Misteri Buku Tua

Misteri Buku Tua
Aksi bodoh


__ADS_3

"Hmmmm, dimana aku ngelihat suasana seperti ini ya?" gumam Ila sendiri sambil mengingat-ingat.


"Gimana sih? nih otak pakai acara tulalit lagi!


kalau lanjut kedalam, bisa-bisa menghantar nyawa aku. Tapi kalau nggak masuk, dimana aku akan tidur?"


"Aduhh, kembali ke dunia jaman now nggak bisa lagi!"


"Hah, frustasi banget sih aku jadi orang!"


Ila seperti orang gila yang bengong. Ia terus mengacak-acak jilbabnya karena merasa frustasi.


"Oke Ila, fine. Kamu harus nyelinap masuk ke dalam! walau ini aksinya nekad banget, tapi aku harus bisa nyusup masuk,"


"Jika aku kena masalah besok pagi, maka hal itu besok aku pikirkan! bukan sekarang!"


Ila berprilaku seperti seorang ninja yang hebat. Ia memasang gaya hijabnya yang menutupi seluruh wajah kecuali mata yang hanya tampak.


Dengan penuh kehati-hatian, Ila berusaha berjalan tanpa suara. Ia bahkan menjingkatkan kakinya supaya tak menimbulkan bunyi apapun.


Gadis tersebut mencoba mengelilingi istana untuk mencari celah untuk masuk. Dan setelah beberapa menit berjalan, akhirnya ia menemukan sebuah jendela kecil yang belum ditutup.


"Alhamdulillah, setelah lamanya berputar-putar, akhirnya ketemu juga,"


"Hmmmm, jendelanya tinggi juga ya? huft. Sepertinya saat ini beraksi seperti ninja ori! kuy!"


Entah apalah yang dipikirkan oleh anak itu. Jika ada orang yang mendengar ucapannya mungkin akan beranggapan kalau otaknya miring.


"Baik Ila, lambat-lambat! hati-hati!" ujarnya pada diri sendiri.


Hasil memang tak akan pernah mengkhianati usaha. Semua kesusahan yang telah dilalui oleh Ila saat ini telah berakhir walau belum sepenuhnya. Tapi, sudah masuk istana saja sudah membuat dirinya sangat gembira.


Dengan bagaikan kecepatan kilat, Ila berlari. Berusaha agar tak terdengar. Ia berjalan sana-sini kemudian menemukan sebuah ruangan yang besar dan mewah.


"Alhamdulillah ya Allah, akhirnya aku dapat tempat tidur juga,"


Ila merebahkan tubuhnya diatas kasur yang empuk itu. Sungguh entah anak itu nggak peka, entah nggak mikir dulu. Eh? orang ngantuk gimana mikir ya?


*****


Sinar mentari menusuk masuk kedalam kamar yang megah melalui sela-sela tirai yang terpasang rapi di kaca jendela.


Cahayanya begitu hebat, sehingga membangunkan seorang gadis yang kembali tidur sesudah sholat subuh tadi. Mungkin dia pikir dia lagi dirumahnya kali ya?


Gadis tersebut mengusap matanya menggunakan kedua tangannya. Perlahan namun pasti, ia membuka kedua kelopak matanya.


Awalnya sih, dia biasa-biasa aja. Tapi, sungguh tak disangka reaksinya setelah beberapa waktu.


"Astoge, gue lagi dimana nih? kok tiba-tiba udah tidur dikamar yang bagaikan istana aja?" batinnya setelah melompat dari tempat tidur.


"Andaih, gimana gue bisa lupa kalau gue udah ncoba nyusup masuk? gue harus segera keluar sebelum ada yang ngelihat!"

__ADS_1


Ila mengambil barang-barangnya dan langsung saja kabur tanpa merapikan kasurnya terlebih dahulu. Bagaimana bisa ia melakukan aksi sebodoh itu?


Tak lama Ila meninggalkan kamar itu, sang pangeran tampan pewaris tahta memasuki kamar tersebut.


Alangkah terkejutnya dia ketika melihat kasur yang berantakan seperti ada seseorang yang telah tidur diatasnya.


"Siapa yang sudah membuat berantakan kamar ini? aku harus menyelidikinya!"


Ih! hanya kasur aja kali yang berantakan. Nggak sampai kamar yang habis diporak-porandakan.


Dengan ketelitiannya, pangeran Alfa mendapatkan beberapa petunjuk yang mungkin bisa memberi tahunya siapa yang melakukan semua ini.


Ia mengikuti aroma tubuh seseorang yang begitu familiar namun ia tak bisa mengingat dimana ia pernah mencium aroma tersebut.


Langkah demi langkah ia tempuh dengan mengikuti jejak yang ada yang akhirnya mengantarkan ia ke sebuah tempat yang agak sepi.


