
Ayam jantan telah berkokok, pertanda shubuh telah tiba. Sebentar lagi azan akan berkumandang. Namun para The Gengs Six terlihat masih tidur nyenyak.
Allaahuakbarullaahuakbar
Gema yang mendengarnya langsung terbangun. Ia duduk terlebih dahulu. Menstabilkan kondisi tubuh yang masih lemah akibat tidur malam.
Dua menit kemudian ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke kamar mandi.
Gema telah selesai mandi tapi belum ada juga teman-teman l4knatnya yang bangun. Akhirnya ia memutuskan untuk membangunkan mereka.
"Woy bangun! gue ga mau dengar kalian bertengkar di kamar mandi!"
Usaha Gema ini hanya berhasil pada Reno, Arya dan Ryan. Tapi ini tidak berlaku untuk Rizal dan Adam.
Sudah berbagai cara yang dilakukan oleh Gema Tetapi tidak ada satupun yang berhasil. Mau tidak mau Gema memakai cara yang paling ampuh. Ia menarik napasnya dalam dalam.
"Man huwa rabbik?"
Baru pertanyaan pertama yang dilontarkan oleh Gema, mereka berdua langsung terlonjak kaget.
"Ya tuhan, apa gue udah mati?" tanya Adam sambil memegang tubuhnya.
Mereka berempat tertawa terpingkal-pingkal melihat reaksi Adam dan Rizal yang tergolong ngakak itu.
"Hahaha, baru pertanyaan pertama aja yang gue sebutin lo udah gitu Dam?"
"Dasar teman l4knat lo! bangunin orang tuh yang benar dong! jangan buat orang kaget macam tadi! kalau gue mati gimana?" ucap Adam langsung marah sebab merasa dirinya sudah dipermainkan.
"Lo yang salah, udah berbagai cara gue lakuin supaya lo bangun, tapi kenyataannya ga ada yang berhasil. Jadi ini aja cara terakhir yang gue rasa ampuh untuk orang kayak lo berdua," ujar Farel santai.
"Gue sholat dulu, bye!"
***
Para TGS sedang berkumpul di ruang makan. Mereka duduk di meja makan yang besar itu.
Mereka makan tanpa ada yang bersuara.
Di ruangan itu hanya terdengar bunyi dentingan sendok dan garpu di piring.
"Jadi gimana nanti caranya kita nunjukin bukti yang kita temuin semalam?" Arya membuka pembicaraan.
"Gue naruh file yang berisi bukti-bukti itu
di flashdisk," ujar Gema yang masih makan.
"Dimana pledik itu lo taruh?"
Reno menepuk dahinya.
"Bukan pledik Dam, tapi flashdisk," Reno memperbaiki ucapan Adam.
"Pledik atau flashdisk gue ga peduli. Intinya ya itu," Adam tidak mau mendengar Reno.
"Terserah!"
"Dimana lo taruh?"
"Di tas?"
"Gue nggak sabar lihat ekspresi si cebul saat dia ketahuan sebagai dalang video ini. Dan yang paling parah dia malah ngedit video itu."
"Sama Zal, gue juga ingin tahu apa reaksinya nanti," ucap Reno menunjukkan smirknya.
"Sekarang cepat habisin makanan kalian! kita akan pergi."
"Ngapain cepat-cepat ke sekolah?" tanya Adam.
"Kita akan mantau dua orang itu."
"Woke," ucap mereka serentak.
Semua anggota The Geng's Six telah selesai makan bersama. Mereka mengambil tas masing-masing yang berada di ruang tamu. Untuk ke sekolah, mereka menggunakan motor masing-masing.
Reno memimpin geng nya memarkirkan motor di luar gerbang sekolah.
Mereka semua berjalan lewat koridor dan menuju kelas masing masing.
Di kelasnya, Reno melihat Shaletta hanya diam dan menatap ke luar jendela.
"Lo tenang aja! gue janji gue akan ungkap siapa yang udah ngejebak lo," batin Reno.
"Lo ngapain?" tanya Reno menghampiri cewek itu.
"Nggak ada," jawabnya dingin seperti biasa dengan pandangan tetap ke lapangan.
"Gue pergi dulu!"
"Hmmm."
***
Kantin saat ini penuh dengan kehadiran orang berseragam putih abu-abu. Tiba-tiba mik berbunyi.
"Assalamualaikum wr.wb. Diberitahukan kepada Shaletta dan Jennifer Naquita agar segera menuju kantor! Sekali lagi diberitahukan kepada Shaletta dan Jennifer Naquita kelas X-A agar menuju kantor. Terima kasih."
