
"Alhamdulillah, gue bersyukur banget ujiannya udah selesai."
"Tapi gue khawatir dengan nilai gue Ran," ujar Shaletta yang mendapat tabokan dari Rani.
"Apasih yang lo cemasin? setiap ujian pasti lu yang nomor 1."
"Ouh ya, belakangan ini kok lo jarang temanan ama Sinta? apa ada masalah?" pertanyaan Rani membuat ekspresi Shaletta langsung berubah.
"Nggak tau, semenjak Jennifer ada kami jarang komunikasi."
"Maaf, kalau gue menyinggung perasaan lo."
Shaletta menggeleng tersenyum.
"Udah lupakan aja! gue dengar tadi kalau kita menerima rafornya hari Sabtu?"
"Hah?" itu adalah suara kumpulan orang yang berada dibelakang Shaletta, mereka semua para siswa X-A.
"Duh, gimana nih? mana nilai gue banyak yang nggak tuntas lagi."
"Gawat, gue harus siap-siap untuk kena marah ama emak."
"Ya ampun kok cepat banget sih nerima rafornya?"
Ucap anak-anak tersebut. Mereka kalang kabut mencemaskan apa yang akan terjadi hari Sabtu.
Teet teet teeeeeet
bunyi bel istirahat. Para siswa berhamburan keluar kelas menuju kantin untuk mengisi perut mereka yang sudah lapar akibat ujian tadi. Memang saat ini masih dalam zaman covid-19, tapi hal itu tidak mengurangi semangat mereka pergi ke sekolah untuk menuntut ilmu. Bahkan semuanya bersyukur dapat dipertemukan kembali setelah 1 tahun lamanya tidak diperbolehkan untuk keluar rumah.
***
Shaletta masih di dalam kelas yang sedang merapikan mejanya. Terlihat Rizal menghampiri gadis itu.
"Sha!"
Yang dipanggil pun menoleh kesamping karena merasa ada yang memanggilnya.
"Hmmm."
Tiba-tiba datanglah beberapa orang yang datang tak dijemput pulang tak diantar. Eh, jelangkung dong?
"Zal, disini lo rupanya? dari tadi kami nyari elo tapi malah disini enak-enakan," ucap Adam.
Mereka langsung saja nyelonong masuk ke dalam kelas Shaletta.
"Emangnya ngapain nyari gue?" Rizal bertanya dengan tampang watados.
"Yah, pake nanya lagi."
"Emangnya ada apa?"
"Pasti lo tau maksud kita kita nyariin elo." ujar Reno yang membuat Rizal menaikkan sebelah alisnya.
"Gini, lo dicariin tuh ama ketos."
Rizal berkeringat dingin. Teringat ia tadi kabur saat disuruh piket gerbang oleh sang ketos. Dia tidak ingin kena hukum dalam kondisi saat ini. Yang jelas sang Rizal mau refreshing saat ini dengan teman temannya.
__ADS_1
"Huft, biarin ajalah! gue mager."
"Salah lo sendiri, ngapain kabur pas disuruh piket?" tanya Reno membuat Rizal cemberut.
Tanpa mereka sadari, Shaletta sudah dulu berjalan. Mereka semua menyusul Shaletta yang telah dulu pergi ke kantin.
Di tengah perjalanan, cewek tersebut tak sengaja menabrak seorang perempuan sehingga makanan yang dibawa oleh gadis itu tumpah kepakaian nya. Shaletta jadi terkejut.
"Eh, maaf kak," ucapnya merasa bersalah, ia mencoba membersihkan noda yang ada di baju gadis itu.
Bukannya memaafkan orang, dia malah memarahi Ila.
"Maaf-maaf, makanya kalau jalan tuh pakai mata, kan tumpah jadinya makanan gue."
"Maaf kak! aku nggak sengaja."
"Pokoknya gue nggak mau tau, lo harus ganti baju gue."
Saat para siswa mulai mengerubungi perdebatan itu, gadis tersebut menyeringai. Ia mulai melancarkan aksinya.
"Sha, kenapa kamu melakukan ini padaku? apa salahku Sha? kenapa kamu tega padaku?" ucap gadis itu dengan nada sedih ditambah dalam keadaan tersungkur dilantai seperti siap didorong oleh seseorang.
"Apa maksudmu?" tanya Shaletta heran. Ia mencoba membantu siswi tersebut untuk berdiri.
"Kenapa Sha? apa karena sekarang kamu telah jadi populer? pasti kamu lupa dengan aku!" ucapnya sambil menangis dengan suara yang sengaja ditinggikan agar semua orang mendengar.
