
Dari pada Rendra akan berbicara nyeleneh menjawab pertanyaan dari pangeran itu, Ila langsung memotongnya.
"Dia abang saya," jawaban Ila malah membuat Rendra mendelik kurang suka.
"Yakin?" bisiknya yang tepat di telinga Ila sehingga bulu kuduknya jadi merinding.
"Oh ya dan anda putri Rose, masih tidak mau mengaku juga? apa mau bukti yang lebih jelas lagi?" tanya Ila kini beralih menatap putri Rose yang memucat karena takut rahasianya akan diketahui disini dan dipermalukan
di depan semua orang.
Mata Ila itu begitu tajam sehingga ia dengan mudah melihat keadaan disekitarnya. Sebelum ia terluka, Ila lebih dulu memukul rahang kanan pangeran tersebut sehingga sudut bibirnya menjadi merah. Ia mengusap daerah yang terluka itu dengan kasar.
"Saya tau ini semua tidak ada kaitannya dengan diri saya. Tapi sebagai teman yang baik bukankah harus mendukung keputusan temannya jika itu adalah yang terbaik?" pertanyaan Ila membuat ayah pangeran Alfa semakin tidak tentu arah. Dari raut wajahnya terlihat jelas kalau ia bingung akan melakukan apa.
Seakan tahu dengan gerak-gerik putri Rose, Ila sigap menangkis semua serangan yang akan membahayakan dirinya.
"Sudah saya katakan, seujung jari kalian sentuh saya maka bersiaplah untuk bertemu malaikat zabaniyyah."
"Kamu dibiarkan semakin melunjak ya," kini putri Rose mendekati Ila lalu menunjuk tepat didepan wajah Ila.
Tentu mata Ila awalnya tertuju pada jari tersebut lalu menatap raja Shappira. Tak lama, terbitlah sebuah senyuman disana.
"Oh hebat, ayo kita beri tepuk tangan! kalian semua sudah lihatkan siapa sebenarnya putri Rose yang katanya perempuan terhormat itu? sudah terlihatkan bagaimana pribadinya? dan apa kalian tidak berpikir? kalau memang putri Rose itu tidak bersalah, mengapa pangeran kerajaan apa ini ha iya pangeran Euthoria marah dan hampir menyakiti saya? tidak mungkin kan langsung ada asap tanpa api. Bukankah itu sudah bisa kita simpulkan dengan benar dan jelas?"
Tiba-tiba dua orang cowok dengan gaya sok cool nya berjalan mendekati Ila dan Rendra yang membuat semua mata tertuju pada mereka.
"Maaf yang mulia raja, saya bukan bermaksud lancang. Tapi, apa yang dikatakan oleh perempuan ini memang benar. Putri Shappira bukanlah orang yang sebaik anda kenal. Jadi, saran saya lebih baik anda batalkan saja acara pertunangan pangeran Alfa dengan putri Rose."
"Dan jika anda semua meminta alasan mengapa saya mengatakan hal itu, saya punya bukti yang kuat."
Tegar mengeluarkan hp iPhone canggihnya dari kantong dan itu lagi dan lagi membuat para undangan disana merasa terkejut dengan benda berbentuk persegi panjang yang bisa menampilkan gambar manusia.
__ADS_1
"Jadi bagaimana yang mulia? apa keputusan anda?" tanya Ila.
Raja Alam basa menatap istrinya dan putra satu-satunya. Ia bimbang, jika ia menuruti keegoisannya bisa dipastikan hidup anaknya akan hancur. Tapi, jika dibatalkan bagaimana hubungan silaturahmi kerajaan mereka?
"Saya tidak bisa berkata apa-apa. Jadi saat ini, keputusan itu hanya terletak ditangan anak saya."
"Maaf jika sebelumnya kata-kata ini ada yang menyinggung kalian semua. Tapi saya sebagai seorang putra mahkota kerajaan Istano Basa menyatakan saya akan membatalkan pertunangan saya dengan putri Rose selaku putri mahkota dari kerajaan Shappira," suaranya begitu lantang dan membuat suara semakin riuh.
Sekarang, Ila kembali mengambil alih pengatur acara.
"Semuanya diam dulu!"
Ila menghadapkan badannya pada sang raja dengan tatapan mata yang tak lepas dari ayah dan anak tersebut.
