
"Andai lo masih ada disini."
Kenangan indah sewaktu dulu masih terngiang di kepala Gerald.
Flashback on
Di sebuah tempat yang dipenuhi oleh tumbuhan hijau, terlihat seorang gadis kecil dan dua anak laki-laki. Mereka sedang bermain petak umpet.
"Baiklah, dalam hitungan ketiga aku akan membuka mata. Satu, dua, tiga!"
Gadis kecil itu membuka matanya, dia mulai mencari sosok temannya.
"Hai, kalian dimana? aku akan menemukan kalian."
Namun, telah sepuluh menit dia berkeliling tapi itu tidak membuahkan hasil.
"Kalian dimana? keluarlah!"
"Kalau nggak keluar, aku yang akan menarik kalian dari tempat persembunyian kalian."
Gadis tersebut melihat daun yang bergerak.
Ia tersenyum, berpikir bahwa dedaunan itu adalah tempat persembunyian orang yang dicarinya.
"Sepertinya mereka ada di situ.".
Ia berjalan menuju semak belukar. Makin lama ia makin mendekat.
"Baaaaa!" kejutnya.
Tapi, keadaan menjadi sebaliknya. Yang malahan terkejut adalah gadis kecil tersebut.
Ternyata ia melihat sosok yang sangat menyeramkan. Sosok itu berpakaian hitam.
"Hahaha..."
"Akhirnya aku menemukan dirimu."
Sosok tersebut menarik tangan anak kecil
di hadapannya.
"Ayo ikut denganku!"
Tentu saja yang ditangkap berusaha melepaskan tangannya.
"Tidak, aku tidak mau ikut denganmu."
"Hahaha, kau ingin melawan hmmm?" sosok itu menyeringai.
Ditempat lain...
"Ger, kamu ada nggak lihat Asha ke arah sini?" yang ditanya pun menggeleng.
"Nggak Gib, sepertinya kita terlalu pintar bersembunyi sampai-sampai dia nggak bisa nemuin kita."
"Kita keluar sekarang aja yok!" ajak Gibran kecil.
"Tapi nanti kitanya ketahuan."
"Aku rasa udah cukup untuk sembunyi nya.
Udah lima belas menit kita sembunyi Gerald."
"Oke. Sebenarnya aku takut kalau Asha kenapa-napa."
Sementara...
"Hahaha..."
"Masih mau melawan?"
"Kau itu hanya gadis kecil, jadi nggak usah sok berontak."
Sosok itu tertawa jahat.
Shaletta kecil benci melihat ketika dia dipaksa untuk melakukan sesuatu. Ia mempunyai ide.
Ia menggigit pergelangan tangan orang tersebut lalu menendang kakinya sekuat tenaga.
"Sialan kau," umpatnya.
"Paman, aku kesakitan saat kau menggenggam tanganku," ujar Shaletta kecil membela dirinya.
"Asha!" teriak dua anak laki-laki. Yang dipanggil pun menoleh.
"Eh, dari mana aja kalian? dari tadi aku nyariin tapi nggak ketemu-ketemu."
"Kau nggak papakan? apa kau disakiti?"
Shaletta yang polos hanya menggeleng.
"Aku nggak papa kok, nih buktinya aku baik-baik aja."
Orang itu bangkit dan berdiri.
"Bagus! kalian telah mempermudahkan tugasku. Sekarang kalian semua akan aku serahkan pada tuan."
"Emangnya paman ingin nyerahin kita kepada siapa?" tanya gadis tersebut dengan nada yang polos sehingga orang yang mendengar akan gemas melihatnya.
"Kalian nggak perlu tahu!"
"Hiya!" kali ini sosok tersebut menangkap tiga anak kecil dengan kekuatan yang dimilikinya.
Gerald, Gibran dan Shaletta terkejut karena mereka tiba-tiba serasa diikat dengan rantai yang sangat kuat.
"Sekarang kemana kalian akan lari? mana keberanian kalian tadi hah?!"
Beruntung kakeknya Shalat saat itu sedang lewat. Ia melihat cucu kesayangannya itu terborgol oleh kekuatan.
Hanya dengan menjentikkan jarinya. Tiga anak yang tadinya diborgol oleh besi kini telah bisa menggerakkan tubuhnya dengan bebas.
"Si-siapa kau?" tanyanya gagap melihat manik mata seorang pria tua yang masih kelihatan bugar itu.
Kakeknya Shaletta hanya menatap tenang orang yang telah berusaha menculik cucunya.
"Pergilah! dan kembali kepada tuanmu itu!"
seakan terhipnotis ia menuruti perintah orang yang merenggut kesadarannya.
Mata Shaletta berbinar melihat kehebatan kakeknya itu.
