Misteri Buku Tua

Misteri Buku Tua
Janggal


__ADS_3

Suci yang merasa ada angin di luar jendelanya berjalan untuk melihat pemandangan sekitar. Ia merasa ada yang baru saja lewat, maka karena itu ia mendekati jendela.


Tiba-tiba langit mengeluarkan cuaca mendung, sepertinya hujan akan turun. Oleh sebab itu, Suci menutup jendela kacanya namun tidak dengan gorden yang terpasang.


Baru saja Rendra akan memagari Suci, mendadak sosok mahasiswi tadi sudah berada didepan Suci namun diluar ruangan.


Semua orang juga tahu, biasanya para hantu tidak akan bisa memasuki rumah yang tidak mengundangnya untuk masuk.


Jadi, ia seakan menghipnotis Suci untuk membuka kembali jendela yang telah ditutup supaya memudahkan hantu tersebut untuk menculik Suci.


Ila tidak mau diam, ia mendekati musuhnya lalu melontarkan tendangan t yang begitu keras sehingga terdengar suara gebukan dari tubuhnya.


Efek yang dihasilkan begitu hebat. Bukan hanya satu atau dua langkah saja, setan itu bahkan terjatuh ke tanah dan punggungnya mengeluarkan darah karena tertancap batu yang lumayan tajam.


Emang aneh. Hantu itu adalah makhluk gaib yang tembus pandang bahkan tak dapat disentuh.


Namun, lain dengan para setan yang telah banyak dilalui oleh Ila dan kawan-kawan.


Mereka semua bagaikan makhluk hidup yang kasat mata dan tentunya dapat disinggung.


Walau keheranan selalu memenuhi benak mereka, akan tetapi sekarang bukanlah waktunya untuk memikirkan hal-hal kecil seperti itu.


Mata suci begitu berbeda dari sebelumnya dan tidak dapat didefinisikan. Caranya melihat sekeliling itu begitu lain dari mata orang-orang yang masih memiliki kesadaran penuh akan dirinya.


hipnotis adalah suatu keadaan dimana kesadaran penuh atas diri kita diambil alih oleh si penghipnotis sehingga kita akan melakukan apa yang diperintahkan olehnya.


Memang tidak mudah untuk menghindarinya. Tapi, jika diri kita dipenuhi oleh keimanan yang tinggi serta ketakwaan, insyaaallah Allah akan menjauhi kita dari hal-hal yang demikian.


Tanpa menunggu lama, Ila menabok belakang leher Suci sehingga ia pingsan tak sadarkan diri.


Hantu tersebut kembali berdiri, kemudian terbang ke arah Ila dengan menyiapkan sinar laser dari matanya.


Ila tahu bahwa serangan tersebut termasuk level kategori yang cukup tinggi dan tentu tidak mudah untuk ditangkal.


Terbesit dalam batin Ila untuk membaca as-sab'ul Masani kemudian ayat kursi 3 kali.


Perempuan itupun berdiri menampung tangannya.


Memang kuasa Tuhan tak dapat ditandingi oleh siapapun, karena mereka semua adalah ciptaan-Nya. Sungguh tak patut bagi seorang makhluk bersifat sombong dan mencoba membandingkan dirinya dengan sang Khaliq.


Makhluk laknat itupun merasa kepanasan dan tergulinjang sana-sini menahan sakitnya.


Merasa usahanya berhasil, Ila meneruskan bacaannya berulang-ulang sampai hantu tersebut menghilang dari hadapan mereka.


"Alhamdulillah," ucap Ila dan Rendra.


"La, sepertinya kita harus secepatnya pergi dari sini sebelum Suci menyadari kehadiran kita."


"Tapi, tunggu dulu! aku takut makhluk itu akan mendatanginya balik, lo bantu gue pasang pelindung disekitarnya!"


Sebelum pergi, mereka berdua sempat memasang pagar di sekeliling tubuh Suci dengan membacakan ayat suci Al-quran dan berdo'a kepada Yang maha kuasa.

__ADS_1


*****


"Yakin masih terus ngambekan gitu?" ujar Rendra yang berusaha mencairkan suasana sambil menggoda Ila.


"Apo sih? nggak jelas bat dah," jawab Ila dengan nada yang jelas tidak bersahabat.


"Tau ah, tapi serius loh tadi Akbar ngatain pada gue kalau dia suka ama lo,"


Entah mengapa kata-kata itu terucap dari bibir Rendra tanpa ia sadari sendiri. Setelah terpikir kembali apa yang ia katakan, malah ia sendiri jadinya yang terdiam.


"Ouh, nggak nanya."


Hanya satu kata itu yang diucapkan oleh Ila dari banyaknya kata yang ada. Tak ada sedikitpun rasa tertarik baginya.


