
"Ananda, hari Kamis kita akan camping di gunung Kerinci. Jadi kalian beritahu dan minta izin sama orang tua kalian karena acaranya ini adalah selama 3 hari 3 malam," ujar seorang guru memberi informasi di aula sekolah.
"Berarti bagaimana dengan makanan untuk di sana Bu?" tanya seorang siswi.
"Hmmm, kalau masalah itu nggak usah kalian pikirkan dulu! karena besok kalian baru akan dibagi menjadi per kelompok."
"Baik bu."
Para guru di kelas masing-masing membagikan formulir untuk menginput siapa saja yang akan pergi.
"Besok kalian kumpulkan formulir ini pada ketua kelas dan ketua kelas harus mengumpulkan dulu semua formulir baru kalian berikan pada wali kelas masing-masing !"
"Perginya itu wajib bu? kalau nggak boleh sama orang tua gimana?" tanya salah satu siswa.
"Perginya itu nggak wajib. Jadi terserah kalian ingin pergi atau nggak."
Teet teet teeeeeet
Bel istirahat berbunyi. Shaletta langsung pergi ke rooftop sekolah. Tak lupa ia juga membawa beberapa makanan ringan.
Saat ini cewek tersebut sedang menikmati hembusan angin semilir yang menerpa wajah cantiknya. Mukanya begitu teduh untuk dipandang.
"Woy! ngapain lo?" kejut seseorang membuat Shaletta menoleh ke belakang.
"Nggak ada. Sama siapa lo ke sini?"
"Tuh," ucap Reno menunjuk teman bobroknya.
"Ngapain lo di sini?" tanya Reno. Nggak biasanya tuh anak nyantai duduk di atap.
"Nggak ada."
"Kalian ikut camping?"
"Pasti, rugi kalau nggak. Kesempatan nggak datang dua kali," ujar Adam.
"Tentu, apalagi kalau camping kan otomatis libur sekolah," sindir Rizal.
"Eh, lo nggak bosan apa belajarnya dalam ruangan terus? gue aja suntuk lama-lama dalam kelas."
"Itu makanya, belajar tuh yang ikhlas!" tambah Shaletta terkekeh.
"Woy, gue ada dapet info tentang tempat yang akan kita gunakan untuk camping."
Saat ini Rizal berada dalam mode sinyal 5G.
"Kenapa dengan tempat camping kita?" tanya Shaletta yang juga ingin tahu informasi dari Rizal.
"Buruan! gue nggak punya waktu untuk menunggu lo diam," desak Adam tak sabaran.
"Jadi gini, tadi gue nggak sengaja lihat di internet kalau gunung Kerinci itu penuh hal mistis loh."
"Yang benar?" tanya Gema memastikan.
"Iya, nggak mungkin gue ngebohongin kalian," ucap Rizal dengan tampang seriusnya.
"Heleh, lo aja tadi bohong tentang tugas IPA," ujar Reno membuat Rizal menyengir.
"Bentar! jadi kita diajak camping ama guru ke gunung Kerinci?" tanya Arya dengan polosnya.
Adam menganga lalu menepuk jidatnya.
"Ya ampun Ya, lo nggak dengar apa yang dibilang guru tadi?"
"Dengar sih tapi hanya setengah. Lagian gurunya sih suaranya kecil amat."
"Bukan suara bu Rina yang kecil tapi lo nya aja yang gak fokus," ucap Dhanil membenarkan.
"Tapi dari mana lo dapat informasi itu Zal?"
Shaletta membuka suaranya kembali. Ia juga tertarik dengan informasi yang baru saja disampaikan oleh Rizal.
"Tadi gue cari di google. Gue nggak tahu gimana gunung Kerinci itu, jadi ya lebih baik searching aja."
"Lo yakin berita itu pasti?" tanya cewek itu lagi.
"Ya, gue yakin itu nggak main-main,"
Rizal meyakinkan Shaletta dengan menunjukkan hasil pencariannya barusan.
"Hoy! lo nyusup bawa HP lagi ya?" ucap Adam dengan matanya yang membulat. Rizal hanya menyengir.
"Ck-ck-ck! lo itu ketua kelas. Seharusnya lo itu jadi teladan sama murid yang lain! nah, ini lo sendiri aja bawa hp. Jadi, jangan salahin kalau yang lain juga bawa HP."
Shaletta dan anggota The geng's Six yang lain ternganga mendengar perkataan Adam yang begitu bijak.
"Waw, kesambet apa lo Dam?" tanya Rizal.
