Misteri Buku Tua

Misteri Buku Tua
Camping


__ADS_3

Beberapa orang gadis mendekat ke arah mereka tanpa adanya undangan sebelumnya.


Seseorang diantara mereka berada paling depan.


"Hai Gibran," sapa gadis itu dengan centilnya.


Raut wajah Shaletta langsung berubah. Ia sepertinya ingin muntah saat melihat kegenitan orang yang sepertinya kakak kelasnya.


"Hmmm," jawab Gibran dingin.


"Ihh, kok kamu dingin gitu sama aku?" ucapnya dengan sikap manja.


"Hai Al! udah lama nggak ketemu kamu. Kamu kemana aja? dan kamu Vin?" buset dah nih cewek, sekali incar tiga pangeran nih ceritanya.


Vincent geli melihat cewek di depannya. Kalau ia akui emang cantik sih, tapi sayang nggak menjaga marwah.


"Jess, lo jadi nggak ngajak mereka fotbar?" bisik temannya yang di sebelah kanan.


"Iya, lo tenang aja!" balas Jessica yang juga berbisik pada temannya.


Shaletta hanya menatap mereka tidak suka. Apalagi melihat Jessica and the geng bersikap terlalu agresif. Jatuhin martabat perempuan aja.


"Ouh ya, gimana kalau kita fotbar?" tanya cewek itu dengan PD tanpa merasa malu sedikitpun karena ia merasa tidak akan ditolak sebab wajah cantiknya plus kekayaannya.


"Oh ya, ada salah satu barang gue yang ketinggalan di tas teman, gue pergi! bye!" ucap Shaletta sambil berlari menjauh dari mereka.


Jessica menatap Shaletta dengan senyum kemenangan.


"Yok, kita fotbar! aku ingin posting


di Ig aku," ucapnya dengan nada yang diayun-ayunkan.


"Maaf, tapi kita harus pergi!" ujar Vincent dengan maksud tidak menyinggung mereka.


"Tapi kita fotbar dulu ya!" pinta Jessica yang sengaja menunjukkan wajah memelasnya.


"Sorry, kita punya urusan lain," tolak Vincent dengan halusnya yang membuat Jessica menjadi muak.


"Bilangin aja kalau kalian ingin ngejar gadis murahan itukan!?" bentaknya.


"Ngaca dulu sebelum bilang orang gimana! jangan hobi ngatain orang tapi nggak sadar sama diri sendiri!" Gerald yang dari tadi diam akhirnya bersuara dan kata-katanya betul-betul pedas.


"Lebih baik lo minta foto aja tuh ama yang lain! cowok yang ada disini nggak cuma kita bertiga," ucap Vincent dengan sinisnya.


Tanpa aba-aba para most 3 cowok cool itu langsung pergi meninggalkan Jessica and the geng yang tengah kesal. Tangan ketua geng itu mengepal penuh kemarahan.


"Lo liat aja! gue akan buat mereka tergila-gila sama gue dan lo nggak akan bisa lagi dekat sama mereka,"


***


Sudah berputar-putar mencari, namun Trio cool tak juga menemui Shaletta.


"Akhh sial! kemana dia pergi?" gerutu Gibran seperti orang frustasi.


"Lo ikhlas nggak cari dia?" tanya Gerald.


"Akhh! lo jangan buat gue tambah pusing Ger!"


"Woy, tuh anak lagi enak nyantuy nongkrong di sana!" ujar Vincent menunjuk Shaletta yang tengah berbincang dengan teman-temannya.


Saat berjalan mendekati gadis yang mereka cari, 3 cowok itu malah agak terpental


ke belakang. Mereka merasa ada palang gaib disekitar Shaletta.


"Damn! apalagi ini? tadi dia hilang sekarang nggak bisa pula didekatin."


"Lo ngapain dari tadi emosi nggak jelas? pms lo?" ejek Vincent.


Gerald yang mengetahui keadaan Gibran hanya diam saja. Ia tahu bagaimana perasaan temannya itu saat ini.


"Gue ngerasain keberadaan makhluk dengan kekuatan yang sangat besar di sini," ucap Gerald dengan mata tertutup.


"Jadi gimana nih cara kita ngelindungin dia kalau dianya aja nggak bisa kita dekatin?


kekuatan kitakan nggak sebesar itu," tanya Vincent.


Shaletta yang melihat kakak kelasnya itu langsung menghampiri mereka. Aneh bin ajaib, ia bisa menembus palang tersebut sampai-sampai mereka melongo tak percaya menatap Shaletta.


"Ngapain liat gue gitu?" tanya Shaletta jutek.


"Udah siap ngambil foto sama fans?"


