
Bukannya ketakutan, Ila malah berdecih melihat tingkah konyol cowok tersebut.
"Ck, ganggu aja," gerutu Ila menatap sereng orang dibelakangnya.
Orang itu tidak menampakkan dirinya. Bahkan ia melakukan hal yang lebih parah.
Ia mendorong kursi yang diduduki Ila sehingga badan Ila serasa terguncang dan hampir jatuh jika saja cowok tersebut tidak memegang kursinya.
"Ketlay!" teriak Ila yang memancing tawa Erik.
"Cieee... nyebut-nyebut si Ketos. Kangen ya?" goda Erik yang membuat Ila memalingkan wajahnya.
"Nggak, ngapain aku kangen ama orang aneh yang nggak jelas kaya dia,"
"Eiiit, hina dia nanti jodoh loh," goda Erik balik.
Ila menepuk tangan Erik karena kesal. Enak saja Erik mempermainkan dirinya, walaupun nggak terkejut amat tapi rasa malunya timbul karena menyangka Erik adalah Rendra.
"Lagian napa sih main dorong-dorong kursi Ila,
kalau jatuh abang mau tanggung jawab? mau kena kasus?"
Hahahaha, dasar Ila! sempat juga bicara ngakak walau masih trauma dengan candaan Erik.
"Kenapa? mau ngadu ama bang Rendra sang ketua OSIS SMP Academy?"
"Waw, tapi sayangnya tadi gue ngelihat ada yang mepet loh ama Rendra," ujar Erik dengan wajah yang serius.
Ila menoleh, menatap Erik. Apa pula yang dibicarakan oleh Erik? tadi dia bercanda sekarang serius.
"Kenapa sih banyak para ciwi yang jatuh cinta ama Trio cool? padahal, mereka itu aneh dan nggak berkejelasan, alay lagi," pikir Ila masih melihat Erik.
"Ouh tentu, siapa yang nggak terpesona dengan ketampanan, kecerdasan dan bakat kami. Apalagi saat kami bermain basket ataupun voli.
Mesti semuanya udah sampai duluan sebelum kami ada di lokasi," celetuk Erik membanggakan gengnya sekaligus dirinya.
"Lihhh, uuuuuuuu sombong! pamer!" ucap Ila menyoraki Erik.
"Iri? tirulah!" jawab Erik dengan nada yang terayun-ayun.
"Apolah ko? orang iri bilang bos! ini iri tirulah!"
"Dasar nggak nyambung! tolalit!"
"Eiiit, caci orang nanti kealami sendiri bau tahu rasa!"
"Hmmmmh," rajuk Ila dengan menyedekapkan tangannya di dada.
"Ganteng tapi fakeboy, huft percuma! banyak kelebihan namun tebar pesona, nggak da guna!" umpat Ila dalam hati.
Erik menjadi kesal karena ucapan Ila. Walaupun berbicara dalam batin, mereka memiliki kelebihan yang sama, yaitu bisa mendengar suara hati seseorang dan membaca pikirannya.
"Buset! tajam kali mulutnya lek,"
"Apa nggak mikir dia orang kesinggung ama ucapannya?"
"Ya mikirlah. Emang abang?"
"Apa?"
"Nggak ada. Angin lewat," ucap Ila dan menatap Erik sweatdrop.
"Angin lewat apa perasaanmu yang hebat pada Rendra?" terus dan terus Erik menggoda Ila. Selagi ada kesempatan ngapain harus dirugikan?
"Erik!"
"Akhhhhh, udah ah! capek! gue capek!"
__ADS_1
"Dahlah gue pergi! bye!"
Hah? ternyata godaan Erik bisa membuat seorang Ila salting berujung frustasi? apa betul? sejak kapan sang bintang sekolah seperti itu?
"What? nggak salah dengerkan gue?" gumam Erik yang masih bingung dan pura-pura tidak mengerti.
*****
"Tuh anak ganggu mulu! nggak bosan apa kerjanya hanya ganggu ketenangan orang?"
gumam Ila yang masih kesal, sampai-sampai ia menjadi bicara sendiri saat ini.
"Cie yang lagi marah, ululu..." ucap seseorang yang tak diinginkan kehadirannya secara tiba-tiba. Sungguh seperti jelangkung saja, datang tak dijemput pulang tak diantar.
Ila memutar bola matanya dengan malas, seakan sudah tahu dengan suara siapa.
"Ada apa nih? lagi kesel ya?" tanya Windi dengan cengiran khasnya yang tengil dan menyebalkan.
"Shuuuuut!"
"Nggak lagi seneng!" jawab Ila jutek. Pertanyaan Windi malah membuatnya tambah kesal.
"Kamu napa sih? marah-marah mulu."
"Tanya aja sama besti kamu sana!"
"Besti?" tanyanya tidak mengerti dengan ucapan sahabatnya.
"Siapa lagi kalau bukan Erik si fakeboy,"
"Hah? sejak kapan aku temanan ama dia? bicara aja jarang," gumam Windi.
...****************...
