
Langkah kaki Petrina makin dipercepat ketika dia hampir sampai di depan pintu apartemen mewah milik Martin. Tanpa mau mengetuk, Petrina memilih untuk masuk begitu saja. Pandangan mengitari sekeliling, berusaha mencari dimana keberadaan Karen.
Dan diapun berhasil menemukan Karen, yang sedang sibuk dengan hobinya di dapur. Maka Petrina tak mau membuang banyak waktu. Dia sambar tubuh Karen, sedikit mengguncangnya.
“Apa yang sebenarnya kamu rencanakan, hah?!” seru Petrina.
Karen yang tak paham, memilih untuk meletakkan pisau. Dia memutar tubuh saling berhadapan dengan Petrina.
“Apa maksudmu?” tanya Karen.
Petrina menarik nafas, demi menjaga emosi. “Kenapa mantan suamimu melaporkan Martin? Apa sejak awal kamu dan mantan suamimu sudah merencanakan ini?” tuntut Petrina, menolak sabar.
Karen menggeleng. “Bicara yang jelas, Pet. Aku tidak mengerti maksudmu,” Kini Karen melepas apron yang dia gunakan.
“Martin di penjara!” seru Petrina. “Dan itu semua berkat laporan mantan suami dan ibu mertuamu!”
Tatapan Karen melebar, dengan mulut terbuka. “B-bagaimana bisa … “
“Harusnya aku yang bertanya, Karen!” sambar Petrina. “Kenapa kamu tega melaporkan suamimu sendiri atas tuduhan penculikan padamu?”
Hati Karen tersentil saat Petrina mulai meluapkan emosinya. Kini dia sangat tahu kemanakah dia harus mencari jawaban. Maka tanpa mau berpikir lebih lama, Karen segera menyambar tas dan jaketnya, bergegas keluar dari apartemen.
Dia berlari, tak peduli saat Petrina berteriak memanggilnya untuk berhenti. Karen hanya punya satu nama. Sierra. Dia harus menemui Sierra, karena beberapa bulan lalu wanita itu pernah menawarkan diri untuk membantu Karen menjebloskan Martin ke penjara.
Meskipun tak punya banyak ide kemanakah harus pergi, Karen memilih untuk masuk ke dalam taksi dan menghubungi Sierra. Dan dalam tiga kali panggilan, sama sekali tidak ada respon.
“Maaf, kita harus kemana?” tanya sopir taksir itu setelah mobil melaju–demi menghindari Petrina.
Karen menggigit bibir, karena dia sama sekali tak punya petunjuk dimana keberadaan Sierra sekarang. Bahkan meskipun dia masih sah sebagai istri Martin, justru dari Petrinalah dia tahu kabar mengejutkan ini.
Karen seperti terlupakan, atau malah sengaja dilupakan.
Dan setelah berpikir lima menit lamanya, Karen pun memutuskan untuk pergi ke kediaman Paul dan Sierra. Beruntung, Sierra sedang bersantai sambil menggendong sang anak di taman depan rumah megah itu, saat Karen datang tergopoh-gopoh–keluar dari taksi.
__ADS_1
“Karen? Ada apa?” tanya Sierra.
Karen berusaha mengatur nafasnya yang memburu. “Kenapa, Sierra? Kenapa kamu melaporkan Martin?” Karen tak berniat basa-basi. “Aku sudah mendengar kabar itu. Aku tahu, semua ini pasti ulahmu,”
Sierra tersenyum tipis. Lalu mengisyaratkan pengasuhnya untuk membawa bayi itu masuk ke dalam rumah. Dan kini tinggal Sierra dan Karen, berdua saja terlibat dalam emosi masing-masing.
“Kenapa kamu menuduhku?”
“Hanya kamu satu-satunya yang berambisi menangkap Martin,” jawab Karen lantang.
“Benarkah?” Sierra memerintahkan pelayannya untuk menyiapkan hidangan. “Bagaimana jika mantan suamimu, Ray, juga sama berambisinya sepertiku?”
“Ray?” Karen menggeleng. “Dia tidak … “
“Kamu terlalu meremehkan Ray,” sambar Sierra tenang. Dia melirik Karen penuh maksud. “Apakah kamu pernah memikirkan bagaimana rasanya berada di posisi Ray? Tiba-tiba saja diceraikan tanpa tahu apapun, saat seharusnya kepulangannya disambut hangat oleh istri,”
Karen menggigit bibir, mulai tak senang saat Sierra mengungkit masa lalunya. “Aku sudah pernah memohon untuk kembali. Tapi Ray lebih memilih Kamala,” bela Karen tak terima.
