Misteri Memori Yang Hilang

Misteri Memori Yang Hilang
Lepaskan Aku!


__ADS_3

“Maafkan aku, Karen,” ucap Sierra.


Sierra mengakhiri ikatannya dengan sebuah tali simpul yang sangat erat pada kedua pergelangan tangan Karen. Wajahnya penuh penyesalan, namun rasa pengabdiannya pada Martin lebih besar mengalahkan apapun.


“Sementara kamu istirahat di kamarku,”


“Kamu mau kemana?” cegah Karen, berusaha keras melepas ikatan tali yang melilit tangannya.


“Menghubungi Martin,”


Mata Karen melebar, berkaca-kaca dan penuh belas kasihan. Dia merasa sangat takut dan terancam. Keinginannya untuk bertemu kembali dengan sang suami membuat Karen depresi dan tak bisa berpikir dengan kepala dingin.


“Kumohon, Sierra. Aku harus keluar dari sini, aku harus menemui Ray,” rengek Karen, mulai basah dengan air mata.


Sierra menutup mata dan menggeleng pelan. Dia sendiri tak tahan melihat kondisi Karen, terpenjara di rumah ini tanpa tahu kabar suaminya.


“Kamu tahu aku adalah bawahan Martin,” ucap Sierra. “Aku tak bisa melakukannya,”


Karen mulai panik. Dia terus menerus memohon, sambil terisak bahkan hampir saja dia bersujud di depan Sierra sebelum Sierra mencegahnya.


“Kamu harus memikirkan cara lain agar bisa keluar dari sini, Ren. Tapi bukan dengan bantuanku,” Sierra berjalan menjauhi Karen yang mulai menangis histeris, dan mulai menelepon Martin.


“Kamu harus tahu, Karen sudah mengingat semuanya … “


* * *


Tangan Martin gemetar hebat setelah mendapatkan panggilan singkat dari Sierra, di tengah malam ketika dia sedang menghabiskan malamnya sendirian di dalam apartemen mewah miliknya.


“Brengsek!!” Martin melempar keras ponselnya, yang langsung hancur berkeping-keping tak bersisa.


Dia mencengkeram kepalanya, mengumpat terus-terusan, mengutuki siapapun yang bisa dia ingat. Wajahnya memerah, menahan amarah yang telah mendidih sampai ke ubun-ubunnya. Karen, wanita satu-satunya yang paling dia cintai, telah mengingat semuanya. Martin ingin Karen hanya menjadi miliknya tanpa tersentuh siapapun, namun, malam ini, semua rencana itu gagal berantakan. Bahkan usahanya menggelontorkan banyak dana untuk membayar bawahannya agar membeli obat terlarang itu juga sia-sia. Karen jauh lebih pintar dari yang dia duga.


Maka malam ini juga Martin harus kembali ke sana. Dia memutuskan menyetir mobilnya sendiri, di tengah malam, menempuh perjalanan hampir lima jam untuk sampai di desa kecil penuh hutan itu. Amarah telah menguasai Martin sepenuhnya, hingga dia tak lagi merasakan apapun selain bergegas untuk menemui Karen.


* * *

__ADS_1


Tepat pukul 4 pagi, Martin telah sampai di rumah mewah itu. Dia memarkir mobilnya serampangan, dan berteriak liar memanggil Sierra. Dia tak peduli waktu, toh rumahnya ini berada di tengah hutan yang cukup jauh dari pemukiman warga, jadi apapun yang dia lakukan tak akan diketahui siapapun. Dan datanglah Sierra, sedikit berlari dengan wajah cemas.


“Martin? Kenapa … kenapa sepagi ini?” tanya Sierra penuh kekhawatiran.


“Mana Karen?” tanya Martin, tak menghiraukan pertanyaan Sierra sebelumnya.


“Dia tidur. Aku sudah berhasil menenangkannya, kamu tak perlu khawatir,” jawab Sierra.


Martin yang mendengarnya langsung bernafas lega, mulai sedikit limbung karena kesadarannya telah pulih kembali, menggantikan amarah yang menguap hilang. Sierra dengan sigap membopong tubuh Martin membawanya masuk ke dalam rumah dan menuntun Martin untuk bersandar di sofa.


“Maafkan aku, Martin,” ucap Sierra. “Harusnya aku bisa lebih waspada dan mengawasinya,”


Martin menggeleng dengan wajah kuyu. “Aku yang salah. Meninggalkan kalian berdua sendirian di sini,”


Sierra tersenyum maklum, lamat-lamat berusaha menggapai tangan Martin yang tampak lemah.


“Tapi aku tak percaya siapapun selain kamu, Sierra. Aku ingin kamu yang menjaga wanita yang kucintai,” tambah Martin.


