Misteri Buku Tua

Misteri Buku Tua
Ratu Drama!


__ADS_3

"Sha! lo ada masalah apa sama gue?" tanya Gibran yang sudah menarik Shaletta dari Gerald dan Vincent. Ia ingin menyelesaikan masalah ini.


"Kenapa lo ngehindar dari gue?" kini Gibran menatap gadis itu dengan serius.


"Perasaan lo aja kalik, gue nggak ada salah ngapain harus ngehindar ketemu lo," jawabnya dengan tawa yang dipaksa.


"Lo cemburu?" tembak cowok itu sehingga membuat Shaletta langsung gugup.


Deg


lagi-lagi ia kaget, tanpa disadari Gibran malah tengah tersenyum tipis.


"Pasti lo ketularan sifat geer-nya si Vincent. Gue lihat makin hari lo makin narsis aja deh," elak Shaletta.


"Nggak usah pura-pura lagi! lo ngaku aja! lo cemburukan?"


"Emang lo pikir semua cewek yang suka sama lo? nggak kalik! lain kali jangan PD banget jadi orang!" Shaletta melenggang pergi meninggalkan Gibran yang masih setia berdiri.


"Gue yakin dia cemburu!" cowok itu tersenyum. Namun, senyuman itu seketika sirna dengan kata-kata Shaletta tadi.


"Emang lo pikir semua cewek yang suka sama lo? nggak kalik! lain kali jangan PD banget jadi orang!"


"Gue jadi ragu. Kenapa gue nggak bisa baca perasaan lo?"


***


"Akhhh! kenapa sial bat dah gue hari ini? dari si Gerald sampai Gibran sama aja. Sama-sama menyebalkan! gue sebal!" gerutu gadis itu. Ia sekarang tengah


menghidupkan mesin motornya sambil mengomel tidak jelas.


Tiba-tiba tanpa taunya terlebih dahulu, Shaletta dikejutkan oleh suara bariton dari belakangnya.


"Lo udah kayak nenek panti jumpo aja!" ujarnya yang membuat cewek tersebut langsung melotot dan menengok ke belakang. Terlihat seorang cowok yang sedang duduk di atas motor besar dengan gaya cool.


"Ngapain lo yang sibuk? gue nggak peduli apa yang lo omongin," lawan Shaletta yang kemarahan sudah di ubun-ubun.


"Kalau lo nggak peduli, nggak mungkin lo ladenin gue," Gerald terus saja memancing emosi gadis itu dengan senyum tengilnya.


"Akhhh! semuanya sama aja! bikin kepala gue mau pecah!"


"Gausah dipecahin! simpel kan?"


"Akhhh! kalau gue terus merespon ucapan lo, pastinya lo malah nambah kesal!" Shaletta sudah capek. Baginya sudah cukup berdebat yang tidak berguna untuk hari ini. Belum lagi ia harus menghadapi masalah di rumah.


Mendadak, motor besar milik Gerald menghambat motor Shaletta. Perempatan siku mulai muncul di kepala gadis tersebut.


"Woy! minggir dari jalanan gue nggak?!" teriak cewek itu dengan tidak santuy.


"Kalau nggak?"


"Kakel yang terhormat, bisa nggak lo minggir?adek kelas lo ini mau lewat," ucapnya dengan suara lembut yang terpaksa.


"Jalanan ini juga nggak punya lo. Lo nggak berhak ngatur gue," Gerald malah menjadi makin menyebalkan.


"Lo mau coba ngerasain sentuhan lembut tangan gue ini di kepala lo itu?" tanya Shaletta dengan nafas naik turun.


Ketika peraduan mulut terjadi dengan sangat sengit, salah satu teman Gerald datang dengan motor besar yang sama sepertinya.


"Al, cabut ke cafe kuy! yang lain pada nungguin," ia sama sekali tidak mematikan mesin motornya.


"Oke, lo duluan aja! ntar gue nyusul," sahut Gerald.