"Yang mulia, dari pada anda membatalkan acara ini yang sudah digelar secara meriah dan membutuhkan dana yang tidak bisa dikatakan sedikit ini, bagaimana kalau kita lanjutkan saja acara pertunangan ini?"
Sang raja dan juga pangeran menaikkan alisnya heran. Mereka berdua saling menatap lalu tatapan mereka kembali pada Ila.
"Acara pertunangan ini akan tetap dilanjutkan tapi dengan perempuan yang berbeda."
"Tentu saja saya," Ila langsung terbahak mendapatkan pelototan mata dari pangeran Alfa. Enak aja nih anak minta tunangan langsung.
Mendengar deheman dari Rendra, mendadak Ila langsung tersadar kalau ternyata dia berada dibawah pengawasan.
"Canda kok. Mana mau saya bertunangan dengan dia."
"Tegar! Lo bawa dia kesini!"
Semua orang penasaran dengan wanita yang dimaksud oleh Ila yang akan menjadi mempelai perempuannya.
Selangkah demi selangkah seorang gadis dengan pakaian khas seperti pendekar maju dengan gagah berani sambil pedang yang terselip di pinggangnya.
__ADS_1
"Arilla?" beo pangeran Alfa dengan matanya yang berbinar. Ia tidak menyangka dengan suprise yang diberikan oleh adik yang tak dianggapnya itu.
"Kenapa kalian semua memandangku?" Arilla merasa tak enak dengan pandangan itu. Ia merasa seperti tersangka saja.
"Riri?" panggil permaisuri Shappira dengan mata yang tengah menatap tak percaya. Ia terus memandang Arilla.
Mata Arilla jadi tertuju kepada satu sosok, yaitu ibu Rose. Lututnya terasa begitu lemas dan hatinya seketika menjadi rapuh dengan panggilan itu.
Flashback on
"Kak, kau yakin kita akan jalan-jalan disini? nanti kalau ibu marah bagaimana? aku tidak mau sampai kena hukum sama ayah dan ibu," ujar seorang gadis kecil berumur lima tahun yang tengah mengikuti kakaknya yang punya jarak umur empat tahun lebih tua darinya.
"Ih, kamu tidak percaya sama kakak?" tanya kakaknya dengan raut wajah yang kesal. Sepertinya ia kewalahan dengan sifat bawel adiknya.
"Tapi ini hari sudah mulai gelap kak. Aku takut!"
"Jangan jaid pengecut kamu Arilla!" bentak Rose yang kala itu adalah kakaknya Arilla. Sekuat apapun anak kecil, mereka sudah pasti terdiam jika telah dibentak. Begitu juga dengan Arilla kecil, ia juga anak-anaknyang gampang takut seperti pada umumnya.
Tiba-tiba kaki Arilla tertungkai oleh sebuah ranting yang cukup besar yang membuat gadis kecil itu menjadi terjatuh.
Melihat hal itu, tanpa adanya rasa belas kasih Rose malah begitu tega meninggalkan Arilla kecil yang memanggil namanya untuk meminta tolong. Ia pura-pura tidak terdengar saja. Ia anggap suara itu adalah suara setan yang akan menyesatkannya.
"Kakak! tolong Riri kak! Riri takut!" teriak Arilla namun Rose malah santai-santainya berjalan mengikuti arah cahaya.
Saat sampai di rumah, Rose malah bersandiwara membuat kisah tragis kematian Arilla yang di katakannya dimakan oleh hewan buas. Mendengar hal itu tentu saja sebagai seorang ibu, permaisuri kerajaan Shappira yakni permaisuri Diona tertekuk lemas dengan air mata yang melimpah. Arilla adalah anak perempuan satu-satunya yang sangat ia sayangi bahkan begitu ia manjakan.
Hati Diona benar-benar hancur mendengarkan hal itu. Dengan dada yang bergejolak, Diona melangkahkan kaki dari ruang tersebut namun langsung dicegat oleh Rose. Ia berkata kalau apa yang dilakukan oleh Diona itu sudah terlambat dan tak ada gunanya lagi. Lagian kalau mau kembali ke hutan, hari sudah gelap. Jika dipaksakan maka Diona pun akan tersesat juga.
Bersambung...
Terus baca ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!
__ADS_1
Jangan lupa untuk tekan tombol like, beri vote and coment serta kasih bintang 5!
Thank you so much!