
Seorang gadis cantik berjalan dengan santai memasuki gerbang sekolah. Sesekali ia tersenyum melayani sapaan dari siswa SMA Galaxy.
Ia melangkah melewati segerombolan cowok
yang duduk di depan perpustakaan dengan gayanya yang cool.
Kakinya terus berjalan hingga sampai
di dalam kelas dan meletakkan tas yang terus disandangnya sedari tadi.
Namun senyuman diwajahnya seketika memudar menjadi ekspresi terkejut setelah mendengarkan ucapan para siswi yang berada didepannya saat ini.
"Eh, gue denger tadi Nadya anak lokal sebelah
kesurupan loh."
"Yang bener? barusan gue aja baru tegur sapa ama dia. Kok bisa?"
"Kata yang lain si Nadya lagi duduk didepan kelas X-E, tapi pandangannya terus kosong aja lohat ke depan. Saat disapa dianya
diem aja nggak nyahut. Terus tiba-tiba teriak nggak jelas lalu tertawa sambil menangis deh."
"Hii, pasti mereka pada takut ngelihatnya langsung. Gue aja yang denger langsung merinding."
Shaletta mendengarkan percakapan antara dua gadis tersebut dengan seksama. Lagi dan lagi rasa penasaran muncul dibenaknya.
Ia langsung berbalik arah dan bergegas menuju TKP. Kakinya terus melangkah cepat untuk sampai di sana.
Di saat genting seperti ini, mendadak seseorang menungkainya dengan sengaja yang membuat ia hampir jatuh jika saja tubuhnya tidak seimbang. Mungkin Shaletta tidak akan melepaskan orang itu begitu saja jika ia sampai mencium lantai dengan tubuhnya yang telungkup dan kaki yang ditekuk.
Gadis itu berhasil menyeimbangkan posisinya dan menoleh cepat ke belakang yang diiringi dengan tatapan tajamnya yang akan menerkam seketika.
Tapi bukannya takut, si pembuat ulah malah tertawa keras sambil memegang perutnya.
"Hahahaha!"
"Hahahaha!"
Bukan kesengajaan namun hal ini reflek Shaletta lakukan. Dada cowok itu langsung jadi sasaran. Seketika tawanya terhenti dan tubuhnya seakan kaku. Matanya menatap tajam orang yang telah berani memukulnya.
Shaletta merasa aneh. Keganjilan yang ada pada cowok tersebut terus ia perhatikan dan akhirnya terjawab.
Baju seragamnya berantakan, matanya merah menyala dan gigi taringnya yang keluar.
"Kau gadis itu! bagus aku menemukanmu lebih dulu," ujarnya dengan suara berat yang berbeda.
Sekarang Shaletta mengerti. Orang yang ada dihadapannya saat ini sedang berada
di bawah pengaruh setan, atau bisa disebut dia sedang kesurupan.
Cowok tersebut berlari ke arah Shaletta sembari mengeluarkan kukunya yang tajam. Ia berusaha melukai Shaletta.
Seakan sudah tahu apa yang dilakukan lawannya, cewek itu mempersiapkan diri jika saja ada serangan mendadak seperti kemarin.
Shaletta menghindar ke samping saat cowok
itu hampir mencakarnya. Ia kembali menoleh dan melihat kalau lawannya itu kembali mengejarnya.
Tidak ada pilihan lain. Shaletta harus melawannya agar segera dibawa kepada guru agama.
"Woy, sadar!"
"Lo berada di bawah kendali, sadar woy!" pinta Shaletta yang masih setia menangkis serangan.
Setan tersebut kembali tertawa keras.
__ADS_1
"Hahaha! percuma kau berkata-kata karena dia tidak akan mendengarkanmu," ujarnya menyeringai.
Gadis itu punya akal. Dia harus menggunakan cara instan supaya mudah menangkap lawannya walaupun hatinya gengsi untuk meminta tolong.
"Gerald!"
"Gerlad! cepat ke depan X-E!"
"Gerald!"
Gerald sedang serius membaca materi yang akan diujikan pada ulangan di jam pertama. Ia ditemani oleh dua orang temannya yang justru lintang pukang menyalin tugas matematika dari buku latihannya.
"Rasanya ada yang manggil," ucap cowok itu.
"Ada apa Al? napa lo tiba-tiba bengong gitu?"
tanya Vincent.
"Gerald!" panggil Shaletta yang terus menghindari pukulan lawannya.
"Apa itu lo Sha?" suara Gerald membuatnya merasa lega.
"Cepat ke depan X-E!" Shaletta langsung memutuskan komunikasinya.
"Kita harus ke X-E!" Gerald langsung berlari keluar menuju tempat yang dikatakan oleh Shaletta.
Sementara, Shaletta masih mencoba memancing setan di depannya ini agar menuju ruang guru. Ada rasa tenang
di hatinya karena bantuan akan segera datang. Namun sebelum itu, ia harus bertahan dengan seluruh tenaganya.