"Lupain aja! ayo kita susul yang lain! ntar ketinggalan dan jadi tersesat," cewek itu kini lebih fokus sama petunjuk jalan.


"Kalo tersesat mah nggak masalah," ujar Vincent menanggapi ucapan Shaletta. Cewek itu kini merasa aura aneh.


"Tersesat di hatimu, eaaaaa!" entah aba-aba dari mana anggota Trio Cool dan TGS serentak mengucapkannya.


Shaletta hanya menatap mereka datar. Kan benar juga firasatnya.


"Kalau mo gombal, lo salah orang."


"Aelah, gue bercanda kok. Jangan masukin


ke hati napa?"


"Dari pada kalian semakin gila lebih baik gue nyusul mereka."


Saat ini mereka terus melangkahkan kaki mendaki gunung yang tinggi itu. Memang capek sih, tapi seru juga.


"Woy! tungguin gue!" Vincent berhenti karena kakinya merasa capek.


Shaletta melihat ke belakang dan ia malah mengejek Vincent.


"Lo itu cowok apa cewek? masa gitu aja udah capek. Nggak lakik lo jadi cowok."


Vincent membulatkan matanya. Enak aja nih anak meragukan kelakiannya. Tapi ia malas berdebat, ia capek karena tadi malam begadang.


"Gue malas debat ama lo Sha!"


Mereka akhirnya berhenti di dekat pohon bolong berdiameter besar yang sudah tumbang.


Vincent langsung duduk bersandar tanpa memperhatikan keadaan sekitar. Shaletta menoleh ke arah Vincent. Matanya seketika melotot melihat sesuatu yang menyeramkan.


"Lo ngapain kayak orang cengo gitu?" tanya Gibran heran.


"Itu, di sampingnya Vincent," tunjuk Shaletta dengan tangannya.


Gerald dan Gibran langsung melihat ke arah yang ditunjuk Shaletta. Mereka terkejut. Sementara Vincent masih kebingungan.


"Woy, kalian kenapa malah jadi cengo kayak cewek itu?"


"Coba lo lihat aja sendiri ke samping," ujar Gibran dengan nafasnya yang sudah mengalami kecepatan yang lebih cepat dari tadi.

__ADS_1


Vincent menuruti perkataan Gibran, ia menengok ke samping. Jantungnya seakan mau copot saat itu juga.


Sementara yang dilihat hanya memperlihatkan sebuah senyuman yang sulit diartikan.


Mereka yang disapa bertambah membuat jantung mereka bekerja dua kali lebih keras.


Bagaimana tidak? yang menyapa mereka adalah sesosok nenek tua dengan tinggi sekitar 140 cm. Rambutnya yang disanggul itu rata-rata beruban. Wajahnya juga dipenuhi oleh kerutan.


"Hai nek, maaf udah ganggu nenek. Kami pergi ya!"


"Dan terima kasih tumpangannya nek!" teriak Vincent yang saat ini sudah duluan berlari.


Ketika hendak meninggalkan tempat itu, tangan Shaletta dipegang oleh nenek tersebut.


Otomatis ia pun menoleh. Keringat dingin mengucur di dahinya.


"A-a-ada apa nek?" ucap Shaletta menggigil.


"Cu, kau harus hati-hati!"


Setelah memperingatkan Shaletta, dia langsung menghilang yang membuat Shaletta lari terbirit-birit.


Jantungnya menjadi tidak karuan. Ia berusaha berlari sekuat tenaga mengejar cowok yang juga tengah berlari di depannya.


"Woy! tunggu!" cewek itu berhenti dengan napas tersengal-sengal.


Gerald melirik kebelakang. Ia menghampiri Shaletta yang berhenti.


"Woy, tunggu!" ujar Gerald yang menarik perhatian Gibran dan Vincent. Mereka mendekati Shaletta.


"Lo nggak papa?" tanya Gerald.


"Gue oke."


"Tapi serius, gue terkejut banget lihat nenek-nenek tuh!" ucap Vincent yang napasnya masih belum beraturan.


"Lu sih pakai acara berhenti segala. Ginikan jadinya," omel Shaletta.


Yang diomelin malah menyolot mempertahankan dirinya.


"Iya gimana pula? kaki gue udah nggak sanggup masa dipaksa juga?"


Shaletta baru sadar ternyata mereka telah tertinggal jauh dari rombongan.


"Nanti aja debatnya! sekarang yang dipikirin itu KITA UDAH TERTINGGAL JAUH DARI ROMBONGAN!" panik cewek tersebut.


Gibran dan Vincent juga ikut panik. Mereka berdua maju-mundur tidak tentu arah.


