Misteri Buku Tua

Misteri Buku Tua
Memastikan


__ADS_3

"Dari mana lo tahu?"


"Udahlah, pokoknya lo percaya aja ama saya!"


"Nggak mau ah, masa ucapan setan diikutin.


Gue aja kadang sesat, ntar bisa tambah sesat," ujar Shaletta.


"Terserah lo dah! capek saya. Saya pergi dulu."


"Pergi jauh-jauh sono! sekalian nggak usah balik-balik lagi," ucap cewek bar-bar itu sambil terkekeh.


"Kejam lo!"


"Mau gue buktiin?"


Mata Abian langsung membulat mendengar ucapan gadis di depannya ini.


"Nggak perlu."


"Kalau gitu pergi sono! gue juga mau pergi."


"Oke, bye!"


Shaletta menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan teman hantunya tersebut.


"Gue padahal pernah mikir kalau hantu itu seram, tapi kenyataannya ada pula ya hantu kayak dia," ia kembali terkekeh.


Shaletta pergi ke kelasnya melewati lorong.


Namun suasana kali ini berbeda, tempatnya menjadi sepi dan menyeramkan.


"Kok, nggak kaya biasanya?"


"Sepertinya gue harus cepat-cepat ke kelas!"


Namun tiba-tiba tubuhnya tidak bisa digerakkan. Ia merasa seperti sedang dikendalikan oleh seseorang.


Ternyata dugaannya benar. Ketika ia melihat ke belakang, ada sosok hantu yang menyeramkan. Ia memakai seragam sekolah, namun wajahnya itu tertutup oleh darah.


"Astaghfirullaah, lo siapa?"


Hantu itu hanya melihat Shaletta. Ia semakin mendekat.


"Lo jangan coba-coba mendekat!" cewek tersebut bergerak mundur perlahan.


Mata setan itu semakin nyalang. Tangannya bersiap untuk mencekik Shaletta yang terus melangkah mundur. Namun nahas, di belakangnya ada tembok.


"Astaghfirullaah, kemana gue akan lari?" Shaletta berkeringat dingin sambil ketakutan.


Saat tangan hantu itu hampir tiba


di lehernya , ia menghindar dengan melarikan dirinya ke samping.


Setan tersebut menoleh, ia terus menatap mangsanya. Karena terlalu takut, ia refleks memukul wajah sosok lawannya yang menyeramkan.


Hantu itu terpental beberapa langkah. Ia memegang wajahnya dengan tangan.


"Sialan kau! mari sini ku habisi kau!" umpat hantu yang seperti kuntilanak itu. Eh, kok jadinya kuntilanak?


"Gawat, gue harus lari kemana? kalau gue lawan bisa-bisa dia malah gila-gilaan bunuh gue. Gue kan masih mau hidup!"


Tak disangka seberkas sinar melewati kepala hantu pelajar itu.


Kedua-duanya terkejut. Mereka sama-sama menoleh ke sumber cahaya.


"Siapa kau? berani kau mengangguku! kau tak akan aku biarkan."

__ADS_1


Kini, setan itu berbalik menyerang orang yang telah menyerang kepalanya.


Hantu pelajar itu menyerang sosok laki-laki tersebut dengan membabi buta. Serangannya


juga cukup kuat yang akan membuat orang biasa merasakan dampak yang sangat buruk jika terkena serangannya.


Namun walaupun begitu, sosok tersebut


dengan mudah menghindar. Tampaknya ia sedang menunggu kekuatan hantu tersebut sampai melemah. Setelah dirasa sudah saatnya, ia melontarkan serangan pada sosok itu yang menembus jantung hantu tersebut dan membuat dia ambruk dan perlahan menghilang.


Cowok yang menyelematkan Shaletta berjalan keluar dari lorong. Tentu saja Shaletta mengikutinya dengan sedikit berlari agar bisa mengejarnya lalu berterima kasih atas bantuannya tadi.


Ia telah berhasil mengejarnya. Shaletta kemudian melihat wajah sosok tersebut.


"Kayaknya dia kakak kelas. Tapi kenapa rasanya wajahnya itu familiar bagi gue?"


"Ah, mungkin hanya kebetulan."


"Thanks udah nolongin gue bang," ucap Shaletta sambil tersenyum. Cowok itu menoleh.


"Hm."


"Oh ya, btw nama lo siapa?"


"Gibran."


"Oh. Kelas?"


"Xl."


"Sekali lagi thanks ya, gue pergi dulu."


Gibran mengangguk dan terus berjalan menyusuri koridor yang sepi.