"Waw, kakek sangat hebat! dengan menatap mata orang itu saja dia langsung menuruti perintah kakek!" puji Shaletta sehingga kakeknya tersenyum mendengar ucapan cucunya.
"Nak, kamu nggak boleh main jauh-jauh dari rumah! nanti kamu diculik lagi loh."
"Nanti bunda kamu nyariin, kamu mau bunda kamu cemas?"
"Nggak kek, Asha nggak mau buat bunda khawatir. Asha nggak akan jauh-jauh lagi main dari rumah kok."
"Pintar cucu kakek," pria itu mengusap kepala Shaletta.
"Kek, yang tadi itu siapa?" Ini adalah pertanyaan yang dilontarkan oleh Gerald.
"Nanti kakek ceritain ya!"
Kini kakek Shaletta juga mengusap rambut Gerald dan Gibran.
"Nak! Asha! kamu dimana sayang?" Shaletta langsung melihat ke sumber suara.
"Bunda! Asha di sini!" ia melambaikan tangannya.
"Aduh nak, kamu kemana aja? bunda cemas mikirin kamu."
Shaletta langsung menyengir memperlihatkan giginya.
"Hehehe, tadi Asha main petak umpet sama Gerald dan Gibran bun."
__ADS_1
Verta melihat dua anak laki-laki itu.
"Apa kalian udah beritahu ibu kalian kalau kalian mau main sama Asha?"
Mereka mengangguk.
"Udah tante, kami udah kasih tahu sama mama."
Kini pandangan Verta beralih pada ayahnya, yaitu Mardi.
"Ayah juga di sini?"
"Iya, tadi kebetulan lewat."
"Yok kita ke rumah," ajak Verta yang disetujui oleh semuanya.
***
Mardi dan dua teman cucunya sedang berada di teras rumah Verta.
"Jadi, siapa paman tadi itu kek?" tanya Gerald yang sudah penasaran sejak tadi.
Mardi menghela napasnya, ia bimbang untuk mengatakan ini semua kepada anak yang baru berusia enam tahun. Namun, mau tak mau ia juga harus menjelaskannya supaya mereka lebih bisa menjaga dirinya sendiri.
"Dia itu suruhan seseorang untuk menculik kalian bertiga, tapi target yang sebenarnya itu adalah Asha."
"Tapi, kenapa Asha yang jadi targetnya kek?"
tanya Gibran heran.
"Karena dia itu berbeda. Dengan kata lain dia punya kelebihan yang jarang dimiliki oleh orang lain. Kemampuan yang dimilikinya itu sangat langka."
Gerald dan Gibran yang mendengar penjelasan dari kakek Mardi hanya ber"oh"ia. Mereka paham dengan apa yang disampaikan.
"Kalian bertiga itu istimewa. Diberi kelebihan oleh Allah SWT."
"Jadi, kakek minta kalian agar selalu jaga diri baik-baik dan terus berdoa dimana pun kalian berada! minta selalu perlindungan dari-Nya."
"Sekarang jujur! apa kalian tadi melaksanakan shalat Shubuh?"
"Iya kek."
"Nah, kalau kita sebagai umat muslim itu harus selalu menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya."
"Baik kek, kami ngerti," jawab Gibran.
Verta keluar dari dalam rumahnya.
"Apa yang sedang kalian bicarain?"
"Ini tante. Hmmm, Asha nya mana tan?" tanya Gerald.
"Dia udah tidur."
"Ada apa ini yah?" Verta melihat ayahnya yang sedang menyeruput kopi yang dibuatkannya tadi.
"Jadi gini tan, tadi Asha hampir diculik oleh paman berbaju hitam."
"Maksud kamu gimana Ger?"
"Tadi itu kami lagi main petak umpet, jadi gilirannya Asha yang jaga. Kami pergi sembunyi supaya Asha tidak bisa menemukan kami. Tapi, setelah lima belas menit, Asha nggak juga muncul. Kami putuskan untuk keluar dari persembunyiannya. Tiba-tiba saat kami sampai di sana, dia sedang mengumpat pada Asha sambil memegang kakinya. Mungkin Asha baru saja menendang kaki paman itu."
"Terus?" Verta bertambah penasaran dengan kelanjutannya.
"Kami hampiri. Katanya dia nggak papa. Tapi, paman itu kembali bangkit dan mengikat kami dengan rantai tak kasat mata."
"Hah?"
"Apa kalian terluka?" tanya bunda Shaletta dengan cemas yang terlihat dari gurat matanya.
"Nggak tan. Untung aja kakek lewat jadi dia melepaskan kami dari borgolan itu."
"Ouh, jadi gitu ceritanya. Syukurlah kalian selamat. Mulai besok kalian nggak boleh lagi jauh dari rumah. Ngerti?"
"Baik tante," ucap Gerald dan Gibran menurut.
