
*Flashback off
Mata Ila tersentak dan menatap Rendra yang khawatir melihatnya. Dua pasang bola mata tersebut terus beradu pandang. Seakan ada sesuatu yang lain sehingga membuat mereka tak ada yang menyudahinya.
"Aku mohon lo jujur ama gue Ren." Ujar gadis itu berharap Rendra akan mengabulkan permintaannya.
"Untuk?" tanya cowok itu mulai was-was. Ia merasa tak enak saat ini. Ada rasa lain dibatinnya.
Tiba-tiba dua orang lebih tepat lagi duo makhluk freak mendatangi sepasang insan yang sedang berbicara serius.
"eh *njir ngapain lu berdua sini? ingat woy ga muhrim!" teriak Tegar tepat ditelinga Ila yang membuat si empunya mendelik kesal.
"Ntar juga halal." Jawab Rendra dengan santainya dan hal itu membuat dirinya sendiri kena tabokan dari Ila. Otot lengangnya terasa sakit dengan pukulan itu.
"Mulut kalian berdua tuh bisa dibandrol dikit ga? bisa-bisa gue stress tingkat akut kalo tiap hari dekat kalian." Akila mengucapkannya dengan bar-bar yang tak kenal tempat.
"Aelah, omong kosong." Ujar Tegar dan Rendra serentak dengan yang satu bola memutar bola matanya dengan malas dan satu lagi berpenglihatan datar.
"Lo sendiri ngapain berduaan ama yang bukan mahrum disini?" jangan lupa dengan Marvel yang sering ada disamping Tegar. Betul-betul sahabat karib yang jarang ditemui.
"ne tvoye delo." Vampir itu naik darah mendengar perkataan Ila yang sama sekali tidak ia mengerti. Bahasa apalagi itu?
"Heh anak manusia! Lo pikir gue ini google yang bisa nerjemahin semua ucapan bahasa aneh lo itu?"
***
"Let's go home!" ucap orang yang telah menjemputnya, namun Ila merasa berat hati untuk pergi dari dunia itu. Rasanya ada yang harus diselesaikan dulu.
"But sorry, i can't go yet." Rendra heran dengan perkataan Ila. Tatapannya kini meminta jawaban dari gadis dihadapannya.
"Gue memang ingin banget ke dunia kita. Tapi, sayangnya belum untuk saat ini."
"Tapi, lo yakin?" tanya Rendra dan dijawab anggukan oleh Ila. Raut wajahnya mengatakan kalau ada sesuatu yang ia sembunyikan.
"Ada yang lo sembunyiin dari gue?" Kini raut wajah Rendra datar menatap Ila.
Yang ditatap tak tau bagaimana cara menjawabnya. Ia memang harus menyelesaikan sesuatu.
__ADS_1
"Kok lo jadi gini sih? kepo bat dah jadi orang. Kalo gue ga mau ya udah ga usah maksa jadi orang." Ila meninggalkan Rendra yang tetap diam mendengarkan perkataannya.
Ia pergi menjauh dari cowok tersebut. Berharap tidak dikejar karena ia tak mau melibatkan orang dalam masalah ini.
"Maafin gue Ren, gue juga ga mau gini. Tapi sayangnya keadaan memaksakan gue untuk melakukannya. Gue tahu gimana hati lo saat ini, tapi maaf gue belum bisa."
Gadis tersebut bergegas menuju istana untuk menemui pangeran Alfa. Tanpa babibu lagi, ia masuk kamar mewah itu tanpa permisi. Dasar ga ada adab.
"Assalamualaikum, i'm back home. Pangeran, kau dimana?" Ila berhenti bicara saat ia melihat pangeran Alfa yang kembali menatap datar dirinya. Ia sungguh benci tatapan itu. Tadi udah dapet, kok sekarang dapet lagi? cape gue dah.
"Alah bara kali dikecekkan. Ijan manyuruduang se masuak dalam biliak urang." Ujarnya begitu kesal karena Ila tak pernah mendengarkan perkataannya.
(Sudah berapa kali aku bilang. Jangan main nyelonong saja masuk ke dalam kamar orang.)
Anak itu malah menaikkan bola matanya keatas, cuek saja dengan ucapan sang pangeran.
