
“Lepaskan aku … “ rintih Karen, karena kini Martin makin mendorong dan menekannya ke dinding, sekuat tenaga.
“Bilang jujur!! Kamu sengaja marah, agar punya alasan kembali pada Ray, kan?!” bentak Martin. Kedua matanya basah, dengan semburat kemerahan. Tampak menyedihkan.
“Harusnya aku yang marah, bukan kamu! Kamu yang mengkhianatiku, Martin!” Karen tak mau kalah. Andaikan saat ini Martin membenturkan kepalanya ke dinding sekalipun, Karen tetap akan membela diri.
“Aku sudah bilang, kita di bawah ancaman. Sophie akan membunuhmu jika aku dan Petrina tidak menikah,”
Karen tertawa. “Menikah? Kalian bahkan melakukan ini sebelum menikah!”
“Karen, kumohon pahami posisiku,” Martin mulai memelankan suaranya. “Aku harus segera punya anak, atau Paul akan memberikan seluruh hartanya pada anak Sierra,” jelas Martin dengan tatapan penuh belas kasihan.
Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Karen segera mendorong mundur tubuh Martin. Tiba-tiba dia mengeluarkan sebuah pisau kecil dari dalam sakunya. Dia todongkan pisau itu ke arah Martin.
“Jangan berani mendekatiku,” cegah Karen. “Beruntung, aku selalu membawa benda ini kemana pun, karena bersamamu memang tidak pernah aman,”
Martin tak punya pilihan. Dia berusaha menjauh dari Karen, takut wanita itu tiba-tiba secara brutal menusuknya.
“Karen, kumohon … mengertilah,”
Karen menggeleng. “Jangan pernah mencariku lagi,”
“Aku hanya mencintaimu, Karen. Aku tak mungkin bisa hidup tanpamu,” tandas Martin putus asa.
“Tapi aku tidak bisa memberimu anak. Kamu bisa bersama wanita itu,”
“Kamu salah paham. Kumohon, dengarkanlah alasanku dulu,” Martin hendak maju, tapi Karen buru-buru mengacungkan pisaunya.
“Jangan mendekat! Aku tidak main-main akan menusukmu,” Bola mata Karen bergetar, penuh emosi dan rasa takut.
Mendengar keributan yang makin besar dari luar pintu apartemen, Petrina segera membaur. Namun dia cukup terkejut saat Karen menyambutnya dengan acungan pisau. Dengan kedua tangan yang diangkat tinggi-tinggi, Petrina berhati-hati berdiri di samping Martin.
“Karen Willis, aku akan jelaskan semua padamu,” ucap Petrina.
__ADS_1
Petrina terus berusaha meyakinkan Karen agar menurunkan pisaunya. Dengan nafas tersengal, pelan-pelan Karen menurunkan pisaunya. Secepat kilat Martin menepis pisau itu, menendangnya sejauh yang dia bisa agar tak bisa diambil oleh Karen.
Karen melotot, memasang pertahanan dan hendak berlari. Namun Petrina justru menggapai tangannya.
“Biar kujelaskan semuanya. Kumohon, beri aku kesempatan,” pinta Petrina, memasang ekspresi memohon.
Maka Karen pun setuju untuk masuk kembali ke dalam apartemen, demi mendengarkan alasan Petrina.
“Kita berdua harus menikah, demi semuanya,” simpul Petrina, setelah menjelaskan segalanya.
Karen mengatur nafasnya yang terus saja menderu, sangat berusaha mengontrol emosi.
“Martin ingin hartanya dan menyelamatkanmu, sedangkan aku, aku ingin makin menambah koneksi keluargaku,” Petrina mencondongkan tubuhnya ke depan. “Aku tidak mencintai Martin, dan dia hanya mencintaimu, Karen,”
“Aku tidak perlu diselamatkan,” sanggah Karen.
“Kamu tidak tahu Sophie!” sambar Martin. “Ibuku itu, bukan, maksudku ibu angkatku itu akan melakukan segala cara demi melancarkan rencananya,”
Karen lalu beranjak berdiri, tak lupa membawa tasnya. Martin juga ikut berdiri, hendak mencegah kepergian Karen, namun ditepis keras.
“Aku tidak bisa tinggal bersamamu lagi,” ucap Karen. “Aku izinkan kamu melakukan apapun,”
Tatapan mata Karen datar, namun ada sedikit kepedihan di balik ucapannya. Martin terus memohon, namun keputusan Karen sudah bulat. Dia memilih pergi, tanpa membawa pakaiannya. Dia juga pergi setelah menyerahkan kartu hitam dan kunci mobil kepada Martin.
