Misteri Buku Tua

Misteri Buku Tua
Merasa aneh


__ADS_3

"Lo kayak bocil minta dibeliin mainan aja," ucap Gema sambil terkekeh melihat perangai Adam.


"Ga peduli."


"Flashdisknya mana?" tanya Arya.


"Disaku."


Para TGS bergegas menuju ruangan kepala sekolah.


Tiba di sana, mereka mengetuk pintu supaya tidak dianggap lancang karena langsung masuk tanpa meminta izin terlebih dahulu.


"Masuk!" suara dari dalam.


"Assalamualaikum bu, maaf menganggu waktu ibu," ujar Gema ramah.


"Waalaikumussalam, ada keperluan apa kalian ke sini?"


"Sesuai janji kami, kami ingin memperlihatkan bukti-bukti yang kami dapatkan bu," Gema mengeluarkan flashdisknya.


"Baiklah, mana buktinya?"


Gema memberikan benda kecil yang dipegangnya itu kepada kepala sekolah.


"Saya akan melihatnya sekarang juga."


Sang kepala sekolah memasang flashdisk tersebut ke laptopnya. Ia merasa terkejut dengan apa yang dilihatnya itu.


"Jadi, yang berulah itu bukan Shaletta?" gumam wanita itu dengan mata terus melihat video.


"Bukan, kami sudah pernah mengatakannya pada ibu kalau Shaletta tidak bersalah," ujar Arya memberitahu sang kepsek.


"Jadi yang bermasalah itu murid yang baru pindah itu? kelas berapa dia?" tanya guru itu heran.


"Jennifer Naquita kelas X-A," ucap Reno.


"Baiklah berdasarkan kesepakatan kita sebelumnya, saya akan memberikan keadilan."


"Bagaimana bu?" itulah pertanyaan yang dilontarkan oleh Rizal.


"Saya akan membersihkan kembali nama Shaletta dan murid baru itu akan di DO dari sekolah ini."


"Tapi kami mohon sama ibu, tolong jangan beritahu kepada Shaletta siapa yang memberikan semua bukti-bukti ini!" ucap Rizal.


"Baiklah, identitas kalian selalu aman di tangan saya."


Mereka yang mendengarnya tersenyum lega.


"Terima kasih bu."


Tak berselang lama, terdengarlah sang kepala sekolah memanggil dua gadia yang terlibat dalam kasus itu.


Para TGS tidaklah pergi, melainkan bersembunyi di luar untuk mendengar perdebatan di ruangan kepala sekolah.


Mereka melihat Shaletta sampai lebih dulu dari pada Jennifer.


"Sempurna, semua ini sesuai dengan rencana yang telah kita rancang."


"Lo benar Ren, mari kita saksikan bagaimana reaksi si cebul nantinya ketika semua bukti menunjukkan bahwa dialah yang bersalah!" ucap Rizal.


"Tapi, kok gue nggak liat batang hidung tuh cewek? apa jangan-jangan rencana kita ini dah bocor?" sangkal Adam.


"Nggak mungkin, emangnya siapa yang akan bocorin rencana kita itu? lagi pula kita selalu was-was saat bicara masalah ini."


"Hmmm, benar juga lo Yan."


"Eh eh, dia datang," Arya membuat mereka semua menutup mulut mereka.


Semakin lama Jennifer semakin dekat dan ia langsung masuk ke kantor.


Semua anggota The Geng's Six mendengar Jennifer beradu argument dengan kepala sekolah.


"Gila! hebat juga dia ya? udah ketahuan tapi masih nggak mau ngaku," Adam takjub sekaligus tidak terima.


"Lo sabar aja! gue jamin sebentar lagi dia nggak akan bisa berkutik setelah kepala sekolah menunjukkan semua file yang kita berikan," ujar Gema.


"Apa maksud si cebul kalau Sinta juga ikut terlibat?" tanya Arya heran.


"Hmmm, Sinta?" gumam Ryan yang juga ikut bertanya.


"Palingan dia mengoper kesalahannya pada orang lain aja tuh. Lihat! kan dari tadi dia nggak berhenti ngehindar walau bukti telah menunjuk dia sebagai orang yang bersalah,"


ujar Rizal dengan nada sinisnya.


"Kalian dengar nggak tuh? gue kasihan ama dia!" ujar Reno dengan nada mengejek.


"Kalau lo kasihan, napa nggak lo hampiri aja? pasti sekarang ini dia lagi frustasi," respon Adam tergelak dengan wajah Jennifer yang kusut keluar dari kantor.


"Nggak ah, malas. Lo aja yang pergi tuh sana!"


"Ogah."


"Hoy! Liasha mau keluar, diam!" perintah Reno.


Mereka melihat Shaletta hanya berjalan dengan santai tanpa ada rasa curiga sedikitpun.


Mereka mengikuti gadis yang mereka bantu. Sampai akhirnya muncul sesuatu dipikiran Gema.


