
“Kenapa kamu … “ Bahkan Paul tak sanggup untuk melanjutkan perkataannya, dan hampir saja limbung andai Lukman tidak segera menahan.
Sophie melipat tangan, berdiri pongah. Wajahnya penuh seringaian licik.
“Untuk apa kekayaan yang kita punya, jika tidak dimanfaatkan dengan sebaik mungkin? Aku bisa membeli apapun yang kumau, termasuk moral seseorang,” ujar Sophie.
Dia lalu berjalan mendekat, demi bisa saling tatap dengan Paul.
“Mudah bagiku membayar seseorang untuk memberi informasi palsu, bahwa anakmu dan Tamara sudah mati,”
Paul geram. Dia mencekik leher Sophie, dengan urat leher yang menegang karena amarah telah sepenuhnya mengambil alih akal sehat Paul.
“Jadi selama ini, kamu tega membuang anakku yang masih bayi di panti asuhan? Hanya demi ambisimu untuk menyiksaku?” tanya Paul.
Sophie megap-megap, berusaha melepas cekikan Paul yang makin kuat. Lukman buru-buru memisahkan tubuh Paul dari Sophie. Dia membisiki Paul, supaya berhenti atau segalanya akan jadi runyam.
“Kamu … benar-benar wanita berhati iblis,” gumam Paul, menatap tajam ke arah Sophie.
Mendapat julukan itu justru membuat Sophie makin tertawa keras.
“Aku tidak pernah mengusik kehidupan cintamu, tapi aku tidak akan membiarkan orang lain merebut tahtaku sebagai istri Paul Willis,” Sophie balik menatap Paul tajam. “Apakah kamu ingin Sierra mendapat nasib yang sama dengan Tamara? Aku selalu memperingatkanmu, jangan pernah membawa perempuan miskin manapun ke dalam keluarga ini,”
Dia merobek kertas perceraian yang dibawa Paul. “Silahkan berhubungan dengan seratus wanita sekaligus. Tapi jangan pernah berpikir untuk menjatuhkanku dari tahta,”
“Bisnismu bisa sejauh ini, tentu ada peranku di dalamnya. Jangan lupakan itu,” Sophie merapikan baju mewahnya, yang sempat lusuh setelah dicekik oleh Paul.
“Sekarang, silahkan pergi dari sini,” Dengan isyarat tangan, Sophie menyuruh Paul dan Lukman meninggalkan ruangannya, setelah pelayan membuka lebar pintunya.
“Aku tidak main-main kali ini,” tukas Paul, tepat di ambang pintu. “Aku pasti bisa menceraikanmu,” Dia menoleh ke belakang, melirik Sophie dengan ekor matanya.
Tampak Sophie justru tersenyum licik mendengar ancaman Paul, sama sekali tidak gentar.
Langkah Paul makin dipercepat, segera masuk ke dalam mobil mewahnya setelah Lukman membukakan pintu. Dia menarik nafas panjang, merebahkan punggungnya di kursi belakang mobil sambil sesekali memukuli kepalanya sendiri.
“Bodoh, bodoh,” gumam Paul. “Bagaimana bisa aku tidak mengenali putraku sendiri?”
“Tuan, kita harus kemana?” tanya Lukman hati-hati.
__ADS_1
Paul terus memegangi keningnya yang berdenyut nyeri. “Ke apartemen Martin. Aku harus bertemu dengannya malam ini juga,”
Lukman mengangguk dan segera pergi meninggalkan kediaman Sophie. Perjalanan yang lengang dan lambat, tanpa ada firasat buruk tentang apapun. Namun tiba-tiba, sebuah truk besar dari arah berlawanan menyalakan lampu jarak jauh yang sangat terang hingga membutakan penglihatan Lukman.
Kecelakaan tak dapat dihindari. Mobil Paul terpelanting, jungkir balik ke sisi jalan, mengeluarkan asap mengepul. Segalanya berlangsung cepat, seakan dalam satu helaan nafas saja, kini nyawa Paul diujung tanduk. Dalam kesadarannya yang sayup-sayup mulai menghilang, Paul dengan jelas bisa melihat senyum Tamara. Kemudian dia sadar, Martin memiliki senyuman yang sama dengan Tamara.
***
“Paul!!” Sierra histeris di depan ruang ICU, ketika dia mendapat kabar mengenai kecelakaan yang menimpa Paul dan asistennya.
Menurut kabar yang disampaikan perawat, nyawa Lukman tidak bisa tertolong, sedangkan Paul masih mendapatkan perawatan ekstra demi menyelamatkan nyawanya.
Sierra terus menangis, menyalahkan dirinya sendiri. Dia merasa, harusnya dia bisa mencegah Paul pergi. Harusnya dia ikut bersama sang suami.
