
Hari begitu cerah, ditandai dengan matahari yang telah tersenyum saat baru terbit di ufuk timur.
Masyarakat setempat sudah melakukan berbagai aktivitas, mulai dari mencari nafkah sampai mengurus rumah.
"Kak, kamu mau membawaku kemana ini? hari baru subuh kak!" ucap seorang gadis yang tidak lagi memakai baju kemarin.
Ia seperti berjalan dengan wajah yang terpaksa, tidak berdaya bagaikan orang yang dipaksa. Namun nyatanya memang dialah yang salah. Tidur balik setelah shalat subuh.
Tak bisa dipungkiri suasana perkampungan zaman dulu dengan mode hijau yang jarang ditemui di zaman modern membuat Ila betah untuk bermalas-malasan di atas tikar dan tentunya itu tidak seempuk kasur kemarin.
"Subuah apo juo lai ko? kau tu yang lalok se pangana."
(Subuh apa juga lagi ini? kamu itu yang mikirin tidur terus.)
"Eh, tunggu lah kak!"
***
Pangeran Alfa terus berjalan sambil menendang batu-batu kecil yang ada di depannya. Wajahnya terlihat sangat murung dan tidak bersemangat sama sekali.
Dan...
"Akhhhh!" latah seorang gadis saat ada yang menyenggol bahunya. Walaupun tak sakit tapi itu cukup mengejutkan baginya.
"Sorry!" ujar orang yang telah menabraknya.
"Aku nggak sengaja."
Ila membetulkan posisinya berdiri. Ia belum melihat siapa yang ada dihadapannya.
"Kalau jalan tuh pakai mata! kan jadi ketabrak gini."
"Maaf!"
Ila mengangkat kepalanya dan..
Glek
"Mampus gue! pangeran itu." batin Ila dan kembali menunduk.
Untung dia membuat hijab yang menutupi bagian hidung sampai kebawah sehingga yang terlihat hanyalah matanya saja.
"Ila! udah dibilang jangan dulu-dulu!" teriak sang temannya mendekati Ila. Ia dengan cepat menghampirinya.
"Ngapain kamu? apa buat ulah lagi?" tanya Arilla mengintrogasi Ila yang tak mau menatap matanya.
"Dia sama sekali tidak salah, aku yang salah." Suara seorang cowok menengahi mereka berdua dan memberi keterangan kalau hal itu memang murni kesalahannya.
Arilla membalikkan badannya ke belakang dan ia membulatkan matanya setelah tahu dengan orang tersebut.
"Kau..." Ujar pangeran Alfa yang juga tak menyangka akan hal ini.
"Apa dia melakukan kesalahan padamu?" potongnya.
"Tidak." Jawab Ila dan pangeran Alfa secara serentak.
"Jikok mirip tuh yo lah, kami pai dulu yo. Maaf kalau nyo ado salah."
(Kalau begitu baiklah, kami pergi dulu. Maaf kalau dia melakukan kesalahan.)
Arilla berlalu meninggalkan pangeran Alfa yang masih diam dan kemudian disusul oleh Ila.
Bagaimanapun caranya Ila akan berusaha untuk menyelamatkan dirinya dari petaka yang mungkin sebentar lagi akan datang. Bisa-bisa nanti pangeran songong itu menyadari kalau si pembuat onar kamarnya ada di depannya.
Mungkin saat ini keberuntungan sedang berada di pihak Ila, namun belum tahu bagaimana yang akan terjadi selanjutnya.
"Tunggu!"
__ADS_1
Glek
Ila langsung menahan salivanya. Dalam pikirannya saat ini ia sedang berada di sebuah penjara karena ketahuan apa yang diperbuatnya.
"Mampus lo La!"
Arilla berbalik ke belakang. Ia kembali melihat wajah pangeran Alfa. Dia sendiri juga tak tahu apa lagi ini.
"Apa?"
"Aku ingin bicara denganmu?" ucap pangeran Alfa.
"Hah?" tanggap Ila cepat sambil menatap pangeran Alfa tercengang.
Ila melihat lekat mata pangeran Alfa yang teduh itu saat melihat Arilla, teman yang baru ia temui.
"Selamat!"
Ila sangat kenal dengan tatapan tersebut. Ia seperti melihatnya tiap hari. Namun, sayang Ila tak bisa mengingat dengan baik dimana ia nampak.
"Ngapain?" tanya Arilla bingung. Ia menjadi agak gugup dengan cara pangeran Alfa menatapnya.
"Hmmmm." Deheman Ila membuat dua pasang mata memperhatikannya.
"Bodo lu Ila! seharusnya lo kabur! bukan menganggu suasana yang aneh ini!" batinnya merutuki diri sendiri karena bodoh.