"Hahaha! dasar pengecut!"
"Ternyata gadis yang disebutkan di buku ramalan itu lemah," ujarnya kembali tertawa dengan sangat keras.
Mata Shaletta melotot mendengar ucapan tersebut. Walaupun ia tahu itu ucapan setan, namun ia sangat benci direndahkan.
sosok di depannya itu dengan sangat gila sehingga membuat lawannya termundur beberapa langkah akibat tendangannya yang lumayan keras.
Mungkin nasib buruk menimpa setan itu hari ini. Saat termundur, siswa tersebut langsung ditangkap oleh Gerald dan Gibran.
Yang ditangkap pun memberontak minta dilepaskan. Gerald terpaksa menyerangnya titik kelemahan cowok itu agar mudah untuk di bawa ke ruang guru. Akhirnya setan itu bisa dikendalikan untuk sementara waktu.
"Makasih udah nolongin gue," ucap Shaletta sembari berjalan dengan langkah yang agak gontai. Gerald hanya mengangguk.
"Itu orangnya bawa aja ke kantor biar diruqyah ama guru agama!" pinta Shaletta.
"Lo mau kemana?" tanya Gibran kali ini.
Shaletta yang telah dulu berjalan menoleh
ke belakang bak slow-motion. Ia menatap Gibran datar.
"Ada urusan lain yang harus gue selesaikan," jawab gadis itu dingin lalu kembali melangkah.
Hati Giban tidak dapat lagi memendam semua ini. Ia terus dihantui dengan rasa bersalah yang ia sendiri tidak tau apa salahnya.
"Apa salah gue ama lo?"
Deg
Telinga Shaletta tegak mendengar pertanyaan Gibran. Tubuhnya seolah membeku yang membuat kakinya seketika tidak bisa digerakkan. Shaletta kembali menoleh.
"there is not any."
"Kenapa lo selalu ngehindar dari gue?"
__ADS_1
tanya Gibran seakan mendesak Shaletta untuk menjawab pertanyaannya.
"Ada hal yang tidak bisa dikatakan namun harus bisa lo pahami," ucap cewek itu ambigu yang membuat Gibran sulit mencerna maksud dari kata-kata Shaletta yang ketinggian.
Cewek tersebut kembali berjalan ke depan menuju kelasnya.
"Sha!" teriak Gibran.
"Sudahlah Gib! nanti kita selesaiin. Ada hal yang lebih penting yang harus kita lakukan."
"Cepat! sebelum nyawanya berada dalam bahaya," Vincent memperingatkan Gibran bahwa ada yang lebih darurat lagi.
Gerald hanya menghela napasnya gusar. Pikirannya saat ini sangat kacau, namun wajahnya kelihatan begitu tenang seperti air mengalir.
"Sha!"
"Lo harus ikut kita!" ucapan Gerlad juga tidak dihiraukan oleh gadis berkepala batu itu.
"Pantas lo dipanggil bocil jika sifat lo masih seperti bocah," kata-kata savage Gerald berhasil membuat Shaletta menoleh.
Mereka berdua beradu pandang lalu tertegun
dalam batin masing-masing.
Sayang tatapan mereka seketika buyar dengan suara Vincent yang menyela diantara mereka berdua.
"Woy! ngapain kalian malah pandang-pandangan? ada orang yang harus kita selamatin nyawanya," tampang Vincent malah watados.
***
"Astaghfirullaah, sebanyak ini yang kesurupan hari ini?" gumam shaletta kaget melihat berpuluh murid di dalam aula dengan kondisi yang menyedihkan. Ada yang tertawa,
menangis bahkan marah-marah tidak menentu.
Duo G yang membopong cowok tadi membawanya pada guru agama yang sedang berbicara dengan guru lain.
"Pak, ini ada siswa yang kesurupan," ujar Shaletta yang merebut perhatian gurunya.
"Letakkan dia disini nak!" pinta guru tersebut.
Mereka membaringkan tubuh orang yang telah dibopongnya sejak tadi, kemudian duduk bersila di dekat para guru.
Shaletta mengambil posisi dekat bu Rita.
"Maaf bu, apa mereka baru saja kesurupan?"
tanyanya pelan pada guru matematika itu.
"Ya, tadi teman-teman mereka yang membawanya kesini."
"Apa nggak diruqyah aja ya Bu?" tanyanya lagi.
"Iya, barusan kami telah menghubungi seorang kyai untuk meruqyah mereka semua."
Bersambung...
Apakah yang akan terjadi dengan para
siswa/i SMA Galaxy?
Apakah akan terjadi pertikaian antara Shaletta dengan Gibran?
Penasaran?
Terus baca ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan cara like, beri vote dan coment serta kasih bintang 5!
Thanks