***


Shaletta telah sampai di kelas. Ia melihat Sinta yang bertingkah aneh akhir-akhir ini. Wajahnya selalu murung. Gadis itu sangat yakin ada sesuatu yang membuatnya cemas.


"Hah?" respon Sinta kaget.


"Lo ngapain?"


"Nggak ada."


Shaletta melihat bahwa Sinta sedang menyembunyikan sesuatu. Namun ia tidak terlalu memaksa Sinta untuk mengatakan hal yang menganggu pikirannya tersebut.


Kali ini, mendadak terpikir oleh gadis tersebut tentang kejadian di depan perpustakaan. Ia kembali penasaran dengan apa yang barusan terjadi.


"Apa gue coba aja nyentuh tangannya? untuk mastiin kalau yang gue lihat itu benar.".


Shaletta memegang tangan Sinta dengan alasan ingin menenangkannya.


Lagi-lagi, ingatannya berputar. Ia berada


di tempat yang tidak asing.


Ia melihat Sinta yang baru saja datang bicara bersama Jennifer.


"What is it?"


"I have plans for tonight to welcome her," ujar Jennifer memperlihatkan smirknya dan beberapa saat Sinta pun mengerti arah pembicaraan sekutunya.


"What that?"


"Saat dia datang, kita sambut aja dulu."


"Terus?"

__ADS_1


"Kita tinggalin adek saya ama dia berdua aja. Nanti adek gue ngasih dia pisau,


nah saat dia akan motong kue adek gue itu kayak ngerebut pisaunya gitu, kan otomatis dia terkejut. Adek gue pura-pura jatuh dan langsung menangis ketakutan. Pokoknya nanti lihat aja!" terang Jennifer sejelas-jelasnya.


"Emang patut dikasih jempol rencana lo."


"Nanti kamu harus dengerin apa yang saya bilang kalau mau rencana ini berjalan dengan sempurna," Sinta mengacungkan jempolnya.


Shaletta kembali ke pikirannya semula. Ia menatap Sinta dengan sendu.


"Sinta, apa benar lo yang ngelakuin semua ini? apa lo benar-benar Sinta yang gue kenal? kenapa lo tega ngelakuin semua ini sama gue? padahal gue percaya sama lo."


"Tapi, gue akan terus telusuri lebih lanjut! gue yakin itu bukan perbuatan lo."


Shaletta masih menaruh kepercayaannya pada Sinta. Ia yakin tidak mungkin Sinta melakukan semua itu padanya yang telah menganggapnya seperti saudara sendiri.


"Lo napa Sha?" tanya Sinta heran.


"Oh nggak, gue hanya teringat sesuatu," ujarnya dengan senyuman palsu.


"Gue ke kantin dulu, lo ikut?" tanyanya.


Sinta menggeleng.


Shaletta keluar kelas dengan perasaan yang bercampur aduk.


"Nggak mungkinkan kalau itu perbuatannya Sinta?"


"Sinta yang gue kenal nggak seperti itu orangnya."


Ia duduk di kantin. Saat tengah memikirkan hal itu, Shaletta melihat tiga orang cowok yang sepertinya anak kelas Xl. Dua orang dari mereka menatap Shaletta.


"Kayak kenal," pikir gadis itu. Ia mengenal salah seorang dari mereka, yaitu orang yang telah menyelamatkannya dari hantu yang mengerikan di lorong.


Karena mereka lama menatap Shaletta, ia jadi berpikir.


"Ngapain tuh orang ngeliat gue? atau gue aja yang kegeeran?" ucapnya melanjutkan acara minum.


Dalam pikiran dua cowok tersebut...


"Kok rasanya kenal?"


Tanpa sadar mereka terus menatap Shaletta yang tengah keheranan melihat mereka.


"Woy Gib! bingung mulu lo dari tadi. Siapa yang lo lihat?"


"Bukan urusan lo."


"Jutek amat jadi orang."


***


Semua siswa sudah diperbolehkan pulang. Shaletta yang saat ini berjalan ke taman belakang langsung duduk di tempat favoritnya.


"Bi! lo dimana?" tanya Shaletta yang lagi gabut.


"Ck, siapa juga sih yang manggil gue? ganggu amat jadi orang," ucap Abian tanpa sadar bahwa yang membuatnya menggerutu itu adalah Shaletta.


"Kayak orang banyak beban aja," cibir cewek itu.


"Ha? ngapain lo kesini?" tanya cowok tersebut.


"Ck, gue capek! mau cari hiburan aja," jawabnya asal.


Bersambung...


Terus baca ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan cara like, vote and coment serta kasih bintang 5!


Thanks


__ADS_2