"Ma-maaf, lanjutkan saja! aku ingin mencari buah."
"Tapi..." ujar Arilla namun cepat dipotong Ila.
"Kamu nongkrong aja ama pangeran!"
"Bye!"
***
"Alhamdulillah ya Allah, engkau sebaik-baiknya pelindung. Untung aja nih mulut cepat bertindak. Kalau nggak..."
Ila terus melangkahkan kakinya sambil sesekali melirik hp yang sedang di cas dengan
power bank.
Awalnya ia memang kaget karena baterai ponselnya hanya tinggal 20%. Bagi HP nya baterai sebanyak itu sudah berwarna merah.
Ila membongkar tasnya dan untunglah sebuah benda berwarna putih mengintip dari bawah baju. Ketika dihidupkan ternyata energi yang tersisa 95%.
Ya sudah, tak perlu berpikir panjang lagi. Toh tempat ngecas nya udah ketemu ya nggak usah ribet lagi. Yang terpenting sekarang adalah menemukan sebuah makanan yang tentunya bukan makanan jin lagi. Ila kapok berurusan dengan cemilan para makhluk halus.
"Pohon! kenapa engkau tak mengeluarkan buahmu? aku lapar." Celetuk Ila menirukan gaya suara yang lagi viral di tik tok.
"Idiw alay lu La!" tanggap seseorang cepat membuat jantung Ila seakan ingin melompat keluar.
"Astaghfirullaahal'aziim, hobi banget para syaitan ngangetin orang." Latahnya yang terkejut bukan main.
"Sue lo, ganteng-ganteng gini lu bilang syaitan.
Woy nyadar woy! derajat gue lebih tinggi dari mereka." Sorak orang tersebut.
Ila memutar bola matanya jengah. Ternyata
si sok gaul yang datang. Ia kira apa lah tu, mana datangnya di tempat yang sepi lagi.
"Lo ngapain disini?" tanya Tegar.
"Gue ingin cari makan, tapi nggak jadi." Ila mengeluarkan senyum devilnya.
"Why?"
__ADS_1
"because the food is already in front of me."
"Nggak bisa bahasa engres." Jawab Tegar yang memakai logat Inggris.
"Bukak google translate ngab!"
Setelah menuruti kata Ila dan ia kini sudah mengetahui apa yang dikatakan Ila. Tegar membulatkan kedua matanya dengan melotot ke arah Ila.
"Gila lo!"
"Hahahaha."
"sekarang gue serius, lo lagi laper La?" tanya
si dukun dan dibalas anggukan oleh Ila. Tak dapat dipungkiri memang perutnya sudah sangat lapar. Bomat lah apa yang terjadi selanjutnya.
"Kini lo ikut gue!"
"Oghey!"
***
"Mana lo ajak gue Gar? petunjuk lo nggak
sesat,kan?"
"Lo nething terus ama gue, sekali-kali positifkan pikiran lo tuh!"
"Kalau lo macam-macam, i will kill you." Ila memberikan gerakan isyarat yaitu telunjuk yang seperti menebas leher.
"I-iya." Responnya cepat sembari bergidik ngeri pada Ila karena macam psikopat saja.
Sudah cukup lama lah mereka berjalan namun belum juga ketemu dengan yang namanya makanan.
"Wah nggak bisa dibiarin nih, lo bohongin gue yah?" teriak Ila ngegas.
Tegar hanya cengengesan.
"Tadinya gue tau jalan, eh tau-taunya ternyata gue lupa."
"Hoy nyadar nggak lo kita hanya berdua disini Tegar! ndak elok hei! bisa-bisa nanti terjadi yang aneh-aneh."
"Yo ndaklah La. Lo pikir iman gue selemah itu hingga nggak bisa melawan godaan setan?" ucap Tegar tak terima.
"Siapa bilang berdua? kita dari tadi ramai disini."
Suara seseorang tiba-tiba muncul.
"Dari mana aja lo Vel? dasar main tinggalin gue aja."
"Hehehe, orang sabar di sayang Allah Gar."
***
"Ila mana sih?" gumam Arilla yang mulai cemas dengan kawannya itu.
Arilla kembali menyusuri hutan untuk mencari keberadaan Ila. Baginya, Ila itu sudah seperti adiknya. Ia adalah seseorang yang berhasil membuatnya tertawa.
Sudah cukup kehilangan di masa lalu hanya karena perbedaan yang dimiliki. Arilla tak mau semua itu terulang lagi.
Bersambung...
Terus baca ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!
Jangan lupa untuk tekan tombol like, beri vote and coment serta kasih bintang 5 ya!
Ouh ya, jangan lupa untuk mampir ke novel dan chat story aku yang lain!
__ADS_1
Judulnya:-Karin the Mafia Girl
-Kisahku di pesantren