
“Karen?” tegur Ray, ketika mendapati Karen duduk sendirian di depan teras rumahnya.
Tentu saja dia bertanya-tanya, mengingat hari ini harusnya Karen sedang sibuk menemani Martin di penjara. Tapi mantan istrinya itu justru ada di depan rumahnya.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Ray, membuka kunci pintu rumahnya dan mempersilakan Karen untuk masuk.
Namun wanita itu menggeleng. “Cukup di sini saja,” jawabnya, malah mengisyaratkan Ray untuk duduk di sampingnya.
Meskipun tetap tak punya petunjuk, Ray pun memilih untuk mengikuti kemauan Karen. Dia duduk di sebelah Karen, di kursi panjang tempat mereka sering menghabiskan waktu bersama saat masih menjadi suami istri.
“Terima kasih atas semua pengorbanan yang telah kamu lakukan untukku, Ray,” ucap Karen, dengan tatapan pias ke kejauhan.
“Kenapa tiba-tiba?”
Karen memejamkan mata sejenak. “Mulai dari kamu rela keluar dari rumah orang tuamu demi hidup bersamaku, hingga akhirnya kucampakkan,”
Ray diam, berusaha mencerna maksud pembicaraan Karen.
“Hingga detik ini pun aku masih sering bermimpi, bisa kembali seperti dulu,” aku Karen. “Tapi aku sadar, aku tidak bisa membiarkan diriku terbuai mimpi,”
“Ada apa, Karen?” tanya Ray tak sabar.
Karen menoleh, memandang lurus ke dalam mata Ray. “Kenapa kamu memenjarakan Martin?” Pertanyaan itu terlontar lancar.
Ray sampai terkesiap, karena tak menyangka Karen akan memberikan pertanyaan itu padanya.
“Apa aku perlu menjawab?”
“Aku terlalu banyak meremehkanmu, hingga lupa kalau sebenarnya kamu tetaplah keturunan White yang licik,” ujar Karen, terus memandang Ray nyaris tak berkedip.
Ray tersenyum. Senyum getir, sekaligus kepedihan. “Jadi ini balasanmu? Setelah semua yang kulakukan, inilah balasanmu pada orang yang kamu tinggal begitu saja?” cecar Ray. “Apa kamu lupa, kamu pernah memohon untuk kabur bersamaku? Aku berusaha mewujudkan keinginanmu,”
“Bukan ini yang kumau … “
“Kamu mencintainya, kan?!” Nada Ray meninggi. Dia bahkan hingga bangkit dari kursi, dengan pandangan tajam seakan menghujat Karen.
__ADS_1
Karen menggeleng. “Bukan seperti ini, Ray. Kamu melibatkan semua orang hanya untuk membalaskan dendammu,”
“Semua orang?!” Kesabaran Ray nyaris menipis. “Apa yang kamu maksud melibatkan semua orang? Apa kamu sudah tahu segalanya? Apa kamu pernah merasakan perasaanku, yang diinjak harga dirinya puluhan kali oleh si brengsek itu?”
Ray sedikit membungkuk, demi bisa berhadapan dengan Karen yang sedang duduk. Dia acungkan telunjuknya.
“Akulah yang bekerja mati-matian, memutar otakku untuk membebaskanmu dari keluarga kacau itu. Aku tahu, bagaimana perlakuan Martin padamu, yang menganggapmu layaknya barang. Aku bahkan juga tahu, bagaimana perlakuan Sophie padamu yang menganggapmu sebagai mesin penghasil anak,” cecar Ray. “Dan aku juga tahu, Martin menikah lagi demi mempertahankan kekayaannya,” Ray makin melotot. “Dan kamu masih bisa menyalahkanku?”
Karen mendorong mundur tubuh Ray. Dia pun ikut berdiri.
“Terima kasih atas semuanya, Ray,” balas Karen, tak mau kalah. “Tapi coba kamu ada di posisinya juga, Ray. Martin sedang berduka karena kematian ayahnya, dan ternyata ayahnya justru masih hidup karena kamu sembunyikan,”
“Karen?” Bergetarlah hati Ray mendengar segala pembelaan Karen, yang membuat seluruh persendiannya serasa lemas. “Apakah kamu benar-benar Karen? Kenapa kamu membela orang yang menghancurkan rumah tanggamu dan membuatmu menderita?”
Karen membelalak. Dia memalingkan wajahnya, tak sanggup menatap wajah Ray.
“Jangan bilang kamu mulai mencintainya … “ tebak Ray lemas.
