Misteri Buku Tua

Misteri Buku Tua
Tebar Pesona


__ADS_3

Keadaan kelas X-A sekarang terlihat begitu tenang. Para siswa/i-nya sedang serius mengerjakan soal ulangan. Atau lebih tepatnya lagi mengode kawan lain untuk mendapatkan jawaban. Bahkan ada yang berleher panjang alias mencontek. Itu malah belum seberapa, yang paling parah itu CCTV ada di belakang tapi dia nya malah tenang ngeliat catatan di laci meja. Nggak ngotax bukan?


Shaletta menjawab semua soal dengan teliti. Hanya dalam waktu 15 menit semua pertanyaan telah terjawab olehnya. Waktu yang berlebih itu malah digunakannya untuk merenung.


Bisik-bisikan mulai terdengar di telinga gadis itu, namun ia tidak menghiraukannya sama sekali karena dia tau gimana keadaan kelas kalau lagi ulangan.


"Semuanya, silahkan kumpul lembar jawaban kalian di atas meja ibu!" ucap guru Geografi tersebut yang membuat semua murid mulai berdesakan ke depan, mereka tidak sabar untuk melepas lelah.


Akhirnya hal yang ditunggu semua telah tiba, bel istirahat baru berbunyi yang membolehkan para pelajarnya untuk beranjak dari lokal mereka masing-masing.


Seperti biasa, Shaletta hanya berjalan-jalan mengelilingi berbagai lokal. Ia terlalu malas untuk pergi ke kantin. Akan tetapi, secara tidak sadar kakinya melangkah di depan lokal Xl-B.


Pas betul para Trio macan sedang duduk


di tembok yang disediakan khusus di setiap kelas untuk duduk.


"Ngapain lo ke sini lagi? mau nyari masalah sama kita?" ujar seorang cowok dengan nada PD.


Langkah Shaletta langsung terhenti. Ia menoleh ke samping lalu wajahnya berubah menjadi kesal melihat wajah tengil orang tersebut.


"Idih! siapa juga yang ingin nyari masalah ama kalian?" ucap Shaletta dengan ketusnya.


"Alah! cewek prik kayak lo itu sulit dipercaya. Pasti lo terus cari masalah sama kami biar jadi tenarkan?" Vincent menggoda cewek itu dengan nada nakal.


Shaletta melotot tak percaya. Niatnya untuk refreshing seketika kandas karena bertemu dengan kakak kelasnya yang selalu menyebalkan.


"Astaghfirullaah, gimana caranya gue bicara sama orang seperti mereka? pasti nggak akan pernah kelar,"


"Heh! abang-abang most wanted SMA Galaxy! Saya lewat sini tuh bukan berarti ingin ketemu anda. Kaki gue tuh spontan aja lewat sini. Jadi jangan soudzan mulu jadi orang! dan sebelum gue bertemu kalian gue juga sudah tenar kok."


"Lo pasti mau dekat sama kita?"


"Gue mah nggak gitu orangnya. Kalau gue mau gue akan berusaha buat dapetin apa yang gue mau. Sorry aja ya, mungkin kalian kali yang mau dekat sama gue," ujarnya semakin PD saja.


"Ngeyel lo jadi cewek! bilang aja aja lo mau tebar pesona di sini!" Gibran kini berbunyi.


Shaletta malah tambah melotot. Mereka pikir mereka seganteng apa sih makanya jadi narsis tingkat dewa?


"Hello! yang mau tebar pesona siapa yang dituduh malah siapa. Lebih baik lo pergi aja tuh ke kelas XI-D! lo ngegombal aja di sana biar kata-kata narsis lo disambut teriakan ciwi-ciwi alay!" ucap Shaletta yang beberapa saat kemudian tersadar dan refleks menutup mulutnya.


Gibran kebingungan dengan apa yang dikatakan Shaletta, dia menaikkan alisnya pertanda butuh penjelasan yang lebih lanjut.


"Kok perginya ke Xl-D?"


"Ya iyalah, anda tebar pesona di sana sampai anda puas supaya saat keluar nanti hati lo jadi senang karena disambut baik oleh cewek lo itu."


"Vin, lo ngerti nggak apa yang diucapin cewek tengil plus pembuat onar ini?"


"Eh, sembarangan aja mulut lo bicara! ngaca woy!"


"Gue udah ngaca kok dan ternyata wajah gue ganteng imut gitu," jawabnya lagi dengan narsis.