Terlihat seorang gadis sedang memperbaiki jilbabnya dikaca WC. Ia memasang hijabnya dengan sempurna, tentunya disertai dengan anak jilbab.
Disisi lain, tiga orang yang tampan lagi kece juga kelihatan. Mereka menyisir rambut kebelakang sehingga terkesan cool dan tersirat ketampanan dari wajah mereka.
Tidak disangka, ternyata laki-laki juga bercermin. biasanya kan perempuan yang selalu ribet dengan penampilannya hingga harus membutuhkan kaca untuk bercermin.
"Kalian ribet amat sih! kaya ciwi-ciwi aja," ujar Rendra menggerutu.
Kenawhy? karena sudah seperempat jam waktunya habis hanya untuk menemani mereka-mereka menyisir rambut.
"Gue cowok bukan cewek," balas Akbar.
"Iya, enak aja lo ngatain kami ciwi! nggak nampak apa gue udah seganteng ini? harusnya lo tuh bangga berteman dengan gue! bwahahahahaa!" ucap Erik dengan PD nya yang tinggi kemudian ketawa nggak jelas.
Rendra dan Akbar menatap Erik sweatdrop. Bahkan juga menggeleng-gelengkan kepala dan bertanya dalam hati.
"Ya Allah ya Tuhan, apalah salah hamba hingga engkau beri hamba teman seperti dia?" batin mereka serentak.
"Oh ya, udah seminggu ini gue jarang lihat Ila, kalian ada nampak?" tanya Akbar tiba-tiba.
"Kemarin gue ketemu dia, tapi dia marah sih."
"Marah kenapa Rik?" tanya Akbar lagi.
"Hehehehe, biasa! lo tau ajalah!" jawab Erik sambil menyengir.
Rendra menyipitkan matanya. Ia tahu persis kelakuan temannya yang satu ini, sangatlah tengil dan jahil.
"Jangan bilang lo ngegoda dia?" tanya Rendra tepat sasaran.
"Gue bangga ama lo Ren, emang lo teman yang paling ngertiin gue deh," ujar Erik mendramastis sambil menepuk-nepuk bahu Rendra.
Hadeh. Emang deh Erik ini suka nyari gara-gara.
__ADS_1
Kenapa sih dia nggak mikir dua kali? yang ia hadapi itu duo harimau bukan duo keket.
"Yo wes, tapi nggak usah lah lo marah! palingan kesalnya bentar aja kok! lagian gue lihat dia sepertinya lagi stres. Makanya, sebagai abang kelas yang baik gue ngajak dia happy. Kan stresnya jadi berkurang," ucap Erik menambahkan dengan berbicara tanpa mengambil nafas.
Rasanya ingin saja Rendra menerkam Erik. Ingin saja ia marah, namun untung saja ia masih sayang.
*****
"Kalau nggak salah, ada yang janggal dengan buku kemaren,"
"Masa yang dibahas terus aja tentang sekolah ini,"
"Sungguh sekolah ini punya seribu misteri yang nggak pernah aku mengerti,"
"Tapi, semua misterinya itu diluar naluri manusia aja,"
"Tapi jujur aku tertarik untuk menulusuri sekolah ini,"
"Baiklah, misi dimulai!"
Ila bergumam sendiri memikirkan banyak hal yang ganjil menurut dirinya.
Ila terus berjalan dan terhenti di depan kelas lX.B. Ia melihat sepasang manusia yang segenerasi dengannya sedang berduaan.
Ila mengenal mereka berdua. Karena bisa dibilang ia berteman dengan kakak kelasnya. Jadi umumnya ia mengetahui nama-nama mereka.
"Dari mana aja?" tanya Grasia jutek sembari terus melihat bukunya.
"Dari minimarket," jawab Haskara santai.
"Ngapain?" tanyanya tetap dengan nada ketus.
"Ada yang dibeli,"
"Nih untuk kamu," ucap Haskara mengulurkan es krim yang tadinya disembunyikan di belakang punggung.
Grasia mengangkat kepalanya dengan malas, namun seketika matanya langsung berbinar dan terukir senyuman yang manis diwajah cantiknya.
"Untuk aku?" tanya Grasia menatap Haskara.
"Hmmm,"
"Itu harganya Rp.20.000,00" ucap Haskara.
"Thank you darling. You are always the best,"
ucapnya menerima es krim tersebut dengan senang hati.
Haskara memang tersenyum, namun pikirannya sekarang ini sedang bergelut memikirkan hal yang aneh.
"Sumpah deh! gue gak habis pikir ama cewek.
Tadi ngambek, udah dikasi sesuatu tiba-tiba aja
langsung ceria. Mood mereka selalu aja berubah-ubah, hadeh..."
Mendadak Ila tertawa dalam hati. Ia merasa terhibur dengan adegan antara Grasia dan Haskara.
Bersambung...
Terus baca ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!
Jangan lupa untuk tekan tombol like, beri vote and coment serta kasih bintang 5 ya!
Ouh ya, jangan lupa untuk mampir ke novel aku yang lain!
Judulnya: Karin the Mafia Girl
__ADS_1
And thanks