
Sierra tak tahu apa yang terjadi. Segalanya terasa begitu cepat, hingga yang ia sanggup ingat hanyalah tubuhnya yang telah terbaring tanpa sehelai kain bersama Paul di sisinya. Apakah dia dilecehkan? Dia tak tahu. Yang dia rasakan hanyalah segalanya terjadi begitu saja, tanpa pernah bisa dia tolak. Seakan dia telah masuk dalam hipnotis penuh magis dari seorang pria tua menawan, bernama Paul Willis.
Sierra terbangun, dan saat dia mengecek ponselnya, waktu masih menunjukkan pukul 4 pagi. Ada lima panggilan masuk dari Martin, namun untuk sekedar melihat nama Martin saja membuat Sierra malu. Sebersit rasa bersalah muncul di hatinya, bersamaan dengan sedikit penyesalan. Menyesal kenapa dia tak kuasa menolak ajakan Paul untuk bermain penuh keringat bersama.
“Ray?” gumam Sierra sangat pelan, saat dia melihat ada satu panggilan masuk dari Ray.
Jujur, sudah seminggu lamanya, Ray tak lagi masuk ke kantor. Martin pun juga tak pernah menanyakan kabar Ray. Saat Sierra mencoba untuk menghubungi rekannya itu, nomornya selalu diluar jangkauan. Maka ketika dia tahu Ray telah menghubunginya, Sierra buru-buru meraih sehelai kain terdekat dan turun dari ranjang untuk kembali menelepon Ray. Lebih cepat lebih baik, meski dia tahu ini masih terlalu pagi untuk menghubungi seseorang.
“Ray?” panggil Sierra dengan nada berbisik, saat panggilannya diterima.
“Si, dimana kamu?” Pertanyaan pertama yang muncul dari Ray, setelah seminggu tak ada kabar.
“Harusnya aku yang tanya, dimana kamu?” Sierra memutar bola matanya kesal.
“Aku ke tempatmu dan tak ada orang,” aku Ray. “Aku saat ini baik-baik saja, Si. Tapi kurasa aku harus segera menyelesaikan semuanya,”
Sierra hendak membuka mulut untuk menjawab, saat dia menyadari ada dua tangan yang menggapai pinggangnya dari belakang. Buru-buru Sierra mematikan ponselnya, karena tak ingin Paul tahu jika dia sedang berbicara dengan Ray.
“Kenapa ditutup?” tanya Paul, mengendus penuh nafsu leher Sierra.
Sierra menggeleng. “Bukan apa-apa, Tuan,” Sierra memutar badannya agar bisa berhadap-hadapan dengan Paul.
“Tuan, bisakah kita kembali sekarang? Aku tak ingin terlambat untuk bekerja,” pinta Sierra. Meskipun keduanya telah bercinta, sikap Sierra tetap saja segan pada Paul yang terlampau memiliki kharisma kuat.
Tampak Paul sedikit menyunggingkan senyum. “Bagaimana pendapatmu?” tanyanya keluar topik.
Sierra mengernyitkan dahi.
__ADS_1
“Apa kamu menyukai permainanku, Si?” Paul menarik pinggang Sierra agar makin menempel padanya.
Sierra bersemu merah, tak tahu harus menjawab apa. Melihat reaksi Sierra, membuat jiwa Paul yang penuh hasrat, kembali terbangun. Dia tanpa banyak berpikir, langsung mengangkat tubuh Sierra kembali ke ranjang. Permainan panas itu kembali terjadi dan tak terelakkan lagi.
***
“Kamu kemarin kemana? Aku mencarimu kemana pun!” Reaksi pertama dari Martin saat Sierra masuk kantor keesokan harinya. Karena perjalanan cukup jauh, Sierra tak bisa berbuat apapun selain pasrah bahwa dia tak bisa masuk kantor tepat waktu.
“Aku ada urusan, harus segera pulang ke panti asuhan,” jawab Sierra bohong, dan tak berani memandang wajah Martin.
“Bohong,” sahut Martin cepat. “Aku sudah menghubungi panti, dan kamu tak pulang ke sana,”
Wajah Sierra pucat pasi, membayangkan seperti apa reaksi Martin saat tahu Sierra terlibat hubungan panas dengan ayahnya. Tapi wajah Sierra bisa terselamatkan, saat tiba-tiba Ray datang, dengan tubuh tegap dan wajah mengeras. Sierra melotot selebarnya, tak bisa mempercayai pandangannya. Bahkan karyawan-karyawan yang lain pun juga tak berhenti berkasak-kusuk penuh antusias saat melihat kedatangan Ray.
