
Wanita tersebut hanya tersenyum menanggapi ucapan Ila.
"Emang kamu itu mau kemana?" tanyanya sambil memperbaiki letak pisau andalannya.
Lampu hijau. Kesempatan jangan disia-siakan.
Bukanlah Ila orangnya jika hanya melewatkan
peluang apalagi ini bersangkutan dengan hidup.
"Hmmm, kalau aku ikut kakak boleh nggak?" tanya Ila hati-hati.
"Tentu saja, ayo ikut aku!" jawabnya dengan senang hati tanpa ada kesan berat sekalipun.
***
Mereka berdua melakukan perjalanan menjelajahi hutan belantara namun masih sering dilalui oleh orang-orang disana.
Lelah perjalanan tak terasa saat diiringi dengan gelak tawa yang terdengar kompak oleh telinga orang-orang yang mendengarnya.
Mereka sudah seperti sahabat karib yang selalu bersama sejak kecil. Keakraban mereka terlihat saat tergelak bersama dan terus berbagi cerita.
"O iyo La, dima kampuang? bantuaknyo dari kota yo?" Tebak Ardilla tepat pada sasarannya.
(Oh ya Ila, kamu itu berasal dari kampung mana? sepertinya kamu itu dari kota deh.)
Ila mengangguk. Toh, ia juga tidak bohong sama sekali dan juga tidak benar sepenuhnya.
"Kalau kakak?"
"Akak ko pangambaro, tiok hari biasonyo batualang taruih jadi jarang ka rumah, palingan kalau rasonyo rumah lah kumuah bana pulo, kalau ndak jarang mah."
(Aku ini seorang pengembara, setiap hari terus berpetualang jadi aku ini jarang pulang ke rumah, palingan kalau rasanya rumah dah kotor baru aku ke rumah, kalau nggak mah jarang.)
Ila hanya ber"oh"ia saja. Ia ingin mendapatkan maklumat yang lebih lanjut lagi. Mana tahuan kan ia bisa dapat ilmu tentang yang ia minati selama ini.
Di zaman modern ini, semua orang hanya percaya pada sesuatu yang bersifat lahiriah. Walaupun ada, itu sudah sangat jarang. Karena seiring berkembangnya teknologi, membuat manusia jauh dari kata spiritual.
Bahkan yang namanya ilmu hitam mungkin saja sudah mulai punah. Tak lagi banyak orang yang melihat sampai kesitu karena banyak cara mereka untuk mendapatkan uang hasil jerih payahnya.
"Hmmm ingin nanya tentang hal-hal yang berkaitan ama kerajaan, tapi takutnya malah aku kembali terseret dalam masalah. Ah lagian untuk apa ditanyain kalau aku juga yang akan dalam masalah?"
"Kak, apa disini ada makanan? aku lapar."
"Saba se dulu yo, saketek lai wak basuo jo makanan tuh."
(Sabar aja dulu ya, sedikit lagi makanan akan kita temui.)
__ADS_1
Ternyata sudah 1 jam mereka terus berjalan menjelajahi hutan belantara. Pantas saja kalau rasa lapar malah menyerang Ila yang notabenenya memiliki fisik yang tak sebanding dengan Ardilla, si pandeka pengembara.
Lama kelamaan, Ila tak tahan lagi dengan rasa laparnya. Tenaganya memang benar-benar terkuras. Tapi ia berusah sekeras mungkin untuk tetap kuat dihadapan Ardilla.
"La, lo harus kuat! lagian lo juga bukan anak manja yang cepat lelah."
Namun, sudah tak dapat lagi menahan. Gadis tersebut terduduk dengan punggung tersandar pada pohon besar.
"Ila masih kuaik juo? kalau ndak wak baranti se dulu disiko." Ucapnya yang juga mengambil posisi di samping Ila.
(Ila, kamu masih kuat? kalau nggak biar kita berhenti aja dulu disini.)
Ila mengedarkan pandangannya sekeliling. Sekilas ia melihat sebuah warkop yang letaknya tak jauh dari tempatnya.
"Apa aku ke warung itu aja? tapi rasanya kok ada yang janggal ya? sebuah warkop berdiri di tengah hutan belantara yang jarang dijamah orang? dan lihat pula di sekitarnya! nggak ada rumah sama sekali. Kalau pembelinya aja nggak ada, kenapa dia membangun sebuah warung disini?"
Ila terus bertanya-tanya dalam hati. Walaupun seharusnya dia mengisi tenaga saat ini, tapi entah mengapa nafsu itu hilang begitu saja saat melihat warkop ditengah hutan.
Akan tetapi, Ardilla menarik tangan Ila sehingga ia kaget dan pemikirannya tadi langsung hilang.
"Ado ea kak? baa akak jajakan tangan wak?"
(Ada apa kak? kenapa kamu narik tangan aku?)
