Misteri Buku Tua

Misteri Buku Tua
Siluman


__ADS_3

Ila berusaha memulihkan tenaganya supaya ia bisa bertahan di tempat itu. Meski darah yang mengalir terasa nyeri, itu menjadi hal kecil sebab yang ia pikirkan nyawanya tak boleh sampai terancam. Ia harus kembali di zaman yang sebenarnya ia jalani.


"Kalua ang! jan jadi urang gacua yang bagak mengaluakan suaro tapi takuik untuak kalua." Ucap Ila dengan agak terbata-bata, nafasnya memburu akibat serangan tersebut.


(Keluar kau! jangan jadi pengecut yang hanya berani mengeluarkan suara tapi takut untuk menampakkan diri.)


Kkkkhhhhhhh


Kemarahannya terdengar dari nafasnya yang terdengar keras. Sepertinya ia tak terima dengan semua perlakuan Ila. Sudah melanggar peraturan, berbicara kasar pula lagi.


Kalau sudah begini, baiknya Ila yang mendekati tempat itu. Jika hanya berbicara dari kejauhan kapan masalah akan kelar.


Gadis tersebut mempercepat langkah kakinya ke dedaunan dimana orang yang telah menyerangnya tegak.


Sedikit lagi, terus dan terus. Ila hanya tinggal menepikan daun-daun itu dengan tangannya setelah itu pasti dia akan terlihat.


Dan


Rimbunnya tumbuhan itu mengeluarkan suara yang nyaring. Mungkin karena hutan yang begitu sepi.


"Hah? kok nggak ada siapapun? aku yakin dia berada di sini." Ila heran, seharusnya ada seseorang dibalik tumbuhan itu tapi setelah dilihat tidak ada siapapun.


Ila tak merinding sama sekali, sebab ia yakin ini bukanlah makhluk halus. Jika hantu pasti Ila bisa merasakan aroma negatif. Namun ini berbeda, auranya belum pernah Ila temui. Ia semakin berwas-was.


Setelah banyak perjalanan yang semuanya mengenai makhluk gaib, baru kali ini aromanya berbeda. Mungkin saja, ini memang murni hewan. Tapi, siapa yang percaya kalau hewan bisa bicara bahasa manusia kecuali burung Beo? bisa-bisa kiamat akan segera terjadi.


Bugh


Tendangannya tepat mengenai perut Ila. Sasaran yang cukup mematikan. Ila terjatuh sembari memeluk perutnya.

__ADS_1


Di saat itulah kesempatan lawannya Ila untuk menghabisinya. Dengan cekatan ia menghampiri Ila yang dalam kondisi lemah.


Satu, dua, tiga. Dia kembali menyerang Ila dengan cakaran plus tendangannya. Tapi, tiba-tiba saja ada bola gaib yang melindungi Ila sehingga orang yang berniat membunuh Ila terpental ke belakang.


Ila terkejut bukan main, sepatutnya ia sudah terkapar tak berdaya saat ini. Namun, kenyataannya sungguhlah berbeda dari ekspetasi. Malahan dia yang menjadi terpelanting.


Perempuan itu membulatkan netranya setelah melihat bahwa lawannya itu adalah seekor hewan buas.


Bukan hewan, tapi lebih tepatnya lagi seorang siluman.


Ila berpikir seperti itu lantaran ia tahu perbedaan dengan hewan ori dengan non ori.


Lagi pun, mana bisa binatang berbicara bahasa Minang. Fasih pula lagik tu.


"Siluman!"


Harimau itu menjadi lebih beringas. Ia seperti gagal untuk menyerang mangsanya. Perjanjian tetaplah perjanjian.


Sekali lagi, dia kembali melompat menyerang Ila. Akan tetapi bukannya takut nyawanya melayang, Ila malahan membaca surat


Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas. Surat yang dibaca supaya hati menjadi lebih tenang dan iman lebih kuat. Kalbu Ila lebih adem saat ia membawakan surat tersebut dengan irama jiharkah, betul-betul menggetarkan jiwa. Mengingatkan kita pada Yang Maha Kuasa.


Mendadak, harimau yang akan melompat tadi ia kini terdiam tak bergerak. Tubuhnya seakan kaku mendengar lantunan ayat suci Al-Quran.


Emosinya pun tanpa disadari hilang begitu saja.


Siluman itu duduk. Sekilas terlihat ia sepertinya menikmati dan mendengarkan Ila mengaji dengan sepenuh hati.


Saat agaknya hati itu telah tenang, telah sejuk. Ila memfokuskan pandangannya pada sekitar.

__ADS_1


Ia memandang begitu jelas harimau itu menjadi jinak dan patuh.


Siluman itu melihat dari tubuh Ila terpancar cahaya yang bisa menaklukkan setiap hati dengan mudah melalui kata-katanya, dan perbuatannya.


Ia tahu aura itu tidak bisa di dapat oleh sembarang orang. Hanya orang-orang yang rajin sholat dan mengaji serta banyak melaksanakan perintah agamalah yang punya kelebihan itu.


Tanpa peringatan sedikitpun, mendadak makhluk jadi-jadian itu tunduk dan mendekat pada Ila. Ia tak mau berbuat macam-macam gara-gara seorang jin pantang memasuki alam manusia karena Tuhan juga sudah menciptakan tempat untuk mereka tinggal.


Aneh bin ajaib, semua rasa sakit, semua bekas serangan hilang tanpa jejak di tubuh Ila. Ia merasa sehat dan fresh, seperti tidak terkena apa pun.


Ila langsung berdiri seperti seorang pendekar. Ia menatap siluman itu dengan sorot matanya yang tajam namun teduh. Membuat siapapun yang menatapnya akan menjadi ciut dan segan.


Bersambung...


Terus baca ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!


Jangan lupa untuk tekan tombol like, beri vote and coment serta kasih bintang 5 ya!


Ouh ya, jangan lupa untuk mampir ke novel dan chat story aku yang lain!


Judulnya:-Karin the Mafia Girl


-Kisahku di pesantren


Dibulan yang penuh berkah ini kita semua diwajibkan untuk melaksanakan puasa dan disunnahkan mengerjakan shalat tarawih.


Selamat menunaikan ibadah puasa 1443H🙏


And thank so much

__ADS_1


__ADS_2