Misteri Buku Tua

Misteri Buku Tua
Cahaya putih


__ADS_3

Seorang laki-laki yang masih terlihat gagah memasuki ruang dapur dan segera duduk


di meja makan. Ia tadinya didampingi oleh para pengawal.


"Ayah! Riri rindu ayah!" teriak Arilla memeluk ayahnya seperti sudah lama tak bertemu. Padahal baru tadi pagi ia belum bertemu ayahnya.


"Itu siapa nak?" tanya raja kerajaan Shappira membuat Rose mengangkat kepalanya dan ia langsung kenal dengan wajah tersebut.


Ya, dia adalah orang yang telah membunuh raja Batara yaitu ayah putri Rose pada peperangan tersebut.


gigi gerahamnya saling menekan dengan kuat pertanda ada kemarahan yang begitu besar yang dipendam oleh Rose.


"Saya akan melakukan apa yang telah ada


di hati saya sejak dulu," batin gadis itu lalu menikmati makanannya.


Flashback off


"Hahahaha, kau tidak mungkin tidak mengingatnya raja Jalal!" teriak putri Rose yang semakin menggila saja. Ila dibuat kewalahan jadinya.


"Perang yang terjadi 30 tahun yang lalu tidak mungkin kau lupakan!" marahnya besar dan wajah yang kusut.


"Kau membunuh ayahku! aku tidak pernah melupakan hal itu! apakah salah jika saya membalaskan dendam saya? kau tahu? karena kau saya jadi hidup sebatang kara. Padahal pada waktu itu, ibu saya baru saja meninggal beberapa bulan yang lalu dan anda malah membunuh ayah saya!? apa kau tidak berpikir bagaimana hidup saya? KAU BUAT HIDUP SAYA HANCUR RAJA JALAL!"


Raja Jalal yang diserang secara membabi buta itu memutar kembali ingatannya pada kejadian 30 tahun silam. Ia mengingat betul bahwa ia tak membunuh orang yang berada di kerajaan karena ia tidak masuk ke kawasan istana.


"Jadi bagaimana putri Arilla? siapa yang lebih menderita? kamu atau saya?" pertanyaan putri Rose membuat Arilla terdiam sebab ia juga mengerti bagaimana keadaannya putri Rose. Ia bisa merasakan bagaimana hampanya hidupnya tanpa kedua orang tuannya apalagi ia menyaksikan kematian dua malaikat pelindungnya oleh mata kepalanya sendiri.


"Kau tak bisa MENJAWABNYA KAN?! KAU TAK BISA KAN?" kini putri itu menangis tersedu-sedu. Tapi masih ia tahan juga agar tidak mengeluarkan air matanya dihadapan semua orang.


"Bagaimana raja? apa anda mengingatnya? jangan mengelak dari kenyataan kalau dirimu itu adalah PEMBUNUH!"


Suara penonton yang tadinya diam kembali menjadi riuh. Mereka berbisik-bisik mengenai raja Jalal.


"Saya baru tau kalau raja Shappira itu pembunuh!"


"Kasihan ya, malah anaknya yang dapat karma."


"Padahal raja itu orangnya baik loh, ternyata munafik ya."


"Seingat saya peperangan terbesar itu terjadi di tanah kerajaan Batara, apa kau pewaris kerajaan Batara?"


"Ya, saya adalah anak emas satu-satunya dan putri semata wayangnya. Saya adalah putri mahkota kerajaan Batara yang telah anda hancurkan itu."


"Saya tidak pernah membunuh raja Batara putri Rose! saya tidak ada menginjak tanah kerajaan Batara waktu itu."


"Anda bohong! tidak ada satupun maling yang mau mengaku kalau dia itu maling!"

__ADS_1


"Kau pembunuh raja Jalal! kau pembunuh ayah!" putri Rose kembali berteriak seperti orang gila. Semua anggota kerajaan jadi kasihan melihatnya.


Tiba-tiba sebuah cahaya putih mendekati putri Rose yang tersimpuh dengan gaun pengantinnya.


"Anakku sayang! apa kau tak merindukan ayahmu?" suara itu sangat dirindukan oleh putri Rose. Dua puluh lima tahun ia tak mendengar suara itu dan kini ia kembali mendengarnya.


"Ayah?" beo nya dan menegakkan kepalanya beberapa saat kemudian air matanya jatuh melihat pria dihadapannya itu. Ia memeluk namun selalu tembus seperti angin.


"Nak, kau tidak boleh bersedih seperti itu. Jangan salahkan orang atas kematian ayah dulu karena raja Jalal tak pernah menyentuh ayah pada saat itu kecuali menyemayamkannya."


Putri Rose menggeleng tidak menerima. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau ada raja Jalal berperang di atas kuda.


"Tidak ayah! aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri kalau raja Shappira ada di lokasi peperangan ayah! siapa lagi pelakunya kalau bukan dia."


"Itulah kesalahan kamu, kamu terlalu cepat menyimpulkannya. Bagaimana pula raja Jalal akan membunuh ayah jika dia itu adalah sekutu perang nak. Yang membunuh ayah bukan dia. Berhentilah menyalahkan orang lain!" ujar raja Batara yang berusaha meyakinkan anaknya.


"Tidak ayah, bukan hanya itu! aku juga mendapat kabar dari seorang pengawal yang wajahnya buruk rupa kalau ayah itu dibunuh oleh raja Jalal."