“Apa yang kamu lakukan di sini? Setelah seenaknya tak masuk kantor, apa kamu pikir, kamu bisa ke sini begitu saja?” tegur Martin dengan senyum meremehkan.
Ray diam. Matanya tajam dan lurus ke arah Martin, bahkan seakan enggan berkedip.
Martin mengerjap. Tak menyangka Ray akan menyerangnya secara terang-terangan dan tanpa rasa takut. Sierra mulai panik, berusaha mengamankan situasi tapi tak berdaya karena puluhan pasang mata sudah terlanjur mendengar teriakan Ray yang sengaja keras.
Martin tertawa sinis. “Merebut? Kamu pikir, istrimu mau kurebut begitu saja? Itu artinya dia memang lebih memilihku daripada suaminya yang miskin,” ejek Martin enteng.
“Ya. Dia memang wanita bodoh,” timpal Ray tak goyah. Dia melemparkan seamplop surat ke depan wajah Martin. “Ini surat pengunduran diriku,” ujarnya.
Martin tertawa, masih dengan wajahnya yang penuh penghinaan. “Kamu mengaku kalah?”
“Silahkan nikmati bekasku, Martin,” Ray menatap Martin tajam, tak tergoyahkan sedikit pun. “Tapi ingat, perusahaanmu akan jatuh tanpaku,” ancam Ray di depan hidung Martin. Dia sengaja berbicara pelan untuk kalimatnya yang terakhir, demi memberi efek intimidasi pada Martin.
__ADS_1
Setelah puas, Ray dengan lantang pergi. Langkahnya cepat namun penuh percaya diri meski banyak pasang mata yang tanpa henti mencibirnya secara terbuka. Sierra hendak menyusul, namun melihat wajah Martin yang memerah penuh kemarahan akhirnya menghentikan langkah Sierra. Dia memilih bersama Martin, berusaha menenangkan pria itu.
Sementara itu, Kamala berdiri harap-harap cemas di luar gedung perkantoran Fortuna Corp, dan segera menyusul langkah Ray saat pria itu telah keluar dengan kaki tegap namun wajah yang kaku. Kamala berulang kali berusaha melirik Ray, namun langkah kaki yang lebar-lebar dari Ray membuat tubuh kecilnya cukup kewalahan untuk mengimbanginya.
“Om, Om Ray!” panggil Kamala.
Ray tak menghiraukan Kamala, yang seakan seperti hantu tak terlihat.
“Om, Om … “
“Hentikan, Kamala," pinta Ray pelan, masih sambil terus berjalan cepat semakin jauh dari gedung Fortuna Corp.
"Om Ray … "
"Stop!!" potong Ray, setengah berteriak. Dia mendadak berhenti. “Kamala, stop memanggilku ‘Om’ … “ ucap Ray menurunkan nada suaranya.
Kamala lalu diam. Dia tak menyangka reaksi Ray akan seketus itu padanya. Sejak hari pertama mereka bertemu, Ray selalu mengalami kesialan. Dipukuli oleh bodyguard papa Kamala, dituding sebagai kekasih Kamala, hingga sekarang, wanita muda ini juga selalu membuntuti kemana pun Ray pergi.
Selalu datang ke rumah Ray hanya untuk membawakan makanan atau memeriksa keadaan Ray. Menunggu berjam-jam di depan pintu rumah hingga Ray mau membukakan pintu, dan berbagai hal gila lainnya. Namun sepertinya kali ini Ray sudah merasa jengah. Dia telah melewati batas maksimal kesabarannya.
“Kamala, kumohon,” Ray menghentikan ucapannya. “Berhenti mengikutiku,”
Mata Kamala yang sipit mengerjap beberapa kali. “Kenapa?” tuntutnya.
Ray menarik nafas dalam-dalam. Dia tak menyangka, berurusan dengan wanita muda yang jarak usianya sepuluh tahun darinya, ternyata sangat melelahkan.
“Kumohon, aku tak mau papamu memukuliku lagi,”
__ADS_1
“Itu tak akan terjadi, Om,”
“Kamala, STOP!” teriak Ray. “Cukup … panggil aku Ray. Oke?” Ray tampak sangat putus asa menghadapi wanita muda itu.