Misteri Buku Tua

Misteri Buku Tua
Kapal Pecah


__ADS_3

Gadis itu menatap sekeliling UKS. Ia kurang percaya dengan ucapan Gerald yang tidak bisa dipastikan kebenarannya.


"Sejak kapan kamu di sini?" tanya Shaletta pada seorang cewek yang ia kenal.


Yang ditanya tersenyum lalu menatap Gerald.


Tatapannya langsung disambut tajam sehingga membuatnya susah untuk menelan air ludahnya sendiri.


"Tadi. Dia nyuruh aku nemanin kamu."


"Oo."


"Karena kamu udah sadar, aku pergi dulu ya!" gadis tersebut meninggalkan Shaletta san Gerald saja di ruangan yang mempunyai tempat tidur.


Entah mengapa Shaletta tiba-tiba memandang sendu Gerald yang sedang memainkan hp nya. Hatinya merasa gelisah.


"Gue ingin nanya sama lo. Apa lo percaya dengan yang namanya kasih sayang?"


pertanyaan Shaletta membuat Gerald langsung memalingkan wajahnya ke arah orang yang sedang bicara. Ia menatap gadis itu sebentar.


"Kalau kasih sayang nggak ada, gue mungkin sudah berada di alam barzah sejak dulu. Gue nggak bakalan ada di sini."


Gadis itu menengadahkan kepalanya ke atas yang bersandar pada dinding sambil menatap langit biru di luar sana. Kata-kata Gerald memang benar-benar pedih, tapi itu juga benar adanya.


"Gue hanya berpikir, kalau gue bisa memutar waktu gue mau kembali ke beberapa tahun yang lalu."


"Semua orang juga pasti akan melakukan hal yang sama."


Mendadak suara para duo trouble maker membuat perhatian Shaletta teralihkan. Ia memutar bola matanya malas saat ia tahu siapa yang menjenguknya.


"Woy cewek prik! tumben gue lihat lo jadi lemah kayak gitu? galau lo?" cercos Vincent dengan suaranya yang terkesan tidak kalem.


"Galau bapak lo! lo nggak lihat badan gue lagi lemes? bikin emosi aja!" Shaletta malah terpancing dengan ucapan Vincent yang selalu saja menyeleneh.


"Nih anak udah prik, bar-bar pula lagi."


Shaletta menggelengkan kepalanya. Ia terus berpikir apa yang terjadi sebelum ia pingsan.


Yang terakhir ia ingat adalah wajah seseorang yang muncul di depannya.


"Nggak papa kok."


"Gue keluar dulu!"


"Lo mau kemana?" kali ini, Gerald lah yang bertanya.


"Kantin."


Erik menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Shaletta yang sebentar berubah-ubah seperti bunglon yang lagi beradaptasi dengan lingkungannya.


......................


"Ger, lo ngerasa pernah lihat kejadian kemarin nggak? seperti dejavu aja," ujar Gibran yang hampir saja tersedak oleh minumannya.


"Sepertinya udah nggak asing lagi buat gue."


"Berarti bukan gue aja yang merasa gitu, ternyata kita bertiga. Tadinya gue nanya ama Vincent jawabnya b aja, dia nggak pernah lihat yang begituan."


"Gue yakin kalau ada identitas besar dibalik dirinya itu."


Gibran langsung menatap Gerald.


"Apa maksud lo?"


Gerald menyentil dahi Gibran yang membuat Gibran mengusap dahinya karena sentilannya tersebut tidak main-main rasanya.


"Awww! kejam amat lo Ger! gue ga habis pikir napa sih cowok kejam macam lo bisa jadi famous sekolah nomor 1 bahkan juga dari sekolah lain " ucap Gibran lebay.


"Bagaimana caranya?"


"kita awasi dia dari jauh."


"Tapi, kalian nggak sadar apa? ngapain tuh anak kayak punya masalah aja ama gue?" ungkap Gibran meluapkan perasaannya.

__ADS_1


"Apa lo punya masalah ama dia?" Vincent malah membuat kepala Gibran tambah sakit.


"Yang jadi masalahnya, gue nggak tau."


"Jangankan itu, akhir-akhir ini aja gue cukup jarang ketemu dia. Gue perhatiin dia terus ngehindar dari gue."


Seorang cowok tampan diantara mereka tampak berpikir. Sebenarnya ia juga bingung dengan tingkah Shaletta yang mendadak berubah.


"Gue akan bantu lo nyelesainnya."


***


Shaletta duduk di kursinya sambil membaca buku. Namun dia tidak fokus dengan apa yang dibacanya. Hatinya terus berkecamuk dengan apa yang terjadi di rumahnya sejak kemarin.


Flashback on


Shaletta turun dari motor Yamaha Lexi dan memarkirkannya dekat garasi mobil. Dengan


tubuh lelah ia melangkahkan kaki masuk kedalam rumah.


Di luar dugaan, rumahnya seperti kapal pecah. Hal itu membuatnya sangat terkejut hingga mengelilingi rumah, takutnya ada maling yang masuk. Namun setelah berkeliling 20 menit, Shaletta tidak melihat tanda-tanda orang ke rumahnya.


Ia menepis berbagai pikiran buruk yang terus menghantuinya lalu berjalan ke dapur.


Di ruang tengah, Shaletta melihat pintu kamar ibunya yang sedikit terbuka, ia merasa penasaran kemudian membuka pintu tersebut.


Alangkah terkejutnya ia ketika melihat ibunya


di tempat tidur dengan bentuk yang kucel.


Dan kamarnya juga berantakan seperti di ruang tamu.


"Astaghfirullaah, bunda kenapa?" tanyanya mendekati ibunya dengan raut wajah yang sangat cemas.


