Misteri Buku Tua

Misteri Buku Tua
Ternyata Emang Benar...


__ADS_3

"Jadi lo ke sini tuh mau ngapain?" tanya Abian kembali ke topik.


"Gue hanya mau mengatakan..." Shaletta menarik napasnya.


"Kenapa tadi gue ngelihat hantu di lorong sekolah?" ujarnya secara bar-bar.


"Lah, kan di sekolah ini emang banyak hantu," jawab Abian santai.


"Tapi sebelumnya gue nggak pernah ngelihat mereka sekalipun, kenapa setelah bertemu lo gue jadi gini?"


"Kok gue yang disalahin? mungkin saja lo pernah mengambil sesuatu atau apalah itu yang agak lain."


"Maksud lo?" tanya Shaletta.


"Maksud gue mungkin saja lo pernah melakukan pantangan atau hal-hal yang berhubungan dengan hal mistik."


"Masa?" beo gadis itu.


"Udah ah! gue mau pergi, urusan gue banyak!"


Belum sempat gadis tersebut menanyakan sesuatu, hantu itu telah dulu menghilang.


"Buset, main hilang aja tuh hantu! dasar aneh!" umpat Shaletta. Ia sangat kesal karena hantu itu langsung saja menghilang.


......................


Mentari pagi mulai bersinar terang di ufuk timur. Cuaca saat ini sangatlah cerah.


Membuat semua orang semangat untuk melakukan suatu hal yang berguna.


"*Duh, kenapa angkot nggak juga lewat?"


"Padahal udah dari tadi nunggu tapi belum juga ada yang lewat."


"Emangnya gue harus gimana sih? pergi cepat harus nungguin angkot. Lah ini pergi lambat juga harus nunggu juga."


"Pokoknya, kalau gue terlambat. Angkot tuh yang gue salahin*," ucap Shaletta kesal.


Ia sudah kesal karena telah menunggu angkot dari tadi namun tidak ada yang lewat.


"Mana udah sepuluh menit gue di sini."


Tak lama kemudian, datanglah sebuah bus yang berhenti di depan halte.


Shaletta naik dengan rasa kesal. Ia terus saja melihat jam tangannya, takut terlambat dan bisa-bisanya nanti ia didenda oleh anggota OSIS dan guru piket.


"Nih angkot lamban kayak siput lagi. Pokoknya kalau nanti gue terlambat, angkot ini yang gue salahin."


Sungguh, cewek itu hanya mengomel tak jelas dalam hatinya. Ia merasa benar-benar kesal.


Akhirnya Shaletta sampai di SMA. Ia berjalan memasuki gerbang, dan ternyata Dewi Fortuna sekarang lagi berada di pihaknya.


"Alhamdulillah, kalau sampai satu menit lagi terlambat sudah bisa dipastikan gue bakal kena hukum."


Saat ini ia dapat bernapas lega. Ayolah! ia hampir saja not on time.


Shaletta bergegas menuju kelas. Namun, pembicaraan seseorang membuat ia menghentikan langkahnya.


Suara yang sangat dikenalnya membuat tubuhnya mendadak lemas. Hatinya bertambah hancur. Yang dilihatnya itu adalah sebuah kebenaran.

__ADS_1


"Ni, gue cemas banget akhir-akhir ini. Gimana kalau dia tahu tang sebenarnya? gimana kalau gue juga dipermalukan kayak mereka mempermalukan Jennifer dihadapan kepala sekolah?" tanya Sinta dengan wajah khawatirnya.


"Alah, apa sih yang lo cemasin? Jennifer udah nggak ada di sini, gimana coba mereka tahu kalau elo juga terlibat? mereka nggak bakal tahu," ucap Ani menenangkan Sinta yang pikirannya sudah dipenuhi oleh kekhawatiran.


"Tapi gimana kalau Shaletta yang langsung mengetahuinya? gue takut Ni," ujar Sinta dengan kecemasan yang makin bertambah.


"Udah! nggak usah pikirin!"


Sementara Shaletta yang mendengar itu merasa tak tahan, ia harus segera menuju lapangan untuk berbaris.


"Assalamualaikum."


Wajah Sinta mendadak pucat.


"Apa dia mendengarnya?"


Agar suasana tidak terlalu tegang, Shaletta menyapa Sinta meskipun kini hatinya merasa kecewa. Ia masih memaksakan senyumannya.


"Lo nggak ke bawah Ta?"


"O..iya, ini gue juga mau kebawah," jawabnya gagap.


Shaletta melihat Sinta yang sedang ketakutan. Ia juga tahu kalau yang dicemaskan Sinta itu adalah dirinya mengetahui rahasia yang disimpannya selama ini.


"Ternyata emang benar," batinnya.


