
Hari ini cuaca sedang mendung. Sepertinya hujan sebentar lagi akan turun. Terlihatlah Shaletta sedang memperhatikan papan tulis dengan serius. Semuanya dipenuhi dengan angka.
Ya, saat ini siswa kelas X-A belajar matematika dengan bu Rita.
Tampaknya, anak-anak berubah menjadi kalem kalau bersama dengan guru killer tersebut.
Saking kalemnya, mereka tidak mau mengakui kalau mereka itu tidak mengerti sama sekali dengan apa yang dijelaskan bu Rita.
Bagaimana tidak takut? tatapannya saja seakan mau membunuh orang saat itu juga.
Shaletta tiba-tiba merasa kebelet pergi ke WC untuk buang air kecil. Karena 5 menit lagi akan istirahat, jadi dia langsung saja izin
ke meja guru.
"Bu, saya izin ke WC!"
"Silahkan! tapi jangan lama-lama!"
Shaletta bergidik ngeri, tatapan guru itu selalu saja tajam.
Gadis itu bersyukur ia diizinkan untuk pergi.
Sebenarnya ada hal lain yang ingin ia lakukan,
namun dia juga tidak bohong kalau saat ini ingin buang air kecil.
Shaletta terus berjalan, ia saat ini berada di koridor kelas Xl.
Entah bernasib untung, para siswa kelas Xl-B
sangat senang ketika melihat Shaletta masuk ke dalam kelasnya.
"Assalamualaikum," gumam cewek itu berjalan didepan kelas.
Suasana yang semula tenang jadi riuh karena teriakan para cowok. Kayak ciwi aja.
"Woy! most wanted sekolah ke sini."
"Kamu cari abang ke sini dek?"
"Sumpah, jijik gue denger lo."
"Minta nomor WA nya dek."
"Lo mau nemuin gue?"
Shaletta tidak mempedulikan teriakan mereka seperti Gerald yang tidak mempedulikan teriak fans nya.
"Ngapain lo ke sini?" tanya Gerald datar.
"Siapa yang lo cari di sini ? gue?" tanya Vincent dengan PD yang tinggi.
"Aelah, PD amat lo jadi orang," itu adalah tanggapan salah satu cowok yang menyoraki Shaletta.
Itu alasan sebenarnya Shaletta malas
ke kelas Xl. Pasti akhirnya digodain.
Selain pusing mendengar ucapan para siswa,
ia juga merasa tidak nyaman dengan tatapan para siswinya.
Gerald yang peka dengan hal itu, segera membawa Shaletta keluar dari kelas dan diikuti oleh dua temannya.
Tanpa disadari, ternyata ada sekumpulan siswi yang menatap iri pada Shaletta. Tapi apa boleh buat? mereka tidak mungkin akan menyingkirkan Shaletta. Jadi mereka hanya bisa iri saja.
"Ngapain lo ke sini?" tanya Gerald.
Mendengar pertanyaan Gerald, Shaletta menjawabnya dengan jujur.
"Mau tebar pesona," ucapnya datar.
"Hah? maksud lo?"
"Apa lo pikir dengan begitu lu akan populer?"
suara Vincent langsung tinggi.
"Gue kan emang populer. Tuh buktinya gue punya banyak fans. Nggak kalian aja kali yang populer," ucapnya memancing emosi para Trio cool.
"Lo itu dibilangin malah ngejawab. Apa
lo sengaja masuk ke kelas kita mau caper ama yang lain?" ujar Vincent.
Shaletta mau tertawa tapi ditahannya. Ia tidak menyangka geng yang terkenal akan sifat cool itu bisa juga cemburu.
"Kalian cemburu?"
Para Trio cool langsung membuang wajah mereka. Nih anak malah kegeeran lagi.
"Lo PD amat jadi orang. Kegeeran lo!" ucap Gerald yang ikut nimbrung.
Shaletta langsung cemberut.
"Gue mah bercanda."
"Jadi ngapain lo ke sini?" tanya
cowok itu kembali serius.
"Gue bosan di kelas, jadi minta izin aja ke WC sekalian refreshing. WC perempuan kan
di ujung. Lagipula mumpung di luar, gue bisa lewat kelas Xl," jelasnya panjang lebar.
"Bentar! jadi lo bohong sama guru?" solot Vincent.
"Yo ndak lah, gue memang ingin ke WC."
"Halah bilangin aja lo mo melihat kita kan?" tebak Gibran membuat cewek itu menepuk jidatnya.
"Kok kalian narsis banget sih?"
"Berarti gue nggak boleh ke sini?"
