
"Tapi, lo yakin kalau nyokap bokap nggak balik malam ini?" tanya Adam.
"Iya."
"Komputer di rumah lo ada berapa?"
"Tiga, emang lo mau ngapain?"
"Yes, berarti bisa dong," ucap Adam senang.
"Bisa apa?"
"Ngapain lagi kalau nggak main game."
"Enak banget lo ngomong. Nggak ada yang boleh makai komputer gue untuk main game!kalau lo mau bantu gue retas video itu, gue izinin lo megang tuh komputer."
Mereka diam sejenak.
"Woy, menurut kalian ibu dia tau nggak kalau anaknya mau di DO?" tanya Rizal. Dari kemarin ia terpikir hal tersebut.
"Gue rasa nggak deh," jawab Reno.
"Dari mana lo tau?" Adam menyolot pembicaraan.
"Kan gue bilang ngerasa, bukan fakta. Kalau denger tuh pakai telinga!" ucap Reno sambil menekankan kata-katanya.
"Ep, jangan ngegas bro! lo nggak ingat sama moto kita?"
"Apa moto-moto? motor yang ada!"
"Hindari pertengkaran jika pada akhirnya juga akan berantem," ujar Adam yang sudah seperti seorang guru yang sedang menerangkan pelajaran.
"Sejak kapan pula ada moto semacam itu?"
"Sejak detik ini dan tentu gue yang langsung membuatnya."
Rizal menepuk jidatnya.
"Sesat bat lo jadi orang!" ujar Rizal.
"Idih, emang lo nggak sesat?"
"Kalian jangan berantam juga, kita harus cepat selesaikan misi ini!"
"Nggak usah tegas banget gimana sih?" tanya Adam yang membuat Reno menatap tajam dia. Sementara yang ditatap seperti orang yang tidak punya kesalahan.
"Eh, itu bukannya si cebul?" Arya menunjuk orang yang dimaksud.
"Cebul apaan maksud lo?" tanya Adam tak paham.
"Lo lihat tuh! ngapain dia liat kiri-kanan?"
Reno terdiam sejenak mendengar ucapan Arya.
"Mencurigakan, woy kita harus ikutin dia!"
"Kok kita sih? menurut gue tiga orang aja udah cukup," keluh Gema.
"Oke, Rizal dan Adam ikut gue!" perintah Reno yang membuat mata Rizal membulat seketika.
"Eh, kok gue? si Adam aja napa?"
"Nggak bisa," tegas Reno.
"Cepat! sebelum kita kehilangan jejaknya."
"Jadi, kita ngapain?" tanya Arya.
"Terserah! yang penting kalian juga pantau Liasha!"
Akhirnya Reno, Rizal dan Gema pergi membuntuti orang yang mereka maksud.
"Guys, let's go!" ajak Arya.
"Kemana?" tanya Adam malas dengan posisi tubuhnya yang seperti orang tengah menikmati keindahan pantai.
"Ke alam baka."
"Nggak ah! kalau mau pergi, pergi aja lo berdua! gue nggak mau ikut. Dosa gue masih banyak."
"Dah tau dosa banyak lo tambah juga."
"Pokoknya sekarang kita harus cari Liasha!"
Adam masih dalam keadaan bermalas-malasan. Arya yang tidak tahan melihat kelakuannya langsung saja menarik paksa tangan sahabatnya itu.
"Sabar napa?"
Arya menatap Adam datar. Sementara Ryan hanya menonton pertunjukan tarik-menarik tersebut.
"Iya-iya, gue berdiri nih," ucap Adam yang sebenarnya dalam hatinya kini tengah kesal.
"Nah gitu dong! kalau hidup lo malas terus gimana bisa sukses?"
"Nggak usah banyak bacot lo!" ujar Adam jutek.
__ADS_1
***
"Gem, keluarin hp lo! baterainya ada kan?" tanya Reno.
"Ya ada lah, baterai gue aja saat ini 85%."
