Misteri Buku Tua

Misteri Buku Tua
Cari keributan


__ADS_3

"Nih bang Askar ikhlas nggak ngasih es krimnya?"


"Pake bilang harga segala, apa artinya dia minta gantiin duitnya?" gumam Ila sembari menutup mulutnya tertawa.


"Tapi, akhhhhhhh!! apa yang aku pikirin?" celetuk Ila yang sempat merasa iri melihat kehangatan Haskara pada Grasia.


"Sepertinya aku harus segera pergi dari sini sebelum mereka berdua membuatku jadi panas!" ujar Ila lalu melenggang pergi.


Dasar aneh! tadi dia menertawakan mereka, sekarang iri pula melihat keuwuan mereka?


tapi, sekarang yang terpenting saat ini ia harus beranjak dari depan kelas lX.B, lagian ada hal yang ingin ia cari tahu.


*****


Langkah demi langkah Ila susuri melewati lorong di belakang kelas Vlll yang katanya cukup angker.


Akan tetapi, ternyata itu tidaklah hoax. Emang betul apa yang terdengar oleh Ila saat ini, tempatnya penuh dengan berbagai makhluk gaib yang tak akan tampak oleh orang awam.


Rasanya ingin balik, tapi kaki sudah terlanjur melangkah ke daerah sini. Susah rasanya jika ia mundur sebelum menemukan petunjuk.


Kadang Ila bertanya-tanya, mengapa sih ia bisa melihat makhluk halus? bahkan orang tuanya sendiri tak pernah mengatakan kalau ia bisa melihat hantu semasa kecil.


Biasanya, anak indigo akan terbuka kembali mata batinnya ketika akan beranjak remaja.


Tapi, Ila merasa jika melihat hal-hal tersebut seperti tidak asing lagi baginya.


Brakkkkk


Terdengarlah bunyi seperti motor yang menabrak dinding gang itu. Ila yang kaget langsung menoleh kebelakang dan apa yang dilihatnya?


Ia melihat seorang remaja yang tengah menaiki motor lalu menabrak dinding. Keterkejutan itu malah bertambah saat pecahan puing-puing motor yang seharusnya kini berceceran malah menghilang tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.


"Wahai para penghuni tempat ini, gue nggak ganggu kalian tapi kalian juga nggak boleh ganggu gue!"


"Berani ganggu gue, maka gue akan lebih menganggu kalian," ujar Ila yang lebih terdengar seperti ancaman.


Setelah mengucapkannya, mendadak terdengar pula suara orang menyapu halaman dengan sapu lidi.


"Hmmmh, biasanya kalau bunyi sapu lidi itu..."


Ila menggantungkan kalimatnya dan kembali melihat kebelakang.


Ia melihat kuntilanak yang sedang berjalan dengan lambatnya. Huuuuh, sungguh mengerikan.


"Udah ah, gue pergi dulu! besok gue akan kesini lagi. Bye!" pamit Ila yang segera meninggalkan lorong tersebut dengan mempercepat langkah kakinya namun tidak berlari.


Buushhhhhhh

__ADS_1


Suara air yang mengguyur di belakang Ila. Ia menekadkan hati untuk tidak berbalik kebelakang. Bisa-bisa nama indahnya nanti yang hanya akan balik dan jasadnya berada di dalam tanah.


"Ila anak baik, kamu harus tetap jalan La, jangan lihat belakang! kamu nggak maukan hanya nama kamu aja yang balik?" gumam Ila melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.


*****


"Assalamualaikum, Ila pulang" salam gadis cantik tersebut seraya membuka sepatunya.


"Hmmmh, masih ingat rumah ternyata," jawab seorang wanita paruh baya dengan senyum dan nada sinisnya yang cukup menyakitkan.


Ila menaikkan alisnya heran, ada apa pula dengan ibunya? tiba-tiba aja bicara seperti itu.


"Apa maksud bunda?" tanya Ila dengan wajah polosnya. Ia sungguh tak tahu apa-apa.


"Emang ya kalau udah cantik, hebat, pintar dan terkenal orang jadi lupa diri, TAK PUNYA SOPAN SANTUN LAGI!" bentak ibunya dengan menekankan kata-kata tersebut.


"DASAR ANAK DURHAKA, BODOH, MUNAFIK!"


Deg


Jantung Ila seakan berhenti untuk berdetak. Dadanya begitu terasa sesak. Kata-kata itu bagaikan sebuah jarum yang tajam sehingga menyakitkan jika salah satu bagian tubuh tertusuk olehnya.


Bagaimana rasanya jika yang menghina diri kita adalah orang tua kita sendiri? terlebih lagi ibu sendiri? orang yang melahirkan kita kedunia dan sekarang dia memperlakukan kita seperti babu yang selalu diperintah? binatang yang terus dihina? bahkan benda yang selalu disakiti?