"Kalau hubungi aja mereka gimana?" ujar Vincent dengan pertanyaan konyolnya.


"Lo nggak nyadar apa? di sini tuh mana ada sinyal. Gimana ingin ngehubungin mereka?" sela Gibran.


"Gue punya ide! kita turutin aja jejak di jalan ini," usul Shaletta tiba-tiba.


"Benar juga kata lo," ucap Gibran.


"Adik gue mah selalu pintar. Emang lo?" Vincent malah mengejek Gibran.


"Woy! kalian mau nyusul rombongan apa nggak?" teriak Shaletta yang sudah duluan berjalan dengan Gerald.


"Tunggu!"


Mereka mengejar dua orang yang sudah 100 meter di depan mereka.


"Alhamdulillaah, untung kesusul" Shaletta dapat bernafas lega.


"Iya, gue kira tadi kita nggak akan ketemu mereka," sambung Gibran.


Saat ini para pendaki gunung sedang berada di perjalanan menuju shelter 2. Namun siapa sangka Gerald melihat sekelebat bayangan anak kecil. Gerald terus saja memperhatikan tempat hilangnya bayangan itu.


"Woy Al! bengong mulu lo! ntar kerasukan rasain tuh. Pak kyai nggak ada di sini yang akan ngeruqyah elo kalo kesambet," nyinyir Vincent.


"Bacot."


"Eh tunggu! rasanya ada yang hilang," ucap Gibran yang merasakan suatu keanehan.


Vincent langsung saja ngonec apa yang dikatakan Gibran.


"Woy! tuh cewek dimana? Shaletta dimana?" tanyanya panik.


"Haa? kan dia tadi sama elo, gimana sih?" Gibran juga ikutan panik.


Vincent malah menggigit bibir bawahnya.


"Tadi gue ngeliat hp, tapi pas gue lihat tuh cewek nggak ada lagi di samping gue."


"Ck, dia sama temannya," ucap Gerald memperbaiki keadaan yang kacau karena duo prik itu.


"Itu aja paniknya ampe segitu, gimana kalau dia benar-benar hilang?"


Vincent hanya cengengesan tak menentu sedangkan Gibran menatap tajam Vincent yang telah membuatnya cemas.


"Sialan lo Vin! lo pikir ini main-main?!"


***


Hari sudah menunjukkan pukul 9 malam. Para peserta camping berkumpul di depan api unggun yang tengah menyala besar. Mereka menghangatkan tubuh mereka masing-masing.


"Ananda, sekarang adalah waktunya kalian untuk uji nyali. Silakan siapkan semua barang-barang yang dirasa perlu dan kalian semua harus bisa mengambil bendera putih yang udah ditancapkan di sekitar sini. Tim yang paling dulu membawa bendera putih terbanyak akan menjadi pemenang," terang guru pembina.


"Kalau menang apa hadiahnya pak?" tanya seorang cowok tanpa malu.


"Kalian akan mendapatkan suprise."


"Dah! sekarang mulai persiapannya!


jam 09.15 kalian langsung pergi ke hutan sekitar dan usahakan pukul 09.35 semuanya kembali berkumpul di sini! paham?"


"Paham pak."


Semua peserta yang akan ikut uji nyali bergegas menuju tenda untuk mengambil beberapa peralatan seperti senter, hp, dll.


Sebelumnya, mereka telah dibagi menjadi beberapa kelompok. Dan ternyata Shaletta satu kelompok dengan pangeran sekolah, Adam dan Rizal.


"Woy! kalian udah siap?" tanya Vincent.


"Udah dong!"


Tim Gerald mulai menyusuri hutan untuk mencari bendera.


"Sha, coba lo hidupin senter lo!" ucap Gerald.


"Udah, tapi kalau hanya senter gue jalanannya ga akan terang. Yang bawa senter tolong dihidupin."

__ADS_1


Rizal, Vincent dan Adam mengambil senternya masing-masing. Dan ternyata ucapan Shaletta memang benar, jalanan terang.


"Kan terang kalau gini!" sorak Shaletta cukup heboh.


Gerald meletakkan telunjuknya di depan mulutnya.


"Jangan berisik!"


Shaletta langsung menutup mulutnya dan mengacungkan jempolnya.


"Pinter," ucap Gerald dengan senyuman yang menawan yang membuat wajah Shaletta sedikit menghangat, ia tak tau apa ini.


Ketika suasana sepi, mendadak terdengar suara perempuan cekikikan.


Hihihihihi!


Vincent dan kawan-kawannya langsung merinding.


"Zal, lo dengar suara nggak?" tanya Adam menggigil ketakutan.


"Dengar, sepertinya itu suara..."


