Misteri Buku Tua

Misteri Buku Tua
Satu Misi


__ADS_3

"Nggak terasa udah hampir seminggu yang lewat kita kemah ya?" tanya Tari sambil memakan bakso.


Shaletta hanya mengangguk tersenyum. Saat ini pikirannya sudah melayang entah kemana, jadi hanya jasad saja yang sedang di kantin.


"Aku pikir kamu itu sombong."


"Maksudnya?"


"Soalnya aku lihat kamu jarang main sama yang lain. Kamu hanya sama teman kamu itu."


Wajah Shaletta tiba-tiba berubah. Dadanya terasa sesak untuk mengingat kembali Sinta yang telah jahat kepadanya.Namun, bukan Shaletta namanya kalau tidak bisa menyembunyikan kesedihan.


"Iya, dulu aku nggak terlalu kenal sama yang lain," ucap Shaletta sambil memasukkan bakso ke mulutnya.


"Oh ya, apa ada hal yang menarik tentang Trio cool?" tanya Shaletta hingga membuat Tari tersedak.


"Minum dulu gih!" ucapnya menyodorkan air putih. Tari langsung minum dengan rakus.


"Gimana?"


"Hmmm, setahu aku kalau Vincent itu dia emang playboy gitu sih, rajanya PHP."


"Oh, jadi cowok prik itu kang fakeboy toh?"


"Kalau Gibran setahuku dia itu pacaran," lirih


Tari menoleh ke kiri dan kanan yang membuat Shaletta kaget.


"Hah? sama siapa?"


"Aku dengar sama Dara, anak lokal Xl-D."


"Sejak kapan?" tanya cewek itu mulai kepo.


"Hmmm, kata teman aku mereka pacaran udah setahun yang lalu."


"Kamu kalau tentang mereka sinyalnya kenceng banget ya?" goda Shaletta.


"Mana ada. Semua orang juga tau kok."


"Mana ada semua orang. Buktinya aku aja nggak tahu."


Walaupun diluar tertawa tapi dalam hati Shaletta masih punya satu misi yang harus segera ia selesaikan.


***


Seorang cewek sedang berjalan menyusuri koridor menuju kelas yang ia tempati saat ini.


Sebuah senyuman terpampang di wajah manisnya. Ia memulai hari dengan hati yang tulus.


"Hmmm, Tari mana ya?" batin Shaletta.


"Sha!" kejut seseorang dari belakang, namun sama sekali tak berefek bagi cewek bar-bar itu.


"Kok kamu akhir-akhir ini sering ke sini? ada crush kamu ya?"


"Yo ndaklah," ujar Shaletta yang tidak bohong.


Tari menyipitkan matanya, ia tak percaya dengan ucapan adik kelasnya itu.


"Aku tau ada crush kamu di sini," godanya kembali.


"Nggak! palingan kamu tuh sama Gerald,"


Shaletta malah santai memasukkan Tari


ke dalam karung.


"Oh ya, tentang Gibran kemarin?"


Tari langsung mengangguk mengerti.


"Iya, mereka itu pacaran 5 bulan yang lalu loh, tapi hubungan mereka kembali kandas 2 bulan yang lewat."


"Kenapa? apa Dara minta putus?" tanya bocah itu.


"Nggak, yang minta putus itu Gibran. Kamu tahu Dara kan?"


"Ya, emang kenapa itu bisa terjadi?"


Tari tampak berpikir, ia meletakkan telunjuknya di dekat bibir.


"Hmmm, katanya gara-gara si Dara ketahuan menggoda cowok lain sih," ucap Tari yang membuat Shaletta menganga.


"Hanya itu?"


"Nggak, dia juga pernah fotbar berdua aja ama cowok lain dan ada yang lebih parah,"


ujarnya yang sudah seperti emak-emak kompleks.


"Apa tuh?" tanya Shaletta penasaran.


"Dia pacaran sama cowok lain."


Gadis itu terkejut namun ia menutup ekspresinya dengan wajah datar.


"Ouh, dari mana kamu tahu kalau Gibran pernah pacaran ama Dara?"


"Ada di SW."


"SW tuh apaan?" tanya Shaletta dengan wajah polosnya hingga membuat Tari sangat gemas dengan wajah polos Shaletta.