"Setahu gue tempat favoritnya di taman belakang."


Dan ternyata dugaan Gema benar. Shaletta sedang duduk menikmati hembusan angin.


Flashback off


Saat pulang sekolah suatu hal yang sangat menegangkan terjadi pada Jennifer. Ia cemas ayah dan ibunya tahu akan hal ini.


Ternyata rasa cemasnya itu benar. Ayahnya telah pulang dari sekolah.


"Jennifer, You where? keluar sekarang!" teriak ayahnya.


"Waduh, gimana nih? bisa-bisa dihukum nih."


Ia segera pergi ke lantai pertama.


"What there is ayah?"

__ADS_1


"Dasar anak tidak tahu diri, apa yang kamu lakukan hah?!"


Jennifer menunduk ketakutan ketika melihat kemarahan ayahnya.


"You know what you do?"


Jennifer hanya menunduk.


Plak


Shaletta langsung memegang pipinya yang memerah karena ditampar ayahnya. Ia terisak menangis.


"Tidak ada gunanya kau menangis!"


"Kau tahu apa kata orang orang di sana?"


"Mereka mengatakan kalau ayahmu itu tidak pernah mengajarimu.".


"What is missing from your father?"


Pria berjas itu menghela napas gusar.


"Sekarang kau pergi dari hadapanku! sebelum aku marah besar."


Jennifer berjalan dengan langkah cepat menuju kamarnya.


......................


Hari ini adalah hari Senin. Mood Shaletta sedang baik. Semua urusannya telah selesai.


Namun akhir-akhir ini, Shaletta merasa sangat aneh. Ia merasakan perubahan pada dirinya.


"Apa yang terjadi sama gue? kok gue ngerasa aneh?"


"Kenapa mimpi gue sering jadi kenyataan dan kenapa gue bisa melihat aura seseorang?"


"Ahhh! dari pada pusing mikirinnya, lebih baik gue keliling sekolah aja."


"Sinta, lo lagi ngapain? gue lihat akhir-akhir ini lo ngelamun terus. Berat banget beban hidup lo?" tanya Miran.


"Nggak usah bercanda! gue lagi bad mood nih."


"Iya iya gue bercanda kok."


Batin Sinta...


"Jennifer udah di keluarin, gimana nasib gue?"


"Pokoknya mulai saat ini gue harus hati-hati, gue nggak bisa anggap remeh masalah ini."


"Tapi, kalau TGS ngungkap kejahatan gue seperti mereka ngungkap kejahatan Jennifer gimana? bisa mati dong gue."


"Lagian ngapain sih, mereka ikut campur urusan ini?"


"Padahal nggak ada sedikitpun untungnya buat mereka."


"Haelah, malah bengong?"


"Ta! Ta! Sinta!" ucapan yang ketiga Miran berteriak didepan wajah Sinta.


"Budek telinga gue gara-gara elo! bisa nggak manggil tuh lembut dikit?" solot Sinta.


"Heh, gue udah manggil lo baik-baik dari tadi, lo nya aja yang bengong kayak orang linglung.


Sekarang gue teriak nama lo, elo malah marah? jadi gue manggil elo itu gimana?"


"Terserah lo! gue tambah bad mood karena lo."


"Bye, gue pergi!"


"*Aduh, gimana kalau perbuatan gue juga terbongkar?"


"Tapi nggak mungkinkan? dari mana mereka dapat bukti kalau gue bersalah?"


"Lagipula ngapain juga gue mikirin hal sampai ke.sana? palingan jika orang tahu orang nggak akan langsung percaya karena info itu dari Jennifer."


"Gue harus tenang! nggak perlu repot-repot mikirin hal gitu. Bisa kanker otak gue nanti*," ucap Sinta yang tidak berhenti bergelut dengan pikirannya dari tadi.


***


Di sebuah perpustakaan, terlihatlah seorang gadis sedang memegang buku tua. Sepertinya buku itu adalah buku yang ditemukannya Minggu lalu ketika berada


di sana.


"*Gue h*arus cari informasi tentang buku ini! gue ngerasa aneh setelah nemuin buku ini. Walau nggak berdasar tapi itu aneh banget."


"Tapi, gue kan nggak ngerti apa yang ditulis di buku ini."


"Tapi, gue nggak boleh nyerah! pasti ada sesuatu yang aneh dengan buku itu."


Shaletta terus membalik-balikkan halaman buku. Namun nihil, tidak ada satupun yang ia mengerti.


"Duh, kok nggak ada informasi yang gue dapat?"


Ketika akan berpindah ke halaman selanjutnya, tiba-tiba tulisan buku tersebut berubah.


KAMU ADALAH ORANG YANG ISTIMEWA.


SELALU JAGA DIRIMU BAIK-BAIK.


Shaletta tersentak kaget. Saking terkejutnya,


buku yang ia pegang terjatuh.


"*Apa maksudnya?"


"Sebaiknya gue harus segera keluar dari sini*."