"Lo yakin kalau hp lo nggak bakalan lowbat?" kali ini Rizal yang bertanya membuat Gema melotot.
"Sembarangan, ini HP baru gue beli seminggu yang lewat."
"Sekarang bukan waktunya untuk ribut!"
"Gem, lo keluarin hp lo! cepat!" ujar Reno memberi instruksi.
Gema mengeluarkan hp dari sakunya dan seketika mata Rizal membulat melihat benda canggih yang berbentuk persegi panjang itu.
"Waw, itu bukannya hp iPhone 12 Pro Max ya?" tanya Rizal dengan mata yang berbinar.
Gema menganggukkan kepalanya.
"Mantap, dengan kameranya yang sangat berkualitas itu wajah cewek itu akan terekam jelas dan tentu saja itu sangat membantu kita untuk menemukan bukti."
"Lo benar sekali Ren," uap Rizal mendukung perkataan Reno.
"Sekarang lo buka kamera! tinggikan volume suaranya dan tingkatkan kecerahan layarnya!" perintah Reno.
Gema hanya mengikuti yang disuruh oleh Reno.
"Eh, siapa itu?"
"Ntah, tapi yang pasti dia ada hubungannya sama cewek itu."
Gema menatap tajam orang yang berada di sampingnya.
"Lo berdua bisa diam nggak? suara kalian kerekam di kamera."
Ting
"Hello Jenn!" tampak seseorang mendekati Jennifer.
"Hello, how are you today?"
"Gue baik, sepertinya lo sedang senang banget hari ini. Ada apa?" tanya gadis itu dan Jennifer pun menunjukkan smirknya.
"Karena dia."
"Dia?" beo nya heran karena tidak paham apa yang dibicarakan oleh Kira.
"Itu most wanted sekolah," ucap Jennifer yang makin menunjukkan smirknya.
"Dia di DO dari sekolah ini."
"Serius? bagaimana bisa?" ujarnya terkejut bukan main.
"Kamu tidak melihat.video yang lagi viral itu?"
Gadis tersebut berpikir sejenak.
"Ada, tentang dia yang nyakitin adik lo kan?"
"Everbeen that only a konspirasi."
"Maksud lo?"
"Taya itu hanya drama."
"Jadi yang nyebarin video itu eho Jen?"
"According you?"
"Dan sebelum video itu lo kirim, lo edit dulu? gue nggak nyangka lo itu pintar dan licik."
"Tapi apa alasan lo benci amat sama dia?"
"You want know?"
"I hated her karena dia itu caper, tuh liat aja saat istirahat, pasti dia sudah ama TGS, menyebalkan."
"Emang apa yang disukai orang dari dia? beautiful? cantik saya dan dia itu sebelas dua belas. Kaya? lebih kayaan saya."
"Udah tuh! sekarang lo puas?" tanyanya dan Jennifer langsung tertawa jahat
"Of course."
"Sempurna.," Gema mematikan kameranya.
"Ayo pergi! sebelum ketahuan," usul Rizal.
Mereka bertiga pergi dengan hati-hati. Kayak detektif aja.
Separuh anggota TGS berada di koridor sekolah yang memisahkan antara kelas X dengan perpustakaan. Ternyata yang lainnya juga ada di sana.
"Jadi gimana Ren? apa ada sesuatu yang baru?" tanya Adam kepo.
"Ada, bukti ini sangat kuat sehingga bisa meyakinkan kepala sekolah kita."
__ADS_1
"What that?"
"Video cebul lagi ngobrol sama seorang cewek, sepertinya teman dekatnya," jawab Rizal.
"Mana rekamannya? gue mau lihat."
Gema mengeluarkan hp nya dari saku celana. Ia langsung membuka galeri dan memberikannya pada Adam.
Adam melongo melihat handphone Gema.
"Gem, itu bukannya iPhone 12 Pro Max yang lagi trend itu?"
***
Saat ini siang telah berganti dengan malam.
