Misteri Buku Tua

Misteri Buku Tua
Jamkos


__ADS_3

"Sampai kapan lo mengelak kalau gue ini emang ganteng Ila sang primadona sekolah?" tanya Rendra dengan irama tertentu.


"Ih, lebay bin alay."


"Oke, gue buktiin!" ucap Rendra percaya diri.


Mereka sekarang sudah tiba di rumah sakit. Rendra yang ingin mengetahui bagaimana reaksi seorang Ila mengambil kesempatan dengan para gadis yang berada di dekat mereka.


Rendra menyisir rambutnya kebelakang dengan kelima jarinya yang membuat ia bertambah ganteng dan cool sehingga membuat mereka tak dapat menahan hati dan bahkan ada yang sampai berteriak memuji ciptaan tuhan.


Ila sampai melongo tak percaya. Setelah dilihat, bisa-bisa Rendra makin hari makin gila.


Ini hal yang berada diluar dugaan Ila, Rendra yang ia kenal dingin bahkan kini tebar pesona.


"Hmmmh, ada yang tak beres," batin Ila menyipitkan matanya pada Rendra yang menikmati berbagai pujian.


Setelah berjalan melalui mereka, Rendra kemudian menaikkan alisnya bak menggoda Ila


yang masih menyipitkan matanya.


"Gimana?"


"Hmmmh, sepertinya lo udah ketularan si Akbar deh. Liat aja tuh! lo bukan Rendra yang gue kenal."


"Jadi selama ini lo terus nguntit dan cari informasi tentang gue ya?" goda Rendra sambil menyeringai.


"Ihhh kurang kerjaan banget," ujar Ila.


"Ren, lo kenal sama Hanny?" tanya Ila setelah mereka sama-sama diam sejenak.


Rendra mengangguk.


"Emang napa?"


"Nggak ada,"


"Owh ya, kata anak-anak disini dia mantannya Akbar ya?"


"Ekkheeem, ngapain lo nanya-nanya dia? cemburu ya?"


"Nggak," jawab Ila cepat.


"Lagian itu kedenger orang bicara."


Rendra hanya ber"oh"ia saja. Lagian ia juga tak mau membahas masalah orang lain. Toh, dia punya banyak masalah sehingga tak ada waktu untuk mengurus orang lain.


***


"Jadi gimana yah, bunda udah boleh pulang?" tanya Ila pada ayahnya yang sedang mengurus beberapa berkas.


"Udah," jawab ayahnya yang masih fokus dengan apa yang ada dihadapannya saat ini.


Kini Ila beralih pada ibunya yang sedang duduk memperhatikan pemandangan diluar sana dari kaca jendela yang berada dilantai 3.


"Bunda, besok Ila nggak sekolah ya?"

__ADS_1


Ibunya mengernyitkan dahi.


"Kenapa?"


"Hmmm, mau jaga bunda soalnya Ila nggak mau bunda kenapa-napa," ucap Ila kembali membayangkan beberap hari yang lalu.


"Uppss, nggak! kamu harus tetap sekolah! kan sebentar lagi ujian semester."


"Tapi..."


"Nggak ada tapi-tapi! kamu besok sekolah! nggak usah khawatirin bunda!"


Terlihat wajah Ila berubah. Ia mau menjaga ibunya dirumah tapi ibunya tak membolehkan ia untuk libur sekolah.


"Nak, dulu waktu kamu kecil siapa yang ngurusin kamu?" tanya Verta dengan lembut bak seorang ibu yang bertanya kepada buah hatinya.


"Ibu," ujar Ila mendongakkan kepalanya.


"Nah, jadi kamu nggak usah khawatirin ibu."


...****************...


Mentari pagi bersinar di langit timur. Awan-awan masih bersembunyi dibalik bukit.


Udara pagi yang sangat segar untuk dihirup.


Arus air sungai yang tenang dengan ikan-ikan yang berkejaran didalamnya.


Serta pemandangan hijau dipagi hari yang jauh dari kata ramai begitu menyegarkan mata yang memandangnya.


Menjadikan banyak insan menjadi pecinta alam karena kemolekan serta keindahannya yang membuat rasa stres menghilang dari pikiran.


Wajar jika satu sekolah itu dipenuhi dengan para siswa-siswi yang sibuk beraktivitas dan kesana-kemari sebelum pembelajaran dimulai.


Ila yang hampir terlambat memasuki gerbang dengan motornya tergesa-gesa. Nyaris saja ketakutannya terjadi. Beruntung setelah ia sampai di lokal bel berbaris baru berbunyi.


Gadis itu bergegas keluar dari kelasnya menuju ke lapangan. Ia tak perlu dijemput oleh anggota OSIS yang piket untuk menertibkan barisan bahkan oleh most wanted yang paling cool dan memiliki banyak fans sekalipun.