Cowok tersebut beranjak pergi dan meninggalkan cowok yang sudah membuat perempatan siku muncul di kepala Shaletta.


"Sono lo pergi jauh-jauh! kalau bisa, nggak usah balik lagi!" usir cewek itu membuat Gerald semakin suka menggodanya.


"Gue nggak ada lo malah nyariin. Nanti lo malah ngangenin gue."


"Anda terlalu narsis ngab," ujar Shaletta kemudian menancapkan gasnya pergi.


***


Gadis itu berjalan menuju dapur. Ia mengintip kamar ibunya terlebih dahulu.


"Nak, kamu udah pulang?" tanya ibunya dengan suara lemah lembut.


Shaletta tersenyum lalu masuk ke dalam kamar.


"Udah bun, apa bunda udah merasa mendingan?" tanyanya sembari memeluk ibunya yang sedang duduk bersandar.


"Ayah mana bun?"


"Di dapur."


"Bunda, bunda jangan sakit lagi! Asha jadi khawatir, Asha takut bunda kenapa-napa," lirih gadis itu yang masih berada dalam pelukan ibunya.


Verta tersenyum, hatinya senang mendengar ucapan putri satu-satunya.


"Bunda, Asha ke dapur dulu ya!" cewek tersebut melepaskan dekapan ibunya dan beranjak pergi.


Shaletta berjalan selangkah demi selangkah, sayup-sayup ia mendengar percakapan yang membuat ia mempercepat langkahnya.


"Ayah bicara sama siapa?" suara Shaletta mengangetkan ayahnya yang membuat ia membalikkan badannya kebelakang.


"Udah pulang?" tanya ayahnya namun tidak dijawab oleh anaknya.


"Ayah bicara sama siapa barusan?"


"Nggak ada," jawab pria itu bohong.


"Asha tadi lihat ayah bicara sama seseorang," desaknya yang ingin ayahnya jujur.


"Mungkin kamu salah lihat kali, mana ada orang disini," ayahnya malah mengelak tak mau menjawab yang sebenarnya.


"Ayah! Asha tahu ayah sedang bicara sama perempuan sialan itu," bentak Shaletta.


"JAGA MULUT KAMU ASHA!" pria bernama Gavin itu malah memarahi anaknya sendiri. Mata Shaletta berkaca-kaca. Ia berlari


ke kamarnya yang berada di balkon.


Gavin menatap tajam wanita berbaju kebaya dengan rambut yang disanggul itu.


"Sekali lagi kau macam-macam dengan keluargaku, habis kau!" ancamnya membuat perempuan itu tertawa cekikikan.


"Hahahaha! emang apa yang akan kau lakukan?" ucapnya meremehkan Gavin yang membuat pria itu mengeraskan rahangnya. Ia

__ADS_1


sangat geram dengan orang yang mengusik ketenangan hidupnya.


Pria itu membacakan ayat kursi sehingga hantu di depannya menghilang begitu saja.


Ia berjalan ke atas menyusul anaknya yang sudah jelas berada di balkon.


Tok tok tok


"Asha, ayah boleh masuk nak?" bujuk Gavin dengan lembut.


"Hmmmm," gumam Shaletta yang tidak mood.


"Maaf nak, ayah nggak sengaja membentakmu tadi," ujarnya seraya membelai rambut Shaletta.


Gadis itu mengangguk pasrah. "Asha, juga salah yah, udah bicara nggak sopan tadi."


"Asha, boleh nanya sesuatu nggak yah?" lirihnya yang takut kena marah lagi.


"Apa?"


"Apa ayah juga bisa melihat perempuan berbaju kebaya tadi?" tanyanya ragu-ragu.


Gavin hanya bisa menghirup napas sedalam-dalamnya.


"Seperti yang kau lihat."


"Yang penting konsepnya seperti ini saja, selama kita selalu meminta perlindungan pada Allah dan tidak pernah takabur, insyaaallah mereka tidak akan bisa menyentuh kita," terang ayahnya yang sudah seperti ustadz saja.


