
(Satu tahun sebelumnya … )
Ray melepas kacamata, hanya untuk memperjelas tulisan yang ada di layar laptopnya, walaupun tentu dia akan makin tak bisa melihat tanpa kacamata itu. Kemudian dia kembali mengenakannya. Ray bukanlah orang yang suka memakai kacamata setiap saat, tapi dia akan mengenakannya jika sedang bekerja. Sebagai seorang progammer handal, mata adalah aset berharga bagi Ray untuk menyambung hidup dan meningkatkan status sosialnya.
“Sayang, coba ke sini dulu, deh,” teriak Ray, saat dia memastikan tulisan yang ada di layarnya tidaklah salah.
Karen yang sedang menyiapkan makan malam, tergopoh-gopoh menghampiri Ray meski celemek masih dia kenakan.
“Ada apa, Ray?” tanya Karen sedikit kesal. “Aku masih masak, nih,”
“Coba lihat, Sayang. Aku nggak salah lihat, kan?” Ray menunjuk tulisan di layar laptopnya.
Lamat-lamat Karen membaca dengan serius, untuk sedetik kemudian berseru senang penuh syukur. Dia dekap tubuh suaminya, berteriak kegirangan. Setelah penantian selama hampir enam bulan sebagai pengangguran, Ray akhirnya mendapatkan email bahwa dia berhasil lolos pada seluruh tahap seleksi di Fortuna Corp, perusahaan di bidang elektronik yang sedang naik daun.
“Ray, akhirnya! Selamat, ya!” Berkali-kali Karen menciumi pipi Ray, senang bukan main.
Akhirnya Karen tak perlu lagi menahan diri setiap bulan, hanya untuk memastikan uangnya cukup selama sebulan. Pekerjaan Ray hanyalah pekerjaan lepas, namun Karen membujuknya untuk mulai mencari pekerjaan tetap jika mereka berencana mempunyai anak kelak.
Karen dan Ray telah menikah selama tiga tahun, meskipun belum dikaruniai buah hati, pernikahan mereka tetap romantis seperti pengantin baru. Karen, mahasiswi yang terkenal paling cantik sekampus, memutuskan untuk menerima lamaran Ray, lelaki culun nan jenius. Hubungan mereka membuat takjub seluruh teman-teman satu angkatan, namun Karen dan Ray terus membuktikan kekuatan cinta mereka ke semua orang. Dalam keadaan apapun, suka maupun duka.
“Sayang, enaknya besok aku pakai baju apa, ya?” tanya Ray, terlibat percakapan sebelum tidur bersama Karen.
“Aku sudah menyiapkan setelan kemeja terbaikmu,” jawab Karen. “Yang terpenting sekarang kamu tidur, karena besok adalah hari pertamamu bekerja, Ray,” Karen mengelus lembut kening Ray, berusaha menidurkan suaminya layaknya seorang bayi.
“Apakah kamu senang?” tanya Ray, sambil mengelus pipi lembut Karen.
Karen mengangguk. “Aku bersyukur atas apapun hal baik yang terjadi padamu dan keluarga kita,”
Ray tersenyum mendengar respon Karen. Lalu dia mengecup lembut bibir istrinya, penuh gairah dan romansa manis sepasang suami istri.
__ADS_1
* * *
“Akhirnya Pak Tua memberikan perusahaannya padaku. Aku ingin besok kamu ikut bekerja denganku,” pinta Martin pada Sierra, setelah pengumuman tentang pengangkatannya sebagai CEO baru di Fortuna Corp.
Sierra yang sedang duduk berdua bersama Martin di kafe favorit mereka, hanya bisa tercengang. Martin memang selalu suka seenaknya. Namun meminta Sierra bekerja untuknya begitu saja, tanpa persiapan, tentu membuat Sierra terkejut. Saat ini status Sierra adalah sekretaris Paul Willis, ayah Martin.
“Lalu, apa yang harus kukatakan pada ayahmu, Martin?” tanya Sierra bingung. “Ini sudah hampir tengah malam. Tak mungkin aku mengirim surat pengunduran diri,”
“Aku sudah bilang padanya kalau kamu kuambil,”
Ucapan Martin membuat wajah Sierra memerah. Dia menegak minumannya untuk menyembunyikan kecanggungan.
“Besok aku akan menjemputmu jam 7. Kamu harus sudah siap,” suruh Martin.
Sierra tiba-tiba tertawa lepas. Sedikit mengangkat kepalanya, mendongak menatap langit-langit.