“Karen, jangan seperti ini,” Martin berusaha meraih tangan Karen yang makin menjauh.
Namun diluar dugaan, Petrina justru menahan tubuh Martin agar tak mengejar Karen. Petrina menggeleng, mengisyaratkan pada Martin agar memberi waktu pada Karen untuk menenangkan hati.
***
Tangis Karen tak terbendung. Makin mengalir deras, dengan dada yang nyeri dan nafas sesak mengering. Dia ingin kembali ke saat sebelum dia memergoki tindakan Martin dan Petrina, mengutuki diri sendiri, kenapa dia harus pulang di waktu yang salah. Andaikan Karen bisa lebih lama di kampus, mungkin dia tidak akan melihat semuanya. Mungkin dia masih menjadi seorang Karen yang naif, yang dianggap hanya menginginkan harta Martin.
Meski puluhan pasang mata para pegawai yang tertunduk padanya dipenuhi dengan sejuta tanya di hati, tentang sembabnya mata Karen, dia sudah tak peduli. Dia terus berjalan, keluar dari gedung pencakar langit itu dengan tangis yang terus menerus mengalir.
__ADS_1
Hatinya sangat sakit, hingga saat dia berusaha menelan ludah, rasanya tak mampu. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah menjauh sejauhnya dari Martin dan segala hal yang berhubungan dengan suaminya itu.
Dan Karen pun menuju ke sebuah panti jompo, menggunakan taksi. Dia berencana menjenguk ibunya, Rida, yang telah lama dia tinggalkan setelah menikahi Martin. Dia hanya tidak mampu menjelaskan pada sang ibu tentang perceraiannya dengan Ray, serta dia takut mata-mata Sophie akan menemukan tempat persembunyian ini.
Semenjak menikah dengan Ray dan berurusan dengan keluarga White yang kejam, Karen memutuskan untuk menyembunyikan sang ibu yang telah lemah ke sebuah panti jompo dimana dulu sang ibu pernah bekerja.
“Karen? Kamu Karen Stevens?” Sang resepsionis segera menghampiri Karen.
Karen yang masih sembab hanya mengangguk, lalu sang resepsionis yang bernama Aris itu segera memeluknya penuh kehangatan dan rasa rindu.
“Sudah lama kamu tidak datang, Karen,” ucap Aris, mengelus bahu Karen.
Karen tersenyum. “Maafkan aku. Aku banyak disibukkan dengan pekerjaan,”
Aris ikut tersenyum dan mengangguk. “Tumben kamu tidak bersama dengan suamimu? Dia datang ke sini lebih dulu,”
Deg! Jantung Karen melonjak mendengar ucapan Aris.
“Maksud kamu?”
Aris makin bersemangat. “Iya, dia baru saja datang, mungkin 5 menit yang lalu. Dia sekarang sedang di kamar ibumu,”
Jantung Karen berdetak kencang, dengan berbagai praduga buruk di benaknya. Tanpa banyak berbasa-basi lagi, Karen segera meluncur ke kamar Rida, sambil berharap ibunya tetap baik-baik saja.
Apakah Martin telah menemukan ibunya? Atau suruhan Sophie untuk mencelakai ibunya? Banyak pikiran-pikiran buruk yang kini menghantui kepala Karen, seiring dengan langkah kakinya yang makin mendekat.
Dengan jantung yang masih berdebar, pelan-pelan Karen membuka pintu kamar Rida, nyaris tanpa suara. Dia intip sedikit untuk memastikan siapakah yang datang.
Tas tangan yang dipegang Karen seketika terjatuh, saat mata Karen menangkap sosok Ray yang sedang berbincang hangat penuh tawa bersama sang ibu. Ray juga sesekali memberikan sepotong apel yang telah dikupasnya, untuk Rida.
Karen langsung membekap mulut, berusaha menahan suaranya agar tak terdengar. Dia lalu berlari, meninggalkan kamar itu, kembali menangis namun kali ini lebih pedih. Kepedihan yang menggerogoti tak hanya hati, namun juga persendiannya yang seakan tak sanggup lagi berdiri.
Karen bersimpuh di dalam kamar mandi, menangis meratap dan penuh penyesalan. Andaikan dia tidak meninggalkan Ray, mungkin segalanya tak akan serunyam ini.
__ADS_1