Gadis itu memutar bola matanya jengah, ia tahu harus punya persiapan mental agar tidak tergoda dengan orang di depannya.


"Terserah mau bilang apa, gue mau lewat!" Shaletta melangkahkan kakinya tapi malah lebih dulu dihadang oleh Vincent.


"Eh! enak aja main lewat, bayar dulu!" cowok malah terlihat seperti pengompas saja.


Cewek itu tidak mendengarkan ucapan Vincent. Ia terus saja berjalan ke depan.


"Lo mau kemana Al?" tanya Gibran yang melihat temannya itu juga pergi.


"Pergi bentar."


"Gue ikut!"


"Nggak usah, kalian disini aja!" ucap Gerald lalu meninggalkan duo prik.


Cowok itu terus mencari keberadaan Shaletta, namun sampai saat ini ia belum menemuinya jua. Padahal jarak antara Shaletta dan Gerald tidak terlalu jauh. Tapi, mengapa cewek itu malah menghilang?


Tiba-tiba firasat Gerald mengatakan kalau gadis yang kini dicarinya sedang berada


di taman belakang. Ia mengikuti instingnya tersebut lalu bergegas menuju kesana.


***


Benar saja, Gerald melihat Shaletta yang sedang duduk termenung. Dari wajahnya terlihat kalau dirinya saat ini sedang banyak masalah.


Gerald mendekati cewek tersebut yang sedang menatap taman hijau itu.


"Segitu banyak beban yang lo tanggung sampai-sampai tampang lo kayak orang linglung?"


Shaletta yang mendengar suara itu langsung menengok ke belakang lalu mendongak.


Deg


Ia memalingkan wajahnya. Rasanya sedang malas bertatapan dengan siapa saja.


"Lo bisa geser nggak? gue mau duduk."


"Baru datang udah main gusur orang aja lo."


"Lo kayak orang tua yang lagi didik aja marah-marah nggak jelas."


Bukannya menambah baik keadaan, Shaletta malah mendengus kesal mendengar ucapan Gerald.


"Terus aja lo kayak gitu! nanti gue tambah hukuman buat lo," ujar Gerald dengan santainya tanpa terbebani sedikitpun.


"Terserah!" kemudian gadis itu membulatkan matanya yang membuat semua orang jadi gemas.


"Ya nggak bisa gitulah! enak aja lo main kasih hukuman," jawabnya. Ia baru ingat kalau orang yang ada di hadapannya saat ini adalah salah seorang anggota OSIS.


"Jangan ya anda salahgunakan jabatan anda saat ini!"


"Lo tau nggak apa yang terus menganggu pikiran gue?"


Shaletta menaikkan alisnya.


"Senyuman dan tatapan lo itu sangat mirip dengan teman masa kecil gue."


Shaletta langsung menoleh. Ia sepertinya tertarik dengan pembicaraan saat ini.


"Maksud lo?"


"Senyum lo manis."


Shaletta lagi-lagi melotot melihat cowok itu.


"Nggak ada angin nggak ada hujan kok lo tiba-tiba ngegombal aja?"


"Lo sehat kan?"


Gerald memperlihatkan senyuman satu sisinya yang membuat satu gigi taringnya terlihat. Begitu menawan.


"Kalau mau tebar pesona nggak disini juga kalik tempatnya!" cibir Shaletta kesal.


"Terus dimana tempatnya kalau bukan


di hadapan seorang cewek bar-bar yang masuk dalam daftar most wanted sekolah?" ucap Gerald yang memang dari hatinya tapi malah terdengar seperti menggoda di telinga Shaletta.


"Banyak cewek-cewek lain di luar sana yang bisa lo gombalin dan gue jamin lo nggak bakal kecewa dengan reaksi mereka. Lagian ngapain kalian ngejar-ngejar gue? padahal


di luar sana beratus cewek yang lebih cantik dari gue yang mengantri jadi pacar kalian," Shaletta ingin membantah ucapan Gerald.


"Apa gunanya kalau wajah cantik tapi hati nggak?" ujar Gerald yang membuat Shaletta merasa tersindir.


"Lo nyindir gue?"


"Gue nggak habis pikir bicara sama lo!


dicibir salah dipuji juga salah."


Saat sedang berdebat, cewek tersebut kembali melihat sesuatu yang melompat dari balik pohon ke pohon lainnya.


