Misteri Memori Yang Hilang

Misteri Memori Yang Hilang
Jangan Sebut Namanya Lagi


__ADS_3

Sierra memegangi pipinya yang memerah dan panas, akibat gamparan penuh amarah dari Sophie. Wanita tua itu melotot hingga rasanya kedua bola matanya sudah tak sabar untuk keluar dari cangkang dan mencabik-cabik wajah Sierra. Namun Sierra yang memang selalu tenang, hanya mengelus lembut pipinya, dan tak berniat membalas Sophie.


Sophie mendekati Sierra, sedikit mendorong sebelah bahu wanita itu penuh murka. “Aku takkan membiarkanmu menguasai harta Paul,” ancam Sophie.


Sophie Willis, istri sah Paul Willis yang juga dikenal sebagai salah satu koki selebritis yang punya program sendiri di televisi. Sehingga, dia benar-benar memperhatikan setiap inci tindakannya. Termasuk menampar Sierra kali ini pun dia telah mempersiapkan semuanya dengan matang. Sophie mengenakan dress panjang dan blazer, tudung serta kacamata hitam, meski saat ini waktu hampir tengah malam. Dan sebagai seseorang paling berpengaruh, mudah saja bagi Sophie untuk mengakses lantai apartemen dimana Sierra tinggal, meski memerlukan sidik jari untuk bisa masuk ke dalamnya.


“Seorang anak yatim piatu, yang dari kecil dibesarkan oleh Paul seperti anak sendiri, dan sekarang tiba-tiba setuju untuk menikah dengan orang yang sudah memberinya uang dan membiayai sekolahnya,” ujar Sophie, tertawa menyindir. “Kamu … benar-benar wanita paling murahan yang pernah kutahu,”


Sierra tetap diam, meski hatinya berdenyut-denyut sakit akibat penghinaan dari Sophie. Dia memilih menundukkan pandangannya, memilih untuk tak mendebat Sophie meski harga dirinya makin diinjak.


“Apa kamu pikir, dengan mengandung anak Paul, anakmu itu akan mendapatkan fasilitas yang sama dengan Martin?” Sophie terus-menerus menghina Sierra.


Sophie mendekatkan wajahnya ke wajah Sierra. “Orang miskin sepertimu tak akan pernah bisa menyaingi kami, para orang kaya. Meski kamu menikahi Paul, kamu tetaplah seorang yatim piatu yang miskin,” lirih Sophie. Matanya tajam menembus kulit Sierra.


Melihat reaksi Sierra yang seakan tak runtuh dengan segala caci makinya, membuat Sophie sedikit kesal. Lalu dia mengeluarkan selembar cek kosong yang telah dia tanda tangani, dan dilempar tepat ke muka Sierra tanpa ampun.


“Tulis berapa pun yang kamu inginkan, asalkan kamu pergi jauh dari seluruh keluargaku. Paul dan Martin,” ucapnya kasar.


Sierra tak bergeming, namun hanya memungut cek yang jatuh ke lantai. Sambil memegang cek kosong itu, akhirnya, setelah lama diam, Sierra mengangkat kepalanya, meluruskan pandangannya pada Sophie. Tampak raut kesal yang berusaha mati-matian ditahan dari rautnya itu.


“Aku mencintai Tuan,” ucap Sierra. “Dan perasaanku tak akan bisa ditukar dengan ini,” Sierra mengakhiri ucapannya dengan mengembalikan cek kosong itu ke genggaman tangan Sophie.

__ADS_1


Kemudian dia pamit untuk masuk ke dalam kamarnya, menutup pintu tanpa mempersilahkan Sophie untuk masuk. Sementara Sophie, dia masih mematung di tempatnya dengan dada berdegup kencang dan nafas tersengal karena dikuasai kemarahan.


***


Karen menuntun tubuh lemas Martin, yang terus saja sempoyongan, meskipun dia sudah tak lagi histeris seperti sebelumnya. Dia baringkan Martin ke ranjang mereka dengan lembut, dan satu persatu pakaian Martin dilepas oleh Karen penuh teliti. Sembari terus melepas pakaian Martin, pikiran Karen mulai banyak menjelajah ke berbagai hal. Namun satu yang pasti, dia terus bertanya pada dirinya sendiri, untuk apa dia lakukan semua ini? Untuk apa dia menjaga Martin dan sudi memastikan agar pria itu pulang dengan selamat? Bukankah, harusnya kesempatan itu digunakan Karen untuk segera kabur sejauhnya mumpung Karen telah memegang kendali penuh atas salah satu kartu hitam milik Martin.