Margaret, sekretaris Paul, berusaha untuk menenangkan Sierra yang terus menangis. Sierra mulai meracau, dengan segala ucapan yang justru membuat Margaret sedih. Dia sedih melihat kondisi Sierra yang hancur, sangat takut terjadi hal tak diinginkan pada Paul.
“Sierra!!” teriak Martin, segera berlari menghampiri Sierra.
Melihat sosok Martin yang mendekat, tanpa terduga Sierra tiba-tiba menamparnya.
Tamparan tak terelakkan, mendarat ke pipi Martin yang tak tahu apapun.
"Apa yang kamu … "
"Puas, hah?! Setelah bertahun-tahun mendoktrinku untuk membenci ayahmu sendiri, sekarang kamu puas melihatnya celaka?"
"A-apa maksudmu, Sierra?" Martin kebingungan, sambil memegang pipi kirinya yang memerah.
Sierra melempar secarik kertas lusuh penuh noda darah ke dada Martin.
"Aku menemukan ini di dalam jas Lukman," ucap Sierra. "Selama ini kamu selalu bersikap seakan Paul bukan ayah kandungmu,"
Martin membuka lebar-lebar kertas lusuh itu, yang di dalamnya tertera banyak keterangan mengenai DNA miliknya dan Paul yang memiliki kecocokan 99,8%, nyaris sempurna.
"Si … Sierra, bagaimana bisa … "
Belum sempat Martin menyelesaikan kalimatnya, Sierra segera menarik kerah baju Martin. Dia tatap pria itu setajam mungkin, tak pernah dia lakukan sebelumnya.
__ADS_1
"Kesabaranku sudah hilang, Martin. Dan aku bukan wanita lemah macam Karen. Aku akan pastikan kamu mendekam di penjara," ancam Sierra, lurus ke dalam mata Martin yang masih tampak syok dengan segala kebenaran yang menghujamnya secara membabi-buta.
Petrina yang baru datang, segera melerai pertikaian antara Sierra dan Martin. Kini tatapan tajam Sierra tertuju pada Petrina.
"Oh, jadi ini istri barumu yang bisa memberimu anak? Luar biasa kalian. Kamu dan Sophie memang sama-sama iblis," Sierra bertepuk tangan sendirian, dengan tawa menyedihkan setelah secara bergantian memandang Martin dan Petrina.
"Nyonya Sierra," panggil dokter yang baru saja memeriksa Paul.
Sierra buru-buru menghambur ke arah dokter itu.
"Maafkan kami, tapi Tuan Paul … tidak selamat," ucap sang dokter singkat.
"Tidak!!" pekik Sierra, dan seketika ambruk tak sadarkan diri.
Martin dengan sigap mengangkat tubuh Sierra, untuk diletakkan di ranjang terdekat. Salah seorang perawat yang membawa ranjang dengan cepat segera mengarahkan Margaret, Martin, serta Petrina ke ruang VIP khusus untuk menenangkan Sierra.
Setelah memastikan Sierra baik-baik saja, Martin keluar dari ruangan dan segera mengurus proses pemulangan jenazah Paul. Pria itu terus gemetar, meski dia berusaha untuk tetap tegar dan tenang. Dia tidak ingin menangis, dan dia juga tidak boleh menangis.
Beruntung, Petrina membantu Martin mengurus segala proses yang cukup rumit, sehingga segalanya bisa selesai dalam waktu singkat dan tanpa kendala. Bahkan Petrina juga mengurus agar para wartawan tidak mendengar berita ini, sebelum segalanya menjadi lebih kondusif.
"Martin?" panggil Petrina, saat dia melihat Martin duduk bersimpuh di depan ruang ICU.
"Tinggalkan aku, Pet," pinta Martin lemas.
"Tapi … "
"Tinggalkan aku," sela Martin cepat.
Petrina pun mengangguk, karena dia tidak menyukai perdebatan. Lagipula Petrina juga ingin memberi ruang bagi Martin untuk berkabung, mengingat Paul adalah ayahnya.
Ayah yang beberapa hari lalu masih dianggap Martin sebagai ayah yang memungutnya dari panti asuhan. Kertas bukti pemberian Sierra membuat segala kebencian Martin pada Paul mulai dia pertanyakan. Kenapa Paul harus menolaknya sebagai anak kandung? Kenapa Paul membencinya?
Segala pertanyaan muncul di benak Martin, tapi tidak akan pernah bisa terjawab. Karena Paul kini telah pergi. Pergi untuk selamanya.
"Martin … "
Telinga Martin berdiri, karena dia amat mengenali suara itu. Suara wanita yang amat dia cintai, Karen.
__ADS_1