Misteri Buku Tua

Misteri Buku Tua
Mencari Ila


__ADS_3

"Aakkkkkhhhhh! akhhhhh! panas!" pekiknya yang terus memegang kepalanya. Ia merasa kepanasan karena dibacakan ayat Al-quran.


Apalagi ayat kursi ini adalah ayat singgasana.


Ayat yang meliputi makna tauhid, kebesaran dan luasnya sifat Allah. Dia yang memiliki segala makna-makna ketuhanan, yang hanya berhak untuk disembah.


Ila menunjukkan smirknya saat tubuh Kunti perlahan hilang dari hadapannya karena terbakar.


Sebenarnya Ila tak mau bertarung saat ini, tapi karena ada yang menantangnya dulu, oke fine akan Ila layani.


***


"Baa Ril? resah se bantuaknyo. Ado masalah ndak?" tanya Tegar yang bermaksud untuk menyuruh Arilla berhenti sejenak sebab ia terlihat menyedihkan.


(Kamu napa Ril? kok murung aja tuh muka? ada masalah?)


"Hmmm ndak Gar."


"Duduak lah lu!"


Arilla pun duduk di tepi gebuk tersebut sambil bersandar pada tiang kayu tempat itu. Tegar dan Marvel saling memandang.


"Ril, kau baa? kalau ado masalah kecekkan sajo!"


(Ril, kamu napa? kalau ada masalah itu curhatin aja!)


Ucapan Marvel itu hanya ditanggapi Arilla dengan senyuman. Mau bagaimanapun pikirannya sedang kacau saat ini apalagi setelah berbicara dengan pangeran Alfa.


"Den ndak mamaso pulo bia kau bacarito. Mungkin tu rahasio kau jo kau pun alun siap untuak mancaritokannyo."


(Aku tidak memaksamu kamu untuk bercerita.


Mungkin saja itu adalah privasimu dan kamu juga tidak siap untuk menceritakannya.)

__ADS_1


"O iyo alah lamo kami ndak ado nampak kau, kama se?" tanya Tegar mengalihkan topik pembicaraan agar Arilla tidak makin tertekan.


(Ouh iya, udah lama kami tidak melihatmu, emang kamu kemana aja?)


"Baru dari tampek lain. Ang ndak pernah lai ka rimbo-rimbo?"


(Baru dari tempat lain. Kamu nggak ada lagi pergi ke hutan?)


"Ndak."


Tegar menatap mata Arilla lama sehingga yang ditatap pun menjadi risih. Dalam pikirannya, ia merasa kalau mata Arilla mirip dengan seseorang.


"Baa? tu kek tu bana mancaliak den?)


(Napa? kok gitu banget lihat aku?)


"Ndak."


"Kau mirip jo urang yang den kenal." Gumamnya namun masih bisa di dengar oleh Arilla.


"Who?"


"Ila."


"Hah?" Arilla terkejut dengan jawaban Tegar. Ini adalah kesempatan ia untuk bertanya lebih lanjut.


"Ila? apo gadih tu sengan bahu den?"


(Ila? apa gadis itu setinggi telingaku?)


"Yes," jawab Marvel sambil mengangguk.


"Kau kenal jo inyo?"

__ADS_1


(Kamu kenal dengan dia?)


"Apo kalian nampak inyo? dari cako nyo pai tapi ndak baliak-baliak juo sampai kini do." Ungkap Arilla pada Tegar dan dibelakangnya ada Marvel.


(Gar, kamu lihat Ila nggak? dari tadi dia pergi tapi belum juga datang sampai sekarang.)


Saat berjalan dalam misi pencarian Ila, Arilla berhenti disebuah gubuk karena ia melihat Tegar dan Marvel yang sedang duduk disana.


"Cako nyo emang jo kami seh, tapi lah pai baliak." Ujar Tegar menjawab seadanya yang membuat Arilla merasa di PHP-in.


(Tadi dia emang sama kami sih, tapi udah pergi.)


***


"Kali ini aku harus berhati-hati, sepertinya ini bukanlah sembarang tempat."


"Dan, apalagi ini? jujur aku sudah tak sanggup lagi dengan semua ini. Tapi sayang harus aku jalani juga. Huft. Percuma lo ngeluh La, toh nggak ada bantu sedikitpun kok."


"Ternyata pada akhirnya aku merasa kesepian juga tanpa adanya teman."


"Andaikan Rendra and the geng ada disini pasti aku tidak akan merasa sesepi ini." Pikir Ila namun sesaat kemudian ia menggelengkan kepalanya.


"Apa yang lo pikirin Ila?"


Bersambung...


Terus baca ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!


Jangan lupa untuk tekan tombol like, beri vote and coment serta kasih bintang 5 ya!


Ouh ya, jangan lupa untuk mampir ke novel dan chat story aku yang lain!


Judulnya:-Karin the Mafia Girl

__ADS_1


-Kisahku di pesantren


ありがとうございます


__ADS_2