Sierra berhenti melakukan tindakannya, memilih mundur dan berusaha mengalihkan perhatian.


“Aku akan membuatkanmu sarapan,” ujar Sierra.


“Temani aku tidur,” pinta Martin pelan, dengan mata yang makin lama makin meredup.


Sierra yang tak tega bergegas membawa Martin ke kamar lain yang kosong, menidurkan majikannya itu di sana. Martin menangkap tubuh Sierra untuk ikut berbaring bersamanya, saling merangkul menghangatkan.


“Aku hanya percaya padamu, Sierra. Tak ada yang lain,” tukas Martin dengan mata terpejam.


Sierra tersenyum simpul. “Aku tahu,” balasnya.


Meskipun matanya terpejam rapat, tangan Martin mulai menelusuri tiap lekukan tubuh Sierra, membuat Sierra sedikit mengeluarkan ******* lirih, yang makin membangkitkan gairah Martin. Di tengah-tengah permainan yang hampir memuncak, Sierra mendadak menghentikan tindakan Martin.


“Martin, apa ini semua?” tanyanya.


“Maksud kamu?”

__ADS_1


“Kenapa kita begini?” tanya Sierra lagi.


Martin tersenyum, memandangi wajah Sierra dengan mata setengah terbuka. “Kamu tak suka?”


Sierra menggigit bibirnya dan memilih diam. Dia tak sanggup menjawab, melainkan kembali mengijinkan Martin melakukan tugasnya. Bersama Sierra, Martin menghabiskan pagi yang panas, sembari menunggu Karen terbangun dari tidurnya.


* * *


Karen membuka mata, dan dia menyadari jika dia tertidur di dalam kamar Sierra dalam keadaan tangan masih terikat. Tanpa pikir lama dia melompat bangun, kembali meronta dan berteriak minta dilepaskan. Berharap Sierra yang datang membuka pintu, Karen justru melihat Martinlah yang masuk ke dalam kamar itu, dengan wajahnya yang penuh kemarahan.


Melihat wajah Martin, kemarahan pun juga turut menyerang Karen. Dia membabi buta memaki Martin, dengan segala sumpah serapah yang dia tahu. Karen melompat dari ranjangnya, berlari menabrak Martin yang dengan cepat bisa menghindar. Karen memaki Martin layaknya orang kesurupan.


“Brengsek! Kembalikan suamiku!” teriak Karen marah.


Bukannya balik berteriak, Martin justru menggendong tubuh Karen dan meletakkan tubuh itu di atas ranjang dengan keras. Karen yang meronta dengan tangan terikat justru makin menggila, apalagi setelah Martin bergerak maju duduk di atas tubuh Karen. Pria itu saling berhadapan sangat dekat dengan Karen, yang sekarang hanya bisa bungkam karena Martin telah mencengkeram kedua pipinya.


“Sayang, apa yang kamu lakukan?” tanya Martin tanpa dosa.


Karen berteriak berontak, tapi cengkeraman Martin sangat kuat dan tak bisa dia kalahkan.


“Sayang, kamu tahu aku sangat mencintaimu. Cintaku ini lebih besar melebihi siapapun, bahkan melebihi suamimu yang miskin itu,” ucap Martin, mengelus pelan rambut Karen.


Karen menangis. Dia menangis keras, hingga isakannya membuat Martin sedikit luluh dan melepaskan cengkeramannya di pipi Karen. Martin bergegas menyeka air mata Karen, menciumi pipinya berulang kali.


“Kamu tak mencintaiku … Kamu hanya menginginkan tubuhku,” isak Karen.


“Aku menginginkan semuanya tentangmu,” sahut Martin.


“Kumohon lepaskan aku, Martin. Aku bukan istrimu. Aku istri Ray. Dan aku mencintainya … “ isak Karen makin keras. Air matanya makin deras tak terbendung.


Martin menggeleng. “Kamu tak pernah mencintai Ray. Jika kamu mencintainya, kamu tak akan berselingkuh denganku,”


“I-itu … itu dosa dan kesalahanku padanya. Aku menyesal, aku ingin kembali pada Ray … “


“Tapi aku lebih membutuhkanmu, Karen,” Suara Martin berubah menyedihkan ketika ia terus menerus harus menyeka air mata Karen. “Kumohon teruslah di sampingku,” pinta Martin.

__ADS_1


Karen menggeleng keras. Dengan terus menangis dan terisak dia meronta memohon dilepaskan. Namun saat mendengar reaksi Karen yang menolah permohonannya, tatapan mata Martin berubah tajam. Dia kembali mencengkeram kedua pipi Karen, namun kali ini lebih keras dan sakit.


“Aku akan menghabisi Ray, jika kamu tak mau bersamaku … “


__ADS_2