Pangeran Alfa melihat seorang gadis tengah duduk memainkan sesuatu yang berada ditangannya. Dengan hati-hati, ia mendekati gadis tersebut.


Flashback on


"Andaih, gimana gue bisa lupa kalau gue udah ncoba nyusup masuk? gue harus segera keluar sebelum ada yang ngelihat!"


Ila mengambil barang-barangnya dan langsung saja kabur tanpa merapikan kasurnya terlebih dahulu. Bagaimana bisa ia melakukan aksi sebodoh itu?


Tanpa rasa bersalah sedikitpun, Ila meninggalkan kamar tempat peristirahatan dia kemarin. Rencananya, jika bisa nanti malam ia akan kembali ke istana untuk menikmati tidur dikamar sultan. Kapan lagi bisa tidur di tempat sultan asli?


Gadis itu melompat melalui jendela dengan hati-hati. Ia tahu bukan saatnya untuk terjatuh disuasana genting ini.


Sedangkan ia saja lupa jalan kembali, apalagi jejak yang sekecil itu. Toh, pokoknya jika sudah keluar dari istana, maka permasalahan tidak akan muncul. Begitulah menurut pikirannya.


"Hadeh, orang tua ku pasti cemas. Tapi apa yang harus diperbuat? otak ini nggak bisa berfungsi dengan benar kalau belum dapet makanan. Huaaaaaa, bunda anakmu ini sangat lapar, beri aku makanan!"


"Huaaaaaa," teriaknya alay sehingga mengganggu seseorang yang berada didekatnya.


"Nggak usah teriak-teriak kali! kalau mau makan cari gih! lo pikir makanan punya kaki sehingga dia menghantarkan dirinya pada lo?"


ucap seseorang yang kesal.


Ila membalikkan badannya. Siapa yang sudah menjawab ucapannya itu. Pasti orang itu bukan seperti orang biasa.


Seorang laki-laki tampan dengan wajah tengil memasang ekspresi kesal. Terlihat jelas dari keningnya yang berkerut akibat marah.


"We we, lo siapa?" tanya Ila.


"Yang jelas gue makhluk hidup ciptaan tuhan yang hidup di jaman kerajaan istano baso," ujarnya datar.


"Andaih, pasti lo bukan orang normal. Satu hal yang mengganjal dihati gue, kok lo orang jadul bisa gaul?" tanya Ila dengan wajah polosnya.


Cowok tersebut menepuk dahinya mendengar pertanyaan Ila.


"Eh, lo denger ya! walaupun gue hidup dijaman dulu gue ini gaul tau! modern woy!" ucapnya berteriak ditelinga Ila.

__ADS_1


"Nggak usah ngegas kali!" jawab Ila kesal.


"Gue ini ngegas juga gara-gara lo tahu! sue banget jadi orang!" gumamnya.


"Wow, gue kagum ama lo! lo juga ngerti semua bahasa gaul yo?" ujar Ila dengan mata berbinar.


Laki-laki itu menyisir rambutnya kebelakang dengan menggunakan tangan kanannya agar terkesan cool. Sembari ia menaikkan satu alisnya pada Ila.


"Mesti, selain gaul gue ini ganteng, dan tentunya ya gitulah,"


"Ishh, serius jijik gue!"


"Sue lo!"


"Ouh ya, btw nama lo siapa?" tanya Ila kini ingin tahu identitas cowok didepannya. Mana tahu dia bisa membawa Ila pulang kan?


"Kenalin, gue ini Tegar anak satu-satunya dari datuak garang."


Ila menahan tawanya mendengar Tegar. Terlintas saja kata-kata konyol dalam otaknya.


"Tegar, tetap hidup meski dalam pagar, hahaha,"


"Dasar bocah lo!"


"Nama lo siapa?"


"Gue Ila,"


"Pasti lo sebenarnya nggak hidup di jaman ini, kan?" tembak Tegar tepat sasaran yang membuat Ila menjadi berkeringat dingin.


"A-apa maksud lo? mana mungkin gue hidup di jaman besok, garing banget lo jadi orang,"


"Ha-ha-ha,"


"Lo itu yang garing, mana ada orang dijaman ini yang bicara lo gue, palingan aden kau wa ang,"


"Lo dukun Gar?" tanya Ila selidik.


"Waw, emang deh nggak salah lagi keturunan kerajaan ini punya kemampuan yang hebat-hebat,"


"Dan untuk pertanyaan lo tadi jawabnya adalah yap, lebih tepatnya lagi gue ini anaknya seorang dukun milineal yang tentunya gantengnya menyinari dunia,"


Bersambung...


Terus baca ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!


Jangan lupa untuk tekan tombol like, beri vote and coment serta kasih bintang 5 ya!


Ouh ya, jangan lupa untuk mampir ke novel aku yang lain!


Judulnya:-Karin the Mafia Girl

__ADS_1


-Kisahku di pesantren


__ADS_2