Air mata Ila berlinang. Dengan susah payah ia menahannya agar tidak tumpah. Mental yang baru saja kuat tersebut dari keterpurukan langsung diserang dengan senjata yang paling mematikan? sandiwara apalagi ini?


"BERSIHKAN RUMAH SEKARANG JUGA! ketika saya sudah sampai RUMAH INI SUDAH BERSIH!"


Hah? kok rasanya anak semata wayang keluarga Mardiansyah telah menjadi pembantu? sejak kapan? apa yang sebenarnya terjadi?


***


"*Apa yang sebenarnya terjadi? kok bunda tiba-tiba marah seperti itu? tapi jika bunda ingin menyuruhku kenapa harus marah-marah? mengapa harus menggunakan kata-kata yang menyakiti hatiku?"


"Ah, sudahlah aku harus segera menyelesaikan ini semua dan sepertinya ucapan bunda nggak main-main*,"


Akhirnya, Ila melaksanakan semua kegiatan yang seharusnya memang dilakukan oleh seorang gadis sepertinya. Karena menurut adatnya, seorang gadis harus ahli dalam pekerjaan rumah.


Setelah selesai, Ila merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tubuhnya begitu lemas karena sudah beraktivitas sehari full.


*****


Suasana yang begitu klasik. Rumah berupa pondok yang terbuat dari kayu, khasnya orang-orang zaman dahulu.


Lingkungan hijau yang alami, tak seperti saat ini. Orang-orang berpergian dengan duduk diatas kuda sambil memegang tali untuk mengendalikan arah kuda tersebut.


Di depan terdapat kerajaan yang begitu megah.

__ADS_1


Bisa dikatakan juga modern pada saat itu, namun masih klasik jika pada zaman ini.


Gerbangnya saja terbuat dari kaca yang berlapiskan emas. Menambah kesan mewah dan begitu elegan.


Ila berjalan memasuki istana itu dengan hati yang terkagum-kagum. Mungkin kerajaan ini lebih mewah dari rumah yang paling mewah di dunia pada era modern.


"Maasyaa Allaah, nih istana elit bat dah. Jalan mau masuk aja punya kolam ikan dari granit kiri dan kanan. Seperti kombinasi klasik and modern. Wow, bravo!" batin Ila dengan mata yang berbinar melihat keadaan sekeliling.


Pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya, palingan hanya ilustrasi dalam tv. Kalau ini terlihat langsung oleh mata kepala sendiri tanpa perantara apapun.


Satu langkah lagi Ila akan masuk, terdapat banyaknya prajurit yang berbaris dengan begitu rapi bak kapal pecah yang tak dibereskan. Berpakaian cukup mewah dengan tangan kanan memegang pedang dan kiri memegang tameng pelindung.


"Siapa kau?" ucap seorang prajurit menghalangi jalan Ila dengan meluruskan pedangnya di depan dada Ila.


"A-aku ingin menemui raja kalian," jawab Ila gagap. Sungguh ia sedang malas untuk berperang.


"Ada keperluan apa?" tanyanya balik dengan nada yang tetap tegas seperti tadi.


"Hmm, nggak jadi," ujar Ila membatalkan niatnya untuk masuk kedalam istana.


Bukannya membantu, malahan jawaban Ila tersebut tambah memperkeruh suasana yang sedang tegang. Mereka yang notabenenya memang seorang prajurit yang tidak mudah percaya pada orang asing semakin curiga, apalagi dengan gelagat Ila yang seperti orang takut ketahuan.


"Jika tidak ada keperluan, silahkan pergi dari istana ini!"


Wuhuy! seruannya itu menghilangkan ketakutan Ila dan menggantinya dengan sikap Ila yang terkadang toxic.


"Pergi ya pergi, nggak usah buang tenaga untuk marah-marah," sindir gadis pemberani itu.


"Jangan cari keributan ditempat ini!"


Ila menyolot prajurit berwajah songong tersebut. Harus ia apakan orang seperti itu?


"Siapa yang nyari keributan? kan tuan sendiri yang mulai perdebatan dengan saya, kok malah saya yang disalahin?"


"Ada apa ini ribut?" ucap seseorang dengan suara bariton yang khas dan penuh akan kewibawaan.


Ila heran melihat wajah songong orang yang berdebat dengannya tadi.


"Ada apa ini? kok tiba-tiba wajahnya yang tadi songong minta ampun sekarang malah menunduk?"


Bersambung...


Baca terus ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!


Jangan lupa untuk tekan tombol like, beri vote and coment serta kasih bintang 5 ya!


Ouh ya, jangan lupa untuk mampir ke novel aku yang lain!

__ADS_1


Judulnya: Karin the Mafia Girl


__ADS_2