"Tante, kami pulang dulu ya! takutnya nanti mama nyariin."
Gibran dan Gerald meninggalkan rumah Shaletta. Kini di teras hanya ada Verta dan Mardi.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Asha yah?
tadi, aku merasakan kalau Asha itu dalam bahaya."
Mardi menyeruput kopinya.
"Dia itu baik-baik saja, namun kemungkinan besar dia mempunyai kekuatan yang lebih besar darimu dan mungkin saja nanti dia yang akan mewarisi kemampuanku."
"Aku takut dengan apa yang dimilikinya ayah,
Verta takut kekuatannya itu akan membawanya ke dalam bahaya."
"Kamu tenang saja! selama kamu selalu berdoa Insyaa allaah, anakmu itu akan baik-baik saja."
"Apakah kekuatannya sebesar itu sampai sampai ada yang mau menculik anakku?"
"Hmmm."
Kekhawatiran Verta kembali timbul
di benaknya.
"Ayah, apakah ada cara untuk menghilangkan kekuatan itu dari anakku?"
"Hmmm, ada satu cara namun ini memiliki peluang keberhasilan yang sangat kecil."
"Apa itu?"
"Itu adalah hal yang terlarang bahkan sangat dilarang oleh agama."
Verta tertegun mendengar ucapan ayahnya.
Ia ingin menyelamatkan anaknya namun satu satunya cara adalah melakukan hal yang dilarang agama.
"Kamu tidak boleh gegabah dalam memutuskan sesuatu, minta saja perlindungan dari-Nya dan jangan pernah takabur, insyaa allaah anakmu itu akan selalu dilindungi."
................
Setelah satu bulan sejak kejadian penculikan tersebut, Verta tidak lagi terlalu mencemaskan putri kesayangannya.
Ayahnya juga tidak ada lagi datang
ke rumahnya karena urusan dakwah.
"Nak, bunda pergi kerja sebentar, kamu jangan kemana-mana ya!"
"Baik bunda."
Verta meninggalkan rumahnya menuju suatu tempat.
Sementara Shaletta melihat anak sebayanya sedang menuju ke rumahnya.
"Asha! Asha!" panggil mereka serentak.
"Iya, tunggu dulu!" Shaletta lupa dengan pesan bundanya untuk membuka pintu karena melihat teman temannya itu.
gadis kecil itu membuka pintu rumahnya.
"Asha main yok!" ajak seorang anak.
"Kemana Gib?"
"Main keluar sebentar aja."
Shaletta hanya mengangguk.
Mereka berlari kejar-kejaran sampai-sampai tidak menyadari bahwa mereka telah jauh dari rumah.
__ADS_1
"Gibran! Gerald! tungggu! kalian berhenti dulu!" ujar Shaletta dengan nafas tersengal-sengal.
"Jika kamu bisa, coba kejar kami!" teriak Gibran yang masih lari.
Shaletta berhenti dan dia memegang kedua lututnya.
"Aku nggak mau main sama kalian," ucap gadis itu cemberut.
Gerald dan Gibran menoleh
ke belakang, mereka dapati kalau temannya telah digendong seorang pria yang sekitar umur 30an. Tentu saja, itu membuat mereka terkejut.
"Eh, lepaskan temanku!" Gerald dan Gibran berlari mengejarnya.
Tapi percuma, ucapan mereka sama sekali tidak digubris.
Gerald dan Gibran telah putus asa. Mereka sangat menyesal karena tidak mendengarkan kata Shaletta yang menyuruh mereka untuk berhenti.
"Ger, gimana cara kita nyelamatin Asha?" ucap Gibran dengan nafas naik-turun.
"Aku juga nggak tahu, pokoknya kita harus bisa nyelamatin Asha apapun caranya! kita harus bertanggung jawab atas perbuatan kita itu" lirih Gerald yang masih kecil.
Di gudang yang gelap dan sepi...
"Akhhhh!" erang Shaletta. Ia melihat sekeliling yang ia sama sekali tidak mengenal tempat itu.
"Dimana aku? kenapa aku ada di sini?"
Terdengarlah suara seseorang membuka pintu.
"Hai gadis manis! apa kabarmu?" ujarnya menyeringai.
"Paman siapa? kenapa paman menangkapku?"
"Ouh, kalau itu kamu tanyain jawabannya sederhana saja, kamu hanya perlu menyerahkan kekuatanmu itu!"
"Kekuatan apa maksud paman?" tanya Shaletta bingung. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang diucapkan laki-laki tersebut.
"Jangan pura-pura tidak tahu! kau harus menyerahkan kekuatanmu itu padaku!"
ujarnya dengan nada yang naik satu oktaf.
"Tapi, aku sama sekali tidak mengerti paman."
Sosok itu mendorong tubuh Shaletta sampai terjungkal ke belakang.