Namun, ada sesuatu yang mengganggu pikiran Ila. ia ingin mengetahui lebih lanjut tentang Rendra dan Suci.


Cewek tersebut merasa ada yang janggal pada Rendra. Mulai dari siap sholat di RS tadi sampai di rumah Suci.


"Apakah kak Suci dan bang Rendra mempunyai hubungan?"


"Apa mereka itu sama-sama memiliki perasaan satu sama lain?"


"Atau jangan-jangan mereka berdua pernah menjalin hubungan sebelumnya?"


"Astaghfirullaahal'aziim Ila, apa sih yang lo bicarain?"


"Nggak mungkinkan kalau Rendra melakukan hal seperti itu?"


"Dipikir-pikir dia orang yang cukup alim dan memiliki pengetahuan agama."


Tapi untuk saat ini ia harus diam dulu, ia bisa menjadikan ini sebagai bumerang jika terdesak disuatu saat.


"Ekkheeem, sejak kapan ibu lo sakit?"


Pertanyaan Rendra memecah semua pertanyaan yang ada dipikiran Ila. Terlihat jelas raut wajah Ila berubah menjadi sedih.


"Hmmm, sekitar 2 Minggu yang lalu ibu mulai bersikap aneh dan ntahlah."


Ila bercerita dengan nada sendu. Rendra yang mengertipun tidak mau terlalu menyesak karena ia juga tahu bagaimana perasaan Ila saat ini.


Dan dengan segera ia mengalihkan pembicaraan.


"La, Suci itu cantik,kan?" tanya Rendra tiba-tiba.


Ila langsung menoleh melihat Rendra. Wajahnya sulit sekali untuk mengekspresikan dirinya.


"Hmmm, udah tau masih nanya," respon Ila yang kembali ke nada juteknya.


"Owh ya, apa hubungan lo ama Suci?"


Kan, pertanyaan itu yang nggak mau di dengar oleh Rendra apalagi dari mulut orang yang berhasil mengisi hatinya.

__ADS_1


"Teman," singkat, padat dan jelas.


"Apa lo sebelumnya pernah menjalin hubungan dengannya?"


Rendra melotot.


"Astaghfirullaah, fitnah woy!"


"Lagian lo jadi orang fakeboy banget, itu makanya gue susah percaya ama lo."


"Gue nggak pernah jadi fakeboy hoy! lagian gue lihat selama ini lo percaya kut ama gue,"


Rendra mengambil napasnya lalu melanjutkan perkataannya.


"Nanti kalau gue tambah cool takutnya fans gue tambah banyak dan jadi bertebaran dimana-mana yang membuat elo tentunya cemburu, betulkan?"


Waw, tepat sasaran sekali. Bagaikan sebuah panah yang menancap tepat di lubang tengahnya.


"Idih, hali,"


Rendra menjadi terdiam seribu kata. Dirinya sangat terkejut saat ini. Jantungnya berdetak sangat cepat.


"Hali?" ucapnya gugup.


"Eh, maksud gue halu. Kalau orang belum siap ngomong jangan main potong aja!" pinta Ila yang sepertinya moodnya sudah berangsur membaik.


"Emang ada teman lo yang namanya Hali?" tanya Rendra lagi memastikan.


"Kan udah gue bilang gue salah ucap, lagian gue juga belum siap ngomong, toh lo main potong aja."


Hati Rendra kembali lega. Setidaknya sampai saat ini belum ada yang tahu identitas aslinya selain Trio cool dan para orang tua mereka.


Rendra kembali melihat handphonenya karena terdengar bunyi notifikasi pesan yang masuk.


"Kan... kan... main hp mulu nabrak mbak kunti baru tahu rasa nempel terus dia karena lihat lo yang gans," celoteh Ila berbicara panjang lebar tanpa titik koma dan tanpa disadari ia telah memuji ketampanan Rendra secara tidak langsung.


Rendra saat ini sedang ngonec. Jadi ia mendengar dengan jelas apa yang barusan cewek disebelahnya ini bilang, jadi ia berniat untuk menggodanya.


"Lo barusan bilang kalau gue ganteng ya La?"


Ila tersadar dengan ucapannya. Secepatnya ia tolehkan kepala ke arah lain untuk membuang mukanya yang sudah merah menahan malu.


"Semua cowokkan emang ganteng, nggak lucukan kalau cowok dibilang cantik?" tantang Ila yang tak ingin terjebak dengan godaan cowok tersebut.


Bersambung...


Terus baca ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!


Jangan lupa untuk tekan tombol like, beri vote and coment serta kasih bintang 5 ya!


Ouh ya, jangan lupa untuk mampir ke novel aku yang lain!

__ADS_1


Judulnya: Karin the Mafia Girl


And thanks


__ADS_2