Banyak yang menyaksikannya,mereka mulai berbisik.
"Gue nggak nyangka, ternyata Shaletta itu kasar."
"Aku juga baru tahu kalau dia itu nggak tau diri."
"Aku pikir Shaletta itu baik pada semua orang. Rupanya dia itu munafik."
Shaletta yang mendengar hal itu memilih untuk hanya diam. Dia pergi meninggalkan kerumunan tersebut.
Kepergian Shaletta ditatap dengan senyum kemenangan oleh seseorang yang merupakan dalang dibalik semua rencana ini. Ia senang rencana pertamanya berjalan dengan lancar.
"Percuma," gumamnya. Bagaimanapun ia membela diri orang akan sulit percaya karena semuanya menyaksikan hal tersebut, namun sayangnya tidak ada yang melihat kejadian itu dari awal.
"Sungguh luar biasa akting yang dia lakukan. Emangnya apa salah gue hingga dia nuduh gue yang nggak-nggak?" batin gadis itu kesal.
Saat ini ia sedang berada di taman belakang sekolah, menghilangkan semua beban yang ada dalam pikirannya. Tak sadar setetes air mata jatuh di pipinya yang bening. Memori masa lalu mulai terekam dengan baik
di ingatannya. Ia merindukan seseorang yang selalu bersamanya dalam keadaan suka maupun duka. Ia merindukan seorang teman sejati.
"Ya Allah, kenapa semua ini terulang kembali?"
Shaletta hanya bisa pasrah dengan keadaan.
Sampai saat ini belum ada orang yang tahu apa sebenarnya yang dirasakan oleh Shaletta, termasuk ibunya sendiri. Ia sengaja merahasiakan semua ini karena dia benci dikasihani orang lain. Menurutnya tidak pantas seorang manusia mengeluh atas apa yang menimpanya.
Sebagian orang berpikir kalau hidup Shaletta selalu penuh akan kebahagiaan. Ternyata dibalik senyuman dan keberanian tersebut tersimpan penderitaan yang menyedihkan.
Sekarang emosi Shale sudah stabil, jadi ia memutuskan pergi ke kelas.
***
__ADS_1
"Sha, ini tas lo. Dari mana aja?" tanya Sinta berpura-pura. Sebenarnya hati Sinta puas melihat keadaan Shaletta. Ia tahu kalau temannya itu terpukul dengan keadaan yang baru saja terjadi.
"Nggak ada, gue hanya pergi sebentar kok. Ada urusan," jawab Shaletta tersenyum palsu.
"Oooh, kalau lu ada masalah cerita aja. Gue siap kok jadi pendengar yang baik buat lo."
"Lo nggak pulang ama Jenni?"
"Iya, itu dia lagi nunggu di depan. Nggak papakan kalau gue duluan?"
Lagi-lagi Shaletta malah menunjukkan senyuman palsu.
***
"Sinta, why is it taking so long? I've been waiting for you since the beginning. Because of you I'm like a fool in the street. Jadi pusat perhatian. Mana saya nggak bawa hp lagi," cerocos Jenni yang membuat Sinta menjadi gemas melihatnya.
"Iya-iya, gue baru akan nyusul elo kok. Bawel banget sih jadi orang."
Mereka yang berada di depan gerbang sekolah bertos ria.
"Ta, gimana kalau kita ngerayain atas berhasilnya rencana ini?"
"Oke, nggak masalah."
"where are we going to eat?" tanya Kira.
"Just near the lake, sekaligus kita refreshing."
"Oke, gas kuy!"
"Tapi, sebelum itu kita harus cari Maya dulu! rencana ini nggak akan berhasil tanpa akting yang dia lakukan dan gimana kalau kita ajak juga dia gabung makan ama kita?"
"Saya nurut aja ama lo."
"Bentar! gue chat dia," Sinta mengambil hp nya yang berada di dalam tas.
"How?"
"Ya, katanya dia nunggu langsung ditempat."
"Tapi gue ke rumah dulu mo ambil uang."
Sinta tersenyum senang mendengarnya. Ia berharap semoga sahabat barunya tidak bercanda akan mentraktirnya.
"Lo serius mau membayarnya Jen?"
"Kita udah sepakatin semua ini sebelum itu."
"Emanglah lo yang terbest." Sinta memeluk Jennifer.
"Dah kita pergi yuk! kasihan nanti Maya lama nunggu."
Bersambung...
Terus baca ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!
Jangan lupa untuk tekan tombol like, beri vote and coment serta kasih bintang 5!
__ADS_1
Thanks