"Iya, tumben lo jadi bijak gini," tambah Ryan.
"Nggak biasanya," ujar Reno.
Adam malas melihat tatapan teman-temannya.
"Apa? ngapain kalian ngelihat gue gitu?"
"Nggak ada, semoga lo nggak demam Dam. Gue takut nanti kalau lo demam, lo nggak bisa ikut camping," ucap Rizal yang lebih terdengar seperti mengejek.
"Gue nggak peduli. Terserah kalian."
"Kita harus punya persiapan untuk camping ke gunung itu," ujar Ryan.
__ADS_1
"Gue yakin kita nggak akan kenapa-kenapa selama kita selalu berdoa dan nggak takabur serta menjaga sikap selama berada di sana," ucap Shaletta.
"Gue setuju sama ucapan lo Sha," dukung Gema.
"Gue denger Minggu lalu katanya ada 2 orang pendaki yang hilang, 9 meninggal dunia dan 2 orang sedang sakit yang nggak jelas aja," Rizal kembali memberi informasi.
"Nah, karena itu kita nggak boleh sembarang sikap aja di sana. Kalau nggak mau punya nasib yang sama kayak mereka. Dan mungkin
ini akan menjadi tur yang paling menyenangkan sekaligus menyeramkan,"
tambahnya.
"Kalau lo gimana Sha? lo ikut nggak?" tanya Adam berharap Shaletta juga akan ikut.
"Belum tau."
"Eh, woy! 2 menit lagi bel bunyi!" ucap Rizal.
"Dah, kuy ke bawah!"
......................
Shaletta terlihat sedang mempacking
barang-barangnya. Ia membawa tas carrier yang kira-kira bisa menampung bawaannya selama 3 hari.
Tak lupa, ia juga membawa powerbank dan mengisi daya hp nya sampai full.
Pokoknya semua barang barang yang ia rasa perlu telah dikemasnya. Rasa kantuk menyerangnya membuat ia menghentikan aktivitasnya.
"Hauhh, kayaknya gue harus tidur."
Shaletta beranjak dari tempatnya menuju kamar mandi. Ia melakukan ritual malamnya sebelum tidur. Namun, ketika merebahkan tubuhnya di atas kasur yang sangat empuk itu, sekelebat bayangan melintas di depan jendela multifungsinya.
Tirai bergoyang-goyang terkena hembusan angin. Bukan Shaletta namanya kalau orangnya tidak penasaran.
"Aelah, siapa sih yang nekat tengah malam
ke sini?"
"Nggak tahu apa kalau gue lagi ngantuk banget?" gerutu gadis itu.
Ia mendekati jendela itu dan membuka tirainya dengan bar-bar. Tapi sayang, tidak ada apapun yang berada di sana.
Saat akan kembali tidur bayangan itu melintas balik. Bukannya takut, hal itu malah memancing emosi Shaletta yang sedang mengantuk berat.
"Haissh, kalau mau muncul tuh muncul aja! nggak usah pakai bolak-balik di depan jendela gue segala."
Perempatan siku muncul di kepala Shaletta. Ia membuka jendelanya dan pergi ke teras balkon.
"Kalau lo ingin menemui gue nggak usah jadi pengecut gitu. Cepat tunjukin diri lo kalau lo masih mu hidup!"
Emosi Shaletta meluap-luap karena waktu tidurnya terganggu dan moodnya sedang tidak baik saat ini.
"Keluar nggak? gue udah ngantuk nih!"
Namun sebenarnya, ia merasa merinding dan hatinya terasa was-was.
Dengan asalan, ia langsung saja melayangkan pukulannya.
"Woy! bisa santai dikit nggak?!" solot seorang cowok menampakkan dirinya dan tampangnya yang kesal.
Shaletta mendengus melihat pelakunya.
"Elo! ngapain lo tengah malam ke sini?
ganggu aja! nggak tahu apa gue lagi ngantuk banget. Mana besok ada camping lagi," ujar Shaletta yang melampiaskan kemarahannya pada Abian.
"Lah, kok saya yang lo salahin?" tanyanya tidak terima.
Shaletta berusaha mengatur emosinya. Ia menarik napasnya dalam-dalam.
"Ada perlu apa lo ke sini?"
"Kapan lo camping?"
"Besok, emang napa?" ucap cewek itu ketus.
"Saya hanya ingin mengingatkan agar lo berhati-hati di gunung itu. Lo nggak boleh melanggar pantangan di sana. Tempat itu dihuni oleh berbagai makhluk halus yang sangat kuat."
"Kalau lo butuh bantuan, panggil aja."