“Tentu saja. Aku pun juga begitu,” timpal Sierra, makin membuat Karen tersinggung. Sierra berjalan pelan mendekati Karen. “Harusnya kamu bersyukur, karena aku dan Ray–maksudku Ray, membantumu menangkap Martin,” ujar Sierra. “Lalu apa masalahmu, Karen? Bukankah ini kesempatan bagus untuk kabur?”
Pelayan Sierra tiba, membawa dua gelas teh dan kue ke hadapan Karen. Dengan isyarat mata, Sierra mempersilahkan Karen untuk duduk dan menikmati hidangan. Namun wanita itu terlalu emosi untuk sekedar duduk, jadi dia membiarkan badannya tegak berdiri meski Sierra kini telah duduk santai.
“Apakah kamu tahu, tak hanya Martin yang ditangkap? Sophie juga ditangkap,” aku Sierra.
Karen membelalak. “Sophie? Kenapa?” Meskipun dia tidak menyukai Sophie, namun tetap saja berita penangkapan itu sukses membuatnya terkejut.
“Dia merencanakan pembunuhan atas suamiku,” jawab Sierra, berubah lebih serius. “Dan ini semua berkat Ray. Jika bukan karenanya, suamiku tetap akan diperlakukan tidak adil,”
“Kenapa Ray menangkap Sophie?”
“Aku yang melaporkannya, bukan Ray,” celetuk Paul, tiba-tiba keluar dari rumah mewah mereka dengan duduk di kursi roda.
Karen melonjak, sedikit mundur ke belakang karena tak mempercayai penglihatannya. Yang dia tahu, Paul Willis sudah dimakamkan kemarin.
__ADS_1
“Ray membantuku menangkap Sophie. Aku berhutang padanya,” Ada nada lemah pada ucapan Paul, meski tak terlihat begitu jelas.
Karen sedikit melunak. Dengan sedikit membungkuk, dia memberi penghormatan pada Paul sebagai seorang menantu yang baik.
“Aku bersyukur, Anda bisa selamat,” ucap Karen, pelan. “Dan juga bersyukur, orang yang berencana membunuh Anda sudah ditangkap,”
Paul membuang muka. Dia tak sanggup dan tak mau memandang Karen. Setiap kali dia melihat Karen, pelupuk matanya akan menampilkan wajah Ray dan Martin secara bergantian. Yang mana akan membuat Paul kembali menyesali pilihannya untuk mengorbankan Martin demi kepentingannya.
“Sudah cukup, Karen. Kembalilah pada mantan suamimu,” ucap Paul. “Aku tidak mau membantu kalian lebih lanjut lagi. Bagaimanapun juga, Martin adalah putraku. Putra kandungku,”
“Apa maksud Anda?” Karen mengernyitkan kening. “Kemana arah pembicaraan Anda, Tuan Paul?”
Melihat respon Karen, Paul mulai menyadari kejanggalan. Dia pun akhirnya mau memandang wajah Karen, demi mencari jejak kebenaran di balik mata Karen.
“Bukankah kamu juga menginginkan ini semua? Bukankah kamu datang ke sini, sebagai ucapan terima kasih karena sudah memenjarakan Martin?” tanya Paul.
Karen terdiam. Dia memandang Paul dan Sierra bergantian. Jika bukan Sierra pelaku utamanya, maka siapakah orang yang punya kuasa untuk melakukan penangkapan ini?
Apakah benar jika Ray sangat terlibat?
“Kenapa, Karen?” tanya Paul sekali lagi. “Kenapa kamu datang kemari? Bukankah kamu mewakili Ray?”
“Tuan–” Tenggorokan Karen tercekat. Dia kembali memandang Paul dan Sierra bergantian. “Sepertinya Anda salah paham,” Dia menatap Sierra. “Kamu pun juga salah paham terhadapku,”
“Karen!” Sierra menjerit. “Jangan bilang kamu … “
Karen menggeleng. “Aku tidak datang mewakili Ray ataupun Martin. Aku datang mewakili diriku sendiri,”
“Kuharap kamu tidak memilih pilihan yang bodoh,” balas Sierra.
“Bodoh?” sanggah Karen, sedikit tersinggung. “Kamu tidak berhak menghakimi pilihanku, Sierra. Bahkan kamulah yang ikut merencanakan penculikan itu padaku,”
Sierra mengggigit bibir, cukup tertampar fakta. Dan dia pun memilih diam.
__ADS_1
“Lalu apa tujuanmu?” Giliran Paul yang bertanya.