Berbagai pertanyaan ragu itu bergelantungan di dinding hatinya, tanpa Karen tahu harus menjawab apa. Nyatanya, tubuhnya kaku dan memilih kembali ke apartemen Martin hanya untuk memastikan keadaan Martin baik-baik saja. Martin terus-menerus mengigau sambil meracau menyebut nama Sierra, bahkan hingga menyebut Sierra sebagai mainan kesayangannya.


Karen tak mengerti, kenapa hubungan Sierra dan Martin bisa begitu dekat, tapi tak saling mencintai. Sierra bukanlah wanita sembarangan. Dia wanita cantik nan pintar, penuh percaya diri dan karir yang cemerlang. Tak ada celah sedikit pun dari Sierra. Namun, kenapa Martin justru memilihnya?


“Sayang … “ lirih Martin, tiba-tiba memanggil Karen. Setengah matanya terbuka, dengan tangan kanan meraih-raih tubuh Karen.


Martin meraih tangan Karen. “Aku bersyukur memilikimu di sampingku,” ucapnya.


Dia bangkit dari tidurnya, memeluk tubuh Karen erat. Karen juga membalas pelukan itu, sambil mengelus punggung Martin untuk menenangkannya. Kemudian Martin mulai memasukkan kedua tangannya ke dalam pakaian Karen, mulai berpetualang di dalamnya. Karen mengerjap beberapa kali, merasakan kenikmatan yang janggal. Dia merasa bersalah telah menikmati perasaan ini, dimana seharusnya Martin bersedih atas hal memalukan yang dilakukan ayahnya tadi.


Tapi Martin justru makin beringas, membiarkan tangan-tangannya makin menjamah bagian sensitif dari Karen yang menggelinjang. Tak berhenti disitu, kini dia meminta bibirnya untuk ikut menelusuri bagian atas dari tubuh Karen.


“Jangan pernah tinggalkan aku, Sayang,” bisik Martin sangat pelan, tepat di telinga kanan Karen.


Dia meraih dasinya yang masih tergeletak sembarangan di atas ranjang, karena Karen belum membereskan pakaian Martin setelah melepasnya tadi. Kemudian Martin menggunakan dasi panjangnya itu untuk mengikat kedua tangan Karen ke atas kepalanya. Karen terkejut, tapi dia memilih mengikuti irama permainan Martin. Dia mengizinkan Martin untuk mendominasi tubuhnya malam ini, berharap supaya segala kesedihan Martin memudar hilang.

__ADS_1


“Kamu bersedia, kan?” tanya Martin setelah mereka menyelesaikan permainan.


Dengan ditutupi selembar selimut sutra yang sangat lebar, keduanya berbaring kelelahan bersama di ranjang besar milik Martin.


“Untuk apa?” Karen balik bertanya.


Martin mendekatkan dirinya, dengan tangan yang kembali memainkan kedua aset milik Karen. Tampak wanita itu memejamkan mata, kembali menikmati sentuhan Martin.


“Untuk selalu menjadi milikku,” bisik Martin penuh rayuan.


Tanpa sadar Karen mengangguk, yang tak dia sadari telah menjadi semacam boomerang untuk dirinya sendiri. Kini, dengan segala daya kekuatan milik Martin, dia akan mempertahankan Karen agar tak ada seorang pun yang bisa merebutnya dari Martin. Bahkan jika harus menghabisi orang itu.


“Tapi aku juga punya satu syarat … “ celetuk Karen, setelah lama diam karena tenggelam dalam kenikmatan.


Martin menghentikan tangan jahilnya, memandangi Karen dengan senyuman mendominasi. “Apa yang kamu inginkan? Rumah baru? Mobil?”


Karen menggeleng dibareng dengan tawa. Dia lalu memiringkan tubuh menghadap Martin. Kini keduanya saling berhadapan, dengan hidung hampir menempel satu sama lain.


“Aku tak ingin mendengar nama Sierra dari bibirmu lagi … “ ucap Karen lirih.


Martin bereaksi dengan senyum nakal, kembali mencumbu mesra bibir ranum Karen. Keduanya akan terlibat dalam permainan panas untuk kedua kalinya, menghabiskan sisa malam yang ada, demi menghapus segala ingatan buruk tentang makan malam petaka itu.

__ADS_1


__ADS_2