Gadis itu mengemasi barang-barangnya dan pergi menuju kelas.


***


Sudah satu Minggu cewek tersebut merasakan kejadian aneh yang luar biasa. Ia merasa ada suatu kekuatan dalam dirinya. Ini dibuktikan dengan makin sensitifnya ia dalam merasakan aura seseorang.


"*Hmmm, sebenarnya buku apa itu? kenapa dengan buku tua itu? apakah itu buku sihir?"

__ADS_1


"Pokoknya gue harus lebih sering mencari informasi tambahan tentang dunia spiritual.


Mana tahu bisa membantu*."


Shaletta yang sedang bergelut dengan pikirannya, bersenggolan dengan Sinta.


Sinta yang memegang buku, barangnya terjatuh ke lantai.


Otomatis Shaletta membantu Sinta kembali menyusun bukunya.


Tangan mereka bersentuhan. Tanpa diduga, Shaletta merasa pusing. Ingatannya seakan berputar.


Dalam pikirannya...


Shaletta berada disebuah tempat. Ia melihat temannya itu berbicara dengan Jennifer.


Hatinya seakan tertusuk mendengar pembicaraan itu.


"Tidak mungkin!" cewek itu menutup mulutnya dengan telapak tangan.


"Orang yang gue percayai, orang yang udah gue anggap sebagai saudara gue ternyata munafik? apa alasannya menusuk gue dari belakang? apa emangnya salah gue Sinta?"


Ingatannya kembali normal..


"Sorry, gue nggak sengaja."


"Sans aja," ucap Shaletta yang masih ramah.


Sebenarnya hatinya meringis menemukan sebuah kenyataan yang sangat menyakitkan.


"Gue pergi dulu," pamit Sinta yang lebih tepatnya seperti menghindari sahabatnya.


"Hmmm."


"Apa itu benar-benar Sinta? apa dia Sinta teman pertama gue di SMP?"


Shaletta yang moodnya tadi baik berubah total akibat gambaran yang dilihatnya tadi.


Ia memutuskan pergi ke taman untuk menenangkan diri.


Shaletta duduk di atas kursi favoritnya. Pikirannya makin berkecamuk. Ternyata selama ini ia terlalu baik sama orang.


"Woy!"


Shaletta hanya melihat sekilas karena dari tadi ia sudah menebak kalau yang menakut-nakutinya itu adalah sosok misterius tersebut.


"Hmmm," jawabnya dingin.


"Kok lo murung gitu?" pertanyaan itu tidak dijawab oleh Shaletta.


"Karena teman lo kan?" tebaknya tepat sasaran. Shaletta langsung menoleh.


"Dari mana lo tahu?"


"Saya ini bukan hanya kece dan ganteng, tapi otak saya itu juga pintar."


Cewek tersebut menatapnya sweatdrop.


"Idih, narsis amat jadi hantu."


"Terserah! lo ingin ngebilang saya apa,


Toh saya nggak peduli."


"Berarti gue boleh dong manggil lo hantu gila?" ucap Shaletta dengan nada candaan.


"Ouh ya btw, saya Abian."


Shaletta menatap lekat Abian.


"Ngapain lo lihat-lihat gue?"


"Gue pikir hanya manusia aja yang punya nama. Rupanya genderuwo juga punya nama toh?" tanya Shaletta membuat mata Abian melotot.


"Enak aja! gue bukan makhluk jelek itu."


Tatapan Shaletta lurus ke depan. Sepertinya ia sedang melihat sesuatu.


"Lo ngeliat mereka?" tanya Abian membuat Shaletta menoleh.


"Yang di depan."


"Gue heran, sejak gue pernah nemuin buku itu gue jadi ngerasa banyak yang aneh," ujarnya jujur sejujur-jujurnya.


"Itu wajar, sepertinya lo punya banyak kekuatan spiritual yang terpendam."


"Maksud lo?"


"Lo cari tahu sendiri!"


"Idih! jadi hantu pelit banget."


"Tapi gue heran deh," belum siap cewek itu bicara Abian langsung memotongnya.


"Pasti lo heran kenapa lo melihat teman lo itu menusuk lo dari khianatin elo?"


Shaletta tercengang.


"Apa lo ngikutin gue terus?" tanyanya menatap Abian curiga.


"Nggak, itu hanya kebetulan. Lo kan tahu kalau ciptaan tuhan itu nggak hanya manusia. Kalian nggak hidup sendirian."


"Tuh! lo lihat yang di depan kan?" ujar Abian menunjuk apa yang dimaksudnya.


"Gue ingin seperti dulu. Ini benar-benar mengganggu dunia gue yang aman dan damai."


"Tapi lo nggak akan menyesal. Karena banyak hal-hal tak terduga yang akan lo lalui."


Bersambung...


Terus baca ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!


Jangan lupa untuk tinggalkan like, follow and coment serta bintang 5!


Thanks

__ADS_1


__ADS_2