"Terserah!"
"Oh ya, aku ingin nanya sama pangeran." Pangeran Alfa langsung menaikkan alisnya. Ia mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Ila.
"Kalo aku pergi pangeran pasti kesepian."
"Dalam rangka mencegah rasa sepi yang menyelimuti diri pangeran secara resmi saya ingin mengatakan kalau saya akan menyerahkan kak Arilla pada pangeran dan saya tahu hanya itu obat yang ampuh untuk anda." Sambung Ila dalam satu tarikan nafas yang membuat laki-laki dihadapannya tercengang tak menyangka dengan kata-kata Ila.
Ila yang melihat itu membuang pandangannya. Ini memang dia tak mengerti atau pura-pura tak mengerti?
"Udahlah bang, ngaku aja! kau sukakan dengan kakak saya? tidak usah pakai acara ngelak lah. Meskipun tampang saya kaya anak kecil, tapi saya peka dengan hal-hal seperti itu. Anda ga usah pura-pura lagilah."
"Emangnya kamu ini siapa?"
"Aduh pangeran. Mau aku bantu kaga? saya juga tau kalau pangeran ingin menjalin hubungan dengan Arilla tapi terhalang hubungan ikatan dengan putri apa namanya tuh yang kerjaannya selingkuh? kalau itu yang pangeran khawatirkan semua selesai ditangan adikmu ini."
"Adik apaan?" tanya Alfa lagi. Sepertinya ia tak sudi mempunyai adik freak seperti Ila.
" Kan Arilla itu kakak saya. Berarti saya adik anda lah. Gimana sih?"
"Dan untuk yang tadi, kau tidak usah cemas. Aku akan membantumu untuk menyampaikan isi hatimu pada Arilla dan keluargamu."
__ADS_1
***
Pesta pertemuan antar dua kerajaan yang telah menjalin ikatan sebentar lagi dimulai. Ini adalah malam pertunangan sebelum menjalani proses pernikahan.
Istana itu sudah terisi oleh berbagai kalangan kerajaan. Semuanya diundang untuk menghadiri acara itu karena hari pertunangan itu cukup sakral.
"Aduh, Ila kemana ya? kok ga muncul-muncul?" batin pangeran Alfa yang sedari tadi terus mondar-mandir tidak jelas menunggu kedatangan Ila. Ia takut terjadi apa-apa.
"Cieee yang lagi nungguin saya?" ucap gadis yang ditunggu kedatangannya yang tiba-tiba nongol dibalik pintu.
Alfa hanya bisa menepuk kepalanya melihat tingkah aneh Ila yang jauh dari peradaban perempuan.
"Kok belum ganti pakaian juga?" pertanyaan itu berasal dari mulut Ila yang sama sekali merasa tidak berdosa.
"Aku belum ganti baju karena kau. Kemana aja?"
"Hei, ga usah ngengas kalik."
Alfa muak mendengar bahasa aneh Ila yang tak ia mengerti. Karena ia berasal dari masa depan mungkin?
"Kamu yakin mau hadir dalam acara ini? kalau terjadi apa-apa gimana? aku tidak mau disalahkan atas semua ini." Pangeran Alfa langsung mengelak kalau Ila mendapat masalah.
"Yaudah tinggal jawab aja kalau aku ini adiknya pangeran. Selesai kan?"
"Kenapa kamu begitu aneh? aku ga punya adik. "
"Nggak usah cemasin aku pangeran. Yang jelas, kamu siapkan saja dirimu kamu siapkan saja mentalmu untuk menghadapi kejadian selanjutnya. Ingat kataku jangan kamu merasa takut hanya karena ikatan ini. Bukankan cinta boleh diperjuangkan?"
"Bajumu sudah disiapkan pelayan di kamarmu."
Ila kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap. Matanya berbinar melihat baju kerajaan yang begitu klasik dan elegan. Sungguh itu memang impiannya.
sebuah baju khas kerajaan istano basa dengan kerudung yang cantik. Kalau zaman now nya disebut dengan jilbab pashmina.
Bersambung...
Terus baca ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!
__ADS_1
Jangan lupa untuk tekan tombol like, beri vote, coment and kasih bintang 5!
Thanks so much