Misteri Buku Tua

Misteri Buku Tua
Undangan


__ADS_3

Shaletta saat ini sedang menikmati hembusan angin sore yang menerpa wajah cantiknya.


Sungguh hal itu tentu saja akan membuat hati semua orang menjadi damai. Ditambah ia berada di dekat jendela balkon sambil memandang suasana petang yang sangat indah.


Rumahnya yang dekat dengan danau menambah kesempurnaan untuk bersantai dalam menyaksikan matahari terbenam.


Namun, perestiwa di sekolah muncul kembali di pikirannya. Ia tak habis pikir, siapa dan apa alasan seseorang melakukan hal tersebut. Padahal Shaletta merasa bahwa ia baru pertama kali bertemu dengan gadis itu.


Suara azan yang mengalun terdengar ditelinganya. Ia melupakan apa yang dipertanyakannya dan segera menuju ke kamar mandi.


***


Matahari bersinar terang di ufuk timur. Cuaca sangat cerah. Shaletta baru sampai disekolahnya.


"Sha!"sapa hangat dari Sinta dan Jennifer dengan wajah yang cerah seperti cuaca saat ini.


"Hmmm, apa?"


"Nggak ada, nyapa aja," jawab Sinta dengan senyuman yang terus terukir di wajahnya.


"Oh ya, i want to invite you to my sister's birthday tonight. Datang ya!" ucap Jennifer memberikan undangan adiknya.


"Emang ulang tahun adikmu yang keberapa?".


"Empat,"


"Alamatnya ada di sana. Bye,kami pergi," ujarnya.


Saat Shaletta beranjak pergi, datanglah beberapa orang prik. Siapa lagi kalau bukan the gengs five.


"Hai Sha! how are you today?" tanya Adam.


"Alhamdulillaah fine."


Mereka bertujuh berjalan ke kelas X-B melewati koridor. Disepanjang perjalanan, para cowok tersebut melakukan silat lidah.


Seperti biasa, mereka akan selalu beradu argument jika sudah berkumpul. Bukan the gengs five namanya kalau tidak ada pertengkaran disetiap pertemuan. Selalu ada saja yang mereka ributkan walaupun sebenarnya masalah itu hanyalah hal yang sepele.


Teng teng teng


Bunyi bel menandakan kalau semua siswa harus masuk ke dalam kelas untuk melaksanakan PBM.


"Ananda semua, sebagaimana yang telah dikatakan oleh ibu kepala sekolah kita tadi, mulai hari ini akan diadakan remedial bagi yang nilainya dibawah 80. Memang nilai


di rapor mid semester itu adalah nilai asli, tapi


setidaknya kalian bisa menambah nilai rafor semester kalian."


Reno mengangkat tangannya, ternyata ia ingin bertanya.


"Kalau nilanya di atas 80 ikut remedial juga Bu?"


"Tidak."


Ia membagikan soal remedi kepada nama murid murid yang disebutkannya.


Karena Shaletta mendapatkan nilai yang cukup tinggi, ia tidak perlu lagi mengikuti perbaikan tersebut. Jadi gadis itu memutuskan untuk membaca buku yang dibawanya dari perpustakaan hari Jum'at.


Setelah satu jam, mereka sudah selesai melakukan remedial. Tak hanya itu, semuanya bisa jajan karena ini adalah pergantian guru mapel.


"Gimana soal remedinya? sama dengan soal ujian ?"


"Ga usah lo nanya lagi. Gue kesal banget, coba nanya ke guru malah gue dapat cemooh lagi," ucap Sinta cemberut. Shaletta hanya meringis mendengarnya.


Ting


Sinta mendengar notifikasi dari hpnya. Dengan secepat kilat ia membuka hp tersebut dan seketika ia tersenyum.


Jenni


P


Ada yang ingin gue omongin ama lo


 


^^^Emang lo dimana? ^^^


^^^ ^^^


Dekat Perpustakaan


 


^^^Otw ^^^


"Gue cabut dulu!" Sinta meniggalkan Shaletta yang sedang duduk membaca buku.


Sekarang, ia sudah berada di tempat. Gadis itu melihat Jennifer yang sedang melihat hp.

__ADS_1


"What is it?"


"I have plans for tonight to welcome her," ujar Jennifer memperlihatkan smirknya dan beberapa saat Sinta pun mengerti arah pembicaraan sekutunya.


"What that?"


"Saat dia datang, kita sambut aja dulu."


"Terus?"


"Kita tinggalin adek saya ama dia berdua aja. Nanti adek gue ngasih dia pisau,


nah saat dia akan motong kue adek gue itu kayak ngerebut pisaunya gitu, kan otomatis dia terkejut. Adek gue pura-pura jatuh dan langsung menangis ketakutan. Pokoknya nanti lihat aja!" terang Jennifer sejelas-jelasnya.


"Emang patut dikasih jempol rencana lo."


"Nanti kamu harus dengerin apa yang saya bilang kalau mau rencana ini berjalan dengan sempurna," Sinta mengacungkan jempolnya.


***


"Guys, gimana kalau hari Sabtu kita nongkrong bareng?" ucap Rizal yang membuat Gema jadi heran. Kesambet apa tuh anak?


"Tumben lo ngajak nongkrong."


"Gue hanya ngerasa kita harus ngumpul."


"Oke,"timpa yang lain.