Disebuah rumah yang megah, lebih tepatnya di ruang komputer, terdapat enam orang cowok.
"Ini ruang komputer lo Gem?" tanya Rizal dengan mata yang terus menatap ruangan tersebut.
"Iya," ucap Gema yang pandangannya tetap fokus ke layar komputer.
Bukan hanya Rizal, semua anggota TGS kagum dengan ruangan yang dimiliki oleh Gema. Bagaimana tidak?
Ruangan yang berukuran 6×6M tersebut memiliki fasilitas yang lengkap. Ada 3 komputer dengan berbagai model yang berbeda. Terdapat juga 3 sofa panjang yang mungkin menjadi tempat istirahat sementara jika merasa jenuh. Tidak lupa, ada lemari yang cukup canggih. Ruangan tersebut dilengkapi fitur keamanan khusus yang tidak bisa dilalui oleh sembarang orang.
Intinya ruangan komputer milik Gema termasuk ruangan yang cukup canggih.
"Mana hp gue tadi?" tanya Gema.
"Lah, mana gue tahu," ucap Adam tidak peduli.
"Cariin tolong!"
"Nih," Arya menyodorkan hp tersebut ke tuannya.
"Gimana Ren? lo udah dapat belum?"
"Belum Ar."
"Kalau lo Gem?"
"Sama, gue juga belum dapat."
"Gem, komputer lo kan nggak pake satu lagi, gimana kalau kita manfaatin aja? sayang hanya dia aja yang nggak dipake," ujar Rizal dengan kata manisnya.
"Terserah lo! yang penting jangan ganggu gue."
"Yes, Dam yok!"
"Thanks ya Rel lo itu baik banget dah."
"Eh, ini apa?" tanya Reno secara tiba-tiba.
Gema langsung melihat ke sampingnya.
Hanya beberapa huruf yang ditekan oleh Gema dan data-data yang dicarinya terbuka, terpampang dengan jelas di sana.
"Ren, ini data-datanya anak baru itu, lo berhasil ngeretas WA nya. Good job!" ucap Gema.
"Dan gue juga udah dapet info di video itu, berarti tugas kita udah selesai."
"Tinggal besok kita serahin ama kepala sekolah!".
Reno dan Gema sudah mematikan komputernya. Saat melihat ke samping kiri, ternyata Adam dan Rizal terlihat sedang asik bermain game.
"Woy! nggak ngotak kalian! ngapain kalian main game di komputer gue?"
Semuanya terkejut dengan teriakan Gema yang mendadak.
"Sial! kalah kan jadinya!" ujar Adam.
"Hoy! seharusnya gue yang marah sama lo!ngapain lo download game di komputer itu hah?" ucap Gema yang kembali berteriak membuat Adam dan Rizal menutup kupingnya.
"Lo ngapain sih teriak-teriak? budek telinga gue!" ucap Rizal.
"Kenapa gue nggak teriak coba? kan udah gue bilang, jangan main game di komputer gue. Apa kalian nggak dengar?"
"Nggak usah marah-marah! nanti cepat tua. Bye gue ingin tidur, ngantuk," Adam pergi menuju sofa dan merebahkan badannya.
Kini, mata Gema menatap Rizal. Yang ditatap menjadi gelagapan.
"Gue juga mau tidur," ia ke sofa dan mengambil posisi di samping Adam.
"Nggak ada juga gunanya marah-marah," ujar Reno.
"Lagian lo kan bisa hapus game nya," tambah Arya.
"Nggak usah ribet kayak cewek," ucap
Reno. Gema hanya bisa menghela nafas secara kasar.
"Untuk kali ini gue maafin kalian berdua, tapi kalau untuk selanjutnya gue nggak bisa," ucap Gema yang lebih terdengar seperti mengancam.
Sementara Adam dan Rizal puas melihat Gema yang sedang marah. Mereka hampir saja ketahuan tertawa jikalau mereka tidak menutup rapat mulut mereka.
__ADS_1