"Cepat serahkan kekuatanmu itu sekarang!"
namun, entah apa yang terjadi Shaletta hanya diam tak bergeming.
"Apa kau tuli? cepat serahkan kekuatanmu itu!"
Shaletta masih diam, mendadak tubuhnya itu berdiri dan sepertinya Shaletta berada diluar kesadarannya. Rantai yang begitu kuat terlepas dengan sendirinya sehingga membuat sosok itu kaget.
"Jika kau macam-macam, kau akan kubunuh!"
ancamnya.
Cahaya keluar dari tubuh Shaletta. Mendadak ada 2 ekor harimau putih yang muncul.
Dengan menggerakkan tangan menunjuk laki-laki itu, harimau tersebut menyerang orang yang telah menculik tuannya.
Karena panik, ia tidak sempat lagi menghindar yang mengakibatkan dirinya habis dikeroyok oleh sang khodam penjaga.
Di saat yang bersamaan, Mardi muncul
di depan pintu. Betapa kagetnya ia ketika melihat seorang pria babak belur terbaring di lantai. Dan yang membuatnya lebih terkejut ialah cucu kesayangannya itu sedang berada di luar kendali.
Agar tidak terjadi pertumpahan darah, ia menghipnotis pria itu kembali.
"Pergilah kamu dari sini dan jangan pernah menculik cucuku lagi!" ia menuruti perkataan kakek Shaletta.
Sekarang perhatian Mardi kembali pada Shaletta. Ia berusaha mengontrol kesadaran cucunya melalui kekuatan batin.
Dan akhirnya berhasil, cucunya pingsan.
Sementara...
"Ger, apa kau yakin Asha akan baik-baik aja?" tanya Gibran mondar-mandir.
"Insyaa allaah, lagipula kita udah beritahu kakek."
"Tapi, apa maksud perkataan kakek satu bulan yang lalu?" tanya Gerald mengingat kembali.
"Yang mana?"
"Itu loh, yang waktu Asha diculik."
"Hmmm, entahlah," ujar Gibran mengangkat bahunya.
***
Sekarang kakek Shaletta sedang berbicara dengan ayah dan bundanya. Mereka berada
di ruang tamu, membicarakan hal yang serius.
"Ayah, apa tidak ada cara untuk menghilangkan kekuatan putriku itu?" tanya Verta sendu.
Mardi pun hanya terdiam saja.
"Setelah kulihat lagi kiranya ada satu cara yang mungkin ampuh untuk sementara waktu."
"Apa itu ayah?" tanya Verta lagi.
"Selagi kami mampu, kami akan melakukan hal itu," ujar ayah Shaletta meyakinkan.
"Kalian harus pindah keluar dari daerah ini!"
ucap Mardi menunduk.
"Apa? kenapa Asha harus pindah kek? kami janji kami akan melakukan apapun untuk melindunginya tapi kami mohon kek, jangan suruh Asha pindah."
Tanpa diketahui, Gerald dan Gibran ternyata berada di pintu dan langsung saja memegang tangan Mardi setelah mendengar ucapan tersebut.
Mereka tidak mau kalau Shaletta sampai pindah. Tidak ada lagi teman yang bisa diajak untuk bermain.
"Nak, tapi Asha nya harus pindah. Kamu mau nanti Asha nya diculik lagi?" ujar Verta dan disambut dengan gelengan kepala oleh anak-anak itu.
Keesokan harinya...
"Asha, kami akan selalu merindukanmu. Kita akan bertemu lagi esok," lirik Gerald dengan mata berair namun ia sembunyikan kesedihannya itu.
Shaletta tersenyum. Dan itulah senyuman terakhir yang dilihat Gerald dari Shaletta. Senyuman yang selalu terngiang-ngiang dalam memorinya.
Flashback off
Lamunan tentang masa kecil langsung saja buyar saat cowok tersebut mendengar teriakan mamanya dari lantai bawah.
"Nak! ke bawah sebentar!"
Ia menuju ke sumber suara.
"Nak, ibu mau pergi dulu sama papa. Kamu boleh main keluar, tapi jangan pulang kemalaman."
"Iya ma."
Gerald kembali berjalan ke kamarnya yang super mewah itu. baru saja tiba, terdengarlah notifikasi dari hp.
"Ngapain juga tu anak ngechat gue?" gumamnya setelah melihat siapa orang yang menganggunya.
Gerald langsung mandi dan menukar bajunya dengan setelan celana dan jaket levis serta baju kaos dalam ketika membaca pesan temannya. Ia kini terlihat sangat tampan.
Cowok itu kembali mengaktifkan hp nya dan membuka aplikasi WA.
Bersambung...
Terus baca ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan cara like, vote, coment serta kasih bintang 5!
Thanks