Ia meninggalkan Gerald yang sedang duduk dan menuju Pohon tersebut.


"Temenin saya!" ucap sesosok berbalutkan kain kafan putih yang tiba-tiba nongol


di hadapan Shaletta.


"Aelah! lo lagi pocat!" gadis itu memandang pocong di depannya.

__ADS_1


"Temenin saya!"


"Dari dulu minta ditemenin terus, emang nggak ada hantu lain yang mau temenin elo?"


"Temenin saya!"


"Heh, percuma aja gue nanya sama tuh hantu."


"Abian!" teriaknya kayak lagi di film-film sinetron ala Indonesia.


Buarrrrr


"Ha, ngapain lo teriak-teriak manggil nama saya?" Abian datang dengan wajah datarnya.


"Ada sesuatu yang sangat penting yang harus gue kasih tau ama lo," wajah serius Shaletta membuat Abian tidak lagi menatapnya datar.


"Apa?"


"Oke, gue minta lo temenin tuh si pocat! dari kemaren ngomongnya minta ditemenin terus. Sakit pula telinga gue dengerinnya."


Abian menganga, ia menoleh ke samping dan terlihat pocong yang tengah memperlihatkan deretan giginya.


Cowok yang berstatus tidak jelas itu menarik napasnya.


"Oke, setelah ini jangan ganggu gue lagi!"


Gadis itu mengendikkan bahunya tak peduli lalu kembali ke tempat duduknya tadi. Tak lama berselang, ia kembali mendengar suara teriakan.


"Ger, lo denger?"


"Apa?"


Aaaaaaaa!


Dua manusia itu saling menatap lalu melihat sekeliling mencari asal suara.


"Sepertinya dari gubuk itu," tunjuknya dan langsung mengikuti Gerald yang tengah melangkah mengikuti jalan setapak menuju gubuk tua tersebut.


"Lo mau kemana?"


"Ke danau," jawab Gerald yang membuat Shaletta mengerucutkan bibirnya.


"Udah tau ke sana nanya juga."


"Lo tau sekarang jam berapa?" tanya gadis itu balik.


"jam berapa?" Gerlad melihat Shaletta dengan muka datarnya.


"Aneh banget tuh anak! tadi ngegombal, tebar pesona sekarang tiba-tiba datar kayak tembok aja tuh muka!" gumamnya.


"Cepat aja ngomong!"


"2 MENIT LAGI KITA MASUK!" ujar Shaletta histeris.


Tanpa aba-aba, Gerald memutar langkahnya kembali mengarah ke sekolah dan mengabaikan cewek yang bersamanya begitu saja.


"Dasar aneh!"


***


Semua pelajar dipersilahkan untuk pulang ke rumah mereka masing-masing. Keadaan sekolah kembali sepi, hanya mereka yang tertentu saja yang masih berada di sekolah.


Seorang gadis segera keluar dari kelasnya setelahmenyelesaikan tugas piket.bHatinya saat ini sedang tidak karuan, rasanya ingin pulang namun ia harus mengikuti kegiatan ekskul.


Gadis tersebut juga tidak mempunyai teman untuk berbincang. Di saat seperti ini sebenarnya ia butuh seorang sahabat yang akan menemaninya di saat kesepian. Namun, ia sadar itu tidak akan terjadi.


Ia menghela napasnya, tidak ada yang istimewa hari ini. Namun, mendadak ia teringat janjinya dengan Gerald untuk menuntaskan hal tadi.


Dengan langkah seribu, cewek itu pergi menuju lokal Xl-B.


Setelah sampai di sana, tidak ada seorangpun


manusia yang ada di dalam. Ia teringat kalau Gerald adalah salah satu anggota OSIS SMA Galaxy. Jadi ia pergi ke ruang OSIS untuk menemui sang most wanted sekolah.


"Ini lo lakuin hanya karena janji aja Sha! kalau nggak gara-gara itu ogah gue mau masuk


ke ruangan itu."


"Lagian tuh anak heran buat gue heran aja!


Kaki Shaletta terus berjalan walaupun hatinya saat ini sedang tidak baik-baik saja.


3 menit kemudian...


Akhirnya ia telah sampai di depan ruangan OSIS. Ternyata benar, mereka para anggota OSIS sedang melakukan rapat.


"Ger! keluar lo Ger! Gerald!" panggil Shaletta menggunakan kemampuan telepatinya.


Samar-samar cowok itu mendengar suara yang tengah memanggil dirinya.


