
"Aduh, kabur nggak ya?" bimbang Ila dalam hati.
"Sekarang hanya ada satu dalam pikiran gue,"
Ila langsung lari sekencang-kencangnya, Rendrapun dibuat terkejut.
"Woy, jangan lari lho ya!" teriak Rendra sambil mengejar cewek tersebut.
Ila terus berlari sekuat tenaga, namun nihil keberuntungan tidak berada dipihaknya, didepan dan disampingnya terdapat tembok.
"Mau lari kemana juga lho?" tanya Rendra terus mendekati Ila.
Ila menoleh kebelakang, bisa dilihatnya Rendra yang makin lama makin mendekat.
"Macam-macam lho gue habisin ntar!" ancam Ila membuat suara yang berbeda.
Rendra terus mendekat, jarak mereka sekarang hanya 25 cm. Ila menempelkan telapak tangannya ke dinding sambil memalingkan wajahnya kesamping.
Secara mendadak, Rendra menyentil kening Ila
yang membuat si empunya melotot.
"Apa-apaan sih lho nyentil dahi gue seenak jidat?"
Rendra tersenyum yang akan membuat kaum hawa menjadi pingsan.
"Udah gue duga, nggak usahlah lho pake nyamar lagi!" ujar Rendra yang menarik kacamata Ila.
"Anak emas para guru dan primadona sekolah kok prilakunya kayak gini?" cibir Rendra.
"Eh, diam aja lho ya! kalau nggak gue sumpal tuh mulut pedes amat kaya bon cabe yang dikasih ama balsem," kesal Ila.
"Emang apa rasanya kalau bon cabe dikasih balsem? udah pernah coba nggak?" goda Rendra.
"Dasar lho ketsis nyebelin," gerutu Ila.
"Ya Allah ya Tuhan, apalah salahku sehingga kau pertemukan diriku ama cowok aneh kayak dia?" ucap Ila mulai mendramastis.
"Huft, dasar lho ratu drama," ejek Rendra lagi.
Ila mendorong Rendra namun tidak berhasil.
Ia menyenggol cowok tersebut hingga akhirnya memberikan jalan untuknya.
"Mau kemana lho main nyelonong pergi aja? lho pikir sekolah ini punya nenek moyang lho apa?" tanya Rendra yang kembali menghadang jalan Ila.
Ila kembali berpikir, namun sebelum itu ia sudah memasang pagar pelindung di tubuhnya agar cowok menyebalkan tersebut tidak bisa membaca pikirannya.
"Aelah buset, nih gimana ya caranya gue bisa lolos dari cowok aneh ini? apa gue akting aja ya? atau buat kesepakatan? kalau nggak bisa hancur nama baik gue ini, kan orang tua gue jadi malu punya anak kayak gue," pikir Ila panjang.
"Aduh, gue sakit perut nih, lho minggir nggak Ren?" bentak Ila.
"Up, udah gede yang sekarang main manggil nama orang aja," sindir Rendra.
"Akhh bodo amatlah, yang penting gue ingin pergi ke WC," ucap Ila mendrama.
"Hahahaha... lho pikir gue cowok bodoh apa? bisa lho tipu gitu aja, pasti ini hanya alasan,"
"Minggir Ketsis aneh!" umpat Ila.
__ADS_1
"Ops, ga bisa main gitu aja, lho harus nanggung
konsekuensi akibat perbuatan lho!"
"Emang apa yang gue perbuat sih?" tanya Ila dengan wajah polos tanpa dosa.
"Napa sih lho bisa jadi famous sekolah hah ratu drama? udah pembuat onar tengil lagi," goda Rendra yang sengaja memancing emosi Ila.
Tentu saja mata Ila langsung membulat. Ia mulai naik pitam.
"Enak aja lho ngatain gue, lihat dulu diri lho di kaca!"
"Udah, ganteng kok," jawab Rendra narsis.
Namun, memang wajahnya itu sangat tampan dan manis. Matanya teduh yang membuat semua orang sejuk untuk memandangnya.
Hidungnya tidak terlalu pesek dan tidak terlalu mancung. Wajahnya yang putih kekuningan serta bola mata yang berwarna kuning kehazelan menambah kesan Indonesianya.
"Kok orang narsis kayak dia bisa jadi Ketos?" gumam Ila.
Rendra kembali tersenyum, tapi bagi Ila itu adalah sebuah ejekan.
"Lho ngejek gue hah?" marah Ila.
"Tuh kan! jelas aja lho lagi main film tadi, lho pikir gue kayak cowok lain bisa dibodohin gitu aja?"
Tawa Rendra kini terlepas, ia bisa melihat wajah Ila yang sudah sangat kesal walaupun dibalik masker.
"Gue kasih lho hukuman, sekarang lari dilapangan 10 putaran!" pinta Rendra seenak jidat.
