Misteri Memori Yang Hilang

Misteri Memori Yang Hilang
Reputasi


__ADS_3

“Perkenalkan Tuan Paul,” Ray sengaja memotong ucapannya. “Saya Ray White,”


Ray menunduk ke arah Paul, meskipun dia menyeringai licik penuh maksud.


Sambil setengah merintih, Paul mengacungkan telunjuknya ke arah Ray dengan mata melebar.


“Bukankah kamu … mantan suami Karen? Karen White?” tebak Paul. “Mantan karyawan terbaik Martin?”


“Menyedihkan sekali, saya hanya dikenali sebagai mantan dalam hal apapun,” Ray mengulaskan senyum tipis.


“Kenapa kamu membawaku kemari?” protes Paul. Dia tidak tertarik dengan keluhan Ray.


“Seharusnya Anda bersyukur, Tuan. Kalau bukan karena anak buahku, Anda pasti mati sekarang,” Ray memerintahkan satu anak buahnya yang masih memakai seragam perawat, untuk maju mendekati Paul.


Dia memberikan beberapa lembar foto kepada Paul. Foto dimana Sophie tengah bersikap mencurigakan dengan seorang pegawai rumah sakit.


“Sophie memerintahkan seseorang untuk membunuh Anda. Mengganti cairan infus dengan racun, agar Anda bisa mati tanpa dicurigai,” terang Ray, saat Paul membolak-balik lembaran foto itu tak percaya.


Gemetar tangan Paul saat mendengar fakta tersebut. Dia tidak bisa tidak mempercayai ucapan Ray, karena Sophie memang selalu ingin menghancurkannya.


“Dia jugalah yang menyewa supir truk untuk menabrak mobil Anda,” tambah Ray, memandangi Paul dengan senyum tipis.


“Kenapa kamu tahu semua ini? Tidak ada yang tahu selain aku dan istriku, Sierra,” tuntut Paul. “Bahkan Martin tidak pernah tahu ibunya bisa sekejam itu,”


“Tentu saya sangat tahu, Tuan Paul,” Ray perlahan mendekati Paul, masih dengan senyum tipisnya yang penuh makna. 


Mata Ray menembus bola mata Paul. Dingin dan tajam.


“Sophie Willis memang lihai. Tapi tidak ada sesuatu yang sempurna. Pasti ada kelemahan,” tandas Ray. “Sophie tidak sadar, jika seluruh orang yang dia sewa untuk mencelakai dan membunuh adalah anak buahku,”


Paul tersentak kaget. Siapakah Ray? Kenapa dia bisa memiliki puluhan anak buah yang bahkan bisa mengetahui seluruh rahasia Paul dan Sophie?


Otak Paul mulai berpikir, sambil terus menggaungkan banyak tanya di benaknya. Kemudian dia teringat akan nama belakang White di belakang nama Ray.


“Apa … Apakah kamu putra Sergio?” tebak Paul.


“Apakah berlindung di balik nama ayahku, membuat Anda lebih menghargaiku?”


Nafas Paul memburu, cukup terkejut dengan identitas asli Ray. Dia memegangi dadanya yang terus tersengal.


***

__ADS_1


Karen menuntun langkah Martin untuk masuk ke dalam apartemen mereka, ketika Petrina secara tiba-tiba membukakan pintu dari dalam.


Mata Karen bergetar, tidak siap berhadapan dengan Petrina malam ini. Dia kira, hanya dia dan Martin seorang yang tinggal di sana, tanpa pernah berpikir jika kini Petrina juga merupakan istri Martin.


Dan Petrina tampak tidak peduli. Dia ikut membantu menuntun Martin yang setengah sadar akibat kebanyakan minum setelah pemakaman Paul. 


“Biar aku yang membawanya,” ujar Karen, agak ketus.


Petrina mengalah. Dia membiarkan Karen membawa tubuh sempoyongan Martin ke dalam kamar, untuk mengganti pakaian dan membantunya istirahat.


Setelah memastikan Martin tidur dengan pulas, Karen mendatangi Petrina yang sedang duduk di sofa depan jendela besar. Pandangannya dingin, tidak ramah.


“Apa yang kamu lakukan di sini?” tegur Karen.


Petrina diluar dugaan justru tersenyum. “Apakah salah jika aku ingin memastikan suamiku baik-baik saja?”


“Kupikir, hubungan kalian hanya sebatas rekan yang saling menguntungkan,”


“Kamu pun juga begitu,” balas Petrina. “Kukira, kamu masih mencintai mantan suamimu,”


Karen tidak siap dengan balasan menohok dari Petrina, hingga dia diam untuk beberapa saat.