"Akhh, pergi kamu! pergi!" bentak ibunya mendorong anaknya sendiri.


"Bun, ini Asha anak bunda," ucap Shaletta berusaha menyadarkan ibunya.


"Pergi kamu! Akhh! pergi! jangan pernah lagi memperlihatkan wajahmu itu!" teriak Verta membentak anaknya.


"Lepas! lepas! akhh! kubilang lepas!" teriak Verta lagi sembari memberontak.


Shaletta menghela napasnya gusar. Terpaksa ia harus menyerang titik lemah ibunya.


Ia menggerakkan 2 jari kuatnya secara cepat di leher ibunya seraya membaca ayat kursi.


"Alhamdulillaah," ucapnya saat melihat ibunya telah tenang, walaupun dalam kondisi seperti tidur.


Walau dengan tubuh yang lemas, Shaletta tetap menuju kamarnya untuk berganti pakaian lalu kembali kebawah merapikan semua barang yang telah diserakkan oleh ibunya.


Setelah semuanya bersih dan rapi, ia makan terlebih dahulu dan mencuci semua piring yang ada. Kemudian ia membawa nampan yang berisi air putih dan bubur ayam ke kamar ibunya.


Tak lupa, ia juga telah menghubungi ayahnya yang sedang bekerja di kantor agar segera pulang.


Shaletta kembali masuk. Ia melihat ibunya tengah berbaring di king size bed.


Ia meletakkan nampannya di meja bundar lalu membangunkan ibunya.


"Bun! ayo makan Bun!"


Akhirnya Verta membuka matanya lalu menatap Shaletta yang tengah tersenyum padanya.


"Udah lama kamu pulang nak?" tanya Verta lemah yang berusaha untuk duduk.


"Udah bun, ini aku bawain bunda bubur ayam.


Dimakan ya bun!" gadis itu kemudian keluar dari kamar.


Tidak berselang lama, terlihat sebuah mobil masuk ke dalam garasi. Shaletta yakin kalau itu adalah ayahnya.


Pria tersebut bergegas masuk ke dalam rumah dan menuju kamar Verta.


***

__ADS_1


Shaletta pergi ke dapur untuk sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Ia kembali dibuat terkejut melihat ibunya yang bertingkah seperti kemarin.


Hanya saja saat ini dapur yang dibuat berantakan oleh Verta yang membuat ia bergegas menuju kamar orang tuanya.


Shaletta mengetuk pintu. Kemudian terdengar bunyi deheman seseorang dari dalam yang mengisyaratkan bahwa tuan kamar tersebut telah memberi izin.


"Ayah, bunda kenapa lagi?" tanyanya.


"Nggak tahu, tiba-tiba aja bunda kamu seperti orang kesurupan aja. Setelah itu teriak-teriak nggak jelas."


"Aku nggak jadi ke sekolah yah,"


"Kenapa? kalau bunda kamu tenang aja, ayah


nggak ngantor hari ini."


"Tapi nanti kalau ada apa-apa gimana? nanti kalau bunda butuhin sesuatu,"


"Udah kamu sekolah aja, masalah bunda biar ayah yang ngurusin," jawab ayahnya yang meyakinkan anaknya.


Gadis itu mencium punggung tangan ayah dan ibunya. Ia pergi ke sekolah karena permintaan ayahnya tadi. Hari ini ada ekskul, jadi mau tak mau dia harus hadir di sana.


Namun di ujung ruang tengah dekat dapur Shaletta melihat sesosok yang mengerikan


di matanya saat akan mengambil minum.


Tubuh yang dibalut dengan kebaya, rambut yang disanggul disertai dengan seringai di wajahnya. Sekilas ia mirip seperti penari Jawa.


Shaletta memastikan keadaan orang tuanya dengan kembali ke kamar.


"Ada apa? cepatlah berangkat! nanti kamu terlambat."


"Hmmm, apa ayah yakin aku pergi sekolah aja?"


"Kenapa nggak sayang, ayah bisa menjaga ibu kamu."


"Yah, aku mohon jangan tinggalin bunda sendirian karena itu akan berbahaya baginya.


Bunda nggak boleh sendiri!"


Arga tersenyum mendengar penuturan anaknya. Ia membelai kepala Shaletta yang tertutup hijab.


"Pergi sekolah gih!"


"Assalamualaikum ayah."


"Waalaikumussalam."


Shaletta berjalan keluar. Sebelum itu, ia telah memeriksa dapur dan ruang tengah terlebih dahulu, namun ia tidak melihat sosok wanita tadi.


Saat akan keluar dari dapur, Shaletta mendengar suara seseorang tanpa rupa.


"Hihihi! aku akan menyakiti ibumu," ucapnya cekikikan dengan nada yang menyeramkan.


Bulu kuduk gadis itu berdiri, pertanda ia agak takut. Tapi hal itu disingkirkannya.


Ia menatap tajam sekeliling dan menemukan wanita tadi di sudut dapur.


"Sekali kau sentuh ibuku, nyawamu akan hilang di tanganku."


"Hahaha! aku suka dengan sifat pemberanimu itu, tapi kau tidak akan bisa menyingkirkanku."


"Bicara lagi mulutmu itu, aku pastikan tidak akan ada sepatah kata yang bisa kau keluarkan dari mulutmu," ancam Shaletta lagi.


"Hahaha! ternyata kau bukan hanya pemberani tapi kau juga kejam."


Shaletta langsung berlari kearahnya. Namun hal itu tidak berhasil karena makhluk gaib bisa langsung menghilang tanpa jejak.


Bersambung...


Terus baca ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan cara like, vote, coment dan kasih bintang 5!

__ADS_1


Thanks


__ADS_2