Ila melongo tak percaya. Bisa-bisanya cowok
Dari pada menjatuhkan nama baiknya sendiri, Ila mencoba melakukan negoisasi dengan Rendra.
"Bang Rendra sang ketua OSIS SMP Academy yang sangat dihormati lagi disegani dan yang pasti gantengnya kebangetan famous sekolah nomor 1," puji Ila tanpa titik koma.
Ia lalu menyengir dengan mata yang sengaja dibulatkan supaya terlihat imut.
"Hari ini panas banget, masa ketua OSIS yang baik hati tega ngehukum siswi primadona sekaligus juga famous disekolah ini?" ucap Ila yang juga tak lupa memuji dirinya sendiri.
"Aelah, pantas aja nih si cewek tengil tiba-tiba
ngomong manis dan puji gue, mau negosiasi nih ternyata," batin Rendra seraya menyipitkan matanya.
"Jadi nih ceritanya lho mau tawar-menawar ama gue?" ucap Rendra sambil menaikkan alisnya.
"Nggak usah gitu kali! geli gue ngeliat tampang lho, sumpah," ujar Ila jijik melihat tampang Rendra.
"Makan tuh sumpah! sekarang lho ngomong aja gitu! gue jamin pas SMA lho termakan sumpah lho sendiri,"
"Nyi nyi nyi," cibir Ila.
Rendra sangat gemas melihat tingkah Ila, ia ingin saja mencubitnya tapi takut dosa.
"Ouh ya, lho jangan hukum gue ya! kasihan deh
cewek dingin kaya gue ini disuruh lari dibawah panasnya terik matahari, nanti bisa meleleh deh,"
Rendra menggeleng-gelengkan kepalanya. Bisa-bisanya Ila mengakak disaat ini.
__ADS_1
"Dingin pala lho, setahu gue lho aja kaya nenek-nenek panti jumpo," gumam Rendra.
"Apa lho bilang Ketos?" tanya Ila meninggikan suaranya.
Sshuuuttt
Rendra meletakkan telunjuknya dimulutnya agar Ila diam.
"Lho ingin nama lho tercemar? orang lagi belajar lho malah cabut,"
Ila menggeleng.
"Oke gue nggak akan nyuruh lho lari muter lapangan tapi ada satu syarat,"
"Apa?" respon Ila yang kini deg-degan dibuatnya.
"Lho harus nungguin gue datang yang otomatis lho harus pergi cepat ke sekolah dari gue selama seminggu," pinta Rendra dengan sangat santai.
Ila yang mendengar permintaan tak masuk diakal tersebut langsung melongo tak percaya.
"Lho gila? ngapain gue rela-rela datang cepat ke sekolah hanya untuk nungguin cowok kayak elho?" sewot Ila tak terima.
"Ya, berarti kesepakatan kita batal dong," jawab Rendra makin santai.
"Ck, kalau nggak demi nama baik, gue nggak rela ngelakuin ini semua," gerutu Ila kemudian melenggang pergi.
***
Ila sekarang sedang berjalan-jalan disekitar rumahnya, ia pergi ketaman yang terletak dibelakang rumahnya.
Tak disangka, ia melihat penampakan seperti kuntilanak yang sembunyi dibelakang pohon dekat jalan menuju kebun.
Ila berpura-pura tak nampak, ia berbalik arah kembali menunju rumah. Lagi-lagi ia kembali melihat penampakan kuntilanak, namun kini ia sedang berdiri dijalan dekat lapangan.
"Sepertinya mereka itu penghuni deh,"
"Yang penting sekarang gue balik aja dah,"
Ila bergegas meninggalkan taman. Tubuhnya seketika merinding karena tiba-tiba saja melihat penampakan yang tak diinginkan.
***
"Aduh, dari kemaren dia terus aja neror aku, apa aku ada salah ya ama dia? tapikan itu baru pertama kali aku ngelihatnya, ngapain dia marah nggak jelas aja,"
"Hmmmmh, tapi jujur aku juga penasaran deh, kenapa dia terus aja muncul dan nampakin dirinya pada aku,"
"Tapi... ah sudahlah! aku ingin ke dapur makan,"
Ila berjalan kelantai bawah melewati jenjang, kakinya terus melangkah menuju dapur. Akan tetapi terus saja wanita berbaju putih dengan rambut tergerai itu terlihat diluar jendela.
"Astaghfirullaahal'aziim, nih lama-lama sumpah serapah yang keluar dari mulut gue," gumam Ila seraya memegang dadanya.
Bersambung...
Terus baca ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!
Jangan lupa like, beri vote and coment serta kasih bintang 5 ya!
Ouh ya, jangan lupa mampir ke novel lain aku yang berjudul: Karin the Mafia Girl !
__ADS_1