***


Bel istirahat telah berbunyi. Para siswa/i SMA favorit itu sangat bersemangat untuk istirahat. Mereka juga lelah mendengar penjelasan guru yang berkepanjangan tanpa henti.


Entah apalah yang terjadi dengan Shaletta, sejak berbaris ia jadi lebih pendiam. Sepertinya, kenyataan yang baru saja ditemukannya itu membuat dirinya berubah.


Gadis tersebut kini berada di kantin. Ia duduk sendirian. Pikirannya menerawang.


"*Ya tuhan, kenyataan apalagi ini? orang yang gue anggap kayak saudara sendiri rupanya seorang penghianat?"


"Gue nggak pernah nyangka semua ini bakalan terjadi sama gue."


"Mulai sekarang, gue nggak akan mau lagi terlalu dekat sama orang. Apa gunanya jika mereka juga akan melakukan hal yang sama seperti orang yang udah gue percayai itu*?" tekad Shaletta bersungguh sungguh.


"Entah mengapa orang yang menghancurkan kita haruslah orang yang kita percayai sendiri," Shaletta pusing memikirkannya.


Namun, ternyata ada yang melihat keadaan Shaletta saat ini. Terlihat jelas bagi mereka, bahwa ada yang tidak beres dengan gadis yang mereka temui kemarin.


"Gib!" teriak seorang cowok.


"Lo apasih? main teriak-teriak?" ucap Gibran marah. Sementara yang kena marah hanya cengengesan.


"Lo nya aja yang dari kemarin bengong melulu. Ngapain lo kayak orang bego?"


"Bego pala lo!"


"Tega lo ngatain itu," ujarnya mendramastis.


"Vincent!"


Ya, cowok yang menganggu Gibran itu adalah Vincent.


"Apa lo manggil-manggil gue?"

__ADS_1


"Lo dipanggil belum bayar makanan," ujar Gerald.


Dan yang satu lagi bernama Gerald. Mereka bertiga terkenal sebagai Trio cool.


Wajah ganteng, tajir, cool, pintar membuat orang-orang pada kagum.


Kini, tinggal Gibran dan Gerald. Perhatian mereka berdua tertuju pada Shaletta yang sedang sibuk sendiri.


"Lo liat dia?" tanya Gibran.


"Hmmm. Lo juga?" Gerald bertanya balik pada temannya itu.


"Tunggu! gue ngerasa gak asing sama dia. Kayaknya gue kenal sama dia," ucap Gibran.


"Sama, gue ngerasa kalau dia bukan orang biasa."


"Maksud lo?" tanya Gibran heran


"Apa lo nggak bisa ngerasain?" ucap Gerald membuat Gibran menutup matanya.


"O iya, gue ingat. Dia itu yang gue tolong kemarin."


Gerald menoleh ke arah Gibran dengan ekspresi wajah yang bertanya. Gibran hanya mengangguk.


"Dari?" tanya cowok ganteng tersebut ingin tahu.


"Kemarin gue lewat dekat lorong yang menghubungkan taman belakang dengan sekolah kita. Gue awalnya memang lewat aja, tapi karena gue ngerasa ada aura negatif di sana, gue putusin aja untuk lihat keadaan.


Rupanya dia lagi diincar hantu pelajar."


"Kok gue nggak merasakannya?"


"Hawanya nggak terlalu kuat. Itu sebabnya kita nggak bisa ngerasain kehadirannya."


"Terus?"


"Saat gue lihat, ternyata tuh cewek lagi berhadapan ama hantu. Awalnya gue ingin langsung nyelamatin, tapi gue urungkan niat setelah ngelihat kalau cewek itu bukan cewek biasa. Tapi, semakin lama keadaannya semakin terdesak, gue yang ngelihat dia dalam kondisi kritis langsung aja


lontarin serangan dan itu mengenai kepalanya."


"Ngapain lo nunjukin kekuatan ke dia? lo kan nggak tahu siapa orang yang lo tolong itu. Kalau dia itu hanya perangkap bisa gawat kan?" ucap Gerald marah.


"Ya gimana caranya gue berpikir dua kali, nyawanya itu udah terancam Al. Kalau dia mati dihadapan gue gimana? lo mau tanggung jawab?"


"Hmmm, benar juga."


"Tapi gue akui sih dia itu keren."


Gerald mengangkat alisnya sebelah mendengar ucapan Gibran.


"Dia kece banget cewek. Masa ada cewek yang berani ninju hantu? palingan mah teriak," ujarnya mengingat kejadian kemarin.


"Sebaiknya kita awasi saja dia dari jauh. jika waktunya udah tepat kita akan mencoba masuk ke kehidupannya."


Bersambung...


Terus baca ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan cara like, vote, coment serta kasih bintang 5!

__ADS_1


Thanks


__ADS_2