"SW tuh status WhatsApp."


"Oo."


"Heh! ada idola kamu tuh!" tunjuk Shaletta lalu cekikikan.


"Waduh, natap-natap nanti naksir."


Wajah Tari memerah, ia memalingkan pandangannya ke arah lain.


"Cieee!"


Tanpa Shaletta pergi ke tempat merekapun mereka sudah lebih dulu menghampirinya.


"Ngapain lo di sini?" tanya Gibran.


"Ya suka-suka gue dong!"


"Ngapain lo di sini?" kali ini Gerald yang bertanya.


"Berdiri, lo nggak liat?"


Entah mengapa Vincent menjadi frustasi setiap mendengar jawaban Shaletta.


"Apa susahnya sih menjawab yang benar?"


tanya Vincent yang rasanya mau membunuh Shaletta.


......................


"Woy, keluar kuy! gue malas di sini," Gibran mengajak teman-temannya pergi keluar.


"Gue juga ingin hirup udara segar di luar


sebelum disuruh masuk tuh ama guru."


"Hahah, lo ngatain guru sendiri Vin?"


"Cepat kita keluar sebelum bel berbunyi!" tegas Gerald.

__ADS_1


"Gas poll!"


Seperti biasa, mereka bertiga selalu bertelepati untuk melakukan komunikasi jika di hadapan orang lain.


Mereka keluar dari kelas lalu berjalan


di koridor.


Shaletta yang tidak pergi sedari tadi, mempunyai niat yang tidak bisa ditebak.


Ia memakai kacamata photocromic dan masker untuk menyamar, lalu berjalan menunduk.


Shaletta terus berjalan dan dengan sengaja menabrak duo G. Ingat! sengaja ya!


Yang ditabrak pun terkejut. Shaletta langsung saja melenggang pergi yang membuat duo itu heran.


"Aneh juga tuh anak, udah nabrak orang main pergi aja," Gibran menjadi kesal.


Shaletta membuntuti mereka dari belakang dan melakukan hal yang sama lagi.


"Apa sih masalah lo? main tabrak aja dari tadi!" bentak Gibran namun hal itu membuat pelaku menjadi puas.


"Kalau jalan tuh lihat ke depan jangan menunduk terus," ucap Vincent yang juga ikut


mengomeli gadis di depannya.


"Kalau gue nggak mau gimana?" tanya cewek tersebut dengan suara yang berbeda.


"Yaelah, nanya lagi nih anak! nggak usah jalanlah! duduk aja tuh di bangku."


"Emang lo siapa yang nyuruh-nyuruh gue?"


"Kok lo jadi nanya?"


Shaletta membuka maskernya dan memperlihatkan senyuman tengil


di wajahnya, lalu ia membuka kacamatanya yang memperlihatkan matanya.


Saat ini wajah cewek itu begitu jelas di lihat.


Trio macan itu melongo tak percaya dengan apa yang mereka lihat.


"Woy cewek prik! ngapain lo kayak orang gila?" tanya Vincent yang semakin kesal.


Shaletta memakai kembali kacamatanya lalu berlalu meninggalkan mereka dengan gaya yang sangat cool.


Ia melepaskan tawanya setelah jauh dari Trio cool. Entah kenapa ia teringat sesuatu dan menepuk keningnya.


"Ouh iya, kamera!" ucapnya kemudian kembali


ke tempat tadi.


***


Shaletta melihat kamera tersebut


masih dalam posisi yang utuh, seperti saat ia


meletakkannya tadi.


Teet teet teeeeeet!


Gadis itu menutup telinganya karena tak sanggup mendengar toa yang berada di atas kepalanya.


"Aduuh! keras banget sih bunyinya. Bisa-bisa


pecah gendang telinga gue nanti," gerutunua.


Namun kekesalannya itu hilang setelah mendapatkan video yang ada


di handphonenya tersebut.


***


Saat tengah menikmati pemandangan sekitar,


ia dikejutkan dengan suara teriakan seseorang. Makin lama suaranya makin kencang.


"Sepertinya dari rumah itu deh," gumamnya memperhatikan rumah kosong yang agak masuk ke dalam hutan.


Seakan terhipnotis, kakinya terus melangkah maju ke arah rumah tersebut. Ia berada dalam


kondisi setengah sadar.