“Aku tidak mencintainya,” jawab Karen tegas. “Aku hanya tidak suka caramu membalasnya,”
Dan kini tinggallah Ray, yang masih mematung di tempatnya demi berusaha mencerna segala yang terjadi. Hatinya berdenyut sakit, diselimuti kekecewaan. Dia kira, Karen datang menemuinya untuk mengucapkan rasa syukur yang tulus, namun diluar dugaan–Karen justru membela Martin.
***
“Tuan tidak perlu banyak bicara, cukup saya yang akan mengatasi semuanya,” ucap pengacara Martin, ketika mereka berdiskusi berdua di ruang temu penjara.
“Saya juga akan membujuk Nyonya Karen agar mencabut tuntutannya. Bagaimanapun juga, Nyonya Karenlah yang memegang kunci kasus ini,” Pengacara itu terus berkelakar, tak peduli meski Martin diam selayaknya orang kehilangan semangat hidup.
Harga dirinya sebagai seorang Martin Willis telah tercoreng, setelah melihat dirinya sendiri mengenakan baju tahanan dan mendekam di balik jeruji. Terlebih, kasus yang menyeretnya adalah kasus penculikan pada Karen, wanita yang dia sangat cintai.
“Tuan Martin?” panggil pengacara itu karena Martin terus membisu. “Nyonya Karen ingin bertemu dengan Anda,”
Saat mendengar nama Karen, bola mata Martin akhirnya bergerak. Ada secercah semangat hidup dalam dirinya.
Terlebih ketika sosok Karen perlahan masuk ke dalam ruangan, dengan mata berkaca-kaca saat melihat kondisi Martin. Pengacara itu memberi kesempatan pada dua orang itu untuk menikmati waktu mereka yang terbatas.
__ADS_1
“Karen,” Martin spontan merengkuh tubuh Karen, merasakan rasa aman dan kehangatan saat menyentuh tubuh wanita itu.
Begitu pun Karen. Bahkan dia terisak cukup keras saat Martin mulai memeluk tubuhnya. Karen mengelus punggung Martin, seakan ingin membuang jauh segala beban dalam diri pria itu.
“Aku merindukanmu, Sayang. Aku sangat merindukanmu,” seru Martin.
Karen terus terisak. “Maafkan aku, karena baru bisa menjengukmu sekarang,” isak Karen.
Martin melepaskan pelukan itu. “Aku tahu, ini semua rencana mantan suamimu. Kamu tidak mungkin berencana memenjarakanku, kan?” Kilat dendam menguasai bola mata Martin.
Karen hanya diam, menelan ludahnya demi menutupi ketegangan.
“Aku juga yakin, Sophie tidak mungkin merencanakan pembunuhan pada ayahku. Itu semua pasti rencana Ray!” racau Martin, dengan mata melotot murka. “Aku harus membalas si brengsek itu!”
“Tenanglah, Martin … “ Karen kembali memeluk Martin, karena pria itu mulai meracau tak jelas. “Kamu cukup memikirkan diri sendiri saja, tidak perlu mengurusi Sophie,”
“Ray sialan!!” umpat Martin keras. “Akan kupastikan dia mati di tanganku!”
“Martin, hentikan … “
“Aku akan menyewa anak buah terbaik, untuk membunuh dan membuang jasadnya ke tempat yang jauh yang tak bisa dijangkau. Aku tidak peduli meski dia pewaris keluarga mafia White!”
“Martin … “
“Dia memang tidak bisa dibiarkan terus hidup, karena dia akan terus mengganggu keluargaku … “
“Stop!!” sentak Karen tiba-tiba. “Stop, Martin! Sudahlah … “
Martin tercengang melihat reaksi Karen. Dia hingga berhenti bicara, menahan nafas demi bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi.
“Kenapa reaksimu seperti itu, Karen?” tanya Martin, mulai curiga. “Bukan kamu, kan? Kuharap bukan kamu yang melaporkanku,”
“Itu tidak penting. Yang terpenting, sekarang kita harus memikirkan cara agar kamu bisa bebas,” kilah Karen.
“Itu penting bagiku!!” Kini giliran Martin yang membentak Karen. Dia mengguncang bahu istrinya itu, kuat. “Jawab aku, Karen! Bukan kamu, kan, yang melaporkanku? Ray, kan?”
__ADS_1
Karen memalingkan wajahnya. Sambil menggigit bibir, lamat-lamat dia mengangguk. “Aku yang melaporkanmu … “