Martin tak ikut tertawa, justru mencengkeram erat gelas minumannya sangat erat.
“Besok adalah hari pertamaku. Aku tahu Pak Tua sengaja memberiku perusahaannya yang paling sukses, untuk menjatuhkanku. Karena dia yakin aku akan gagal,”
Sierra masih tertawa. Kali ini dia menggeleng, menatap Martin penuh kehangatan.
“Kamu tak perlu khawatir. Aku sudah mencarikan beberapa karyawan terbaik untuk membantumu, dan membantu kita,” ucap Sierra berusaha menenangkan Martin.
Kedua sahabat yang selalu bersama dan saling menguatkan dalam hal apapun, bahkan dalam urusan ranjang, meski mereka mengaku tak melibatkan perasaan. Namun dalam hati kecil Sierra, andaikan Martin menganggapnya lebih dari sekedar sahabat, dia akan teramat senang.
* * *
“Ray, jangan gugup, dong!” omel Karen sambil memasang dasi ke leher Ray.
__ADS_1
Bagaimana dia tidak mengomel? Ray sedari pagi terus mondar-mandir, merapal banyak mantra perkenalan kerja, bahkan mengabaikan sarapan yang telah susah payah dibuat oleh Karen.
“Fortuna Corp perusahaan yang sedang melejit, Sayang. Tentu aku gugup!”
Karen manggut-manggut. “Iya, iya. Tapi kamu juga nggak kalah profesional. Kamu adalah progammer yang sudah terkenal bahkan sampai luar negeri,”
Setelah pamit dan tak lupa mencium kening Karen, Ray bergegas pergi sebelum dia ketinggalan kereta dan telat masuk kerja. Di dalam hati Karen selalu berdoa, semoga segala urusan Ray dimudahkan. Begitu pula, semoga setelah rejeki baru ini datang menghampiri keluarga kecilnya, akan datang anggota baru ke dalam keluarga.
* * *
“Ini,” Sierra menyerahkan beberapa lembar dokumen ke hadapan Martin yang sedang duduk was-was di ruang kerjanya.
Ruang kerja seorang CEO Fortuna Corp teramat luas, terletak di bagian paling atas gedung perkantoran mereka, dengan dinding terbuat dari kaca sangat besar sehingga Martin bisa melihat dengan jelas pemandangan kota. Ini sangat menguntungkan baginya, untuk menghilangkan penat sejenak.
“Apa ini?” tanya Martin.
“Ini daftar nama-nama pegawai baru unggulan yang berhasil kita dapat,” jawab Sierra. “Semoga dengan kedatangan mereka, kamu bisa menjawab keraguan ayahmu,”
Martin membolak-balik dokumen yang diserahkan Sierra, mulai mengamati satu demi satu nama-nama pekerja baru yang akan masuk ke dalam perusahaannya.
“Aku sudah memanggil mereka satu persatu untuk berkenalan langsung denganmu,” ucap Sierra, lalu berjalan menuju pintu untuk membuka dan mempersilahkan pegawai baru yang pertama dipanggil.
Lalu tibalah saat Ray, yang masih saja gugup, harus memperkenalkan dirinya secara langsung pada CEO Fortuna Corp, Martin Willis. Dia disambut dengan ramah oleh Sierra, yang juga membukakan pintu untuknya. Kemudian Ray mulai berjalan gugup, telah bisa menguasai dirinya sendiri secara tiba-tiba. Seakan kekuatan dalam dirinya mendadak bangkit, membuat level percaya diri Ray diambang batang yang tinggi.
“Halo, selamat pagi,” salam Ray. “Saya Ray White, sebagai data analyst baru di perusahaan ini,” ucap Ray, penuh percaya diri. Senyumnya merekah cerah, penuh semangat akan pekerjaan barunya. Pekerjaan tetap yang selalu dia harapkan, demi mewujudkan keinginan Karen.
Martin mendongak hanya untuk memandangi Ray cukup lama. Inilah yang selama ini dia cari. Dengan berbagai portofolio luar biasa dari Ray, dan kepiawaiannya, profesi yang sangat langka sumber daya ini berhasil masuk ke dalam perusahaannya. Tanpa sadar Martin menyunggingkan sebelah senyumnya, merasa menang telah mendapatkan permata. Permata untuk menghancurkan ayahnya sendiri.
“Aku Martin Willis, CEO Fortuna Corp,” balas Martin, ikut memberi salam. “Selamat datang di perusahaan kami, Ray. Semoga kita bisa menjalin kerjasama yang baik,”
__ADS_1