__ADS_1
Jennifer heran, mengapa ia dipanggil ke kantor.
"Jen, lo dipanggil tuh ama guru ke kantor," ucap temannya.
"Tapi ngapain ya?"
"Lah, mana ku tehe."
Jennifer bergegas menuju kantor. Hatinya merasa cemas tak menentu. Tapi ia sendiri tidak tahu apa yang ia takutkan saat ini.
"Kok saya jadi cemas?"
Cewek itu telah sampai di ruangan kepala sekolah. Ia kemudian masuk dan menemui Shaletta dan kepala sekolah yang tengah duduk di sana.
"Sorry mom, Why mom call me?"
"Tidak usah berbasa-basi! saya ingin to the point saja! saya tidak punya banyak waktu."
Jennifer menjadi takut karena kepala sekolah kini tengah menatapnya dengan tajam.
"Apa kamu ada kaitannya dengan video itu?"
Deg
"Why her can know?"
"Jawab pertanyaan saya! apa kamu ada kaitannya dengan video itu?".suara guru itu semakin meninggi sehingga Jennifer menjadi gelagapan dibuatnya.
"Video apa maksud ibu? saya nggak ngerti."
"Kamu jangan pura-pura tidak tahu! ini tentang video Shaletta beberapa hari yang lalu."
"Duh, gimana nih? nggak mungkinkan saya ngaku? bisa parah ini jadinya."
Jennifer pura-pura tersenyum.
"Saya nggak tahu tentang video itu bu! saya dapatnya dari teman."
"Siapa teman kamu?"
"Ooo anu bu, ooo si..."
"Kamu jangan bohong! ngaku saja kalau kamu dalang video itu kan?"
"Tidak bu, kenapa ibu menuduh saya tanpa bukti," elak Jennifer dengan keras.
"Ini memang kesalahan dia bu!" Jennifer menunjuk Shaletta dengan jarinya.
"Eh, ini pasti rencana kamu kan? kamu pasti menjebak saya biar dipindahin dari sekolah ini kan? ngaku saja!"
"Kalau lo ngatain semua itu ulah gue berarti lo dong yang ngejebak gue."
"Lagian untuk apa gue ngejebak lo? gue nggak akan pernah mau melakukan sesuatu yang nggak ada untungnya buat gue apalagi ngejebak lo itu nggak bermanfaat banget," tegas Shaletta.
Kali ini ia yang berbicara, tidak ada yang berani menyela perkataannya yang memiliki makna mendalam tersebut.
Jennifer tertegun mendengarnya, ia seakan mati kata.
"Sekarang kamu mengaku! kamu kan yang menyebarkan hoax itu?" tanya kepala sekolah balik dan Jennifer tetap saja mengelak.
"Tidak bu, saya tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Dia yang salah bu. Dia pasti menghasut orang-orang dengan perkataannya yang manis," Jennifer masih menghindar.
"Hei ayolah! gimana gue mau adu domba orang kalau orang-orang saja jauhin gue? lain kali kalau mau bohong itu pakai strategi dikit," sindir Shaletta dengan mulut pedasnya.
"Oke, tidak ada pilihan lain lagi. Kalau kamu tidak mau mengakui kesalahan kamu dan kamu tadi minta bukti kan? saya akan memperlihatkan perbuatan busukmu itu."
Kepala sekolah menunjukkan hasil retasan yang dilakukan oleh para The Geng's Eight.
Dan bukan hanya itu, guru tersebut juga memperlihatkan video pertemuannya dan seorang gadis.
Jennifer yang melihatnya langsung berkeringat dingin. Wajahnya seakan pucat pasi saat perbuatannya di kedok oleh para siswa.
"Kamu mau menghindar lagi?"
Tidak ada lagi cara lain untuk menghindar, ia terpaksa mengakui kesalahannya tersebut.
"Baik bu saya mengaku, sayalah dalang dibalik video itu."
"Tapi dengarkan dulu bu! bukan hanya saya yang terlibat, tapi Sinta juga terlibat dalam penyebaran video itu," ucap Jennifer bersungguh-sungguh.
"Kamu jangan mengoper kesalahan kamu pada orang lain, jangan pernah kamu menyalahkan orang lain demi menghindari kesalahan yang kamu perbuat sendiri."
"Tapi, memang benar bu. Sinta juga terlibat dengan semua ini," ujarnya berusaha menjelaskan.
"Sudah cukup! saya tidak ingin lagi mendengar ucapan kamu!"
Kepala sekolah itu menarik napasnya.