“Kamu hanyalah mesin penghasil anak bagi Martin,” tegas Karen.


“Jangan gila! Martin sedang berduka!” bentak Karen, tak bisa menahan emosinya lebih lama lagi. Melihat wajah Petrina terlalu lama membuat Karen muntab.


“Baiklah, Karen,” Petrina mengalah. Dia meraih tas kecilnya dan berdiri.


Dia tersenyum tanpa perlawanan ke arah Karen. “Maafkan aku, karena sepertinya candaanku membuatmu benar-benar tersinggung,” ucapnya, tersenyum tulus.


“Kini aku tahu, kamu juga mencintai Martin, seperti Martin mencintaimu,” Petrina sekali lagi tersenyum, lalu berjalan pelan meninggalkan apartemen. Tak lupa dia pamit, sama sekali tidak menampakkan wajah tak ramah.


Karen tidak menimpali. Dia masih berdiri di tempat, berusaha mencerna segala sikap Petrina. Apakah wanita itu hanya bercanda? Jika iya, kenapa Karen harus begitu marah dan tersulut emosi?


Perlahan, Karen mulai menyalahkan dirinya sendiri karena bersikap terlalu sensitif.


***


“Anda sudah bangun?” tegur Ray, duduk di samping ranjang Paul.


Setelah mengetahui identitas asli Ray semalam, Paul tidak bisa menahan diri lebih lama. Dia jatuh lemas, ketiduran karena efek samping obat yang dia konsumsi.

__ADS_1


Dan pagi ini, dengan kondisi yang lebih bugar, dia mulai bisa menata emosinya untuk menghadapi pria muda di sampingnya.


“Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku? Kenapa kamu menyelamatkanku?” tanya Paul tak mau basa-basi.


“Anda tidak mau sarapan dulu?”


“Jelaskan padaku sekarang,” pinta Paul.


“Baiklah, Tuan,” Ray mengatur posisinya lebih tegap. 


“Aku tahu, Sierra pasti sangat marah sekarang. Karena dia tahu, Sophielah yang membunuh Anda,”


“Apa yang kamu inginkan dari Sierra?”


Ray menggeleng. “Dia sahabatku,” jawabnya. “Aku menyelamatkan Anda, karena permintaannya,”


Paul sedikit terenyuh saat mendengar penjelasan Ray.


“Tapi aku tidak bisa memberitahu Sierra, jika Anda benar-benar selamat,” ujar Ray. “Aku harus menyelesaikan urusanku lebih dulu,”


“Apa yang bisa kulakukan, Ray?” tanya Paul, sedikit melunak.


Ray mengacungkan sebuah flashdisk kecil. “Segala yang Anda inginkan ada di sini,” tandas Ray, menaikkan satu sudut bibirnya.


Paul menatap flashdisk itu dengan sejuta tanya.


“Anda bisa segera menceraikan Sophie, atau bahkan menjebloskannya ke penjara, dengan segala bukti di dalam sini,” Ray sekali lagi mengacungkan flashdisk itu.


Ada sedikit sensasi menggelitik mendengar tawaran menggiurkan dari Ray. Seakan iming-iming itu satu-satunya jalan untuk membebaskan Paul dari belenggu Sophie.


“Saat ini Sierra sedang menyusun rencana dan mengumpulkan seluruh bukti untuk menuntut Martin,"


"Sierra? Kenapa … " Paul sangat terkejut mendengarnya.


Ray mengangguk. "Tapi ada satu yang menghambat," lanjut Ray. "Aku tahu, Andalah satu-satunya yang punya akses pada seluruh CCTV di rumah hutan. Dan aku tahu, Anda menutupi perbuatan Martin saat dia menculik Karen waktu itu,"


"Anda sengaja bungkam dan menyembunyikan CCTV itu, demi melindungi anak Anda," Ray melirik Paul tajam.


Tubuh Paul panas dingin mendengar segala penjelasan Ray. Ternyata dia sama sekali tak bisa meremehkan Ray, mantan suami Karen. Dia tidak menyangka jika Ray mengetahui rahasia yang berusaha dia pendam dalam-dalam, demi melindungi reputasi Martin dan perusahaannya.


Ray mengacungkan flashdisk di tangannya sekali lagi.

__ADS_1


"Aku akan memberikan seluruh bukti ini, asalkan Anda mau memberikan padaku seluruh rekaman CCTV di hari dimana Martin menculik Karen. Bagaimana, Tuan Paul?"


__ADS_2