
Tiba di kamar, Shaletta mengganti pakaiannya lalu merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk. Ia menutup matanya dan mulai memasuki alam mimpi.
****
"Dimana ini?"
Shaletta mendengar percakapan seseorang. Awalnya ia hanya berjalan-jalan, namun karena mendengar suara seseorang yang rasanya familiar ia memutuskan untuk mencari asal sumber suara tersebut.
Tidak sia-sia ia menelusurinya. Nampak lah Sinta sedang berdialog dengan Jennifer. Ia ingin menemui mereka, akan tetapi ada sesuatu yang mereka bicarakan yang membuat Shaletta membatalkan niatnya.
"Jen, ternyata rencana kita sukses ya."
"Iya Ta, saya nggak pernah nyangka akan semudah ini melakukannya."
Ucapan mereka berdua masih ambigu sehingga Shaletta masih mencerna apa maksud mereka. Sampai...
"Ta, why do you hate your best friend? padahal saya lihat dia itu nggak pernah nyakitin kamu."
Sinta tersenyum sinis menanggapi Jennifer.
"Nggak pernah? lo itu baru di sini jadi lo ga tau apa-apa," Sinta melihat langit.
"Gue itu tulus berteman sama dia, tapi seiring waktu dia udah ngerebut semuanya dari gue, dia udah ngerebutnya dari gue Jenn!"
Sinta menuangkan perasaan yang selama ini ditahannya.
"Pokoknya gue nggak mau tahu, dia harus menyingkir dari hidup gue!!"
"Jika perlu dia mati sekarang juga," ucap Sinta yang sepertinya hatinya itu dipenuhi oleh dendam yang membara.
Oke, Shaletta kini mengerti apa yang dibicarakan oleh mereka. Matanya berkaca-kaca mendengar sebuah ucapan yang keluar dari mulut temannya sendiri.
"Sebenci itu lo ama gue? sampai-sampai lo ingin nyingkirin gue."
"Lo baru tahu?" Sinta tiba-tiba berada
di hadapan Shaletta dan tersenyum jahat.
"Gak benci lagi bahkan gue udah sangat dendam sama lo Sha!"
Tentu saja perih mendengar ucapan itu.
"Tapi kenapa? apa salah gue? apa alasan lo berbuat semua itu?"
"Salah lo? banyak!!"
"Dari merebut perhatian semua orang sampe perhatian orang yang gue suka juga elo rebut!!" Sinta menarik napasnya.
"Dan yang nggak bisa gue maafin kasih sayang orang tua gue pun lo rebut juga Aqilla Shaletta!" teriak Sinta histeris dengan air mata kebencian keluar dari matanya.
"Tapi gue nggak pernah lakuin itu dengan sengaja!" sanggahnya membuat Sinta menunjukkan smirknya.
"Pokoknya gue akan buat hidup lo menderita!!akan gue buat semuanya itu seperti neraka bagi lo!" ucap Sinta lalu tertawa.
Shaletta kembali terpikir akan perkataan Sinta yang pertama kali ia dengar.
__ADS_1
"Tentang gadis yang nggak sengaja gue senggol, apa ada kaitannya dengan lo Ta? dan apa lo juga dalang dibalik video itu? sampai-sampai gue dikucilin dan diejek satu sekolah? apa kalian berdua yang mencoreng nama baik gue?" tanya Shaletta bertubi-tubi.
"Jawab gue Sinta dan juga lo Jennifer!"
"Benar, kami dibalik semua itu, dan dengan adanya Jenni membuat gue mudah melakukan semua ini!"
"Hahaha...malang sekali dirimu dengan mudahnya percaya sama orang lain."
****
Shaletta terbangun dari tidurnya, sekarang napasnya tersengal-sengal seperti baru siap lari maraton. Ia duduk memikirkan kembali mimpi yang barusan ia alami.
"Apa yang terjadi ama gue? nggak mungkinkan Sinta lakuin semua itu? mungkin saja gue mimpi kaya gitu karena stres." ucapnya meyakinkan diri.
***
Shaletta pergi menuju taman yang dekat dengan rumahnya. Ia duduk di bangku putih nan manis yang telah disediakan di sana. Merasa tidak puas, ia pergi ke tepi danau.
