
"Sepertinya dari rumah tua itu deh," tunjuk Ila.
Rendra langsung melangkah mengikuti jalan setapak menuju gubuk tua.
"Bang, lho mau kemana?"
"Ke danau," jawab Rendra yang membuat Ila mengerucutkan bibirnya.
"Udah tau kesana nanya juga,"
"Lho tau sekarang jam berapa?" tanya Ila.
"Emang napa?" respon Rendra dengan muka datarnya.
"Aneh kali lho bang, tadi ngegombal, tebar pesona sekarang tiba-tiba datar balik aja muka lho," gumam Ila.
"Cepat aja ngomongnya!" pinta Rendra.
"2 menit lagi kita masuk," ujar Ila histeris.
Rendra memutar langkahnya, kakinya kembali mengarah ke sekolah dan mengabaikan Ila yang sedang berdiri begitu saja.
"Dasar aneh!" umpat Ila.
***
Para siswa/i SMP Academy dipersilahkan untuk pulang ke rumah mereka masing-masing,
di sekolah saat ini sedang sepi, mereka yang tertentu saja yang masih berada di sekolah.
Ila segera keluar dari kelas setelah menyelesaikan tugas piket, hatinya saat ini sedang tidak karuan, rasanya ingin pulang namun ia harus mengikuti kegiatan ekskul.
Ila juga tidak mempunyai teman untuk berbincang, disaat seperti ini Ila butuh seorang sahabat yang akan menemaninya disaat kesepian.
Ila menghela napasnya, tidak ada yang istimewa hari ini. Namun, mendadak ia teringat janjinya dengan Rendra untuk menuntaskan
hal tadi.
Ila pergi ke lokal lX.A, tapi tidak ada seorangpun
manusia yang ada didalam. Teringat olehnya bahwa Rendra adalah ketua OSIS SMP Academy. Jadi ia berniat pergi keruang OSIS untuk menemui sang most wanted sekolah.
"Ini aku lakuin hanya karena janji aja, kalau nggak gara-gara itu ogah aku mau ke ruangan itu."
"Lagian tuh anak heran aja aku dah, tadi dia ngajak ketemu sekarang tau-tauan malah di ruang OSIS," batin Ila menggerutu kesal.
Kaki Ila terus berjalan walaupun hatinya saat ini sedang tidak baik-baik saja.
Setelah 3 menit berjalan, akhirnya tubuh Ila telah sampai didepan ruangan OSIS. Ternyata benar, mereka para anggota OSIS sedang melakukan rapat.
"Bang! woy keluar bang! bang Rendra," panggil Ila dengan telepati.
Samar samar Rendra mendengar Ila yang tengah memanggil dirinya.
"Kalian terus pikirin acara yang cocok! aku ingin keluar bentar,"
"Loh mau kemana kamu Ren?" tanya Geni dengan suara lembut yang dibuat-buat.
"Lho nggak denger? kan Rendra udah bilang mau keluar bentar," ucap Erik.
"Nggak usah gitu juga kali, guekan nggak nanya ama lho, kok lho aja yang sewot?" ujar Geni membuat Erik geram.
"Cukup! kalian kerjain aja apa yang gue bilang!"
perintah Rendra dengan nada tegas, lalu melenggang pergi keluar.
Rendra berada di pintu ruangan, ia melihat Ila yang lagi-lagi sedang bermenung. Tersirat rasa ingin tahu dibenak Rendra alasan Ila terus melamun sejak pagi tadi.
"Hmmm," batuk Rendra.
"Kalau lho ada masalah jangan dipendam sendiri aja!"
Ila menengok kesamping, terlihat Rendra yang sedang memasukkan tangannya kedalam saku celana seraya berdiri dengan gaya cool.
"Ya, gue emang banyak masalah.Terutama elho," tunjuk Ila.
Rendra mengernyitkan dahinya, ia sungguh tidak mengerti dengan cewek yang sekarang berada dihadapannya.
"Gue?" tanya Rendra menunjuk dirinya.
"Ya iyalah, lho nggak jelas banget sih, tadi lho suruh gue ke kelas lho, eh tau-taunya tuh ruangan udah kosong dan elho juga nggak ngatain kalau sekarang ada rapat," ucap Ila memalingkan wajahnya dengan tangan yang bersedekap di dada.
"Lho tunggu aja gue disini, bentar lagi rapatnya hampir siap," ujar Rendra membalikkan badannya.
"Main pergi aja, masa gue duduk seperti orang bego aja?"
"Biarin ajalah gue nggak peduli," jawab Rendra santai.
__ADS_1
Mata Ila melotot melihat wajah Rendra saat ini
yang menyebalkan dimatanya.
"Setidaknya lho pinjaminlah gue hp lho, ntar kalau gue kerasukan lho yang tanggung jawab!"
"Enak aja dia nyuruh gue duduk diam disini," gumam Ila.
Tak disangka Rendra mengeluarkan hp dari saku celananya lalu menyodorkannya pada Ila.
Ila melongo menatap Rendra, ia juga tidak menyangka kalau Rendra mau meminjamkan hpnya, padahal tadinya ia hanya sedang bercanda.
Namun Ila juga tidak peduli, matanya berbinar melihat barang yang ada didepan matanya.
"Serius?"
"Kalau nggak mau yaudah," ucap Rendra kembali memasukkan hpnya tapi tangan Ila telah dulu mencegat tindakan Rendra.
"Eps, yaudah gue tunggu sini, lho pergi aja dalam sana!" ujar Ila lalu mengambil hp tersebut.
"Lho ngusir gue?"