"Gue mau izin keluar dulu," ucap Gerald melihat ketua OSIS dan mendapat anggukan.


"Loh kamu mau kemana Al?" tanya Gina dengan suara lembut yang dibuat-buat.


"Lo nggak denger? kan dia udah bilang mau keluar," Yang ditanya Gerald malah Aldo yang menjawab.


"Nggak usah gitu juga kalik! gue kan nggak nanya sama lo, kok lo aja yang sewot?" ujar Gina yang membuat Aldo geram.


"Cukup! kalian kerjain aja apa yang saya bilang!" perintah ketua dengan nada tegas untuk melerai pertengkaran yang akan terjadi.


Gerald berada di pintu ruangan, ia melihat Shaletta yang lagi-lagi sedang bermenung. Tersirat rasa ingin tahu dibenaknya alasan gadis itu terus saja melamun sejak pagi.


"Hmmm," dehem Gerald.


"Kalau ada masalah yang terlalu berat, jangan lo jujung!"


Shaletta menengok ke samping. Terlihat Gerald yang sedang memasukkan tangannya ke dalam saku celana seraya berdiri dengan gaya cool.


"Ya, gue emang banyak masalah.Terutama elo masalahnya!" tunjuknya pada Gerald.


Yang ditunjuk mengernyitkan dahinya. Ia sungguh tidak mengerti dengan cewek yang sekarang berada di hadapannya.


"Gue?"


"Ya iyalah, lo nggak jelas banget jadi orang! tadi lo nyuruh gue ke kelas elo, eh tau-taunya tuh ruangan udah kosong dan lo nggak ngatain kalau lo ada rapat," ucap Shaletta memalingkan wajahnya dengan tangan yang bersedekap di dada.


"Lo tunggu aja gue disini! bentar lagi rapatnya hampir siap," ucap Gerald membalikkan badannya.


"Main pergi aja! masa gue duduk kayak orang bego aja?"


"Gue nggak peduli!"


Mata Shaletta terus saja melotot sejak bertemu Gerald tadi. Menurutnya tampang Gerald itu menyebalkan di matanya.


"Setidaknya lo pinjaminlah kek hp lo sama gue! ntar kalau gue kerasukan lo yang tanggung jawab!"


"Enak aja dia nyuruh gue duduk diam disini," gumamnya.


Tak disangka Gerald mengeluarkan hp dari saku celananya lalu menyodorkannya pada Shaletta.


Ia jadi melongo lalu menatap Gerald tak percaya. Ia benar-benar tak menyangka!


Namun ia tak peduli, matanya berbinar melihat barang yang ada di depan matanya.


"Serius?"


"Kalau nggak mau yaudah," Gerald kembali memasukkan hp nya tapi tangan Shaletta telah dulu mencegat tindakannya.


"Eps, yaudah gue tunggu sini! lo pergi aja sono!" gadis itu mengambil hp tersebut.


"Lo ngusir gue?"


"Iya, lo pergi aja ke dalam! mereka pada nungguin tuh," ucapnya kemudian mendorong Gerald pergi lalu langsung duduk.


Shaletta kembali duduk dan memandangi hp tersebut.


"Waw bagus juga nih hpnya. Samsung galaxy M52 5G lagi," Shaletta membalik-balikkan hp itu.


"Hah? gila! nggak ada kata sandinya cok!" gumamnya histeris.


Sudah 15 menit Shaletta memainkan hp itu. Saat ia mendongak terlihat seorang cewek yang tengah berkacak pinggang.

__ADS_1


"Ngapain lo disini? lo nguping kami rapat?"


tanya gadis itu bertubi-tubi.


Shaletta malas melayaninya, lebih baik ia hanya tersenyum.


"Hmmm nggak ada kak, nunggu teman aja."


"Ouh, siapa teman lo?"


"Hmmm ada kak."


"Lo gimana sih? gue tanya lain jawabnya lain,"


gerutunya dengan jawaban Shaletta yang entah pergi kemana.


"Gina! lo ngapain di sana?" teriak seorang cowok.


Mereka berdua menoleh lalu Gina memutar bola matanya dengan malas.


"Bukan urusan lo," jawabnya jutek.


"Nih anak dari tadi cari masalah aja ya?"


"Apa lo bilang?"


Tanpa diduga, Gerald muncul sambil menyandang tasnya sebelah tangan yang memberikan kesan cool bagi kaum hawa. Namun tidak berpengaruh sama sekali bagi Shaletta.