"Lagian kan masih lama. Sekarang baru hari Senin."


"Dimana?" tanya Reno.


"Kalau itu gue pikirin dulu, yang pasti hari Jum'at kita udah tau tempatnya dimana."


***


Hari menjelang Maghrib, Shaletta mempersiapkan baju yang akan dipakainya nanti. Lagi pula acara dimulai pukul 07.35. Artinya masih ada waktu 1 jam lagi.


Setelah setengah jam, Shaletta pergi menemui ibu dan ayahnya di ruang keluarga yang sedang menonton tv.


"Bun, Sha boleh ga pergi acara rumah teman?"


"Kapan?"


"Siap Isya bun."


"Dimana? sama siapa kamu pergi?"


"Pokoknya sebelum jam 9 harus sampai rumah."


"Ashhiaaappp."


Shaletta berjalan ke kamarnya. Ia segera bersiap-siap, ia melihat jam tangannya ternyata sudah pukul 07.30.


Gadis itu segera bergegas menuju ruang tamu dan benar saja dugaannya, Sinta tengah duduk di sofa menunggunya.


"Maaf Ta, udah lama nunggu?"


"Belum, baru sampai."


"Bun, Sha pergi ya!"


"Hati-hati! sebelum jam 9 kamu udah sampai rumah," teriak ibu Shaletta sambil mengantar mereka keluar.


"Siap bun."


Mereka bertiga menuju teras rumah dan terlihat sebuah mobil hitam yang cukup elit sedang menunggu mereka.


"Sha pergi bun, assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


"Kami pergi dulu tante."


"Hati-hati!"


Mobil hitam tersebut mengklakson yang menandakan akan pergi. Saat di dalam mobil Ila terkejut.


"Lo ikut juga Gem?"


"Nggak, gue tadi hanya lewat. Tiba-tiba aja tuh teman lo nyetop gue di tengah jalan, katanya mau jemput lo," ucap Gema yang masih fokus menyetir.


"Jadi mau kemana?"


"Gue jemput adik."


"Lo punya adik?" tanya Shaletta.


"Adik sepupu."

__ADS_1


"Oh."


"Belok kanan Ren!" pinta Sinta yang baru bersuara di atas mobil.


"Gue Gema!" ucapnya tak mau namanya ditukar sembarangan sama temannya.


"Terserah! pokoknya lo belok kanan."


***


"Ini rumahnya Jennifer?"


"Yes. Besarkan?"


"Hmmm".


Seorang gadis yang sebaya dengan mereka langsung saja menyambut mereka dengan baik.


"Kalian udah datang? silahkan masuk!"


Khusus untuk Sinta, Shaletta dan teman dekatnya, Jennifer yang langsung menyambut. Selebihnya adalah para pelayan.


"Waw, mewah kali pestanya Jen!"


"Nggak, biasa aja kok."


"Ngomong-ngomong, dimana adik kamu?" kali ini Sinta yang bertanya.


"Dia ada di dalam. Yok masuk! acaranya udah mau mulai."


Shaletta dan Sinta menuruti perkataan


si tuan rumah. Mereka dan yang lain masuk ke ruangan acara.


Happy birthday to you


Happy birthday to you


Happy birthday, Happy birthday


Happy birthday to you


Selamat


Ulang tahun


Kami ucapkan


Selamat


Panjang umur


Kitakan do'akan


Selamat


Sejahtera,sehat sentosa


Selamat panjang umur


Dan bahagia


Semua yang hadir bertepuk tangan. Adiknya Jennifer meniup lilin lalu memotong kue.Taya


Menyuapkan kue pada orang tuanya dan kakaknya.


Saat ini para hadirin sedang sibuk berpesta. Mereka memakan makanan yang telah disediakan, ada yang didalam rumah dan ada yang ditepi kolam renang.


Di tempat yang telah ditetapkan, Jennifer memberi kode bahwa rencana dimulai. Taya memberi pisau kepada targetnya.


"Sorry eonni! can you help me cut the cake?" Taya memohon dengan mengeluarkan jurus puppy eyesnya. Shaletta tidak tahan melihat itu, ia tersenyum.


"Oke, sister will help you," ucap Shaletta gemas. Ia tidak tahu kalau sebenarnya ia telah masuk jebakan.


Saat pisau hampir menyentuh kue, Taya merebut pisau tersebut yang alhasil membuat Shaletta terkejut dan tidak sengaja menyenggol adiknya Jennifer. Karena telah diperintah oleh kakaknya, ia berpura-pura terdorong kebelakang.


"Huaaaaaaaaaaaaa..." tangis Taya pecah, Shaletta menjadi kaget, lalu menghampiri Taya. Ia lupa meletakkan pisaunya diatas meja.


"Eh, maafin kakak dek! kakak nggak sengaja," ujar Shaletta menjadi cemas. Ia terus membujuk Taya agar berhenti menangis dan berhasil.


"Kak, tolong letakin pisaunya diatas meja! i'm scared," Shaletta melihat tangannya, ia tersentak dan melepaskan pisau tersebut.


Walaupun tidak ada orang yang melihatnya,


namun ada seseorang yang berhasil merekam kejadian tersebut. Ia tersenyum smirk.


Bersambung...


Terus baca ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!

__ADS_1


Jangan lupa untuk tekan tombol like, beri vote and coment serta kasih bintang 5!


__ADS_2