"Kamu lapar kan? itu disana ada warkop!" ujar si wanita pendekar menunjuk warung yang berjarak ±100 meter di depannya.
Sepertinya, Ardilla juga ikut lelah karena perjalanan mereka sudah cukup jauh dan ia juga tidak sempat berisitirahat dari tadi.
Makin lama, mereka semakin mendekati warung itu. Ada lumayan banyak makanan yang dijual disana. Bahkan ciki-ciki pun juga ada.
Beberapa makanan ringan berkemasan.
Tanpa disadari, seorang wanita berbaju kebaya dengan rambut yang disanggul menghampirinya. Wanita tersebut berparas cantik dan berkulit putih.
"Ka bali apo adiak-adiak ko? piliahlah!" tawarnya berbasa-basi kas wanita Minang dengan ramah.
(Adek-adek ini mau beli apa? pilih aja!)
"Wah, mokasi banyak ni. Iyo bana buliah iko kami piliah ni?" jawab Ardilla dengan senyumnya.
(Wah, terima kasih banyak kak. Iya betul nih boleh kami pilih kak?)
"Tantu se lah buliah. Iko kan kadai, jadi sumbarang apo yang ka dibali."
(Tentu saja boleh. Inikan kedai, jadi itu kan terserah mau apa aja yang akan dibeli.)
Wajah Ardilla memang langsung ceria, tapi tidak dengan Ila. Ia sedari tadi diam menatap sekeliling dan memutar otaknya apa yang aneh.
__ADS_1
Meskipun Ila sudah menghilangkan nething itu dari pikirannya, tapi hal tersebut malah semakin menjadi-jadi di otaknya.
Dilihat pula dari segi letaknya yang sama sekali tak masuk di akal. Ada warkop di tengah hutan belantara? bukankah itu aneh sekali? emang siapa yang akan membeli? nggak lucu kan jika pembelinya bukan manusia?
Kalau di coba positif thinking, malahan tak masuk diakal sekali. Nggak mungkin kan seorang manusia waras ingin mendapatkan keuntungan dari menjual di tengah hutan yang jarang dilalui orang? kecuali jika orang itu berkaitan dengan hal mistis.
"Ila, apa kamu bawa uang? sepertinya aku lupa menaruh uangku dimana."
Ila mengeluarkan selembar uang berwarna biru yang bernominal Rp.50.000,00. Ia berpikir bahwa jumlahnya sangat banyak sehingga dapat memborong isi kedai itu.
Namun, pemikirannya itu berbanding terbalik dengan kenyataan. Uang Rp.50.000,00 tidak diterima sama sekali.
"Maaf diak, tapi yang dipakai tuh pitih logam, maksudnyo koin tu eh." Ucapnya memberi tahu sambil menunjukkan uang yang dimaksud.
(Maaf dek, tapi yang dipakai itu uang logam, maksudnya uang koin gitu.)
"Tapi kalau adiak ambiak sajo ndak baa doh. Nampaknyo adiak-adiak ko lah latiah bana yo?"
Tawar si wanita itu kembali dan memberikan dua buah cemilan pada mereka berdua.
(Tapi kalau kalian ingin ambil silakan saja. Tampaknya kalian kecapekan benar ya?)
"Terima kasih."
Saat Ardilla akan memasukkan kue putu tersebut ke dalam mulutnya, tiba-tiba Ila langsung merebutnya dari tangan temannya itu dan dilemparnya kesembarang arah.
"Ila! apa yang kau lakukan? bukankah tadi kau bilang kalau kau lapar? lalu kenapa kau merebutnya dari tanganku kemudian kau campakkan begitu saja? itu mubazir sekali Ila." Bentak Ardilla pada Ila.
Namun Ila tak memasukkannya ke dalam hati. Ia tidak mau hal yang buruk terjadi. Kemudian dia menggoyangkan-goyangkan tubuh Ardilla.
"Kak, sadar kak! ini bukan warkop biasa! tapi ini warung jin kak! kau harus sadar!"
"Apa yang kau bilang La?" tanya Ardilla kemudian melihat ke arah wanita cantik tadi.
Tiba-tiba dia hilang tanpa jejak, begitu juga dengan warung tadi. Itulah yang dilihat oleh Ardilla, namun tidak dengan Ila. Ia masih melihat keberadaan warung itu masih ditempatnya juga.
"Sialan! kenapa gue sampai tidak menyadari kalau tempat ini sungguh angker? nasib baik Ardilla baik-baik saja. Kalau nggak apa yang akan terjadi? siapa yang akan menemani gue nanti?"
Bersambung...
Terus baca ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!
Jangan lupa untuk tekan tombol like, beri vote and coment serta kasih bintang 5 ya!
Ouh ya, jangan lupa untuk mampir ke novel dan chat story aku yang lain!
Judulnya:-Karin the Mafia Girl
__ADS_1
-Kisahku di pesantren
Thanks