"Tapi bunda gimana?"


"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal itu."


......................


Cewek bar-bar yang diberikan gelar cewek prik oleh Vincent sedang mengerjakan latihan matematika yang diberi gurunya dengan tidak serius. Entah apa yang terjadi, seminggu terakhir ini pikirannya selalu kacau. Ia sangat sulit berkonsentrasi. Mungkin seperti kata orang, ia membutuhkan meditasi.


"Udah ah, mending gue kumpul aja terus keluar bilangin aja mau ke WC."


Gadis itu melangkah menuju meja guru lalu berasalan keluar ingin segera pergi ke toilet.


Setelah mendapatkan izin, ia keluar seperti orang yang memang mau pergi ke WC. Padahal di luar, dia seperti orang yang baru keluar dari penjara setelah bertahun-tahun mendekam di tempat gelap itu.


Udara segar di pagi hari ia hirup sedalam-dalamnya. Semua masalah ia singkirkan supaya pikirannya bisa menjadi tenang. Bahkan tanpa disadari, cewek itu sudah berputar mengelilingi sekolah. Namun matanya langsung membulat ketika melihat seorang most wanted sekolah yang sangat menyebalkan juga sedang berjalan.


"Sial! ngapain tuh cowok bolak-balik keliling sekolah kayak setrika?" batinnya menggerutu.


"Apa gue harus menyamar kali ya? tapi kalau ketahuan mau dimana nih muka gue taruh?


bisa jatuh image gue. Eh, Emang cewek bar-bar kayak gue punya image?" Nah, sadar juga nih anak!


"Akhh lagian tuh cowok ngapain ada di sini sih?" gadis itu menutup matanya sekaligus menarik napasnya.


"Huft! gak ada jalan lain, mana gue malas lagi balik ke lokal yang udah kayak penjara itu. Pokoknya gue tetap ingin diluar."


Ia merogoh sakunya, mungkin saat ini Dewi Fortuna sedang berada dipihaknnya. Ia mendapati masker hitam dan kacamata photocromic di dalam kantong roknya.


Gadis itu bergegas pergi ke kaca yang berada


di WC cewek lalu memakai perlengkapan ninjanya.


"Dari tadi kek pergi, kan gue nggak perlu repot-repot masang nih kacamata sama masker."


Kakinya terus berjalan sampai ia tiba di daerah kelas Xll.


"Woy! lo mau kemana?"


Deg


Mata cewek tersebut kembali membulat, apalagi saat ini ia sangat kenal dengan suara yang memanggilnya.


"Aduh, pakai ketahuan segala lagi. Tuh anak buat gue sial aja ya?"


"Lo ngapain ngelawan dalam hati?"


cewek bar-bar itu berdiri tanpa bergerak sedikitpun, ia tidak ingin ketahuan disaat genting seperti ini. Jika hal itu terjadi bisa-bisa nama baiknya akan tercemar.


Tanpa berpikir panjang, ia langsung lari sekencang-kencangnya sehingga Gerald terkejut dan lalu mengejarnya.


Gadis itu terus berlari sekuat tenaga, namun nihil keberuntungan tidak berada dipihaknya. Ia berada di jalan buntu. Tiga arah jalan malah dibatasi oleh tembok tinggi.


"Mau lari kemana lagi?" tanya Gerald yang terus mendekati cewek tersebut.


Sementara yang didesak menoleh


ke belakang. Ia bisa melihat Gerald yang makin lama makin mendekat.


"Macam-macam lo, habis lo gue jadiin samsak," ancamnya dan tidak membuat lawannya takut.


Cowok itu semakin dekat. Mereka sekarang hanya berjarak 20 cm. Gadis itu menempelkan telapak tangannya ke dinding sambil memalingkan wajahnya ke samping.


Tanpa diduga, Gerald malah menyentil kening cewek itu yang membuat si empunya melotot.


"ngapain lo nyentil dahi gue?"