Shaletta terus berjalan dan makin mendekati gubuk kayu tersebut.


"Assalamualaikum, apa ada orang di dalam?"


tanyanya sambil mengetuk pintu.


"Apa nggak ada orang ya? tapi kok tadi gue dengar orang lagi teriak?" batin cewek itu heran.


"Hallo, apa ada orang?" tanyanya terus.


Tanpa aba-aba, pintu gubuk tersebut terbuka dengan sendirinya sehingga membuat bulu kuduk Shaletta berdiri semua.


"Lebih baik gue masuk aja! siapa tahu emang ada orang yang harus di selamatin."


Ia terus melangkah masuk kedalam gubuk tua yang tidak mempunyai lampu sama sekali, membuat siapapun akan ciut nyalinya untuk masuk.


Tak lama kemudian, Shaletta mendengar suara senandung seseorang. Ia yang telah terhipnotis kembali mendekati sumber suara tersebut.


Tiba-tiba kesadarannya kembali. Ia menemukan seorang perempuan sedang duduk di kursi rotan yang telah tua sambil menyisir rambut.


Mendadak leher hantu tersebut berputar 180°


seperti burung hantu.


Shaletta sangat terkejut. Ia spontan


mengucapkan kata-kata yang tidak dirancangnya terlebih dahulu.


"Astaghfirullaah, lo ngejutin gue!


kalau berani ayo sini!" tantang gadis itu sok berani.


Namun, setelah tersadar dengan yang diucapkannya, ia langsung menutup mulut dengan tangannya dan merutuki diri sendiri.


"Akh, sial banget! apa yang lo ucapin Sha?mana ini di depan hantu lagi. Bisa melayang nyawa gue!"


Hantu tersebut menyeringai. Mata kanannya tertutup oleh ponis sepanjang bahu. Mata kirinya mengeluarkan darah. Ia menggunakan baju daster yang sangat lusuh. Kepala belakanganya hanya tinggal tengkorak yang membuat otaknya terlihat.


Hantu itu berdiri lalu memutar kembali kepalanya. Ia mengesampingkan rambut yang


menutupi matanya, membuat belatung-belatung berjatuhan di lantai.


Hal tersebut membuat Shaletta bertambah kaget, karena mata kirinya sudah tidak ada dengan tulang pipi yang terlihat.


"Ahahaaaaaa..." respon cewek itu takut bercampur tertawa.


"Kakak yang nggak cantik, eh maksudnya


kakak perempuan. Akkkkhh sialan! apa yang gue bilang?!" Shaletta menjadi frustasi.


Hihihihihi!


Tawa hantu tersebut menggelegar di dalam gubuk.


"Aduh, kok ketawa sih? kak, maafin gue ya! jadi gini, gue tuh nggak sengaja lewat sini."


"Astaghfirullaah Sha, hantu kok lo ajak ngobrol sih?"

__ADS_1


"Hihihi!" tawanya yang bertambah keras.


"Kak, gue keluar ya! silakan sisir rambutnya lagi! ntar biar tambah cantik," ucapnya langsung berlari keluar.


Mendadak pintu masuk tadi tertutup dengan sendirinya. Shaletta menahan salivanya yang sangat susah untuk ditelan saat ini.


Tengkuknya menjadi panas dingin, ia merasa merinding.


Shaletta menoleh ke belakang, wajahnya langsung saja berhadapan dengan wajah hantu yang menyeramkan.


"Aaaaaaaaaa!" teriak gadis itu. Keterkejutan tersebut membuat ia memukul wajah hantu itu bertubi-tubi. Sedangkan yang dipukul sangat marah dan mencoba menyerang orang yang telah memukulinya.


Saat ini Shaletta tidak memikirkan lawannya. Yang ia pikirkan hanya satu, bagaimana ia bisa keluar dari gubuk angker tersebut.


Sudah berulangkali ia mencoba keluar, namun nahas. Seakan ada aura yang membuat ia tidak bisa menggapai pintu.


"Hihihi! kau harus menemaniku di sini!" ujarnya dengan suara yang menyeramkan.


"Apa kau butuh teman?" mendadak pertanyaan seperti itu keluar dari mulut Shaletta. Dan alhasil, ia kembali menepuk


bibirnya.