Shaletta melempar batu-batu kecil saat ombak kecil datang menyebur di atas pasir. Tapi, baru beberapa kali melempar tangannya terhenti. Ia lelah dan sadar bahwa tidak ada gunanya ia melakukan hal bodoh seperti tadi.
"Apa gue selama ini salah udah percaya ama orang lain? apa gue terlalu baik hingga mudah diperalat orang?"
......................
Hari ini merupakan hari Sabtu yang sangat cerah, langitnya biru dan sinar matahari sangat terik.
Saat ini para murid SMA Galaxy menerima rapor mid semester yang dijemput oleh para orang tua. Rafor Shaletta dijemput oleh bundanya.
Gadis itu deg-degan dengan hasil nilai rapornya. Saking cemasnya dia sampai
bolak-balik melewati kelas X-A. Ia ingin mendapatkan informasi yang lebih lanjut. Dilihatnya bundanya duduk di meja yang biasa ia huni. Tampak bahwa bundanya sudah bosan mendengar ucapan guru yang tidak berhenti bicara selama 1,5 jam tersebut.
"Gue cemas sama nilai gue. Gue takut nilai turun."
Perkataan Shaletta malah jadi candaan bagi Gema. Setidaknya ia tidak membuat orang terus khawatir.
"Aelah! gue aja yang pas-pasan gini ga gitu-gitu amat. Santai aja! lo udah berusaha sebisa lo dan serahin aja semuanya sama yang di atas," ucap Gema yang menenangkan hati orang di depannya.
"Oh iya, mana anggota lo? kok gue nggak lihat batang hidung mereka sehari ini."
Yang ditanya malah berkeringat dingin. Sepertinya ada sesuatu yang sengaja ia sembunyikan.
"O-o-o..ouh ya kata mereka mo pergi bentar, ada yang perlu diselesaikan."
Shaletta hanya ber"oh"ia.
"Oke, gue duluan ya Gem."
"Oke."
Gema dapat bernapas lega karena Shaletta tidak terlalu mencurigainya.
"Untung aja dia nggak banyak tanya. kalau dia wartawan pasti pingsan gue nih."
***
__ADS_1
Saatnya waktu pulang sekolah telah tiba. Semuanya langsung keluar setelah mengambil tas mereka. Saking bar-barnya mereka, kelas seperti siap diporak-porandakan oleh massa.
"Bagaimana rafor lo tadi Ren?" tanya Adam.
"Ga ada yang aneh."
"Kalau lo Sha? Rizal gimana?"
"Alhamdulillah aman-aman aja. Ga ada masalah."
"Syukurlah kalau gitu."
"kalau lo gimana?" kali ini giliran Reno yang bertanya.
"Sama kek kalian, ga ada yang serius-serius amat."
"Hai guys, gimana?" suara itu berasal dari seorang makhluk yang bisa dikatakan aneh.
"Apanya yang gimana?"ucap Reno membalikkan pertanyaan Gema.
"Rafor? kalau elo?" tanya Adam.
"Kata mama gue sih ga terlalu buruk."
Melihat Shaletta yang sudah pergi, Gema mulai buka suara.
"Jadi ngapain kita ngumpul di sini?" tanya Gema dengan tampang polos.
"Ada sesuatu yang ingin gue sampaikan."
"What that?"
"Tunggu aja! semuanya belum datang."
"Emangnya mereka udah tahu kalau kita ada disini?"
"udah, gue udah bilang ama mereka kemarin."
Para the geng's five atau yang disingkat dengan TGF telah berkumpul. Mereka semua sudah ada ditempat yang telah dijanjikan.
"Ren, kapan kita jalanin Misi ini? sepertinya agak sulit deh!" komen Arya.
"Kita akan mulai penyelidikan ini besok, jangan sampai ada yang curiga! kita harus bersikap biasa aja supaya tidak ada seorangpun yang tahu rencana kita!" jelas Reno terang benderang.
"Jadi ceritanya kita melakukan pembagian tugas nih?" pertanyaan itu keluar dari mulut Rizal.
"Ya, pokoknya kalau kita jalanin seperti yang sudah dibahas sebelumnya pasti rencana ini akan berhasil."
"Jadi gimana susunan rencananya?"
"Caranya..." Reno memberitahukan rencananya.
Bersambung...
Terus baca ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!
__ADS_1
Jangan lupa untuk tekan tombol like, beri vote and coment serta kasih bintang 5!
Thanks