"Iya, lho pergi aja kedalam! mereka pada nungguin tuh," ucap Ila kemudian mendorong Rendra pergi lalu langsung duduk.
Rendra tersenyum menatap Ila, setidaknya Ila tidak lagi melamun.
"Waw bagus juga hpnya bang Rendra, Samsung galaxy M52 5G lagi," ujar Ila yang sedang membalik-balikkan hp.
"Hah? gila, nggak ada kata sandinya?" gumam Ila histeris.
Sudah 15 menit Ila memainkan hp Rendra, saat ia mendongak keatas terlihat seorang perempuan yang sedang berkacak pinggang.
"Ngapain lho disini? lho nguping kami rapat?"
tanya gadis itu bertubi-tubi.
Ila malas melayaninya, lebih baik ia hanya tersenyum.
"Hmmm nggak ada kak, nunggu teman aja,"
"Ouh siapa teman lho?"
"Hmmm ada kak,"
"Lho gimana sih, gue tanya lain jawabnya lain,"
gerutunya.
Mereka berdua menoleh lalu Geni memutar bola matanya dengan malas.
"Bukan urusan lho," jawab Geni dengan nada ketus.
"Nih anak dari tadi cari masalah aja ya?"
"Apa lho bilang?"
Tiba-tiba Rendra muncul sambil menyandang tasnya sebelah tangan, memberikan kesan yang cool bagi kaum hawa namun tidak berpengaruh sama sekali bagi Ila.
"Hmmm Rendra, apa kamu akan pulang?" tanya
Geni centil.
Ila malah mencibir Geni dalam hati, ia sangat benci dengan cewek centil.
"Buset dah, giliran Rendra yang datang lho malah jadi sok anggun," cibir cowok tadi.
"Ish apasih lho?"
"Lhonya yang apaan," jawabnya yang tak mau kalah.
"Dah ah, gue pulang aja,"
"Ouh ya Ren, lho pulang dengan apa?"
"Ya kendaraanlah goblok,"
"Mulut lho bisa diam nggak?"
"Ren, boleh nggak gue nebeng ama lho? soalnya tadi gue diantar bapak kesekolah,"
"Suruh aja balik bapak lho jemput," jawab cowok tersebut.
Geni menatap tajam dirinya, lalu kembali menatap Rendra.
"Ken, lho antar Geni pulang!"
"Tapi Ren," keluh mereka berdua serentak.
__ADS_1
"Ada hal yang harus gue selesaiin," ujar Rendra kemudian melenggang pergi menuruti Ila yang sudah dulu berangkat.
***
Di taman terlihat Ila yang sedang memfoto berbagai tumbuhan disekitarnya. Dari tadi kerjanya hanya mengisi album foto Rendra.
"Heh, siapa yang ngijinin lho foto-foto makai hp gue?" tanya Rendra.
"Ya gue sendirilah, lagian hp ini nggak marah juga kok," jawab Ila yang terkesan begitu santai.
"Dasar cewek aneh!" gumam Rendra.
Ila mendengar ucapan Rendra namun kali ini ia tidak menghiraukannya.
"Lho nggak nganterin cewek ganjen itu pulang?"
Sebuah pertanyaan yang lolos keluar dari mulut Ila.
"Cewek ganjen?"
Ila menghela napasnya kemudian memutar bola matanya.
"Lho napa sih dari tadi pagi nggak nyambung-nyambung? itu antek-antek OSIS, siapa namanya, Geni?"
Rendra baru mengerti arah pembicaraan Ila. Ia tersenyum smirk.
"Napa? lho cemburu ya?" goda Rendra.
"Ih, siapa juga yang cemburuan ama orang kayak lho," elak Ila.
"Hmmmh, tapi gue ngelihat tersirat rasa kecemburuan saat lho natap gue tadi dekat ruangan OSIS,"
"Hahaha...ngakak aja lho dasar Ketos narsis.
Nggak ada bedanya lho ama teman lho Trio trouble maker yang lain,"
Rendra bingung, ia menaikkan alisnya.
"Trio trouble maker?"
"Itu panggilan kalian Trio cool dari gue,"
"Kini awak to the point se, napa lho ngajak ketemuan?"
"Ke gubuk tadi,"
Ila melongo tak percaya memandang Rendra.
"Aaaaaaaa!" teriak seseorang yang berasal dari gubuk tua tersebut.
"Kan, itu makanya kita telusuri aja, kalau nggak takutnya nanti dia akan meminta korban,"
"Tapi...ah ya sudah," ucap Ila.
Ila dan Rendra melangkah ke gubuk tua tersebut melalui jalan setapak yang ada.
"Bang, kita manggil aja temen lho yang lain!"
"Oke,"
"Akbar! Erik!"
"Apa itu lho Ren?" *tanya Akbar.
"Hmmm, sekarang kalian berdua pergi ketaman belakang sekolah, kami sekarang berada di gubuk tua dekat sini, cari aja rumah tuanya*!"
ucap Rendra kemudian memutuskan telepatinya.
"Bang, lho yakin mau masuk ke gubuk tua itu?"
Rendra mengangguk.
"Hmmm sebenarnya gue pernah kesini..." ujar Ila namun ia tidak melanjutkan ucapannya.
"Bicara tuh yang jelas! jangan
nanggung-nanggung,"
"Nggak jadi, kuy pergi!"
Ila melangkah maju sampai ia tiba di depan pintu gubuk.
"Bang Ren!"
Mendadak, pintu gubuk tersebut terbuka dengan sendirinya.
Bersambung...
__ADS_1
Baca terus ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!
Jangan lupa tekan tombol like, beri vote dan coment serta kasih bintang 5 ya!