"Supaya nama sekolah ini tidak tercemar akibat perbuatan busuk kamu ini dan demi pembersihan nama orang yang telah menjadi korban kamu, kamu saya DO dari sekolah ini!"
"Bu, tapi itukan nggak adil. Seharusnya Sinta juga di DO bu!" pinta Jennifer.
"Cukup Jenni! apa kamu tidak dengar? kamu saya DO dari sekolah ini!" tegas kepsek.
"Besok kamu tidak boleh lagi datang kesini!dan saya akan memanggil orang tua kamu ke sekolah untuk menjemput surat keterangan keluar."
__ADS_1
"Sekarang silahkan keluar!"
Jennifer langsung saja keluar tanpa permisi. Saat ini hatinya menaruh dendam yang sangat besar pada Shaletta. Rasa dengki dan dendamnya semakin bertambah.
"Saya akan balas dendam Shaletta!"
"Nak, ibu minta maaf karena telah menuduh kamu kemarin itu," ucap kepala sekolah merasa bersalah.
"Tidak bu, ibu tidak bersalah. Semua guru akan melakukan hal yang sama ketika melihat hal-hal seperti itu," ujarnya tersenyum.
"Sungguh hati kamu sangat mulia nak. Ibu sangat bangga mempunyai murid seperti kamu."
Shaletta hanya tersenyum mendengar ucapan sang kepsek.
"Kalau begitu saya keluar dulu bu."
Shaletta keluar dari ruangan itu. Namun, tanpa sepengetahuannya, ada sebuah geng yang sedang bersembunyi mendengar pembicaraannya.
Mereka adalah orang yang mengungkap kasus-kasus tersebut. Ya, mereka adalah para The Geng's Six.
Anggota TGS masuk kedalam kantor.
"Terima kasih bu, karena ibu mau mempertimbangkan kasus itu kembali,"ucap Rizal merendah.
"Tidak, seharusnya saya yang berterima kasih kepada kalian. Kalian telah mengungkap siapa yang sebenernya pembuat kasus itu."
Mereka semua tersenyum puas mendengar perkataan sang kepala sekolah.
"Kalau begitu kami keluar bu," pamit Reno.
"Baiklah."
Tiba di luar, mereka bertos ria.
"Gue bersyukur si cebul tuh dah di DO dari sekolah ini."
"Gue juga.Gem, akhirnya ga ada lagi pengacau di sini," ucap Rizal.
"Yuk cabut! ngapain di sini kayak orang bego," ujar Adam.
Setelah mereka pergi, ternyata ada orang lain yang menyaksikan hal tersebut.
"*Gawat, gue harus ngehindar dulu dari Jennifer, bisa-bisanya nanti dia juga ngebongkar rahasia gue."
"Kali ini lo beruntung, tapi lain kali lo nggak* akan gue lepasin."
***
Shaletta duduk di kelas dengan perasaan bahagia. Ia tidak jadi dikeluarkan dari sekolah ini. Hatinya mengatakan agar ia pergi
ke taman belakang.
Kini ia sedang menikmati hembusan angin semilir di bangku. Tapi, ketenangannya itu kandas dengan datangnya para prajurit pembuat keributan.
"Woy! menung mulu dari tadi," sorak Rizal.
"Apa?"
"Nggak ada, kita melihat lo disini jadi ya hampiri aja," ucap Gema.
"Hmmm, kita dengar lo nggak jadi di DO ya?"
"Kok lo tahu Ya?" tanya Shaletta heran pada Arya.
"Kami tadi dengar dari murid lain."
Shaletta mengangguk.
"Syukurlah! gue lega denger itu," ucap Ryan.
"Tapi gue heran sama orang yang mau bantu gue, baik banget dia sampai rela-relaan bantu gue," ujar Shaletta yang memang mempertanyakan itu.
"Kalau gue tahu siapa orangnya gue akan berterima kasih sama dia."
Sementara para TGS terpikir kembali dengan pekerjaan mereka dari pagi.
Flashback on
"Dam, cepat! gue udah nggak sabar nunjukin bukti ini ke kepala sekolah," Arya terus mendesak Adam yang lagi mageran.
"Iya sabar ah!"
Mereka meletakkan tas kedalam kelasnya dan kembali berkumpul di depan perpustakaan.
"Gimana? semuanya udah siapkan?" tanya Gema.
"Udah dong, gue udah nungguin momen ini dari tadi," jawab Adam.
Bersambung...
Terus baca ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!
Jangan lupa untuk tekan tombol like, beri vote and coment serta kasih bintang 5!
Thanks
__ADS_1