar kaalu Arilla membawanya


ke suatu kerajaan.


"Eh, ini kita ke kerajaan Ri. Kata kamu kita akan ke rumahmu kan?"


"Iya, istana ini rumahku kak," jawaban Arilla membuat Rose terkejut. Ia tidak menyangka kalau teman kecilnya itu adalah seorang putri mahkota.


"Mengap kau membawaku ke sini? nanti ibumu marah Ri," ucap Rose cemas. Ia tak mau di caci ataupun mendengar kata menyakitkan dari mulut orang tua Arilla.


"Tidak kak. Ibu Riri itu baik. Tidak mungkin dia memarahimu."

__ADS_1


Tiba-tiba wanita muda yang sangat cantik datang dengan dayang-dayangnya yang berpakaian khas kerajaan.


"Ri, itu teman yang mau kamu kenalkan sama ibu ya?" tanya wanita itu lembut dan tak ada satupun kata kasar yang keluar dari mulutnya.


"Iya bu, ini teman Riri."


Rose jadi canggung, ia menyalami ibu Arilla dan disambut baik oleh permaisuri itu. Rose menyangka ia akan diperlakukan buruk, namun malah sebaliknya. Pantasan su'udzon itu dilarang dalam agama.


"Ayo kita makan bersama! Riri bawa temanmu itu!" ujar permaisuri lalu meninggalkan mereka.


"Kan, apa yang aku bilang. Ibu tidak akan marah kak. Ayo kita makan!"


Dua gadis itu bersemangat berjalan menuju dapur istana. Jaraknya lumayan jauh juga karena itu adalah istana kerajaan. Bukan, rumah yang ukurannya lebih kecil.


Setelah beberapa menit belok sana-sini, putri Arilla dan Rose sampai di meja makan yang cukup luas. Berukuran 3m × 2m.


Rose teringat kembali masa kecilnya. Dimana ia duduk saat makan, dimana letak mejanya dan ia tentu sangat merindukan sekali suasana harmonis anggota kerajaan Batara. Namun takdir berkata lain, putri Rose ditinggal mati ayah dan ibunya lalu menjadi hidup sebatang kara tanpa siapapun. Anggota keluarnya telah lenyap dalam peperangan 4 tahun silam.


"Ayah dimana bu? kok Riri tidak lihat ayah?" tanya gadis itu sebab memang dari tadi pagi ia tak berjumpa dengan raja kerajaan Shappira.


"Sebentar lagi datang."


Rasanya air mata Rose ingin tumpah mendengar kata ayah. Ia tak kuat melihat sebuah keluarga kecil yang ada dihadapannya. Walau mereka tak berniat untuk menyinggung Rose, tapi itu sangat menyakitkan.


Rose pun jadi teringat ibunya yang lebih dulu meninggal dari ayahnya. Padahal umur Rose baru lima tahun dan ditahun yang sama pula Rose kehilangan ayahnya. Ia menjadi gadis yatim piatu yang kini sebatang kara. Isak tangis ia tahan sekuat mungkin agar tidak ada satupun yang melihatnya.


Bersambung...


Terus baca ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!


Jangan lupa untuk tekan tombol like, beri vote and coment serta kasih bintang 5!


Ouh ya, jangan lupa untuk mampir ke novel aku yang lain, judulnya:



Karin the mafia girl


Tragedi


__ADS_1


Terus dukung aku ya!


...thank you so much...


__ADS_2