"Dia itu jin nak! jin pendamping dari orang yang telah membunuh ayah."


Putri Rose terdiam sejenak. Ia mulai membuka hatinya untuk mendengarkan kejadian yang sebenarnya.


"Jadi siapa yang membunuh ayah waktu itu?"


"Dia sudah meninggal dalam perang itu juga."


"Siapa keturunannya ayah?"


"Jangan nak! ayah tidak pernah mengajarkanmu untuk membalas perbuatan buruk seseorang. Jika seseorang berbuat buruk padamu lakukanlah balas dendam dengan berbuat baik padanya. Jika kau juga membalasnya dengan perbuatan buruk, maka kau tak lebih sama seperti orang itu bahkan lebih buruk. Ingat nak! seburuk-buruknya orang adalah orang yang tidak mau memaafkan orang lain."


Setelah mengucapkan kata-kata yang cukup panjang, raja Shappira kembali menjadi cahaya dan kemudian menghilang. Ia meninggalkan pelajaran yang amat berharga bagi putrinya.


Dengan hati yang merasa bersalah, putri Rose duduk bersimpuh dihadapan raja Jalal lalu meminta maaf padanya.


"Maafkan aku raja! selama ini aku selalu menyimpan dendam yang tak beralasan padamu. Saya merasa bersalah! jika anda menghukum saya dipenjara, maka saya tidak akan menolak karena semua ini memang murni salah saya."


"Janganlah seperti itu! bagaimanapun kau sudah ku anggap seperti anakku. Jika aku berada diposisimu mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama."


Putri Rose menengadah menatap raja Jalal. Ia sangat terharu dengan sifat pemurahnya. Sungguh tak pantas ia selama ini berburuk sangka pada raja itu.


"Apa aku boleh memanggil kalian ayah dan ibu?"


"Tentu saja!" raja dan permaisuri menyambutnya dengan baik. Setidaknya anak angkatnya telah sadar dengan kesalahannya.


"Tapi saya akan tetap menjatuhkan hukuman padamu."


"Saya umumkan bahwa mulai hari ini, gelar putri mahkota sekaligus pewaris kerajaan Shappira akan jatuh pada anakku, putri Arilla."

__ADS_1


Pengumuman itu membuat semuanya bertepuk tangan. Tak lupa juga dengan putri Rose yang menerimanya dengan lapang dada. Bagaimanapun ini juga kesalahannya.


"Dan untuk hukuman pada Rose, dia saya kembalikan pada tempat asalnya yaitu kerajaan Batara."


"Tunggu sebentar! ini acara pertunangan atau pengukuhan gelar pewaris?" pertanyaan Ila membuat Rendra menjitak kepalanya. Ia gemas sekali dengan sikap Ila.


"Bagaimana yang mulia raja istana baso? apakah pertunangan ini akan dilanjutkan?" tanya Tegar.


"Baiklah pertunangan ini akan dilakukan antara dua kerajaan yaitu kerajaan istana baso dengan kerajaan Shappira. Anakku, apakah kau masih mau melanjutkan pertunangan ini?" raja melihat pangeran Alfa yang tengah tersenyum.


"Tentu saja, dengan senang hati ayah. Malam ini, saya pangeran Alfa kerajaan istana baso akan memulai ikatan dengan putri mahkota kerajaan Shappira yaitu putri Arilla."


Putri Rose terlihat berbisik ayah dan ibunya. Ia sepertinya senang karena mendapatkan persetujuan dari dua orang yang telah dianggapnya sebagai orang tua.


"Dan saya sebagai wali dari putri Rose kerajaan Batara ingin menyampaikan niat, apakah kerajaan Euthoria mau memperkuat hubungan dengan cara menjalin ikatan dengan kerajaan Batara?"


Raja Batara pun hanya melihat anaknya. Ia takut jika ia memutuskan hidup anaknya, bukannya bahagia malahan anaknya menjadi menderita.


"Itu tergantung anak saya."


"Bagaimana? apa kau mau?"


Pangeran Euthoria menatap ayah dan ibunya yang sepertinya memberikan kebebasan padanya untuk mencari pasangan hidupnya.


"Saya mau, tapi tidak sekarang."


Lampu hijau yang sudah dikatakan oleh pangeran membuat putri Rose tersipu malu. Hari ini adalah hari tersedih sekaligus bahagia didalam hidupnya.


Semuanya merasakan kebahagiaan didalam acara pertunangan yang megah itu. Sedangkan Ila dan Rendra kini malah menepi dan terlihat membicarakan sesuatu.


"Apa kita pulang?" tanya Rendra yang kembali datar seperti sebelumnya.


"Of course, tapi aku akan berpamitan dulu pada Arilla dan..." Ila ingin membuat candaan.


"Tentu saja pada pangeran tampan yaitu pangeran Alfa," gadis itu puas melihat wajah Rendra yang semakin datar.


"Bilang aja lo mau modus sama dia."


"Hahahaha, lo baperan amat sih jadi orang."


"Pergi cepat! waktu kita tidak tinggal banyak, sebentar lagi portal itu akan kembali ditutup dan kita bisa terjebak selamanya."


"Ashiaaapp!"


Aku mau bilang terima kasih banget bagi para readers yang selalu setia menunggu karya aku. Aku minta doa kalian semua semoga novel aku dikontrak ya!


...Thanks to all of you...

__ADS_1


__ADS_2