"Oke, gue pergi," ucap Shaletta datar.
__ADS_1
"Terserah lo!" jawab mereka bertiga serentak.
" Kalau nggak salah, dulu setau gue nih orang terkenal karena cool, dingin gitu, tapi kenyataannya malah berbanding terbalik,"
gumam Shaletta.
"Sebentar! coba kalian semua ikut ama gue!" ucapnya.
"Ke?" tanya Gibran.
Shaletta tidak menjawab, ia hanya terus berjalan sampai tiba di depan gudang.
"Gue merasakan aura negatif di sini," ujar Shaletta mengatakan apa yang dirasakannya.
"Kita juga. Tapi kenapa lo bisa merasakan aura jahat dari jauh?"
Lagi dan lagi pertanyaan Gibran tidak digubris oleh Shaletta.
Cewek itu meletakkan telunjuknya di mulut.
Ia langsung menarik tangan para Trio Cool sembunyi di sudut tembok.
"*Wah, dari mana lo tahu mereka akan muncul?" tanya Vincent.
"Gue bisa merasakannya saat mereka tadi mendekat."
"Lo juga bisa telepati?"
"Hmmm*."
"Hahahaha, lo nggak boleh gitu dong Rainaku sayang!"
Seorang perempuan menyentil dagu Raina yang sudah dipegang oleh anak
buahnya.
"Apa emangnya salahku padamu Hera?" ucap Raina menangis.
"Jangan sok nggak tahu ya lo!"
"Lo pikir dengan mengubah penampilan lo,
lo bisa deket sama Gerald? bukan hanya Gerald tapi dua temannya juga."
"Emangnya aku nggak boleh nanya sama mereka?"
Plak
satu tamparan keras terdengar begitu nyaring. Raina hanya bisa menahan rasa sakitnya itu.
Shaletta yang tidak tahan melihatnya langsung keluar dari tempat persembunyian.
"Kak, lo jangan kasar sama dia!" ujar Shaletta.
"Ehh, ternyata ada yang ngebantu elo deh Rai," ucapnya tersenyum licik.
Tapi setelah dia teliti lagi ternyata dia kenal dengan Shaletta.
"Ehh, lo itukan adik kelas yang lagi deket sama Trio cool kan?"
"Hoy, jawab dulu pertanyaan Hera!" ucap salah satu temannya.
Tiba-tiba Raina diam tak bergeming, tubuhnya terangkat ke atas dan kembali ke bawah setelah sesuatu keluar dari badannya.
"Hihihi, kalian harus mati!" ucap setan yang keluar dari tubuh Raina dengan nada yang mengerikan.
Mereka kaget setengah mati.
"Ha-ha-hantu!" teriak mereka lalu berlari keluar dari gudang.
"Kemana kalian akan lari? sini kalian!"
Rambut hantu itu membalut tubuh orang-orang yang tadinya menyakiti Raina.
Sementara Raina telah pingsan sejak hantu itu keluar.
"Woy, hentikan!" teriak Shaletta dengan berani.
Semenjak ditemukannya buku tua di perpus dan melihat banyaknya hantu di taman belakang sekolah untuk pertama kalinya, tingkat keberaniannya lumayan meningkat.
"Hihihi, aku tidak punya urusanmu denganmu.
Pergi dari sini!" hantu tersebut menyerang Shaletta.
Namun, gadis itu mengelak dengan mudahnya.
"Aakkkhhh! akan kuhabisi kalian semua!"
para gadis tadi dilepasnya dalam keadaan pingsan.
Dengan gagah berani para Trio cool melindungi Shaletta dan berhasil melumpuhkan hantu itu.
Saat akan mengakhiri hidup hantu itu, Shaletta melarang mereka.
"Tunggu!"
Cewek itu mendekat ke arah hantu tersebut.
Dia memegangnya dan masa lalu orang itu terlihat di pikiran Shaletta.
Di sebuah ruangan...
"Hmmm, sepertinya ini gudang sekolah deh!"
Shaletta terus berjalan dan mendengar teriakan seseorang.
"Tolong jangan sakiti aku! apa salahku?" ucap seorang gadis yang dipegang oleh beberapa orang dengan histeris.
"Hahaha, kau itu harus mati!" jawab gadis yang sedang menyiksanya.
"Tapi apa salahku?"
"Salahmu? kenapa kau merebut perhatian orang tuaku hah?!" ucapnya mulai emosi.
"Tapi aku tidak bermaksud..."
__ADS_1
"Aku tidak mau mendengar penjelasan kau! hari ini juga, kau harus mati!"