"Ya, tentu saja," jawab hantu gubuk.


"Tolong! apa kau bisa berubah seperti manusia biasa?" tanya Shaletta menggigil.


"Hihihi! tentu saja," ucapnya sambil menyeringai. Namun ia meninggikan nadanya.


"Dasar bodoh! aku tidak akan berubah!"


"Kau harus MATI!" teriak wanita tersebut dengan menekankan kata mati.


Tidak ada lagi jalan untuk Shaletta keluar. Ia sudah sangat tersudut saat ini. Tenaganya juga sudah terkuras saat bertarung.


Tiba-tiba ia mendapat bisikan untuk membacakan tiga qul dan ayat kursi.


Ia menghafalkannya dengan suara lantang diiringi irama yang sangat merdu.


Hantu tersebut berteriak kepanasan, perlahan


tubuhnya mulai lenyap. Melihat hal itu Shaletta terus mengulangi surat-surat tersebut sampai sosok wanita gubuk tersebut lenyap dari hadapannya.


Ada tersirat sedikit kelegaan dilubuk hatinya.


Namun ia kembali teringat kalau ia telah terkurung didalam.


Shaletta langsung mendobrak pintu tersebut beberapa kali, lalu ia lari pontang-panting menuju sekolah.


Namun tanpa sepengetahuan siapapum, daun pintu itu kembali menutup seperti semula dan diiringi oleh tawaan melengking seseorang.


***


"Akhh! dasar tuh anak!"


"Bisa bisanya dia nekat buat video lalu jadiin


konten di Ig!" kepala Vincent terasa sakit melihat perangai si cewek prik.


Dikelas Xl-B...


"Hai kakel cantik kelas Xl!" sapa Shaletta.


"Waduhh! datang lagi nih anak," ucap Tari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ngapain kamu di sini?"


"Nggak ada."


"Ouh ya, aku keluar dulu!" pamitnua lalu melambaikan tangannya seraya berjalan keluar. Itu membuat Tari tak tau bagaimana cara menghadapinya.


Shaletta berjalan tak menentu di daerah kelas Xl. Mendadak ia melihat seorang gadis dan mendekatinya.


"Hai kak, udah lama nggak ketemu," sapa Shaletta yang selalu sopan.


"Hehehe iya."


"Ngapain di sini?"


"Nggak ada, nungguin si Dara gila itu."


"Benci amat sama dia?"


"Nggak sih. Itu hanya panggilan sayang gue sama dia," ucap Putri lalu menyengir.


"Oh ya, ada hal yang sangat penting yang harus gue tanyain," ujarnya serius.


"Penting amat?"


Shaletta mengangguk.


"Oke, duduk dulu!"


"Apa yang mau lo tanyain?"


"Kelas Xl-D punya seleb?"


"Seleb nggak ada disini tapi jamet ada."


"Salah satunya nggak ada disini?" tanya Shaletta lagi.


"Ouh tuh si Dara."


"Gue denger dia pernah berhubungan sama anak kelas X-C dan Xl-B ya?" tanyanya mulai menggali informasi.


"Iya, sama si Rayan."


"Bukannya Gibran?" sela Shaletta kembali.


"Ouh, lo kenal Gibran?"


Gadis tersebut mengangguk pertanda iya.


"Jadi apa benar Gibran dan Dara itu punya hubungan?"


"Iya, mereka berhubungan udah hampir setahun."


"Dulu, si Dara itu pernah main ke kelas X-C dan dia nggak sengaja bertemu sama si Gibran. Sejak saat itu dia terus stalker Gibran. Dan ya akhirnya begitulah."


"Ooo, jadi mereka gimana sekarang?"


"Hmmm, udah putus."


"Dan Rayan?" beo Shaletta.


"Gimana sih maksudnya? berarti dia berhubungan sama dua orang sekaligus?"


tanyanya kembali dan Putri pun juga mengangguk.


"Jadi nggak ketahuan tuh?"


"Iya, itu makanya dua cowok tuh mintak putus."


"Nggak ngerti gue. Sumpah!" ujar Shaletta membuat Putri harus bersabar menghadapinya.


Bersambung...


Terus baca ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan cara like, vote, coment dan kasih bintang 5!


Thanks

__ADS_1


__ADS_2