Gerald tersenyum satu sisi. Ia sudah menduga hal ini sebelumnya.


"Udah gue duga. Lo yang ngapain pakai acara nyamar segala?" ujar cowok tersebut yang menarik kacamata orang dihadapannya.


"Baru beberapa Minggu sekolah, udah jadi badgirl aja lo. Gue tau lo Shalet," ucap Gerald malah seenaknya saja memanggil nama orang.


"Eh, diam aja lo cowok aneh! kalau nggak, gue sumpal tuh mulut. Pedes amat kayak bon cabe dikasih balsem," Shaletta jadi tak baik-baik saja. Gerald dihadapannya kini malah membuat jantungnya bekerja lebih keras. Bukan karena canggung, tapi karena sesak napas menahan emosi melihat wajah dan ucapan menyebalkannya.


"Emang lo udah pernah nyobain bon cabe dikasih balsem?"


"Dasar lo! udah aneh buat emosi lagi!" gerutu Shaletta.


"Ya Allah, apalah salahku hingga diriku bertemu cowok aneh plus menyebalkan kayak dia?" ucapnya mulai mendramastis.


"Dasar ratu drama," cibir Gerald.


cewek tersebut mendorong dada Gerald namun tidak berhasil. Ia menyenggol perut cowok itu dengan sikunya hingga akhirnya Gerald memberikan jalan untuknya.


"Mau kemana lo main pergi aja? lo pikir sekolah ini punya nenek lo?" tanya Gerald yang kembali menghadang jalan Shaletta.


Gadis itu kembali berpikir. Namun sebelum itu, ia sudah memasang pagar pelindung di tubuhnya agar cowok menyebalkan

__ADS_1


di depannya kini tidak bisa membaca pikirannya.


"Aelah buset! nih gimana ya caranya gue bisa lolos dari cowok aneh ini? apa gue akting aja? atau buat kesepakatan? kalau nggak bisa kena coret ntar nama gue dari KK," pikirnya panjang.


"Aduh! perut gue sakit! Ger, gue harus ke UKS."


Shaletta yang merasa hal itu akan berhasil langsung merasa senang dalam hati. Akan tetapi, kesenangannya malah berakhir karena langsung di ulti oleh Gerald.


"Lo pikir gue cowok bodoh yang bisa lo tipu gitu aja?"


"Minggir cowok aneh!" bentak Shaletta.


"Lo pikir ada yang gratis di dunia ini? lo harus tanggung jawab!"


"Emang gue ngapain sih?" tanyanya dengan wajah polos tanpa dosa.


"Pantasan lo langsung jadi famous padahal lo murid baru di sini. Ratu drama seperti lo harus dikontrak Indosiar supaya makin laku aja tuh siaran. Apalagi akting lo benar-benar profesional," goda Gerald yang sengaja memancing emosi Shaletta.


Dan berhasil, gadis itu langsung naik pitam dengan mata yang melotot menatap dirinya.


"Enak aja lo ngatain gue ratu drama. Ngaca dulu woy!"


"Udah, ganteng kok," jawab Gerald sejujur-jujurnya.


Tak bisa dipungkiri, wajahnya itu memang sangat tampan dan begitu nacho saat diam dan langsung jadi manis saat tersenyum.


Matanya yang tajam dan teduh membuat semua orang betah menatapnya.


Hidungnya juga mancung sempurna. Kulitnya yang kuning langsat dengan bola mata yang berwarna amber menambah kesan Indonesianya.


"Kok orang narsis kayak dia bisa jadi famous?" gumam Shaletta.


"Napa? iri?"


"Lah, siapa yang iri?"


Daripada semua ini menjadi sangat panjang, Gerald mempersingkat perdebatan mereka.


"Gue kasih lo hukuman, sekarang lari


di lapangan 10 putaran!" Gerald memerintah seenak jidatnya.


Shaletta melongo tak percaya. Bisa-bisanya cowok aneh itu menyuruhnya lari di tengah lapangan, mana bel belum bunyi lagi. Apa dia sengaja mempermalukannya?