"Mbak kunti," sambung Adam mereka berenam lari tunggang langgang.


Sementara tawa hantu tersebut semakin keras yang mungkin membuat gendang telinga orang yang mendengarnya pecah.


Setelah dirasa jauh...


"Hu-hah-hu-hah," bunyi deru nafas mereka.


"Itu asli suara si mbak?" tanya Shaletta.


"Ya iyalah. Emang siapa manusia yang mau tertawa cekikikan di tengah hutan kayak gitu?" jawab Gibran.


Saking takutnya, Rizal dan Adam sampai merasa kebelet pipis.


"Aduh, kebelet pipis lagi," ucap Adam kesal.


"Gue juga Dam," ujar Rizal yang tak kalah kesalnya.


"Bang, kita ke tenda balik!"


Belum sempat Gerald menjawab, mereka sudah meninggalkan tempat tersebut dan menuju tenda.


Lagian mereka tidak akan tersesat karena jalan ke tempat camp arahnya lurus tanpa berbelok ditambah jalan setapak yang terdapat di sana membuat mereka mudah untuk pulang.


"Aelah, langsung aja pergi," respon Vincent yang masih memperhatikan Rizal dan Adam yang sudah hilang dari pandangannya sambil berkacak pinggang.


"Hoy, jangan ngelamun! di sini tuh banyak penunggu! ntar lo malah kesambet lagi," ucap Shaletta yang langsung membuat Vincent bergidik ngeri.


"Jangan kuat-kuat Sha! ntar kalau mereka dengar gimana?" ujar cowok itu sambil melihat keadaan sekeliling.


"Hahaha, apa lo ngatain saya?" tanya seseorang tiba-tiba.


"Sha, kok suara lo tiba-tiba berubah?" tanya Vincent heran.


"Itu nggak suara gue."


"Terus?"


"Hahaha, lo harus nemanin kita di sini,"


ucapnya yang membuat Vincent semakin takut, sementara Shaletta sudah tahu siapa pelakunya.


"Hai om hantu ganteng kita hanya numpang lewat kok! kita nggak ganggu om kok. Jadi biarin kami pergi ya?!" bujuk Shaletta ikut drama.


"Saya belum tua, jadi jangan panggil saya dengan sebutan itu," tolaknya.


"Oke om, eh maksud gue bang. Maafin kita ya! kami pergi!" ucap Vincent ingin lari namun Shaletta menahannya.


"Udah, nggak ada lagi kok! cowok kok takut hantu?"


Saat Vincent merasa lega, mendadak bulu kuduknya berdiri semua.


"Kok rasanya ada yang ngehembus tengkuk gue ya?" tanya cowok tersebut sambil memegang tengkuknya.


"Gue juga Vin, rasanya jadi lebih merinding gitu," ujar Gibran melakukan hal yang sama seperti temannya.


"Jangan jangan..," duo prik itu bertatapan.


"Hantu..." pekik mereka.


Bukannya takut, Shaletta malah tertawa melihat reaksi kakak kelas yang terkenal cool itu. Ia menganggap hal tersebut kocak.


Sementara Gerald hanya menatap mereka sweatdrop. Dasar muka tembok!


"Hahaha, udah deh Bi! jangan ganggu mereka lagi!" ucap Shaletta yang masih tertawa.


"Sama siapa lo ngomong?" tanya Vincent yang masih ketakutan.


"Tuh!" tunjuk cewek itu dengan mulut yang membuat Vincent dan Gibran menoleh.


Tiba-tiba seorang cowok dengan wajah pucat pasi seperti mayat ada di samping mereka. Untungnya saja pakaiannya itu seperti pakaian manusia biasa.


"Aaaaaaaaaa!" teriak mereka lagi.


"Kok teman lo lebay banget?" tanya Abian menatap Shaletta.


Yang ditatap mengendikkan bahunya pertanda tidak tahu.


"Siapa dia?" tanya Gerald.


"Walau dia bukan teman gue, dia baik kok," Shaletta mengatakan dengan sejujurnya.


"Lo serius mau temanan ama hantu?" tanya Gibran balik.


"Gue nggak temanan ama dia, dianya aja yang terus ngikutin gue."


"Hah? setiap waktu?"


Shaletta yang mengerti pikiran Vincent langsung menepisnya.


"Maksud gue di sekolah aja!" ujar Shaletta.


"Gak usah gitu banget natap orang!" ucap Abian percaya diri sambil menyisir rambutnya ke belakang dengan tangannya.


"Idih! jadi hantu PD amat."


Bersambung...


Terus baca ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan cara like, vote, coment dan kasih bintang 5!

__ADS_1


Thanks


__ADS_2