"Nggak ah, masa minta tolong sama jin? bisa-bisa nambah dosa. Dimana harga diri gue sebagai manusia?" ujar Shaletta mendramastis.
"Ya terserah lo aja! tapi saya akan tetap ngawasin lo dari jauh."
"Udah? gue tidur ya! besok gue harus mendaki gunung dan pasti itu sangat melelahkan," Shaletta menutup mulutnya karena menguap.
"Oke, dan satu lagi lo nggak boleh sendirian di sana. Banyak para makhluk astral yang akan mengincar lo."
"Terima kasih atas informasinya. Gue pergi dulu, bye!" ucap cewek bar-bar itu melenggang pergi.
Abian hanya menatapnya tak berkedip.
"Buset bah nih anak. Malah main tinggalin aja."
......................
"Asha! cepat nak! nanti kamu terlambat," teriak Verta, bundanya Shaletta.
"Iya bun!" jawab gadis itu dari kamar.
__ADS_1
Dengan mencurahkan segenap tenaga, ia berhasil membawa semua barangnya
ke ruang tamu.
"Asha pergi ya bun!" ujar Shaletta bersalaman dengan bunda tercintanya.
"Hati-hati ya nak! jaga diri kamu! hargai adat yang ada di sana!"
Shaletta pun tersenyum menanggapi ucapan bundanya.
"Iya bun."
Verta mengantarkan Shaletta ke sekolah dengan mobil sekalian ingin ke kantor juga.
***
Di sebuah kelas terlihatlah 3 orang sedang berbincang.
"Gib, kira-kira berapa banyak orang yang akan ikut acara ini?"
"Lihat aja nanti."
"Ger, lo ada dengar mitos tentang gunung Kerinci nggak? tanya Vincent.
"Emang apa?"
"Berdasarkan searching gue di mbah Google,
tu gunung disebut-sebut gunung yang paling ramai."
"Ramai?" tanya Gibran balik.
"Ramai penghuni maksudnya. Lo gimana sih?udah bertahun-tahun bertarung sama jin tapi nggak ngerti juga yang gue omongin,"
ucap Vincent sinis.
"Gue lagi nggak ngonec. Nih otak lagi traveling."
"Traveling kemana?"
"Ntah."
Vincent yang mendengar menjadi gemas sendiri.
***
Sekarang para siswa/i dikumpulkan di depan gerbang sekolah. Hari ini adalah hari tur ke gunung Kerinci, gunung yang begitu indah.
Yang mau berpartisipasi pun cukup ramai. Oleh karena itu, para guru menyewa 10 bus besar pariwisata.
Bus tersebut bukanlah bus biasa.
Di dalamnya terdapat 2 kamar mandi dan sebuah dapur. Sungguh bus yang bisa dikatakan mewah.
"Baiklah ananda, silakan kalian masukkan barang-barang kalian ke dalam bis!"
"Kita akan pergi 20 menit lagi."
Shaletta mulai memasukkan barangnya
ke dalam bis. Ia meletakkan tas carrier tersebut di kakinya untuk sementara.
Telah 15 menit Shaletta menunggu, namun ia belum juga punya teman sebangku.
Sopir bis mulai menghidupkan mesinnya.
"Ah, gue juga nggak peduli punya teman sebangku atau nggak."
"Harusnya gue senang, gue bisa lebih leluasa tidur nantinya," batin Shaletta tidak peduli.
Karena sedang gabut nggak tahu akan berbuat apa, jadi ia memutuskan memasukkan hasil rekaman video perjalanan yang berdurasi 10 detik itu ke SG.
Baru saja di upload 1 menit, sudah 50 orang yang melihat statusnya.
6 jam kemudian...
"Waw, indah banget nggak sih?"
"Sungguh, ini tempat yang paling indah yang pernah gue temui."
"Rasanya gue nggak mau pulang."
"Gimana kalau kita selfie nih guys?"
"Iya, upload di IG."
Dan seperti itulah reaksi para ciwi-ciwi seleb yang terkesan alay.
Mata Shaletta memandang kagum gunung yang tinggi menjulang di depannya.
Sedang asik melihat pemandangan, gadis itu dikejutkan oleh beberapa orang.
"Woy! bengong mulu lo jadi orang? kesambet baru tau rasa!" ucap Vincent yang terkesan agak gimana gitu ya?
"Bukannya doain yang baik malah doain yang buruk," sindir Shaletta.
Bersambung...
Terus baca ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan cara like, vote, coment dan kasih bintang 5!
__ADS_1
Thanks