Mungkin apapun yang dikatakan oleh sang Ketos akan dituruti oleh para kaum hawa. Jangankan untuk membuat Ketos berbicara pada mereka, untuk melihat wajah Rendra saja mereka rela meninggalkan waktu mereka dan melupakan masalahnya sejenak.


Tapi tidak bagi seorang Ila yang dingin. Itu adalah hal yang terlalu lebay baginya. Untuk apa ia cari perhatian sama Rendra sedangkan dirinya dan Rendra, bukan hanya Rendra, Trio cool bisa dibilang memang sudah dekat.


Bahkan rasanya mereka yang terus mengejar-ngejar Ila, tapi ia pula yang dibilang caper oleh orang lain.


"Huft, untung aja nggak terlambat. Kalau iya tak tau apa yang akan terjadi," gumam Ila yang bisa bernapas lega.


Setelah siap apel pagi, para murid disuruh untuk masuk kelas dan memulai PBM. Walaupun telah disuruh demikian, para


siswa/i tidak langsung masuk kedalam lokal.


Itu merupakan kebiasaan seluruh murid SMP Academy. Prinsip mereka tidak akan masuk kedalam kelas sebelum bel masuk berbunyi.


Karena adanya kumpulan manusia penggosip dan memiliki rasa kepo yang sangat tinggi, pelajar SMP ini senang sekali sebab tersebar berita bahwa para guru ada rapat mendadak sehingga otomatis tidak akan ada tugas serta guru mapel yang mengajar.


Tak bisa dilukiskan bagaimana isi hati mereka saat ini. Memang sih sekolah, tapi tidak ingin belajar. Lebih tepatnya seperti classmeeting tapi tak ada kegiatan, murid hanya bermain-main.

__ADS_1


"Woy! gue denger guru lagi rapat nih."


"Hah?! yang benar?"


"Hoysss, berarti jamkos!"


"Yeayyyy!"


Reaksi para pelajar ketika mendengar perkataan teman mereka. Terucap dari mulut dan mendengar dengan telinga. Saling menyampaikan satu sama lain.


Ila yang suntuk mendengar berita mendatangi perpustakaan untuk menghilangkan kebosanan serta menambah ilmu.


Derap kakinya menggema disekitar lorong yang menghubungkan kelas 8 dengan ruangan yang lain.


Lagi-lagi mata Ila kembali menangkap basah sosok makhluk gaib yang menyeramkan.


Seorang gadis pelajar SMP dengan seragamnya yang kumuh. Kantung mata berwarna hitam seperti tidak tidur selama seminggu. Hidung yang terus mengeluarkan darah. Sudut bibir memperlihatkan bekas luka.


Tangan kanan yang bisa dibongkar pasang seperti sedang bermain boneka Barbie.


Rambut panjang sepinggang. Serta tatapan tajam yang menyiratkan pembunuhan dari matanya.


"Haduh kak! nggak capek apa terus aja disana mulu?"


"Rasanya dari zaman nenek moyang membuat menhir dia disana terus, kalau nggak duduk kalau nggak berdiri," gumam Ila yang terus berjalan cepat sambil mencuri pandang padanya. Mana tahuan ada saja serangan mendadak sementara ia tak siap untuk itu.


Bisa-bisa nggak sekolah sekolah selama 2 Minggu hanya karena tubuh sakit-sakit akibat serangan setan.


Ila merasa heran, perasaan tadi hantu yang ia panggil kakak itu sedang duduk disudut lorong.


Tapi sekarang batang hidungnya pun sama sekali tak tampak.


"Mana ya? kok nggak ada?"


Asik memperhatikan, Ila tida lagi memperhatikan jalannya sebab ia fokus memikirkan keberadaan hantu.


Mendadak bulu kuduknya berdiri dan hawa dingin mulai menusuk tubuhnya.


"Eh, kok tiba-tiba aku merinding ya? biasanya kalau seperti ini..."


Ila menoleh ke depan dan tiba-tiba terlihat orang berpakaian seragam SMP Academy.


"Astaghfirullaah," ucap Ila karena matanya melihat tetesan darah dilantai, padahal tadinya lantai tersebut bersih tanpa debu.


Ia pun mendongakkan kepalanya dan terpampang wajah seorang gadis yang ia tahu bahwa itu adalah hantu yang sempat ia pikirkan


barusan.


Bersambung...


Terus baca ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!


Jangan lupa untuk tekan tombol like, beri vote and coment serta kasih bintang 5 ya!


Ouh ya, jangan lupa untuk mampir ke novel aku yang lain!

__ADS_1


Judulnya: Karin the Mafia Girl


And thanks


__ADS_2