Dari pada menjatuhkan harga dirinya sendiri, gadis itu mencoba melakukan negoisasi dengan Gerald.


"Kakel gue waketos yang akan ngelepas jabatan di SMA Galaxy ini yang punya wajah ganteng, manis, tajir, cerdik dan lakik," pujinya tanpa titik koma.


Ia lalu menyengir dengan mata yang sengaja dibulatkan.


"Hari ini panas banget, masak cowok cool baik hati kayak lo tega ngehukum bocil 14 tahun kayak gue di bawah sinar matahari?"


Kan, benar. Gerald sudah merasakan hawa aneh dari tadi.


"Pantas aja dia tiba-tiba jadi cewek manis dan muji gue, mau negosiasi ternyata."


"Jadi lo mau negosiasi sama gue?" ucap Gerald yang kembali menatap Shaletta datar.


"Nggak usah gitu juga tampang lo! muak gue liatnya!"


"Lo cewek tapi gaya bicara lo malah kayak gitu."


"Gue nggak peduli! yang penting sekarang gue minta lo, tolong pertimbangkan ucapan lo! masak lo tega sama gue?"


"Ngapain gue ngasihanin ratu Indosiar kayak lo?"


"Apa kata lo?" teriak Shaletta yang membuat Gerald meletakkan telunjuknya di mulutnya.


"Lo mau nama lo tercemar? orang belajar lo malah cabut."


Shaletta langsung menggeleng.


"Oke, gue nggak akan nyuruh lo lari muter lapangan tapi ada satu syarat," ujar Gerald menggantungkan kalimatnya.


"Apa?" tanya Shaletta yang kini deg-degan. Firasatnya menjadi tidak enak.


"Lo lebih awal berangkat sekolah dan tungguin gue di tempat parkir."


Shaletta yang mendengar permintaan tak masuk diakal tersebut langsung menganga tak percaya.


"Lo gila? ngapain gue rela-rela datang lebih awal ke sekolah hanya untuk nungguin cowok? bukan gue banget," sewot Shaletta tak terima.


"Berarti kesepakatannya batal dong."


Shaletta malah jadi frustasi. "Ck, kalau nggak gara-gara harga diri, gue nggak rela ngelakuin ini semua."


***


Shaletta sekarang sedang berjalan-jalan disekitar rumahnya, ia pergi ke taman yang terletak dibelakang rumah yang cukup elite.


Tak disangka, cewek itu melihat penampakan kuntilanak yang bersembunyi di belakang pohon dekat jalan menuju kebun.


Shaletta berpura-pura tak melihat, ia berbalik arah menuju rumah. Lagi-lagi ia kembali melihat penampakan kuntilanak, namun kini ia sedang berdiri dijalan dekat lapangan.


"Mungkin mereka penghuni sini, lebih baik gue balik."


Ia bergegas meninggalkan taman. Tubuhnya seketika merinding karena tiba-tiba saja melihat penampakan yang tak diinginkan.


......................


"Aduh, dari kemaren ngapain tuh hantu terus neror gue? emang apa salah gue?"


"Hmm, tapi gue juga penasaran deh. Kenapa dia terus aja muncul dan nampakin tubuhnya ke gue."


"Tapi...ah sudahlah! gue ke dapur mau makan."


Shaletta berjalan ke lantai bawah melewati jenjang, kakinya terus melangkah menuju dapur. Akan tetapi, terus saja wanita berbaju putih dengan rambut tergerai itu terlihat diluar jendela yang membuat Shaletta menjadi kaget.


"Astaghfirullaah, nih lama-lama sumpah serapah yang keluar dari mulut gue," gumamnya seraya memegang dadanya.


...Bersambung......


...Terus baca ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!...


...Jangan lupa tinggalkan jejak dengan cara like, vote, coment dan kasih bintang 5!...

__ADS_1


...Thanks...


__ADS_2