"Eh Al! apa kamu mau pulang?" tanya


Gina centil.


Shaletta malah mencibir Gina dalam hati. Ia sangat benci dengan cewek centil.


"Buset dah, giliran Gerald yang datang lo malah jadi sok anggun," cibir cowok tadi.


"Ish, apasih lo?"


"Lo nya yang apaan!" jawabnya yang tak mau kalah.


"Dah ah, gue pulang aja,"


"Ouh ya Al, lo pulang sama apa?" tanya Gina menatap Gerald dengan penuh rasa.


"Ya kendaraan lah goblok!"


"Mulut lo bisa diam nggak?" ancam Gina menatap tajam Aldo.


"Al, aku boleh nggak nebeng sama kamu? soalnya tadi aku diantar papa aku ke sekolah,"


"Suruh aja balik bapak lo jemput," jawab Aldo.


Gina kembali menatap tajam dirinya, lalu menatap Gerald balik.


"Do, lo antar aja Gina pulang!"


"Tapi Al," keluh mereka berdua serentak.


"Ada hal yang harus gue selesaiin," ujar Gerald kemudian melenggang pergi menuruti Shaletta yang sudah dulu berangkat.


***


Di taman terlihat Shaletta yang sedang memfoto berbagai tumbuhan disekitarnya. Dari tadi kerjanya hanya mengisi album foto Gerald yang umpama tidak berisi.


"Siapa yang ngijinin lo foto-foto makai hp gue?" tanya Gerald.


"Ya gue sendirilah! lagian hp ini nggak marah juga kok," jawabnya yang terkesan begitu santai.


"Dasar cewek aneh!"


Shaletta mendengar ucapan Gerald namun kali ini ia tidak menghiraukannya.


"Lo nggak nganterin cewek ganjen itu pulang?" Sebuah pertanyaan yang lolos keluar dari mulut Shaletta.


"Cewek ganjen?"


Ia menghela napasnya kemudian memutar bola matanya.


"Lo napa sih dari tadi pagi nggak nyambung-nyambung? itu antek-antek OSIS, siapa namanya? Gina?"


Gerald baru mengerti arah pembicaraan Shaletta. Ia tersenyum smirk.


"Napa? lo cemburu?"


"Ih, siapa juga yang cemburuan ama orang kayak lo," elak Shaletta tak terima.


"Hmmmh, tapi gue ngeliat lo cemburu natap Gina saat dia genit ama gue tadi."


"Hahaha! ngakak aja lo dasar Ger! nggak ada bedanya lo ama teman lo si Trouble maker itu."


Gerald bingung.


"Trouble maker?"


"Itu panggilan Gibran dan Vincent dari gue,"


"Sekarang kita to the point aja! napa lo ngajak ketemuan?"


"Ke gubuk tadi."


Shaletta melongo tak percaya memandang Gerald.


Aaaaaaaa!


Teriak seseorang yang berasal dari gubuk tua tersebut.


"Kan, itu makanya kita telusuri aja! kalau nggak takutnya nanti dia akan meminta korban."


"Tapi...ah ya sudah," ucap Shaletta pasrah.


Mereka melangkah gubuk tua tersebut melalui jalan setapak yang ada.


"Ger, kita panggil aja temen lo yang lain!"


"Terserah lo!"


"Gib! Vin!" panggil mereka serentak yang juga dijawab serentak oleh Gibran dan Vincent.


"Apa itu lo Al?"


"Apa itu lo cewek prik?"


"Hmmm, sekarang kalian berdua pergi


ke taman belakang sekolah! kami sekarang berada di gubuk tua dekat sini!"


ucap Gerald kemudian memutuskan telepatinya.


"Lo yakin mau masuk ke gubuk tua itu?"


Gerald mengangguk yakin.


"Hmmm, sebenarnya gue udah pernah ke sini," ujar cewek itu namun ia tidak melanjutkan ucapannya.


"Bicara tuh yang jelas! jangan


nanggung-nanggung!"


"Nggak jadi, kuy pergi!"


Shaletta melangkah maju sampai ia tiba


di depan pintu gubuk.


"Ger!"


Mendadak, pintu gubuk tersebut terbuka dengan sendirinya.


Bersambung...


Terus baca ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan cara like, vote, coment dan kasih bintang 5!


Thanks


__ADS_2