Perempuan tersebut menyiksa seorang gadis yang sudah terlihat lemah.Dan di satu pukulan terakhir, gadis itu terbaring di lantai.
Perempuan tersebut memeriksa urat nadi korbannya.
"Yes, akhirnya hidupku akan terasa indah tanpa adanya kau yang menganggu kehidupanku."
Sebelum pergi, perempuan itu menyeret gadis yang telah meninggal ke dalam lemari tua yang sudah tidak terpakai lagi untuk disekap.
Shaletta kembali ke waktu semula.
"Oh, jadi kamu itu dibunuh oleh temanmu kak?"
"Haaaa, apa urusanmu? pasti kamu juga akan menyiksaku kan?" tanyanya dengan air mata.
"Tidak! jangan berpikiran seperti itu! aku akan memindahkanmu ketempat yang seharusnya."
Shaletta kemudian berlari mendekati lemari yang berada di sudut gudang. Ia membukanya dan ternyata benar, terlihat jasad seorang gadis memakai baju SMA dengan bau busuk yang menyengat hidung.
Dengan kekuatannya, cewek pemberani itu memindahkan tubuh tersebut ketempat yang seharusnya.
Arwah itu tidak lagi jelek. Tubuhnya bersinar.
"Terima kasih, kau telah membuatku tenang sekarang," ucap Raina dan menghilang.
Tiga cowok yang bungkam dari tadi akhirnya membuka suara.
"Dari mana lo belajar melakukan itu?"
tanya Vincent dengan mata berbinar.
"Tapi hantu apa itu?" tanya Gerald heran.
"Penunggu gudang sekolah," jawab Shaletta dengan santainya.
"Dari mana lo tau namanya?" tanya Vincent dengan menyipitkan matanya.
"Ntah, yang jelas itu adalah penunggu gudang sekolah."
"Gue sedih sih ngelihat dia, tragis amat akhir hidupnya. Padahal masih muda."
"Sama Gib. Gue juga kasihan ngelihat dia, padahal dia nggak ada salah," ujar cowok banyak drama itu menambahkan.
"Dah! kuy pergi sebelum mereka ngeliat kita!"
Empat penyelamat itu segera meninggalkan gudang yang menyeramkan tersebut.
Mereka menuju ke arah kantin.
Sampai di tempat tujuan mereka jadi pusat perhatian. Bukan hanya di kantin, tapi
dimana pun berada mereka akan selalu menjadi pusat perhatian.
"Bi, pesan nasi goreng dan air mineral 4 ya!"
"Siap atuh neng!"
Mereka berempat pergi menuju meja kosong yang terletak di sudut.
"Kalian dapat kekuatan seperti itu?" tanya Shaletta kepo.
"Sekarang kita nanya balik ama lo, dari mana pula lo dapat kekuatan itu?" tanya Gerald balik. Jangan lupa dengan wajah dan tatapannya yang selalu datar.
"Ntah."
"Tapi gue akui, lo keren juga tadi," puji Vincent.
"B aja kok. Banyak orang yang memiliki kelebihan yang lebih hebat dari itu."
"Lo yang ter best!"
"Tapi, apa mereka ingat kalau mereka udah di tangkap oleh makhluk halus?" tanya Shaletta. Ia tak mau diingat oleh orang-orang yang ditangkap makhluk tadi.
"Nggak, mereka tidak akan mengingat apa-apa mulai dari mereka membawa Raina ke gudang."
"Lo yakin?"
Gerald mengangguk.
"Cewek-cewek yang tadi ngebuli gadis itu, fansnya kalian?"
"Ingat! lo juga cewek woy!" ujar Vincent terkesan tidak santai.
"B aja kali!"
"Ouh ya, nanti kalian ada waktu?"
"Ada? napa?" tanggap Gerald.
"Boleh nggak temanin gue ke perpus?"
"Ngapain?" tanya Gibran dengan tampang polos.
Shaletta pun menepuk dahinya.
"Haelah, yang namanya ke perpus udah tentu minjam dan baca buku."
"Ouh, gue sangka main-main gitu atau minta ajarin gitu atau semacamnya"
Shaletta menatap tajam Gibran.
"Nggak usah aneh-aneh deh!"
"Pesanannya datang!" ucap bibi kantin sambil membawa nampan berisi makanan yang dipesan.
"Terima kasih bi!" ujar Shaletta dan bibi kantin itu tersenyum lalu melenggang pergi.
Bersambung...
Terus baca ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan cara like, vote, coment serta kasih bintang 5!
Thanks
__ADS_1